NovelToon NovelToon
Sumpah Pengawal Kuno

Sumpah Pengawal Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mamah Nissa

Gugur dalam tragedi berdarah di abad ke-14, jiwa Nyai Kencana—kesatria wanita Kerajaan Sunda—terlempar ke masa modern. Ia merasuki raga Citra, mahasiswi beasiswa yang nekat melompat dari jembatan demi menjaga kehormatannya dari jebakan pemerkosaan.
​Kini, Citra bangkit dengan kepribadian baru: dingin, tegap, dan menguasai ilmu kanuragan kuno. Tidak ada lagi Citra lemah yang bisa ditindas!
​Perubahan drastis Citra membuat Elang Dirgantara, pewaris tunggal konglomerat yang angkuh dan sombong, penasaran sekaligus jengkel. Hubungan mereka layaknya anjing dan kucing yang selalu bergesek konflik.
​Namun, roda takdir berputar. Keluarga Elang bangkrut total dalam semalam. Diusir, dikhianati teman-temannya, dan nyaris bunuh diri.
Bagaimana kisahnya baca terus novelnya ya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah Nissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: Terbangun di Balik Terpal Angkringan

Kesadaran itu datang laksana sebuah hantaman benda tumpul yang menghujam tepat di tengah kening. Elang mengerang lirih, meremas pelipisnya yang berdenyut-denyut gila seolah ada ribuan jarum yang menusuk dari dalam jaringan otaknya. Kelopak matanya terasa seberat bongkahan timah saat ia memaksakan diri untuk terbuka. Pandangannya mengabur, berbayang, dan diwarnai oleh pendaran bintik-bintik putih yang berputar monoton. Rasa asin yang pekat berkelindan dengan aroma lumpur yang memuakkan mendadak menyengat pangkal tenggorokannya, memicu refleks batuk kering yang membuat seluruh otot dadanya terasa nyeri meradang.

Gue... gak mati?Jerit batin Elang bergema, sarat akan kebingungan yang teramat pekat.

Ia mencoba menggerakkan lengan kanannya, namun persendiannya terasa kaku dan mati rasa. Elang memiringkan kepalanya sedikit, berharap melihat langit-langit kamar mansion mewahnya yang dihiasi oleh lampu kristal gantung atau setidaknya dinding putih bersih ruang perawatan rumah sakit VIP. Namun, visualisasi yang tertangkap oleh matanya justru meremukkan seluruh memori kenyamanan masa lalunya.

Langit-langit di atasnya terbuat dari tripleks yang sudah melandai dan dipenuhi noda bekas bocoran air hujan yang mengering, membentuk pola mirip pulau-pulau liar. Udara di dalam ruangan itu teramat pengap, panas, dan didominasi oleh perpaduan bau minyak goreng jelantah, aroma arang yang pekat, serta wangi sate-satean yang belum dibakar.

Ia terbaring di atas selembar kasur kapuk tipis tanpa ranjang, yang dilapisi seprei katun bermotif kotak-kotak kusam yang wewangiannya murni berasal dari detergen murahan.

Di sudut ruangan yang berukuran tidak lebih dari dua setengah kali tiga meter itu, tampak tumpukan lipatan kain terpal plastik biru-oranye yang tebal, jajaran keranjang plastik berisi bungkusan nasi kucing, serta beberapa balok kayu yang diikat tali rafia, logistik murni dari sebuah usaha kaki lima jalanan.

Elang menundukkan kepala, menatap raga tubuhnya sendiri. Jaket bomber kulitnya yang berharga puluhan juta rupiah telah lenyap, digantikan oleh sepotong kaos oblong putih longgar bermerek lokal yang kainnya sudah menipis dan pudar warnanya di beberapa bagian. Ini bukan kamarnya, bukan dunianya, dan jelas bukan tempat untuk seorang pewaris tunggal Dirgantara Perkasa. Ia terdampar di sebuah kamar kos petak paling dasar di sudut gang kumuh Jakarta, sebuah tempat yang bahkan belum pernah terlintas di dalam mimpi terburuknya sekalipun.

Cklek.

Pintu kayu tripleks kamar kos itu terbuka dengan suara derit yang nyaring. Dari balik ambang pintu, Surya melangkah masuk sembari membawa selembar nampan plastik murahan. Di atas nampan tersebut bertengger segelas teh hangat manis yang uapnya masih mengepul tipis, menyebarkan aroma melati yang pekat, berdampingan dengan semangkuk bubur instan rasa ayam yang ditaburi sedikit kerupuk bawang.

Melihat Elang sudah duduk bersandar pada dinding batako tanpa plester dengan mata melotot linglung, Surya tidak menunjukkan ekspresi dramatis. Ia tidak memeluk sahabatnya atau melontarkan kalimat-kalimat penuh belas kasihan yang melankolis.

