Ketika perbedaan kasta memaksa mereka berpisah dan amnesia menghapus ingatan Neya, akankah kisah cinta delapan tahun yang mereka rajut sejak SMP benar-benar berakhir atau takdir punya cerita lain ?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retaknya Sebuah Rahasia
Kinan memajukan tubuhnya, menumpu kedua tangannya di atas meja oval, menatap lurus ke dalam manik mata bulat Neya yang berpura-pura polos. "Sampai kapan kamu mau berpura-pura amnesia di depanku, Neya? Kamu sengaja bermesraan dengan Aris sepanjang rapat tadi hanya untuk menyiksaku, bukan? Kamu mengingatku. Kamu mengingat semuanya"
Mendengar ucapan Kinan, pertahanan kepolosan di wajah Neya perlahan runtuh. Mengingat mereka hanya berdua dan pintu telah terkunci, Neya memutuskan untuk membuka sedikit topengnya khusus untuk pria ini. Ia mendongak, dan untuk pertama kalinya setelah satu tahun, sepasang mata bulatnya tidak lagi memancarkan kepasrahan, melainkan kilat kerinduan yang teramat pekat dan tajam.
Jika aku tidak berpura-pura amnesia, keluargamu yang kejam akan kembali memburuku dan melenyapkanku, Kinan," bisik Neya dengan suara yang bergetar hebat. Ia bangkit dari kursinya, menatap Kinan dengan seluruh emosi yang selama ini ia pendam sendiri. "Aku terpaksa menikahi Aris karena ibuku meminta perlindungan dari lingkaran mereka! Aku harus bertahan hidup!"
Mendengar pengakuan yang keluar langsung dari bibir Neya, benteng pertahanan Kinan runtuh total. Konfirmasi bahwa wanita yang dicintainya ini tidak pernah melupakannya membuat seluruh akal sehatnya menguap. Kinan langsung melangkah memutari meja, menarik tubuh Neya ke dalam pelukannya yang teramat erat, seolah takut wanita itu akan kembali menjelma menjadi hantu masa lalu.
"Maafkan aku... maafkan aku karena terlambat menyelamatkanmu," bisik Kinan parau di ceruk leher Neya.
Neya merasakan dada bidang Kinan yang berdegup liar. Neya membalas pelukan Kinan, mengulurkan tangan halusnya untuk menyentuh rahang tegas pria itu, menatapnya dengan keelokan dan kepasrahan yang membuai. "Kinan... aku milikmu. Tapi tolong, bersabarlah..."
Kalimat itu justru menjadi pemutus tali kendali terakhir di dalam diri Kinan. Tatapan elok Neya dan sentuhannya membuat mereka berdua sepenuhnya terbuai. Kinan menundukkan wajahnya, meraup bibir ranum Neya dengan sebuah ciuman yang teramat intens, menuntut, dan penuh dengan luapan emosi yang bergemuruh. Neya memejamkan matanya, membalas setiap kecupan Kinan dengan kehangatan yang membuat mereka berdua lupa akan dunia luar dan meluapkan seluruh kerinduan yang membakar selama setahun ini.
Klik.
Suara halus dari arah pintu kaca ruang rapat yang mendadak bergeser sedikit terbuka seketika memutus keintiman di antara mereka. Neya dan Kinan langsung menarik diri dengan cepat, menata napas mereka yang memburu, dan menoleh ke arah sumber suara dengan jantung yang berdegup kencang.
Di balik celah pintu yang sedikit terbuka itu, tidak ada sosok Aris.
Melalui pantulan kaca lobi luar yang temaram, Neya bisa melihat siluet ujung sepatu hak tinggi milik seorang wanita yang baru saja melangkah mundur dengan tergesa-gesa ke arah koridor lift, meninggalkan keheningan yang mencekam.
Neya menyipitkan matanya yang tajam. Otak jeniusnya langsung teringat pada tatapan intens dari wanita di dalam mobil sedan mewah berkaca gelap yang mengintainya di trotoar tadi siang. Ada seseorang yang baru saja melihat mereka.
Langkah kaki Sherly terdengar berdentum tidak teratur di atas lantai marmer kediaman utama keluarga Kusuma. Napasnya memburu, terengah-engah seolah-olah ia baru saja berlari dikejar oleh setan. Wajah cantiknya pucat pasi, namun sepasang matanya menyiratkan luka, amarah, dan penghinaan yang teramat luar biasa.
