NovelToon NovelToon
Sistem: Suplai Tak Terbatas

Sistem: Suplai Tak Terbatas

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Hari Kiamat / Sistem
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Wan Chen tidak ingin menyelamatkan dunia.

Ia hanya ingin kaya.

Untungnya, saat berada di ambang kematian, ia memperoleh Sistem dengan kemampuan Duplikasi dan Penyimpanan Dimensional.

Dan di dunia yang kekurangan segalanya, tidak ada kemampuan yang lebih menakutkan dari itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 - Bantuan dan Stamina Absolut

"Benar-benar pemandangan yang merepotkan."

Bagi logika waras, pria bernama Yang Luo itu sedang bunuh diri pelan-pelan. Menjadi dinding daging bagi sekumpulan ampas tak berguna. Tapi dari sudut pandang ekonomi pasar gelap, tumpukan monster yang menggerombol di satu titik itu adalah ladang panen.

Panen yang sudah dikumpulkan. Tinggal dipetik.

Juga, Gift yang cukup mencolok darinya. Ia hanya ingin memastikan.

"Kau mau diam di sini sampai mereka semua mati?" desis Lin Yu Yan dari celah giginya.

Wan Chen tidak repot-repot menjawab. Tangan kanannya merogoh saku. Ruang Dimensional miliknya terbuka senyap. Gagang Pisau Taktis Karbon langsung menempel pas di telapak tangannya. Dingin dan solid.

"Tunggu. Awasi perimeter," perintah Wan Chen datar.

Belum sempat Lin Yu Yan protes, pria itu sudah meluncur turun dari pilar. Tidak ada teriakan heroik. Tidak ada gaya pendaratan memukau. Sepatunya menyentuh genangan darah kental di lantai dengan bunyi kecipak pelan.

Di tengah lobi, Yang Luo baru saja menerima hantaman keras. Tubuh besarnya terhuyung ke belakang. Seekor crawler melompat, siap merobek leher pria itu.

Tebasan bayangan memotong udara.

Pisau karbon Wan Chen menancap mulus di pangkal leher crawler tersebut. Tulang belakang monster itu putus dalam sekali hentakan presisi. Bangkainya jatuh berdebum, menimpa sisa ubin yang hancur.

Yang Luo menoleh. Napasnya memburu. Matanya melebar kaget melihat sosok berpakaian rapi mendadak muncul dari titik butanya.

"Geser," ucap Wan Chen singkat.

Ia menarik pisaunya dan menendang bangkai itu ke samping.

"K-kau... dari mana..."

"Jangan banyak bicara. Tahan depan."

Wan Chen langsung bergerak menyamping. Menjadikan tubuh besar Yang Luo sebagai tameng alamiahnya. Pola kerjanya sangat pragmatis. Membosankan malah. Yang Luo menarik perhatian monster, Wan Chen menusuk titik vital dari belakang. Maju, tusuk, tarik, mundur.

Terus berulang. Seperti pegawai pabrik yang mengeksekusi mesin cetak. Rutinitas berdarah yang sangat efisien.

'Tiga belas core. Empat belas.'

Wan Chen menghitung dalam hati setiap kali pisaunya menembus tengkorak.

Satu jam berlalu tanpa terasa. Gelombang serangan tidak berhenti. Begitu pula geraman Yang Luo yang terus-terusan menahan benturan fisik. Pakaian pria itu sudah jadi kain lap. Namun tak ada luka sama sekali.

Di sela-sela rutinitas menikamnya, mata Wan Chen menangkap sesuatu.

Ada satu mutan tipe penyengat yang berhasil melancarkan cakaran ke lengan bawah Yang Luo. Lendir hitam pekat menempel di sana. Itu virus mutasi murni. Sekali masuk ke aliran darah, manusia biasa akan berubah wujud dalam hitungan menit.

Wan Chen bersiap menjauh, menakar jarak aman jika Yang Luo mulai bermutasi.

Tapi kejadian selanjutnya menampar logika sains.

Lendir hitam itu merembes ke kulit Yang Luo, bersentuhan dengan jelas. Lalu mendesis. Menguap begitu saja menjadi asap tipis kelabu. Tidak ada urat hitam yang menjalar. Tidak ada kejang-kejang. kulit itu tetap utuh, tidak terinfeksi.

'Gift kebal infeksi, juga kebal serangan,' batin Wan Chen. Tangannya tetap sibuk mengiris leher monster. 'Pantas saja dia berani mati konyol, itu memastikan semuanya.'

Tidak cuma itu.

Wan Chen melirik ritme ayunan tongkat baja Yang Luo.

Bukan sekadar kebal virus. Pria ini tidak punya konsep kelelahan fisik. Sebuah generator bernapas.

Tebasan terakhir Wan Chen mengakhiri segalanya.

Pisau karbonnya mengoyak dada monster penghabisan. Jantung makhluk itu terbelah dua. Darah hitam menyembur mengotori dinding marmer di dekat mereka. Suasana lobi mendadak hening. Menyisakan napas ritmis Yang Luo dan suara tetesan cairan dari langit-langit runtuh.

Gerombolan penyintas yang tadi dilindungi? Sudah lenyap sejak entah kapan. Kabur menyelamatkan diri tanpa meninggalkan sepatah kata pun.

Wan Chen mengibaskan pisaunya. Membersihkan sisa jaringan otak monster.

Ia tidak repot-repot bertanya kondisi rekan sementaranya. Tubuhnya langsung merendah, berjongkok di atas gunungan bangkai cacat. Ujung pisaunya mulai mencungkil tengkorak satu per satu. Panen dimulai. Tangannya cekatan memasukkan batu-batu kristal seukuran kelereng itu ke dalam tas kecilnya.

