NovelToon NovelToon
Toko Roti Cinta Sepoi-sepoi

Toko Roti Cinta Sepoi-sepoi

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:568
Nilai: 5
Nama Author: kawaichanopi

📖 Judul: Toko Roti Cinta Sepoi-sepoi

Deskripsi Cerita:

Di sudut jalan tua yang masih menyimpan jejak sejarah, berdiri kokoh sebuah bangunan kayu bergaya klasik Tiongkok. Di sanalah letak Toko Roti Lian Hua, tempat di mana udara selalu beraroma hangat manis—campuran gula, tepung, dan aroma kayu manis yang khas.

Di balik meja kayu yang sudah usang namun bersih, bekerja seorang gadis bernama Mei Lin. Di usianya yang ke-20, ia sudah menjadi pemilik tunggal toko ini, satu-satunya warisan berharga peninggalan orang tuanya yang telah tiada dalam sebuah kecelakaan misterius. Mei Lin gadis yang ceria, berhati lembut, sangat menyayangi anak kecil dan kucing liar. Namun, takdir memberinya satu ujian berat: ia terlahir bisu. Ia tak bisa bersuara, tak bisa berteriak, dan tak bisa membela diri dengan kata-kata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kawaichanopi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Dalam Istana Keputusasaan

Angin utara bertiup makin kencang dan dingin, membawa butiran-butiran es halus yang menyakitkan kulit. Dari bawah bukit, Istana Keputusasaan itu tampak menjulang tinggi dan mengerikan, seolah menembus langit kelabu yang tertutup kabut tebal. Dinding-dindingnya terbuat dari batu hitam yang dingin, dan setiap sudutnya memancarkan aura yang membuat siapa saja yang melihatnya merasa kecil, lemah, dan tidak berdaya.

Namun, Mei Lin, Jun Jie, dan rombongan mereka tidak mundur selangkah pun. Didukung oleh warga Kota Lupa yang kini sudah sadar dan penuh harapan, mereka berjalan mendaki bukit yang licin dan tertutup salju itu.

"Jangan biarkan rasa dingin ini masuk ke dalam hati kalian," pesan Kakek Wangsa pelan namun tegas, suaranya terdengar jelas di tengah deru angin. "Dingin ini bukan cuma suhu udara. Ini dinginnya rasa tidak berharga, dinginnya rasa gagal, dinginnya rasa bahwa apa yang kita lakukan ini tidak ada gunanya. Pegang erat-erat keyakinan kalian. Itu satu-satunya pakaian hangat yang bisa menyelamatkan kita di sini."

Semakin dekat ke puncak bukit, semakin terasa beratnya langkah kaki mereka. Bukan karena jalan yang menanjak, tapi karena tekanan batin yang luar biasa kuat menekan dada mereka seolah ada gunung besar yang ditimpakan ke atas pundak.

Para prajurit mulai mengerang tertahan, keringat dingin membasahi dahi mereka meski udara di sekitar membeku. Bisikan-bisikan halus, lebih halus dan lebih licik daripada sebelumnya, mulai berbisik di telinga masing-masing:

"Kalian pikir kalian hebat? Kalian pikir kalian bisa mengubah dunia? Lihat betapa besar dan kuatnya tempat ini... lihat betapa kecilnya kalian... Sekuat apa pun kalian berusaha, pada akhirnya semua akan hancur dan dilupakan... Tidak ada gunanya berjuang... tidak ada gunanya mencoba..."

Jun Jie merasakan bisikan itu menusuk langsung ke dalam sanubarinya. Ia mulai ragu. Apakah aku cukup kuat? Apakah aku tidak cuma anak biasa yang kebetulan dapat kekuatan? Nanti kalau aku gagal, kalau aku lemah... aku akan menyeret Mei Lin dan semua orang ini ke dalam bahaya...

Rasa ragu itu tumbuh cepat, seperti rumput liar yang menutupi tanah subur. Kepala Jun Jie terasa berat, langkah kakinya melambat.

Namun, tiba-tiba ada tangan kecil yang hangat menyentuh tangannya, menggenggamnya erat sekali. Jun Jie menoleh, dan melihat Mei Lin berjalan di sampingnya, menatapnya lekat-lekat. Mata gadis itu tidak ada rasa ragu, tidak ada rasa takut. Yang ada cuma kepercayaan yang mutlak dan tak tergoyahkan.