Pemuda asal Malang itu justru mendengus pelan, menutup pintu dengan tumit kakinya, lalu meletakkan nampan itu di atas lantai semen dengan hentakan yang sengaja dikeras-keraskan.

"Lho, wis tangi toh, Pangeran?" celetuk Surya, ia melipat kedua tangannya di depan dada, berdiri sembari menatap Elang dengan pandangan menggeleng-geleng jengkel. "Gayamu itu lho, Lang! Sok-sokan mau jadi aktor film horor pakai acara lompat ke sungai segala. Kamu itu dikira mati di Jakarta ini gratis opo? Bayar kuburan, sewa ambulans, beli kain kafan itu pakai duit, Rek! Gak usah sok-sokan bikin repot orang susah!"

Elang tersentak, kata-kata kasar namun jujur dari Surya menghantam telinganya dengan telak. Ia memalingkan wajahnya ke arah dinding, menyembunyikan rona merah rasa malu dan sisa depresi yang kembali merayapi dadanya.

"Kenapa lo selamatin gue, Sur? Kenapa gak lo biarin aja gue hanyut? Gue udah gak punya apa-apa lagi. Rumah gue disita, rekening gue diblokir, semua orang di kampus menginjak-injak harga diri gue. Gue... gue udah gak punya masa depan!"

"Heh, lambemu itu kalau bicara gak usah disekolahno di selokan!" potong Surya cepat, suaranya naik satu oktav, menunjuk dahi Elang menggunakan jari telunjuknya dengan gemas. "Sing nyelamatno kamu itu bukan aku! Aku datang itu pas kamu sudah berdiri di pintu Neraka!"

Surya menghela napas panjang, duduk bersila di atas lantai semen tepat di samping kasur kapuk Elang. Nadanya melunak sedikit, namun tetap sarat akan ketegasan logika yang menampar. "Semalam itu hujan badai, Lang. Arus sungai di bawah jembatan itu gila, orang pinter renang pun mikir dua kali kalau mau nyemplung. Tapi semalam... ada orang baik yang nekat bertaruh nyawa. Dia lompat dari atas jembatan, bertarung sama pusaran air yang kayak setan itu, cuma buat narik kerah bajumu keluar dari maut. Dia mompa dadamu sampai muntah air, ngasih napas buatan, sampai tangannya gemeteran semua. Sumpah, kalau gak ada dia, pagi ini aku gak bakal ngobrol sama kamu di sini, tapi lagi sibuk milih yasinan buat kamu di kamar jenazah!"

Elang terpaku. Pikirannya mendadak berputar kembali ke detik-detik sebelum kesadarannya hilang di dalam air yang hitam. Ia samar-samar mengingat adanya sebuah dekapan yang teramat kokoh yang mengunci tubuhnya, sebuah kehangatan aneh yang mengalir menembus dinding dadanya, serta sepasang mata bulat yang menatapnya dalam kegelapan dengan ketenangan yang mutlak.

"Siapa... siapa orang itu, Sur?" tanya Elang, suaranya bergetar penuh rasa tidak percaya bahwa ada manusia yang sudi mempertaruhkan nyawa demi seorang pecundang bangkrut seperti dirinya.

"Gak usah kakehan takon! Aku wis janji gak bakal sebut namanya sekarang," sahut Surya, mengingat janjinya pada Kirana dan Citra yang melarangnya membuat keributan. Surya menyodorkan gelas teh hangat ke depan dada Elang. "Sing penting saiki kamu hargai itu nyawamu. Sudah dikasih kesempatan kedua sama Gusti Alloh, yo dipakai buat mikir. Wes, saiki ombe teh-e, terus mangan bubure sampai habis. Gak usah pasang muka koyo kesambet setan begitu. Habis ini kamu harus bayar utang nyawamu ke aku!"

"Utang... utang apa maksud lo, Sur?" tanya Elang sembari mengunyah bubur instannya yang terasa hambar di lidah bangsawannya yang belum beradaptasi.

"Utang sewa kamar, utang baju, sama utang tenaga!" jawab Surya dari balik pintu, memamerkan seulas cengiran lebar yang penuh niat tersembunyi.

Malam harinya, ketika jam digital di ponsel tua milik Surya menunjukkan pukul tujuh tepat, kehangatan kamar kos petak itu harus berakhir secara paksa. Surya menolak dengan sangat keras membiarkan Elang duduk meratapi nasib di sudut kasur sembari memandangi tripleks plafon. Dengan paksaan fisik yang tidak bisa didebat, Surya menyeret raga Elang yang masih sedikit lemas keluar menuju pinggir jalan arteri yang berjarak seratus meter dari batas luar gerbang kampus Universitas Dirgantara.

