Bram bekerja sebagai marketing di perusahaan retail di Jakarta. Hidupnya hanya kerja, gym, dan cari wanita lewat app atau club. Dia ahli di ranjang tapi takut komitmen. Cerita mengikuti perjalanan Bram yang terus berganti pasangan, menghadapi konflik dari mantan, keluarga, kantor, dan masalah kesehatan. Dia ingin tetap bebas, tapi tekanan semakin besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iskak M, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Angga Lagi
Tiga hari orientasi di Yogya akhirnya selesai juga.
Cabang itu memang butuh perhatian ekstra. Banyak sistem yang berantakan, beberapa karyawan mulai kehilangan arah, dan omzetnya turun terus dalam beberapa bulan terakhir. Tapi meski begitu, gue masih belum yakin mau pindah permanen ke sana.
Pagi itu udara Kaliurang dingin banget. Kabut tipis masih turun waktu gue keluar kamar sambil bawa tas.
Pipit langsung lari meluk kaki gue begitu lihat gue siap berangkat.
“Om jangan pergi…”
Suaranya bikin dada gue agak sesak.
Gue jongkok pelan, ngusap kepala kecilnya.
“Om kerja dulu, Pit.”
“Janji balik?”
“Iya. Om balik kok.”
Pipit masih meluk gue erat seolah takut gue ilang beneran.
Di belakangnya, Poppy berdiri sambil nyender di pintu rumah. Mukanya kelihatan murung meski dia berusaha senyum.
Begitu taksi yang gue pesan datang, dia narik tangan gue pelan ke samping.
“Gue mau ngomong bentar.”
“Hm?”
Dia lipat tangan di dada, lalu narik napas panjang dulu sebelum ngomong.
“Kayaknya gue bakal stay di Yogya.”
“Bisnis online?”
“Iya. Mau gue seriusin di sini. Sekalian gue lagi kepikiran buka gym kecil.”
Gue langsung noleh.
“Gym?”
Poppy ketawa kecil.
“Kenapa? Nggak cocok?”
“Bukan gitu…”
“Lu kan suka fitness. Gue kepikiran lu bantu jadi trainer. Sore atau malam aja. Hitung-hitung nambah penghasilan.”
Dia ngomong santai, tapi matanya serius banget.
“Klien pasti banyak kalau trainer-nya ganteng,” tambahnya sambil nyengir.
Gue ketawa kecil.
“Lu ini ada aja.”
“Gimana?”
“Belum tahu, Pop. Gue aja belum pasti pindah ke sini.”
Poppy keliatan sedikit kecewa, tapi dia tetap ngangguk pelan.
“Iya sih…”
Beberapa detik kami diem.
Lalu tiba-tiba dia maju dan nyium pipi gue cepat.
“Jangan lupa balik.”
Sebelum gue sempat jawab, dia langsung mundur sambil pura-pura sibuk sama Pipit.
Taksi mulai jalan meninggalkan rumah itu.
Dari kaca belakang gue lihat Pipit masih melambai-lambai kecil sampai rumah mereka hilang di tikungan.
Entah kenapa hati gue berat ninggalin tempat itu.
Perjalanan balik ke Jakarta terasa lebih panjang dari biasanya.
Sepanjang jalan pikiran gue muter ke mana-mana.
Sinta.
Poppy.
Pipit.
Nada.
Kerjaan.
Dan sekarang tawaran gym itu.
Hidup gue makin lama makin kayak benang kusut.
Sampai di Gambir malam hari, badan gue udah pegel semua. Gue langsung naik taksi menuju apartemen.
Begitu pintu dibuka, aroma parfum manis langsung nyambut.
Marita berdiri di depan gue sambil senyum lebar.
“Akhirnya pulang juga.”
Belum sempat jawab, dia langsung meluk gue erat.
Tubuhnya hangat.
Dan jujur aja… gue memang kangen.
Selama gue di Yogya, dia yang jagain apartemen ini.
Marita keliatan makin cantik malam itu. Rambut keritingnya dibiarkan terurai berantakan, bikin aura eksotisnya makin keluar. Dia cuma pakai tanktop tipis sama celana pendek rumah.
Simple.
Tapi bikin susah fokus.
“Lu tambah seksi aja,” kata gue sambil naruh tas.
Dia ngakak kecil.
“Baru pulang udah genit.”
“Fakta.”
“Udah mandi sana. Bau kereta.”
