NovelToon NovelToon
Perjodohan Berbalut Dendam

Perjodohan Berbalut Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ana L.

Demi melunasi hutang ayahnya, Naura Aulia Zafira terpaksa menikah dengan Dewa Angkasa Buwana, penguasa mafia yang kejam dan berkuasa. Pernikahan ini bukan atas dasar cinta, melainkan balas dendam masa lalu yang dipendam Dewa pada keluarga Naura.

Di balik kemewahan dan kekuasaan, Naura harus bertahan hidup di tengah kebencian, bahaya, dan sikap dingin suaminya. Namun, ketegaran dan kelembutan Naura perlahan mengguncang hati Dewa, membuatnya terjebak antara dendam kesumat atau cinta yang tumbuh diam-diam.

Saat kebencian mulai memudar dan cinta bersemi, masa lalu kelam kembali mengancam nyawa mereka. Akankah dendam mengakhiri segalanya, atau cinta mampu mengubah takdir dan membawa mereka pada kebahagiaan abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benang Kusut Asal-Usul

Suara deru mesin kendaraan dan teriakan semakin jelas terdengar mendekat, memecah keheningan mencekam di dalam gubuk tua itu. Debu jatuh dari langit-langit kayu setiap kali langkah berat terdengar melewati bebatuan di luar. Waktu hampir habis, namun rahasia yang baru saja terlontar itu masih menggantung berat di udara, seolah menindih dada Dewa dan Naura hingga sulit bernapas.

Dewa masih memegang lembaran kertas tua itu dengan tangan gemetar. Matanya terpaku pada tulisan tangan Ibu Ratih, ibu kandung Naura, yang mengakui bahwa gadis di hadapannya ini adalah darah daging ayahnya, Ardi Buwana. Rasanya dunia berputar terbalik. Cinta yang tumbuh di antara kebencian, pernikahan yang awalnya adalah alat balas dendam, kini ternyata terancam oleh ikatan darah yang tak terduga. Namun, pertanyaan Pak Wahyu sesaat lalu masih bergaung di telinganya, membawa secercah harapan yang samar namun membingungkan.

"Kau tanya... apakah aku benar-benar anak ayahku?" ucap Dewa pelan, suaranya parau namun penuh penekanan. Ia menatap tajam ke arah Pak Wahyu. "Apa maksudmu? Apa yang kau sembunyikan lagi? Katakan sekarang sebelum mereka menemukan kita!"

Pak Wahyu melirik pintu gubuk dengan cemas, lalu kembali menatap keduanya. Wajah pria tua itu tampak berat, seolah memikul dosa besar yang sudah lama ia simpan sendirian. Ia menghela napas panjang, lalu mengeluarkan satu lagi dokumen terselip di balik saku baju dalamnya selembar catatan medis kuno yang sudah hampir hancur dimakan usia.

"Dengar baik-baik, karena ini mungkin satu-satunya kesempatan untuk mendengar kebenaran ini," bisik Pak Wahyu cepat. "Sepuluh tahun lalu, saat Tuan Ardi mengetahui perselingkuhan istrinya ibumu, Dewa dan mengetahui bahwa kau bukan anak kandungnya, dunia beliau hancur seketika."

Dewa tersentak mundur, punggungnya menabrak dinding kayu. "Apa... apa maksudmu? Bukan anak kandung?"

"Tuan Ardi sangat mencintai istrinya, ibumu, Ibu Maya. Tapi wanita itu... dia memiliki rahasia kelam. Dia mencintai pria lain, pria dari keluarga yang dulu bersaing sengit dengan keluarga Buwana. Kau, Dewa... kau adalah hasil hubungan itu," jelas Pak Wahyu dengan suara rendah namun tegas, seolah merobek selubung masa lalu yang paling gelap.

Naura yang masih lemas di pelukan Dewa mendongak, matanya membelalak tak percaya. "Jadi... Dewa bukan anak Ayah Ardi? Lalu... lalu kami tidak ada hubungan darah sama sekali?"

"Benar," jawab Pak Wahyu cepat. "Kalian berdua sama-sama anak dari pasangan selingkuh orang tua kalian. Naura adalah anak Tuan Ardi dengan Ibu Ratih, istri Hadi Zafira. Dewa adalah anak Ibu Maya dengan pria lain yang dibenci Tuan Ardi. Kalian sama sekali tidak ada hubungan darah. Kalian bukan saudara."

Rasa lega yang luar biasa seketika melanda hati mereka berdua, namun digantikan segera oleh rasa sakit yang jauh lebih dalam dan rasa heran yang membingungkan. Selama ini mereka membenci satu sama lain karena mengira ayah Naura menghancurkan keluarga Dewa, padahal kenyataannya, orang tua mereka sama-sama terjebak dalam jaring perselingkuhan, ambisi, dan kebohongan.