Pemandangan di ruang rapat tadi—ciuman intens antara Kinan dan asisten kreatif bernama Neya itu—terus berputar di kepalanya bagai kaset rusak yang menyiksa batinnya. Rasa sakit hati sebagai istri sah yang selalu diabaikan di atas ranjang kini meledak menjadi badai emosi yang siap menghancurkan apa saja.
Sherly terus melangkah lebar menuju ruang keluarga utama, di mana Mama Casandra sedang duduk santai di atas sofa beledu sembari menyesap teh sorenya dengan keanggunan tirani yang khas.
Mama!" panggil Sherly dengan suara melengking yang bergetar hebat, air matanya menetes deras menghancurkan riasan wajahnya. "Siapa sebenarnya perempuan jalang bernama Neya itu, Ma?! Jawab Sherly!"
Mama Casandra tersentak kecil, namun dalam hitungan detik ia kembali menguasai keadaan. Ia meletakkan cangkir tehnya dengan ketukan pelan yang sangat tenang, lalu menatap menantunya dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan menilai yang dingin.
Jaga bicaramu, Sherly. Di mana sopan santun keluarga Mahendra yang selalu kamu banggakan itu?" ucap Mama Casandra, suaranya mengalun datar namun sarat akan keangkuhan seorang sosialita papan atas. Ia menyandarkan punggungnya dengan santai. "Neya? Jadi kamu sudah mendengar nama gadis itu?"
"Sherly bukan cuma dengar namanya, Ma! Sherly lihat dengan mata kepala Sherly sendiri!" jerit Sherly, dadanya kembang kempis menahan sesak yang kian mencekik. "Kinan... Kinan mencium perempuan itu di ruang rapat kantor cabang! Pria yang selama ini bersikap seperti robot tanpa jiwa di depanku, tiba-tiba tersenyum bahagia dan memeluk perempuan lain dengan begitu intim! Apa artinya semua ini, Ma?!"
, kilat kemarahan sempat melintas di mata Mama Casandra. Namun, alih-alih panik, wanita tua itu justru mengulas sebuah senyuman sinis yang penuh dengan penghinaan mutlak terhadap masa lalu putranya.
"Oh, jadi pelacur kecil itu ternyata masih hidup dan berani menampakkan batangnya lagi di depan anakku," ucap Mama Casandra dengan gaya khasnya yang teramat merendahkan. Ia mendengus hambar, melipat tangannya di dada. "Neya itu bukan siapa-siapa, Sherly. Dia hanyalah sampah dari masa lalu Kinan. Seorang gadis miskin, rendahan, yang tidak punya harga diri dan hampir mati mengenaskan karena mencoba mengemis cinta di lingkaran keluarga Kusuma. Dia tidak lebih dari sekadar kerikil kotor yang sudah kami singkirkan satu tahun lalu agar tidak merusak nama baik dan kesempurnaan dinasti bisnis kita."
Mama Casandra kemudian bangkit dari duduknya, melangkah mendekati Sherly dengan tatapan mata yang mendadak menajam, menuntut kejelasan lebih dalam. "Sekarang, ceritakan pada Mama dengan apa yang sebenarnya kamu rasakan sampai kamu sehancur ini? Jangan biarkan emosimu membuatmu terlihat lemah!"
Dengan tangis yang kian pecah dan suara yang putus-putus, Sherly menumpahkan seluruh beban batin dan rasa sakit yang ia rasakan selama ini. "Kinan tidak pernah menganggapku ada, Ma! Dia menyentuhku di kamar hanya karena tuntutan Mama untuk memberikan cucu, tapi jiwanya... jiwanya ada pada perempuan kotor itu! Mereka berdua saling mengingat, Ma! Mereka berkhianat di belakang kita semua! Aku tidak mau menjadi istri pajangan yang ditertawakan oleh perempuan rendahan seperti dia!"
Mendengar seluruh cerita Sherly yang begitu emosional, murka Mama Casandra akhirnya tidak bisa dibendung lagi. Kesempurnaan keluarga Kusuma yang ia bangun dengan darah dan air mata kini terancam runtuh hanya karena seorang gadis miskin yang gagal dilenyapkan satu tahun lalu.
Mama Casandra tidak tinggal diam. Ia berbalik menuju meja konsol mewah, meraih ponsel pribadinya dengan gerakan yang teramat kasar, lalu mencari sebuah nomor kontak yang sudah sangat lama tidak ia hubungi.