Gue langsung mandi air hangat cukup lama. Rasanya badan gue baru hidup lagi setelah kena air panas.
Pas keluar kamar mandi cuma pakai handuk, Marita ternyata udah duduk di ujung kasur sambil main HP.
Dia noleh pelan.
Tatapannya langsung berubah.
Tanpa banyak ngomong dia jalan mendekat, lalu narik handuk gue pelan sambil nyengir tipis.
“Kangen nggak sama gue?”
“Menurut lu?”
Marita langsung nyium gue duluan.
Ciumannya dalam dan lama. Tangan gue otomatis melingkar di pinggangnya.
Udah lama gue nggak ngerasain suasana sehangat itu.
Bukan cuma soal gairah, tapi rasa nyaman karena ada orang yang nungguin kita pulang.
Malam itu kami larut dalam pelukan dan ciuman panjang. Semua rasa capek dari perjalanan seolah hilang pelan-pelan.
Marita beberapa kali ketawa kecil di sela-sela napasnya.
“Kok diem aja?”
“Lagi nikmatin.”
“Cie…”
Dia memang selalu bisa bikin suasana ringan.
Setelah semuanya reda, kami rebahan sambil pelukan di kasur.
Marita nyender di dada gue sambil gambar-gambar kecil pakai jarinya.
“Yogya gimana?”
“Tenang.”
“Terus?”
“Bikin males balik Jakarta.”
Dia langsung nengadah.
“Wah bahaya.”
Gue ketawa kecil.
“Tapi serius. Di sana beda.”
“Karena ada cewek cantik ya?”
“Bisa aja lu.”
Marita nyubit perut gue pelan.
“Gue kenal muka lu kalau lagi banyak pikiran.”
Gue cuma diam.
Karena dia memang nggak salah.
Pikiran gue lagi penuh banget.
Besok paginya kami berangkat kantor bareng.
Marita keliatan fresh pakai kemeja putih dan rok hitam kerja. Rambut keritingnya diikat setengah, bikin banyak orang otomatis nengok waktu kami masuk lobby.
Begitu sampai kantor, suasana masih normal.
Sampai akhirnya Pak Krismono datang dan langsung nyuruh gue masuk ruangan.
“Duduk.”
Gue langsung kasih laporan lengkap soal cabang Yogya. Mulai dari masalah operasional, kondisi karyawan, target omzet, sampai potensi pengembangan.
Pak Krismono dengerin sambil beberapa kali nyatet sesuatu.
Setelah gue selesai, dia nyender di kursinya.
“Gini,” katanya akhirnya. “Kita punya dua opsi.”
Gue diem nunggu.
“Lu dua minggu di Yogya, dua minggu di Jakarta.”
“Bolak-balik?”
“Iya. Sementara.”
Dia lanjut jelasin kalau beberapa karyawan Yogya bakal dipindah ke cabang lain supaya biaya operasional turun.
“Nada juga sementara kita tarik ke Jakarta sampai sistem stabil.”
Gue sedikit kaget.
“Nada?”
“Iya. Dia salah satu yang paling kompeten di sana.”
“Terus cabangnya?”
“Kita lihat tiga bulan.”
“Tiga bulan?”
“Kalau nggak ada peningkatan signifikan… tutup.”
Ruangan langsung hening sebentar.
Jujur aja gue nggak nyangka sampai segitunya.
“Berarti status gue sekarang?”
“Masih percobaan sebagai kepala cabang.”
Gue mengangguk pelan.
“Kalau berhasil?”
“Lu stay di Yogya.”
“Kalau gagal?”
Pak Krismono tersenyum tipis.
“Balik jadi orang Jakarta lagi.”
Begitu keluar ruangan, kepala gue langsung makin berat.
Belum juga sempat duduk, tiba-tiba suara bentakan terdengar dari ujung koridor.
“Mana dia?!”
Semua orang langsung noleh.
Angga datang dengan muka merah padam.
Begitu lihat gue, dia langsung jalan cepat mendekat.
“Lu keluar sekarang!”
Gue menghela napas panjang.
“Apaan lagi sih?”
“Jangan pura-pura bego!”
Tangannya nunjuk tepat ke muka gue.
“Lu pikir gue nggak tahu permainan lu?”
Beberapa karyawan mulai berhenti kerja dan ngeliatin kami.
Gue tetap santai.
“Kalau mau ngomong, ngomong biasa.”
“Keluar! Kita selesain sekarang!”