"Lalu kenapa ayahku membesarkanku? Kenapa dia memberiku nama Buwana, memberiku harta, memberiku segalanya, jika dia tahu aku bukan darah dagingnya?" tanya Dewa, suaranya bergetar menahan tangis yang bercampur marah dan sedih.

"Karena Tuan Ardi adalah pria yang luar biasa," jawab Pak Wahyu dengan mata berkaca-kaca. "Dia mencintaimu seperti anak sendiri sejak kau lahir. Dia memaafkan istrinya demi kau. Dan dia merahasiakan fakta ini agar kau tetap aman, agar kau tetap menjadi pewaris keluarga Buwana, dan agar musuh-musuhnya termasuk Sera dan Raga tidak memiliki celah untuk menjatuhkanmu dengan mengungkit asal-usulmu. Dia memendam rasa sakit itu sendirian demi masa depanmu."

Pak Wahyu menunjuk ke arah dokumen di tangan Dewa.

"Dan lihatlah tulisan di bagian bawah itu. Tuan Ardi menulis ini sesaat sebelum meninggal: Dewa bukan darah dagingku, tapi dia adalah putra terbaik yang pernah kumiliki. Lindungi dia, karena dia dan Naura... mereka adalah takdir yang harus disatukan untuk menebus dosa kami."

Dewa pun menangis. Air mata yang sudah sepuluh tahun ia tahan, air mata yang tertahan oleh rasa dendam dan kebencian, akhirnya tumpah juga. Ia memeluk Naura lebih erat dari sebelumnya, bukan lagi sebagai saudara yang terancam, melainkan sebagai pria yang akhirnya bebas mencintai wanitanya tanpa ikatan darah yang memisahkan.

"Kita bukan saudara..." bisik Dewa berulang kali di telinga Naura, penuh rasa syukur. "Kita bukan saudara, Naura. Cinta kita tidak salah. Kita tidak salah."

Naura menangis terharu, membalas pelukan itu sekuat tenaga. Beban berat yang menindih dadanya tadi hilang seketika, diganti kebahagiaan yang luar biasa. "Terima kasih... terima kasih Tuhan... kita bukan saudara."

Namun, momen haru itu terputus saat suara hantaman keras terdengar di pintu gubuk. Kayu-kayunya berderak dan mulai retak.

"Mereka sudah sampai!" seru Pak Wahyu. Ia segera berdiri, meraih sebilah parang tua yang tersandar di sudut ruangan. "Kalian harus pergi sekarang! Lewat jalan belakang, ada terowongan kecil menuju sungai di bawah tebing. Ikuti aliran air sampai ke desa seberang. Di sana ada orang-orang yang masih setia pada mendiang Tuan Ardi."

"Kau bagaimana, Pak Wahyu?" tanya Dewa, tidak rela meninggalkan orang tua itu sendirian.

"Aku akan menahan mereka di sini. Aku sudah tua, tapi aku masih punya sisa tenaga dan nyali untuk melindungi anak-anak majikanku. Pergilah! Bawa dokumen itu, bawa kebenaran itu, dan gunakan untuk menghancurkan Sera dan Raga!" teriak Pak Wahyu tegas.

Dewa menatap pria tua itu dengan penuh hormat dan terima kasih. Ia mengangguk mantap, lalu menggenggam tangan Naura erat-erat. "Kita akan kembali, Pak. Kami berjanji. Dan kami akan memastikan keadilan ditegakkan atas nama Ayah Ardi, atas nama Bi Inah, dan atas nama semua korban kejahatan mereka."

Tanpa membuang waktu lagi, Dewa menarik Naura menuju lubang kecil di lantai gubuk yang ditunjukkan Pak Wahyu. Mereka turun ke bawah tanah, merayap di lorong sempit dan gelap, sementara di atas mereka terdengar suara pintu gubuk yang runtuh dihantam pasukan Sera, diikuti suara bentrokan dan teriakan yang mengerikan.

Mereka terus berjalan di dalam kegelapan, dipandu hanya oleh suara gemericik air sungai yang semakin terdengar jelas di depan. Hati Dewa sakit mendengar suara pertempuran di belakang, namun ia tahu pengorbanan Pak Wahyu tidak boleh sia-sia. Mereka harus selamat. Mereka harus hidup untuk membuktikan kebenaran.

Setelah perjalanan melelahkan dan penuh ketakutan, cahaya matahari akhirnya terlihat di ujung lorong. Mereka keluar ke tepi sungai yang sempit namun berarus deras, tersembunyi di antara tebing-tebing tinggi yang tertutup hutan lebat. Di sini, aman dari pandangan siapa pun dari atas bukit.