Mei Lin mengangkat buku catatannya, dan di sana tertulis pesan singkat tapi sangat kuat:

"Kamu hebat. Kamu kuat. Kamu tidak sendirian. Kita berdua. Ingat? Kita akan selesaikan ini sama-sama."

Satu kalimat itu cukup untuk mematahkan semua bisikan jahat itu seketika. Rasa ragu di hati Jun Jie lenyap, digantikan oleh rasa hangat dan kekuatan yang berlipat ganda. Ia mengangguk mantap, menggenggam tangan Mei Lin lebih erat lagi.

"Terima kasih, Lin. Kamu benar. Selama kita bersama, tidak ada yang mustahil."

Akhirnya, mereka sampai di depan gerbang utama istana itu. Gerbang raksasa setinggi sepuluh orang itu tertutup rapat, terbuat dari besi hitam yang sangat tebal, tanpa celah atau pegangan apa pun. Namun, saat mereka berdiri di sana, gerbang itu terbuka sendiri perlahan dengan suara gemuruh berat dan menyeramkan, seolah mengundang mereka masuk ke dalam perut binatang raksasa.

Di balik gerbang itu, kegelapan pekat menyambut mereka. Bukan kegelapan biasa, tapi kegelapan yang memakan cahaya. Senter sihir, api obor, atau cahaya biasa tidak akan bisa bersinar di sana. Tapi Mei Lin dan Jun Jie tidak butuh api. Cahaya emas dan perak dari tubuh mereka sendiri memancar keluar, menyinari jalan setapak di depan mereka dengan terang dan hangat.

Mereka melangkah masuk. Suara gerbang di belakang mereka tertutup kembali rapat dengan bunyi KRAK! yang menggetarkan hati. Kini mereka terperangkap di dalam, tidak ada jalan kembali.

Di dalam istana itu, suasananya jauh lebih mengerikan daripada yang bisa dibayangkan. Lorong-lorongnya panjang, dingin, dan di dinding-dindingnya terukir gambar-gambar yang menyedihkan: gambar orang-orang yang menyerah, gambar harapan yang mati, gambar kebahagiaan yang dikubur.

Dan di setiap sudut, di setiap bayangan, ada wujud-wujud kabut abu-abu yang melayang-layang. Itu adalah sisa-sisa jiwa orang-orang yang kalah, yang menyerah, yang hatinya hancur sebelum sempat sampai ke sini. Mereka melayang tanpa tujuan, tanpa ingatan, tanpa rasa.

"Jangan sentuh mereka, jangan dengarkan mereka," bisik Nenek Sari dengan suara bergetar. "Mereka adalah contoh apa yang akan terjadi pada kita kalau kita kalah. Mereka hidup dalam damai semu, tapi sebenarnya mereka sudah mati sejak lama."

Mereka berjalan terus melewati lorong demi lorong, sampai akhirnya sampai di sebuah ruangan besar yang sangat luas dan tinggi. Ruangan itu kosong, tanpa hiasan, tanpa jendela, tanpa pintu keluar lain. Di tengah ruangan itu, ada satu kursi besar yang terbuat dari es hitam yang berkilau dingin.

Dan di situlah dia duduk.

Sang Raja Kabut.

Wujudnya tidak sebesar yang mereka bayangkan. Ia tampak seperti sosok pria yang tinggi dan kurus, berjubah hitam tebal yang menutupi seluruh tubuhnya. Wajahnya tertutup tudung, tidak terlihat jelas, tapi dari balik tudung itu, dua mata berwarna abu-abu pucat menatap mereka dengan tatapan yang begitu kosong, begitu dalam, dan begitu mengerikan.

Di sekelilingnya, kabut hitam berputar perlahan, menciptakan angin dingin yang membelah tulang. Aura kekuatannya begitu besar sampai-sampai Kakek Wangsa, Nenek Sari, dan Bara terpaksa mundur selangkah, menahan diri agar tidak terhempas ke belakang.

"Hampir saja..." suaranya terdengar rendah, parau, dan bergema di seluruh ruangan, seolah berasal dari segala arah sekaligus. Suaranya bukan suara marah, bukan suara jahat, tapi suara yang sangat lelah, sangat yakin, dan sangat dingin.