Suasana makin panas.
Untung Ria tiba-tiba muncul dari belakang.
“ANGGA!”
Suaranya langsung bikin semua orang diem.
Ria berdiri di tengah kami sambil melototin Angga.
“Lu sadar nggak ini kantor?”
“Tapi dia—”
“Gue nggak peduli!”
Ria langsung dorong dada Angga pelan supaya mundur.
“Kalau aku masih mau kerja di sini, tenangin diri lu.”
Angga masih emosi banget. Rahangnya sampai keliatan kenceng.
Ria akhirnya noleh ke gue.
“Lu keluar dulu deh. Biar gue urus.”
Gue males ribut lebih jauh, jadi gue ambil jaket lalu keluar kantor.
Udara Jakarta siang itu panas dan sumpek.
Gue jalan kaki ke kafe dekat kantor buat nenangin kepala.
Baru juga duduk dan pesan kopi, suara cewek familiar muncul.
“Tumben sendirian.”
Gue nengok.
Maya.
Dia langsung duduk di depan gue tanpa permisi.
Dress santainya simpel, tapi tetap elegan. Rambut panjangnya tergerai rapi dengan aroma parfum yang khas.
“Ngikutin gue ya?” tanya gue.
“PD banget.”
Dia langsung nyeruput es kopi gue tanpa izin.
“Eh itu punya gue.”
“Sekarang punya kita.”
Gue ketawa kecil.
Maya memang selalu seenaknya sendiri.
“Dengar-dengar lu baru dari Yogya?”
“Cepat banget gosip nyebarnya.”
“Dunia ini kecil.”
Dia nyender santai sambil natap gue penuh rasa penasaran.
“Katanya ketemu Poppy?”
Nah.
Mulai.
“Info dari mana lagi itu?”
“Rahasia.”
“Ck.”
Maya nyengir jail.
“Jadi? Gimana janda Kaliurangnya?”
“Biasa aja.”
“Bohong.”
Gue ngakak kecil.
Kadang gue heran sendiri kenapa semua cewek di sekitar gue gampang banget saling tahu.
Kami ngobrol lumayan lama. Maya cerita soal klinik barunya yang lagi dia urus. Dia keliatan capek, tapi matanya tetap hidup kalau ngomongin kerjaan.
“Lu sendiri gimana?” tanyanya akhirnya.
“Apanya?”
“Hidup lu.”
Gue langsung ketawa hambar.
“Berantakan.”
“Nah itu baru jujur.”
Maya diem sebentar sebelum lanjut ngomong lebih serius.
“Hati-hati aja.”
“Hm?”
“Kadang terlalu banyak pilihan malah bikin orang kehilangan arah.”
Kalimat itu nancep juga di kepala gue.
Karena dia benar.
Setiap kota sekarang kayak punya cerita sendiri buat gue.
Jakarta dengan semua masalah dan tekanannya.
Yogya dengan ketenangan dan kehangatannya.
Dan di tiap tempat selalu ada seseorang yang bikin gue betah.
Sore hari gue balik ke apartemen.
Marita ternyata udah masak.
Aroma ayam bakar langsung memenuhi ruangan begitu gue buka pintu.
“Pas banget,” katanya sambil naruh piring. “Gue lapar.”
Kami makan sambil nonton TV dan ngobrol santai.
Momen sederhana kayak gitu justru yang bikin nyaman.
Malamnya kami kembali larut dalam pelukan hangat. Tapi kali ini kepala gue nggak benar-benar tenang.
Di sela-sela mata yang mulai berat, pikiran gue malah melayang lagi ke Yogya.
Ke Poppy yang diam-diam berharap lebih.
Ke Pipit yang polos banget minta gue jadi ayahnya.
Ke Nada yang sekarang bakal pindah sementara ke Jakarta.
Dan tentu aja… ke Sinta yang hampir tiap hari terus ngechat minta kepastian.
Hidup gue makin ribet.
Tapi anehnya… gue belum benar-benar pengen keluar dari semua kekacauan ini.
Karena di balik semua drama itu, ada perasaan kalau hidup gue akhirnya nggak kosong lagi.
Besok pagi gue harus mulai siap-siap buat dua minggu pertama bolak-balik Yogya.
Dan entah kenapa, firasat gue bilang…
Semua ini baru mulai.
btw, sy juga baru mula menulis novel. kalau ada masa terluang bole lah singgah profile saya. terima kasih 😄😍