Mereka berjalan menyusuri tepian sungai, pakaian mereka kotor dan basah, tubuh mereka lelah dan penuh luka gores, namun hati mereka terasa jauh lebih ringan dan penuh harapan dibandingkan sebelumnya. Kebenaran tentang asal-usul mereka sudah terungkap. Dendam yang selama sepuluh tahun menjadi tembok pemisah itu ternyata dibangun di atas kebohongan besar.

"Dewa..." panggil Naura pelan sambil berjalan di sampingnya, suaranya lembut namun penuh kekuatan. "Sekarang kita tahu semuanya. Kita tahu siapa kita, kita tahu siapa musuh kita, dan kita tahu bahwa cinta kita sah dan benar. Tapi... apa rencana kita selanjutnya? Sera dan Raga menguasai segalanya. Mereka punya kekuasaan, uang, dan orang-orang. Kita hanya berdua, tanpa apa-apa."

Dewa berhenti melangkah. Ia menoleh, menatap wajah Naura yang cantik itu dalam-dalam, lalu tersenyum—senyum penuh keyakinan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. Ia mengeluarkan dokumen-dokumen yang diselamatkan dari kebakaran, ditambah catatan medis dan surat pengakuan dari Pak Wahyu, lalu menggenggamnya erat di tangan kanannya. Tangan kirinya meraih tangan Naura.

"Mereka mengira mereka punya segalanya, Naura. Mereka mengira kekuasaan dan uang adalah segalanya," ucap Dewa tegas, matanya menyala penuh tekad. "Tapi mereka lupa satu hal. Mereka membangun kerajaan mereka di atas kebohongan. Dan kita... kita memegang kebenaran. Kebenaran adalah senjata paling tajam yang bisa menghancurkan apa pun, sekuat apa pun bentengnya."

Dewa menunjuk ke arah jauh, ke arah asap tipis yang mengepul di kejauhan tanda adanya pemukiman warga.

"Kita akan pergi ke sana. Kita akan mencari sekutu-sekutu lama ayahku, orang-orang yang masih jujur dan tidak dibeli oleh uang Sera. Kita akan mengumpulkan bukti, kita akan menyusun rencana, dan kita akan kembali ke kota itu bukan lagi sebagai buronan, tapi sebagai pemilik kebenaran yang berhak menuntut keadilan."

Namun, di saat mereka bersiap melanjutkan langkah, mata Naura menangkap sesuatu yang mengkilap di sela-sela bebatuan di pinggir sungai. Ia berlutut, mengambil benda itu, dan wajahnya seketika berubah pucat.

"Dewa... lihat ini..."

Dewa mendekat, mengambil benda kecil itu dari tangan Naura. Itu adalah sebuah lencana keamanan, sama persis dengan yang dipakai Pak Wahyu, namun ada satu perbedaan mencolok: di bagian belakang lencana itu terukir inisial nama S.R. Sera Riantari.

Jantung Dewa berdegup kencang, rasa dingin menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia menatap kembali ke arah mulut lorong tempat mereka keluar tadi, lalu ke arah dokumen di tangannya. Sebuah pemikiran mengerikan mulai menyusup ke benaknya.

"Pak Wahyu... dia bilang dia setia pada ayahku..." gumam Dewa dengan suara bergetar. "Tapi kenapa dia punya lencana dengan inisial Sera? Kenapa dia begitu mudah memberikan semua kebenaran itu? Kenapa dia membiarkan kita pergi begitu saja dengan membawa dokumen penting ini? Apakah... apakah dia benar-benar sekutu kita? Atau dia juga bagian dari permainan ini? Apakah semua kebenaran yang dia ungkapkan tadi... juga hanya bagian dari kebohongan lain yang lebih besar?"

Naura menatap Dewa dengan mata membelalak, ketakutan. "Maksudmu... dia sengaja membiarkan kita membawa dokumen palsu atau setengah kebenaran ini agar kita jatuh ke dalam jebakan lain saat kita mencoba mengungkapkannya ke publik?"

Pertanyaan itu menggantung di udara, menimbulkan ketakutan baru yang jauh lebih mengerikan. Di satu sisi, mereka lega mengetahui hubungan darah mereka tidak ada, dan cinta mereka sah. Di sisi lain, keraguan kini merayap pada satu-satunya orang yang mereka anggap penyelamat.

Dan di kejauhan, di atas tebing tinggi tempat mereka berdiri, tampak sosok wanita bergaun merah berdiri diam di balik pohon besar, tersenyum lebar sambil memperhatikan mereka berdua berjalan menjauh, seolah sedang menonton sebuah pertunjukan sandiwara yang sudah diatur hingga akhir.

1
Rara M.
wow 💗🎈👻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!