Saga Mahendra percaya satu hal, pengkhianatan tidak pernah memiliki alasan. Itulah yang ia yakini sejak hari ia melihat Sahira, wanita yang ia cintai, berpelukan dengan sahabatnya sendiri. Sejak saat itu, Saga memilih pergi. Meninggalkan cinta, mimpi, dan masa lalu yang terlalu menyakitkan.
Lima tahun kemudian, ia kembali. Bukan lagi remaja yang rapuh, tapi seorang dokter dengan hati yang telah membeku. Namun, takdir mempermainkannya. Sahira muncul kembali bersama seorang anak berusia empat tahun.
Waktu tidak pernah berbohong. Lalu, siapa ayah dari anak itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Setelah kejadian itu, suasana toko bunga perlahan mulai tenang kembali. Lina dan Rani sibuk membereskan pot bunga yang pecah dan menyapu tanah yang berserakan di depan toko. Beberapa bunga yang rusak dikumpulkan di sudut ruangan dengan wajah sedih.
Sementara di bagian dalam toko, Sahir duduk di atas karpet bulu kecil sambil memeluk boneka kainnya.
Di sampingnya, Ririn menemani dengan sabar sejak tadi. Wanita itu sesekali mengusap lembut rambut Sahir yang masih sedikit berantakan setelah menangis tadi.
“Udah nggak takut lagi?” tanyanya lembut.
Sahir mengangguk kecil.
“Ndak…”
Meski begitu, anak kecil itu masih terlihat lebih pendiam dari biasanya. Tak lama kemudian, Sahira keluar dari dapur kecil sambil membawa beberapa gelas minuman hangat di atas nampan. Ia meletakkannya perlahan di meja kecil depan sofa.
“Minum dulu,” ujarnya pelan.
Revano langsung mengangguk kecil.
“Makasih.”
Sahira duduk perlahan di sofa seberang mereka. Wajahnya masih terlihat lelah setelah kejadian tadi. Lalu dengan nada tidak enak hati, ia berkata pelan,
“Maaf ya…”
Tatapan Revano dan Ririn langsung tertuju padanya.
“Harusnya kalian nggak perlu lihat pemandangan kayak tadi.”
Sahira menundukkan pandangannya pelan. Ia benar-benar malu. Setiap kali Revano datang, pria itu selalu melihat sisi hidupnya yang berantakan.
Revano langsung menggeleng,
“Nggak apa-apa.”
Pria itu menyandarkan tubuhnya ke sofa sambil menghela napas pelan.
“Lagian ini juga bukan pertama kali.”
Sahira tersenyum pahit.
“Iya…”
“Kita juga udah sering lapor polisi,” lanjut Revano kesal. “Tapi mereka tetap aja nggak jera.”
Tatapan pria itu berubah dingin mengingat Diana dan Aldo tadi. Kalau saja bukan karena Sahira menahan dirinya, mungkin tadi ia benar-benar sudah menghajar Aldo lebih parah.
Ririn yang sejak tadi diam akhirnya ikut bicara pelan,
“Kasihan Sahir…” Tangannya kembali mengusap kepala kecil bocah itu dengan lembut. Sahir langsung mendongak menatapnya polos.
Ririn tersenyum hangat.
“Anak kecil nggak seharusnya lihat hal seperti tadi.”
Mata Sahira langsung terasa panas dan menatap Ririn penuh rasa bersalah.
“Terima kasih ya, Ririn…” ucapnya tulus. “Kamu udah baik banget sama aku dan Sahir.”
Ririn tersenyum lembut.
“Nggak usah bilang begitu.”
Sebelum Sahira sempat bicara lagi, Revano lebih dulu menyela santai—l,
“Jangan sungkan sama dia.”
Ririn menoleh sekilas pada tunangannya.
Sementara Revano melanjutkan dengan nada ringan,
“Lagipula aku udah nganggep Sahir kayak anak sendiri.”
Kalimat itu membuat suasana mendadak sedikit hening. Sahira menunduk pelan. Sementara Ririn tersenyum kecil, meski entah kenapa ada rasa aneh di dalam hatinya setiap kali melihat cara Revano memperlakukan Sahira dan Sahir.
Sahir tiba-tiba mengangkat tangan kecilnya.
