NovelToon NovelToon
Gagal Jadi Istri Gus, Dinikahi Kakaknya

Gagal Jadi Istri Gus, Dinikahi Kakaknya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Mur Diyanti

Rela menunggu kepulangan seorang lelaki selama 5 tahun. Alisa harus dihadapkan dengan kenyataan pahit bahwa gadis yang akan Gus Hafidz nikahi, bukanlah dirinya.

Sebagai salam perpisahan terakhir, Alisa rela menjadi bridesmaid pengantin wanita sebelum ia memilih untuk pergi dari pesantren.

Namun ternyata, kakaknya, Zefano. Pria yang baru pulang dari luar negeri itu jatuh cinta pada Alisa pada pandangan pertama. Dan berusaha menjerat Alisa agar menjadi miliknya. Hingga melakukan hal diluar nalar demi menjadikan Alisa istri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mur Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kita menikah sekarang

Sepulang dari asrama putri, Zefano menaiki undakan teras rumahnya dengan langkah tenang. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana. Menatap ke arah pintu ruang tamu dimana dari dalam sayup-sayup suara obrolan terdengar.

"Aku mohon Abah, batalkan pernikahan kakak dan Alisa! Bagaimanapun Alisa masa laluku. Bagaimana aku bisa bersikap nantinya jika gadis itu menjadi istri kakak?!"

Zefano tak mampu menahan tawanya, "Darimana adikku belajar egois seperti itu?" Tanya Zefano saat ia sudah berada di depan pintu, mengejutkan Hafidz dan juga Abah Hakim.

Hafidz dan Abah Hakim menoleh ke arah pintu bersamaan. Jantung Hafidz seketika berdetak lebih kencang.

Sepasang mata Hafidz langsung berubah tajam saat Zefano memunculkan wajahnya dari balik pintu.

Kiai Hakim hanya bisa menggeleng pasrah, menghela nafas panjang. Menyandarkan punggungnya pasrah pada sandaran sofa.

Sementara Hafidz semakin kebakar rambut. Ia tatap abahnya itu serius, sesekali menggerak-gerakkan lengan Abah kecil.

"Berhentilah merengek karena aku tetap akan melanjutkan pernikahan ini." Final Zefano, tersenyum miring. Duduk di sofa depan mereka tenang.

"Kakak tidak bisa memutuskan semau kakak! Lagian Alisa gabakal mau menikah denganmu!" Tegas Hafidz.

Zefano lagi-lagi dibuat terkekeh. Menggeleng lemah.

"Memangnya kau siapa. Daripada kau repot-repot memikirkan pernikahan kami, lebih baik kau urus pernikahanmu setelah nanti." Balas Zefano dengan santainya.

"Sudah cukup!" Lerai Kiai Hakim tegas, "Cuma gara-gara satu perempuan! kalian membuat rumah ini menjadi runyam!"

Hafidz mengepal kuat, rahangnya mengetat, menatap tajam ke arah kakaknya yang bisa-bisanya santai menyebat di depan mereka. Seolah Alisa adalah perihal enteng yang tak perlu dibela sampai segitunya.

Zefano tatap dua manusia di depannya tenang sembari menyebat santai, "Saya pasti akan membahagiakan Alisa, tenang saja."

"Kakak bohong! Aku tidak percaya Kaka bisa membahagiakan Alisa! Jangankan membahagiakan, memberinya ketenangan saja belum tentu!" Seru Hafidz menggebu.

Satu alis Zefano naik, "Kau tau apa? Daripada kamu cuma menyakitinya saja. Lalu apa bedanya kamu dengan omongan yang kamu maksud?"

Hafidz tergagap, "Setidaknya aku tidak bermain wanita sana sini."

Urat di dahi Zefano spontan naik. Tatapan yang semula remeh itu langsung menajam. Menatap dingin sang adik.

"Sudah! Abah bilang sudah ya sudah! Mau sampai kapan kalian mempermasalahkan satu perempuan itu?! Abah akan memutuskan yang terbaik buat kalian. Hafidz dengan Anisa, dan kau—" tunjuk Abah pada Zefano, "Dengan Alisa."

"Bahh!!" Seru Hafidz tak terima.

Abah Hakim menoleh ke arah putra keduanya yang keras kepala itu cepat, "Daripada kamu memikirkan Alisa, lebih baik kamu memikirkan Anisa, Hafidz! Abah tidak segan-segan menghukum kamu jika Anisa sampai kau buat sedih!"

Hafidz memalingkan wajah cepat. Terdiam cukup lama, "Aku pasti akan membahagiakan Anisa, Abah. Tapi aku juga ingin membahagiakan Alisa."

Statement Hafidz barusan mengundang keterkejutan Kiai Hakim dan juga Zefano. Pria itu yang semula menanggapi adiknya dengan santai itu pun ikut terseret.

"Maksud kamu apa, Hafidz?!" Tanya sang Abah serius.

Hafidz tatap Kiai Hakim itu serius, cukup lama. Sebelum akhirnya pria itu menarik nafas panjang lalu menghelanya perlahan, "Dalam Islam boleh memiliki dua istri bukan?"

"KAU JANGAN BERTINDAK GILA, HAFIDZ!!" Tegas Kiai Hakim menggelegar. Membuat Hafidz yang semula tenang langsung merunduk saat mendengar bentakan keras dari abahnya itu.

BRAKK!!