Suara sepatu bot mendarat terdengar dari arah sayap barat. Lin Yu Yan muncul dengan pistol siaga. Mata wanita itu menyapu lobi yang kini mirip rumah pemotongan hewan gagal.

"Area bersih," lapor Lin Yu Yan parau. Ia menatap Wan Chen dengan raut campur aduk. "Kau sungguh menghabisi mereka."

"Bukan aku. Pria ini yang jadi samsak," balas Wan Chen pelan. Terus menggali core dari bangkai ketiga puluh.

Yang Luo berjalan mendekat.

Langkah kaki pria besar itu sedikit terseret. Punggungnya masih mengalirkan darah, tapi wajahnya berseri-seri. Sama sekali tidak pas dengan latar belakang pualam yang banjir cairan hitam di belakangnya.

Senyum lebar mengembang di bibir Yang Luo yang retak.

"Hei! Terima kasih banyak, Kawan!" Suaranya lantang, menggemakan optimisme aneh di ruangan mati itu. "Kalau kau tidak turun, aku mungkin butuh waktu lebih lama. Berkat kau, orang-orang tadi berhasil selamat."

Wan Chen berhenti mencungkil sebentar. Ia melirik ujung sepatu Yang Luo yang kotor. Lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.

"Kau salah paham." Suara Wan Chen datar tanpa nada. Tidak ada emosi di sana. "Aku cuma mengincar core dari monster-monster ini. Jumlah mereka cukup banyak untuk kujual. Orang-orang pengecut tadi bukan urusanku sama sekali."

Suasana membeku sebentar.

Lin Yu Yan di ujung lobi memijat pelipisnya perlahan. Seolah bersiap melihat keributan baru antara pahlawan bermoral dan kapitalis apatis.

Namun, reaksi Yang Luo benar-benar di luar prediksi.

Pria bertubuh besar itu terdiam dua detik. Lalu tawanya pecah. Tawa berat yang tulus, beresonansi dengan sisa-sisa puing kaca di sekitar mereka.

"Hahaha! Kau jujur sekali, ya!" Yang Luo menepuk dadanya sendiri, mengabaikan luka robek di sana. "Orang lain pasti akan mengambil kredit sebagai pahlawan penyelamat. Tapi kau terang-terangan cuma mau batunya."

Wan Chen menatap pria itu dengan sebelah alis terangkat. 'Sinting.'

"Namaku Yang Luo," katanya. Menyodorkan tangan besar yang masih berlumuran darah monster. "Siapa namamu?"

Wan Chen menatap tangan itu. Mengingat fakta bahwa darah itu penuh bakteri, ia tidak membalas jabatannya.

"Wan Chen." Ia memasukkan core terakhir ke dalam tas, lalu berdiri tegak. "Dan dia Lin Yu Yan. Penunjuk jalan sekaligus asistenku."

Yang Luo menarik tangannya tanpa merasa tersinggung. Senyum cerahnya masih terpasang teguh. Ia melihat ke arah lorong tangga darurat yang mengarah ke lantai basemen rumah sakit.

Gelap pekat.

"Tujuan kalian ke bawah sana, kan?" tanya Yang Luo ceria. "Aku perhatikan tadi kalian membicarakan brankas fasilitas medis ini."

Wan Chen memasukkan pisaunya kembali ke Penyimpanan Dimensional. "Lalu?"

"Biar aku yang buka jalan!" tawar Yang Luo semangat. Ia mengayunkan tongkat bajanya seolah tubuhnya tanpa terlihat lelah. "Sebagai ganti karena kau sudah mempercepat urusanku di sini. Kalian ambil barang kalian, aku bantu pukul mundur apapun yang ada di bawah."

Lin Yu Yan membelalakkan mata. "Kau tidak lihat kondisimu sendiri?"

Yang Luo tertawa kecil. "Aku tidak gampang mati. Tenang saja."

Wan Chen menatap lekat-lekat pria tinggi besar itu. Kalkulator di otaknya berputar cepat. Lantai basemen penuh dengan residu kimia dan kemungkinan monster dengan level infeksi lebih parah. Membawa manusia yang kebal dan tidak bisa lelah sebagai penangkal serangan frontal adalah keuntungan absolut tanpa modal.

Benar-benar asuransi gratis.

Wan Chen merapikan kerah mantelnya yang agak berdebu.

"Baik," sahut Wan Chen. Mengundang kernyitan bingung dari Lin Yu Yan. "Kau di depan."

1
Yui
Karya ini sangat luar biasa, setelah baca novel ini aku jadi sedikit mengingat kenanganku yang telah lama menghilang, terimakasih Author 🔥🔥🔥🔥🔥
Ironside: /Toasted/
total 1 replies
Ironside
Ada error /Sweat/, biarlah, nanti di fix Editor
Gege
dan Wang Chen pun jualan obat...🤣😄
HiaTus
/Rose/
Wakana
wow sangat menarik & unik 👀
Ironside: Terima kasih telah membaca, semoga betah /Smile/
total 1 replies
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
‎ ‎ ‎Basah Mas... Sampe Banjir
ada insectnya gak kak?
‎ ‎ ‎Basah Mas... Sampe Banjir: yah, kecewa kak.
total 2 replies
The Ironheart
darkfantasy ini kak☺️
Ironside: /Slight/
total 1 replies
Ironside
Pliss... Like, Subscribe dan Upvote jika kalian menyukai karya ini /Determined/.
Ironside: Mr. Willheim /Scare/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!