“Papa Levano!”
Revano langsung menoleh.
“Iya?”
Anak kecil itu tersenyum lebar lalu mulai mengoceh polos,
“Tadi Sahel ketemu Doktel tampan lagi!” Sahir berbicara penuh semangat sambil memeluk boneka kecilnya.
Revano yang tadi sedang mengambil gelas langsung berhenti bergerak.
Keningnya sedikit berkerut.
“Dokter tampan?” ulangnya pelan.
Sahir mengangguk cepat.
“Iya! Doktel yang beliin Sahel es klim!”
Ririn terkekeh kecil mendengar cara bicara cadel bocah itu. Berbeda dengan Ririn tatapan Revano perlahan beralih pada Sahira. Seolah meminta penjelasan tanpa perlu bertanya langsung.
Sahira yang menyadari tatapan itu perlahan menunduk. Lalu beberapa detik kemudian dia mengangguk kecil.
Jantung Revano langsung berdetak tidak nyaman.
Sementara Sahir masih terus bercerita polos tanpa menyadari perubahan suasana di antara orang dewasa di sana.
“Doktelnya baik banget,” lanjut Sahir semangat. “Sahel diajak jalan-jalan sama dikasih es klim stoberi campur mata.”
“Matcha?” tanya Ririn sambil tersenyum geli.
“Iya itu!”
Ririn tertawa kecil tetapi Revano sama sekali tidak ikut tertawa. Tatapannya masih tertuju pada Sahira.
“Aku ketemu dia di rumah sakit,” ucap Sahira akhirnya pelan.
Suasana mendadak terasa sedikit berat.
“Dia dokter baru di sana,” lanjut Sahira lirih. “Yang nangani Sahir waktu demam.”
Revano menarik napas perlahan.
Pikirannya langsung kembali pada firasat buruk yang ia rasakan sejak kemarin.
“Dia tahu tentang Sahir?” tanya Revano hati-hati.
Sahira terdiam beberapa detik sebelum menjawab,
“Dia cuma tahu Sahir anakku.”
“Dan?”
Tatapan Sahira perlahan berubah gelisah.
“Dia mulai curiga…”
Kalimat itu membuat rahang Revano langsung menegang. Sementara di atas karpet, Sahir masih sibuk bermain sendiri sambil sesekali mengoceh kecil.
Sahir kini sibuk bermain mobil-mobilan kecil bersama Ririn di atas karpet, sementara Lina dan Rani masih membereskan sisa kekacauan di depan toko.
Sementara itu, Sahira duduk diam sambil meminum teh hangatnya perlahan.
Wajah wanita itu terlihat lelah. Seolah kejadian tadi benar-benar menguras tenaganya. Revano yang duduk tak jauh darinya sesekali memperhatikan Sahira diam-diam.
Pikirannya masih penuh sejak mendengar Saga kembali. Getaran ponsel di atas meja membuat Revano tersadar dari lamunannya.
Satu notifikasi pesan masuk muncul di layar. Nama pengirimnya langsung membuat tatapan Revano berubah, My Bro Saga, masih nama yang dulu. Jantungnya berdetak sedikit lebih keras.
Perlahan Revano membuka pesan itu.
[Temui Gue!]
Pesan berikutnya langsung menyusul.
[Tempat biasa waktu SMA.]
Revano langsung mengerutkan kening. Tak perlu dijelaskan lebih detail, ia langsung tahu tempat yang dimaksud Saga. Tempat tongkrongan lama mereka bertiga.
Tempat yang dulu hampir setiap sore menjadi saksi tawa mereka sebelum semuanya hancur lima tahun lalu. Napas Revano terasa sedikit berat.
'Saga pasti ingin membicarakan sesuatu.' Batin Revano.
Tatapan Revano perlahan beralih pada Sahira yang sedang menunduk diam sambil memegang cangkir tehnya. Wanita itu terlihat begitu rapuh sore ini. Dan Revano tahu satu hal kalau Sahira tahu Saga mengajaknya bertemu, wanita itu pasti akan melarangnya.
Karena Sahira selalu takut masa lalu mereka kembali terbuka. Perlahan Revano mematikan layar ponselnya tanpa membalas pesan itu.
orang yang terobsesi bisa melakukan hal yang sangat berbahaya.