"Hampir saja kalian sampai ke sini... Hampir saja kalian percaya bahwa kalian berbeda... Bahwa kalian bisa mengubah sesuatu... Kalian sudah melewati begitu banyak ujian, mengalahkan penjaga gerbang, membangunkan kota yang tidur... Semua itu cuma permainan kecilku... untuk melihat seberapa terang cahaya yang kalian bawa..."

Sang Raja Kabut perlahan berdiri dari kursinya. Gerakannya lambat dan berat, seolah dia adalah gunung yang bergerak.

"Kalian pikir kebahagiaan itu nyata? Kalian pikir cinta itu kekuatan? Kalian pikir ingatan itu berharga? Lihatlah dunia ini... lihatlah sejarah ribuan tahun... Semua yang bahagia, akhirnya akan sedih. Semua yang bertemu, akhirnya akan berpisah. Semua yang lahir, akhirnya akan mati. Semua kenangan indah, akhirnya akan terlupakan. Lalu apa gunanya semua itu?"

Ia mengangkat tangannya yang tertutup jubah, menunjuk ke arah Mei Lin dan Jun Jie.

"Aku ada di sini sejak dunia ada. Aku adalah kebenaran yang paling nyata. Aku adalah Akhir Segalanya. Di hadapanku, rasa sakit dan rasa bahagia sama saja. Di hadapanku, kemenangan dan kekalahan sama saja. Semuanya akan berakhir dalam keheningan dan kelupaan. Lalu kenapa kalian berjuang? Kenapa kalian menyakiti diri sendiri dengan rasa cinta dan rasa rindu? Bukankah lebih baik lupa? Bukankah lebih baik damai selamanya?"

Tekanan yang keluar dari ucapan itu jauh lebih berat daripada sihir apa pun. Kata-katanya tajam, masuk ke dalam logika, masuk ke dalam rasa takut terdalam manusia.

Para prajurit di belakang sudah berlutut, menutup telinga mereka, wajah mereka menahan rasa sakit luar biasa karena mendengar kebenaran yang pahit itu. Kakek Wangsa mengusap wajahnya, matanya berkaca-kaca, tergoda oleh pemikiran itu. Benar juga... semua akan berakhir... kenapa harus susah payah berjuang?

Bahkan Nenek Sari pun terdiam, teringat masa lalunya yang penuh dendam dan kesedihan, merasa bahwa hidupnya memang sia-sia sampai dia bertemu mereka.

Hanya Mei Lin dan Jun Jie yang tetap berdiri tegak. Mereka tidak merasa takut, tidak merasa tergoda. Mereka saling pandang, lalu Jun Jie melangkah maju satu langkah. Suaranya tidak sekeras guntur, tapi tenang, mantap, dan menembus dinginnya ruangan itu.

"Paduka Raja Kabut... Kau benar semua. Kau benar bahwa semua akan berakhir. Kau benar bahwa pertemuan pasti ada perpisahan. Kau benar bahwa ingatan bisa hilang dan hidup bisa mati."

Jun Jie berhenti sejenak, lalu tersenyum lembut, senyum yang membuat Sang Raja Kabut terdiam kaget.

"Tapi kau salah besar satu hal, hal yang paling penting..."

Jun Jie menunjuk ke arah dada kirinya, ke arah hatinya.

"Kita hidup bukan untuk selamanya. Kita hidup bukan untuk tidak pernah sedih. Kita hidup bukan untuk diingat selamanya. Kita hidup... untuk merasakan. Kita hidup... untuk mencintai. Kita hidup... untuk memberi arti pada waktu yang singkat itu."

Mei Lin melangkah maju di samping Jun Jie, mengangkat buku catatannya tinggi-tinggi, tulisannya berkilauan dengan cahaya emas:

"Memang nanti kita akan mati. Memang nanti kita akan berpisah. Tapi rasa bahagia saat bersama, rasa hangat saat mencintai, rasa bangga saat berjuang... itu tidak akan hilang. Itu tidak akan sia-sia. Karena saat kita merasakannya... saat kita memberikannya... saat itu juga, kita sudah mengalahkanmu. Kita sudah membuktikan bahwa hidup itu indah, meski sebentar. Dan itulah kemenangan terbesar kita."