Sambungan telepon berdering beberapa kali sebelum akhirnya diangkat di seberang sana. Tanpa basa-basi, Mama Casandra langsung menyerang dengan nada suara yang mendesis tajam bagai bisa ular yang mematikan.
Tutup mulutmu dan dengarkan aku baik-baik, Imelda! Anak jalangmu yang bernama Neya itu benar-benar tidak tahu diri! Dia sengaja menggoda Kinan lagi di lokasi proyek siang ini! Dia sengaja memancing Kinan berkhianat di belakang istrinya!" gertak Mama Casandra dengan emosi yang meluap-luap. "Dengar ya, Imelda! Jika kamu masih sayang dengan keselamatan nyawa anakmu, seret perempuan jalang itu keluar dari kota ini sekarang juga! Jika tidak, jangan salahkan aku jika peluru maut keluarga Kusuma benar-benar menembus kepalanya kali ini!"
Di seberang telepon, suasana sempat hening selama beberapa detik. Namun, respons yang keluar dari bibir Ibu Imelda sama sekali di luar ekspektasi Casandra. Tidak ada suara tangisan, tidak ada nada gemetar ketakutan, dan tidak ada kepanikan yang malang.
Ibu Imelda menarik napas panjang, lalu mendengus hambar—sebuah kekehan dingin yang sarat akan kebencian mendalam yang sudah lama ia pendam terhadap keluarga Kusuma.
"Cukup, Casandra! Jangan pernah kamu berani mengancam keselamatan putriku lagi dengan mulut kotormu itu!" potong Ibu Imelda, suaranya terdengar begitu tegas, tegar, dan penuh dengan penekanan yang berani menantang balik dominasi wanita kaya itu.
Di dalam hatinya, Ibu Imelda memang merasa sangat kecewa dan terpukul mendengar kabar bahwa Neya ternyata masih berhubungan dengan Kinan. Ia kecewa karena putrinya seolah masuk kembali ke dalam lingkaran setan yang pernah hampir menghancurkan hidup mereka. Namun, rasa kecewa kepada putrinya adalah urusan pribadinya sebagai seorang ibu, dan ia sama sekali tidak akan membiarkan wanita sekejam Casandra terus-menerus menyudutkan dan merendahkan darah dagingnya.
"Kamu bilang Neya menggoda anakmu? Berkacalah, Casandra! Anakmu yang cacat moral itu yang sejak dulu tidak pernah bisa melepaskan putriku!" ucap Ibu Imelda dengan nada penuh penghinaan yang berbalik menyerang. "Dan asal kamu tahu, simpan semua ancaman peluru kosongmu itu. Neya yang sekarang bukan lagi Neya yang sebatang kara seperti satu tahun lalu. Saat ini, putriku sudah berada di bawah perlindungan penuh keluarga Aris! Jika kamu berani menyentuh seujung rambutnya saja, kamu tidak hanya berurusan denganku, tapi kamu akan berhadapan langsung dengan kekuasaan keluarga suaminya!"
Mendengar gertakan balik yang begitu berani dari wanita yang selalu ia anggap remeh, wajah Mama Casandra seketika merah padam karena syok dan murka. Belum sempat Casandra membalas kalimat itu, Ibu Imelda sudah mengambil tindakan lebih cepat.
*Bip.*
Ibu Imelda memutuskan sombungan telepon itu secara sepihak dengan napas yang memburu, menyisakan Casandra yang terpaku menahan malu dan amarah yang meledak-ledak di ruang tengahnya sendiri.
Ibu Imelda meletakkan ponselnya ke atas meja dengan tangan yang mengepal kuat. Matanya berkilat tajam memandang ke depan. Ia membenci keluarga Kusuma dengan seluruh jiwanya, dan kini, ia harus segera mencari tahu apa yang sebenarnya sedang direncanakan oleh Neya di balik pernikahan rahasianya bersama Aris.
Di dalam ruang tengah kediaman Kusuma, badai besar telah resmi dimulai. Mama Casandra menoleh ke arah Sherly dengan tatapan yang teramat dingin dan kejam. "Hapus air matamu, Sherly. Tidak ada tempat untuk wanita cengeng di keluarga ini. Kita akan melenyapkan kerikil kotor itu bersama-sama."
lalu Kinan ?