Lin Xiu returned to civilization confident and proud after training with a master who cannot be named on a celestial island cut off from the real world. In his quest to uphold justice, he courageously picks fights with elites in the community wreaking havoc among the rich and the powerful. Be it ghosts, spirits, or seniors of the daoist association, he is fearless. Will the little girl Xiao Tong stay a little girl as she accompanies him on his journey to track down the rest of his friends from the orphanage they once shared?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EAGLE EZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29.matahari terbit
Matahari terbit keesokan paginya tidak membawa kehangatan yang biasa di Ibukota Imperial. Langit fajar justru diselimuti warna kelabu pekat, memantulkan sisa-sisa kehancuran yang menimpa Distrik Barat. Kompleks Istana Pangeran Long yang megah kini tak lebih dari hamparan puing dan abu yang dijaga ketat oleh ratusan barikade lapis baja milik Divisi Serigala Hitam. Seluruh informasi mengenai pertempuran malam itu ditekan habis-habisan dari media publik atas perintah langsung kediaman Jenderal Ye.
Di dalam pangkalan militer rahasia bawah tanah Keluarga Ye yang terletak tiga puluh kilometer di luar pinggiran kota, atmosfer terasa sangat sunyi dan tegang.
Lin Xiu berdiri di samping tempat tidur medis berteknologi tinggi. Di sekeliling tempat tidur tersebut, sembilan tiang perak kecil yang dialiri energi *Zhenqi* emas membentuk kubah pelindung transparan—**Formasi Medis Sembilan Perlindungan**. Di dalam kubah itu, Xiao Mei terbaring dengan tenang. Rona merah di pipinya perlahan kembali, dan napasnya sudah terdengar teratur bagai anak kecil yang sedang bermimpi indah.
Lin Xiu mengulurkan tangan kanannya menembus lapisan formasi tanpa merusaknya. Dengan sangat lembut, jemarinya menyentuh sebuah kalung giok usang berbentuk bulan sabit yang melingkar di leher adiknya.
*WUSH.*
Begitu kulit Lin Xiu bersentuhan dengan giok tersebut, sebuah getaran frekuensi kuno yang sangat samar merambat masuk ke dalam kesadarannya. Detak energinya terasa sangat akrab—itu adalah tanda energi murni milik Ibu panti mereka. Pangeran Long tidak berbohong; benda usang yang selama belasan tahun ini dianggap sebagai hiasan murah oleh Xiao Mei ternyata adalah kunci utama pembuka Gerbang Makam Suci Kekaisaran.
"Tuan Lin," sebuah suara rendah terdengar dari arah pintu geser otomatis.
Jenderal Ye Jincheng masuk dengan langkah terburu-buru, wajahnya tampak sangat pucat dengan kantung mata yang menghitam karena tidak tidur semalaman. Dia membungkuk hormat sedalam sembilan puluh derajat sebelum berani mendekati Lin Xiu.
"Bagaimana situasinya di luar?" tanya Lin Xiu tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Xiao Mei.
"Ibukota berada dalam status siaga satu, Tuan Lin," jawab Ye Jincheng dengan suara bergetar halus. "Kematian Pangeran Long dan runtuhnya Klan Alkemis Naga Hitam dalam satu malam telah memicu gempa politik terbesar dalam sejarah kekaisaran. Meskipun kami menggunakan alasan latihan darurat, pihak Istana Dalam... pihak **Kaisar Agung** telah menyadari ada yang tidak beres."
Ye Jincheng menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan, "Intelijen kami melaporkan bahwa faksi rahasia penjaga takhta—**Tiga Tetua Langit**—telah keluar dari pertapaan mereka di bawah Aula Harmoni Tertinggi. Mereka masing-masing adalah monster berkultivasi Ranah Dewa Puncak yang telah bersumpah mati untuk menjaga rahasia di bawah istana utama. Jika Anda melangkah ke sana... Anda akan berhadapan langsung dengan seluruh otoritas tertinggi negeri ini."
Lin Xiu perlahan menarik tangannya kembali dari kalung giok Xiao Mei. Dia berbalik, menatap Jenderal Ye dengan sepasang mata emas murninya yang tenang namun menyimpan kedalaman kosmik yang tidak terduga.
"Otoritas tertinggi?" Lin Xiu mendengus pelan, sebuah senyuman tipis yang dingin terukir di sudut bibirnya. "Tiga belas tahun yang lalu, mereka membiarkan panti asuhan kami dibakar demi keserakahan mereka akan keabadian. Mereka mengorbankan nyawa anak-anak tidak berdosa hanya untuk menjaga takhta yang membusuk. Di mataku, takhta dan penjaganya itu tidak lebih dari sekadar tumpukan tulang berkarat."
Lin Xiu berjalan menuju meja kecil di sudut ruangan, mengambil tas kain usangnya, dan menyampirkannya ke punggung dengan gerakan yang sangat terbiasa.
"Jaga Xiao Mei dengan baik selama beberapa jam ke depan. Jangan biarkan dia terbangun sebelum aku menyelesaikan semuanya," perintah Lin Xiu datar.
"Tuan Lin... Anda akan pergi sekarang?" Ye Jincheng tersentak.
"Urusan yang tertunda selama tiga belas tahun harus diselesaikan sebelum matahari mencapai puncaknya," kata Lin Xiu dingin.
Lin Xiu melangkah keluar dari ruang medis rahasia tersebut. Setiap langkah kaki yang diayunkannya tidak lagi membawa niat membunuh yang meluap-luap seperti saat dia meratakan Lembah Kematian; melainkan sebuah ketenangan mutlak—jenis ketenangan yang biasa dimiliki oleh seorang hakim agung sebelum menjatuhkan vonis mati terakhir.
Langkah kakinya membawanya keluar menembus koridor beton pangkalan, langsung menuju ke arah pusat Ibukota Imperial, di mana kompleks istana terlarang berdiri kokoh di bawah langit kelabu yang bergolak.