Di tempat itulah, di bawah temaramnya cahaya lampu jalanan yang tertutup kepulan asap kendaraan, usaha sampingan Surya digelar: "Angkringan Tenda Arema". sebuah gerobak kayu bersahaja yang dinaungi oleh bentangan terpal plastik tebal berwarna biru-oranye, dihiasi jajaran bangku-bangku kayu panjang di sekelilingnya.

Kontras psikologis yang dialami Elang malam itu berada di tingkat yang luar biasa berat dan menyiksa egonya hingga berkeping-keping.

Mantan pangeran mahkota kampus yang biasanya ditakuti, dihormati, dan selalu mengendarai supercar hitam dengan pakaian desainer Eropa, kini dipaksa berdiri di balik gerobak kayu kusam.

Tubuhnya dibungkus oleh selembar celemek kain berwarna hijau tua yang jahitannya sudah mulai mengelupas, kepalanya diterpa secara langsung oleh hembusan angin malam Jakarta yang kotor, dan indra penciumannya dipaksa akrab dengan aroma pekat dari asap pembakaran arang kelapa yang mengepul dari tungku panggangan besi.

Gue... sekarang jadi pelayan angkringan?Batin Elang meratap, tangannya yang memegang jepitan besi panggangan bergetar hebat karena rasa canggung yang luar biasa.

"Ayo, Lang! Ojo ngelamun terus toh, Rek! Itu pembeli pertamamu sudah datang, ndak usah kaku kayak patung semen!" seru Surya sembari menepuk punggung Elang dengan keras, membuatnya tersentak.

Dua orang mahasiswa tingkat pertama, yang untungnya tidak terlalu mengenali wajah Elang karena berbeda fakultas, melangkah masuk ke balik tenda terpal, langsung mengambil tempat duduk di bangku panjang.

"Mas, nasi kucingnya dua, sate usus dua, sama sate kikilnya dibakar ya. Minumnya es teh manis dua," ujar salah seorang mahasiswa tanpa mendongakkan kepala, sibuk berbicara dengan temannya.

Elang membeku. Lidahnya mendadak terasa kelu, mengunci seluruh vokalnya di dalam tenggorokan. Mengambil pesanan? Membakar makanan untuk orang lain? Melayani manusia biasa? Selama dua puluh tahun hidupnya, ia adalah orang yang selalu dilayani, orang yang hanya perlu menjentikkan jari agar makanan terbaik dari restoran bintang lima mendarat di atas mejanya. Ego bangkrutnya menjerit, merasa bahwa tindakan ini adalah bentuk penghinaan terakhir terhadap sisa harga diri garis keturunannya.

"Siap, Mas! Segera diproses sama asisten saya sing paling ganteng se-Jakarta Selatan ini!" potong Surya dengan nada suara yang sengaja diceria-ceriakan, memecah kecanggungan sembari menyenggol rusuk Elang menggunakan sikutnya. "Ayo, Lang. Ambil nasi kucingnya di keranjang, taruh di atas panggangan. Sate ususnya dikasih kecap dulu sebelum dibakar. Jangan sampai gosong, nanti kita nomok!"

Dengan gerakan yang teramat canggung, lambat, dan dipenuhi oleh pergolakan batin yang luar biasa hebat, Elang mulai menggerakkan jemarinya. Ia mengambil dua bungkus kecil nasi kucing berkain kertas minyak, meletakkannya di atas jeruji besi tungku panggangan yang membara merah.

Panasnya uap arang langsung menghantam kulit wajahnya yang pucat, membuat matanya terasa perih dan air matanya hampir menetes karena asap yang mengepul pekat.

Surya dengan sabar, meskipun sesekali menyelipkan candaan konyol khas arek Malang untuk mereduksi ketegangan psikologis sahabatnya, mengajari Elang bagaimana cara mengocok larutan es teh manis di dalam gelas besar, menata jajaran tusuk sate usus agar terlihat rapi di atas gerobak, serta bagaimana cara membalikkan bungkusan nasi kucing menggunakan jepitan besi tanpa merobek kertas pembungkusnya.

1
Darma
hik kasihan citra
Apis
thor sebenernya ceritanya bagus tp gmn ya bnyk kata" yg g sat set ke inti jln ceritanya
Mamah Nissa: siap kk di bab awal lebih banyak bercerita, sedikit dialog ya. makasih sarannya kak, ini tanggung di draft udah sampe bab 32. bab 33 ke sana coba dibikin yang lebih simple.
total 1 replies
Sarah
Woahh, bab 1 yang keren. Meskipun kadang paragraf kerasa tetlalu panjang. Tapi masih enak diliat sih. 👍
Mamah Nissa: Makasih kakak sudah mampir mohon bimbingannya...
total 1 replies
Mamah Nissa
siap kk. makasih dah mampir mohon bimbingannya
putratunggal
mantaps ceritanya meski baru awal
Mamah Nissa: makasih kak mohon bimbinganya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!