Vas bunga di meja tengah mereka raib Zefano buat. Menatap tajam Hafidz dengan nafas memburu. Membuat Abah Hakim dan juga Hafidz yang semula ngotot itu langsung kicep mendadak.

Zefano kibaskan blazer miliknya cepat setelah tak ada lagi adu mulut diantara mereka. Menatap keduanya malas.

"Sebelum aku benar-benar menghancurkan ruangan ini, aku izin pamit. Asalamualaikum." Tegasnya dingin, bangkit dari duduknya. Berjalan dengan langkah tenang keluar dari rumah.

Ia tatap jam di tangannya, sudah menunjukkan pukul 10 malam.

Ia turuni undakan teras itu dengan langkah sedikit tergesa, menatap malas ke arah depan. Baru saja ia hendak membuka pintu mobil, telinganya menangkap suara benda jatuh dari arah asrama putri.

Keningnya mengerut kecil, entah mengapa, satu-satunya yang tiba-tiba muncul di otak Zefano adalah—Alisa.

Ia segera berjalan cepat menuju jalan tikus belakang menuju asrama putri. Suara benda jatuh itu terdengar dari arah kamar mandi.

"Siapa malam-malam begini di kamar mandi?"

Meski begitu, ia tetap melanjutkan langkahnya. Melewati pagar kecil asrama bagian belakang, masuk ke dalam.

Saat ia melongok dari arah samping, barulah terlihat. Dimana disana, di depan pintu kamar mandi. Alisa terduduk sembari meniup lututnya yang berdarah.

Melihat itu Zefano terkejut. Buru-buru melangkah mendekat. Membuat Alisa yang tiba-tiba dihampiri seperti itu membeliak lebar.

"Apa yang kamu lakukan malam-malam begini?!" Seru Zefano, dahinya mengerut liar. Pias khawatir tercetak jelas di wajahnya.

Alisa sontak bangkit, meski sedikit tertatih. Sebisa mungkin ia menghindari Zefano. Membuat Zefano yang hendak menolong itu terhenti.

Alisa merunduk dalam, memepetkan tubuhnya pada tembok, tak membiarkan Zefano menyentuhnya meski seujung jengkal sekalipun.

"Sa-saya tidak apa-apa, kak. Sebaiknya anda pergi dari sini. Ini bukan tempat kakak." Cicit Alisa ragu-ragu.

Dadanya berkecamuk lirih. Ia tatap sekeliling. Tak ada siapa-siapa. Gara-gara tadi siang kebanyakan makan sambal, Alisa menjadi diare. Dan selalu kumat di malam hari.

Zefano yang tak suka basa-basi itu langsung mendekati Alisa. Tanpa aba-aba, ia angkat tubuh Alisa ala bridal style keluar dari asrama putri. Membuat Alisa yang tiba-tiba diangkat seperti itu tentu terkejut setengah mati.

"Kak! Tolong lepasin! Kita bukan mahrom!" Bisik Alisa memberontak.

"Tidak ada yang lihat." Tegas Zefano datar.

"Tapi Allah melihat!"

"Sudah simpan dulu ceramahmu nanti. Lututmu berdarah. Kau calon istriku, bagaimana bisa aku membiarkan kamu kesakitan seperti ini?" Ucapnya dengan datar, tak perduli dengan berontakan kecil Alisa.

Untuk sesaat Alisa tertegun. Belum ada yang memperhatikannya sedetail ini meski Hafidz sekalipun.

Ia jadi teringat dulu saat berboncengan dengan Hafidz akibat terpaksa. Mereka jatuh. Namun Hafidz tak melihat kondisi Alisa. Ia hanya perduli dengan telapak tangannya yang berdarah. Padahal lecet di lutut Alisa jauh lebih parah.

Sementara Zefano. Pria yang di cap buaya darat itu, jauh lebih pengertian. Tanpa fikir panjang, tanpa perduli penolakan, apa yang memang benar dia akan lakukan.

Meski begitu, sekarang bukan saatnya ia terharu dengan tindakan Zefano. Ia segera melompat dari tangan Zefano. Nyaris terjungkal ke depan, beruntung di sampingnya ada pohon. Ia bisa berpegangan pada pohon meski tertatih. Melingkarkan tangannya pada batang pohon.

"Kita bukan mahrom!" Tegas Alisa lagi.

Rasanya Zefano muak sekali. Namun apalah daya. Gadis di depannya ini memang beragama. Membuat ia tak bisa memaksa dan hanya bisa meraup wajahnya frustasi.

Ia berkacak pinggang di depan Alisa yang menghindari dirinya, bahkan menghindar dari kontak mata mereka.

"Kamu ingin mahrom kan? Kita menikah sekarang."

1
falea sezi
pergi aja Alisa biar klo dia inget mampus uda telat🤣 laki. goblok gini males bgt bkin Alisa pergi thor biar gk kayak ikan terbang
Dynhz: hhhi siap, aku juga klo jadi Alisa pergi sih😭
total 1 replies
Winny
👍
AsLan 🦁
diawal-awal udah bagus makin kesini makin pret kaya sinetron ikan terbang, basiiii
Dynhz: maaf yah kalo cerita saya kaya ikan terbang😁🙏🏻makasih sudah mampir😁🙏🏻
total 1 replies
AsLan 🦁
preeeetttlaaaghh
falea sezi
yaa kemana si zafano😕 msak hanyut nanti amnesia lagi😕
falea sezi
lanjut donk
Dynhz: uwokeee😍👍
total 1 replies
falea sezi
jahat bgt si hafiz makan aja itu ning nong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!