Sang Raja Kabut terdiam. Tubuhnya yang terbuat dari kabut itu bergetar hebat. Selama ribuan tahun dia meyakinkan semua makhluk bahwa hidup itu sia-sia dan kebahagiaan itu palsu. Tapi untuk pertama kalinya, ada jawaban yang begitu sederhana, begitu tulus, dan begitu kuat sampai-sampai logika dinginnya sendiri terguncang.

"Kalian... tidak mengerti..." suaranya bergetar, sedikit kehilangan kekuatan dinginnya. "Kalian muda... kalian belum tahu rasa sakit kehilangan... nanti saat kalian kehilangan satu sama lain... saat kalian tua dan sakit... saat kalian melihat semua yang kalian sayangi mati... kalian akan mengerti betapa benar aku... kalian akan datang kepadaku, memohon untuk lupa..."

"Mungkin benar," jawab Jun Jie lembut namun tegas. "Mungkin nanti kita akan sakit, akan sedih, akan kehilangan. Tapi kami lebih memilih merasakan sakit karena mencintai, daripada hidup dingin dan kosong sepertimu. Kami lebih memilih menangis karena rindu, daripada tidak punya siapa-siapa untuk dirindukan. Itulah perbedaan kami, Paduka. Kau punya keabadian... tapi kau tidak punya apa-apa. Kami punya waktu yang singkat... tapi kami punya segalanya."

Sang Raja Kabut mendengus keras, marah karena logikanya dikalahkan oleh ketulusan hati. Ia tidak bisa melawan kata-kata itu, karena kata-kata itu adalah kebenaran yang lebih tinggi dari kebenaran kematian.

"Cukup! Aku tidak mau mendengar omong kosong itu lagi!" teriaknya, dan seketika itu juga, seluruh ruangan berubah menjadi badai es dan kabut hitam.

"Aku tidak akan membiarkan cahaya kecil kalian ini merusak kerajaanku! Kalian mau berjuang? Kalian mau buktikan kekuatan cinta? Baiklah... aku akan hancurkan cinta itu sendiri di depan mata kalian! Aku akan ambil apa yang paling berharga buat kalian! Aku akan buat kalian sendiri saling melupakan dan saling membenci! Itu satu-satunya cara untuk membuat kalian menyerah selamanya!"

Dari kedua tangannya, Sang Raja Kabut melepaskan dua gumpalan kabut hitam yang sangat pekat dan cepat, melesat langsung ke arah Mei Lin dan Jun Jie.

"Ini adalah Sihir Perpisahan Abadi! Dia tidak akan membunuh tubuh kalian... tapi dia akan memutuskan semua ikatan hati yang pernah ada di antara kalian! Kalian akan hidup, tapi kalian akan menjadi orang asing satu sama lain! Dan tanpa satu sama lain, kekuatan kalian akan hilang! Kalian akan menjadi biasa, lemah, dan akhirnya datang kepadaku memohon damai!"

Kabut hitam itu menyambar dada Mei Lin dan dada Jun Jie serentak.

"AAAAAA!!"

Keduanya berteriak kesakitan, tubuh mereka terhempas ke belakang, jatuh terguling di lantai es yang dingin. Cahaya emas dan perak di tubuh mereka meredup drastis, hampir padam sama sekali.

Sang Raja Kabut tertawa, suara tawanya bergema mengerikan di seluruh ruangan.

"Lihatlah! Sudah selesai! Sekarang coba kalian ingat... siapa orang di sampingmu itu? Apakah dia temanmu? Apakah dia kekasihmu? Atau cuma orang asing yang kebetulan ada di sini? Ingatan tentang satu sama lain sudah aku hapus dari hati kalian! Ikatan kalian sudah putus!"

Mei Lin dan Jun Jie terbaring lemah di lantai, menahan rasa sakit yang luar biasa di dada dan di kepala. Perlahan, mereka berdua bangkit berdiri dengan susah payah.

Mata mereka saling bertemu.

Dan di detik itu, hati mereka terasa kosong. Kosong sekali.

Di mata Jun Jie, Mei Lin terlihat seperti gadis asing yang cantik, tapi tidak ada rasa cinta, tidak ada rasa rindu, tidak ada rasa akrab. Dia cuma orang asing.

Di mata Mei Lin, Jun Jie terlihat seperti pemuda gagah yang berani, tapi tidak ada rasa hangat, tidak ada rasa percaya, tidak ada rasa "dia milikku". Dia cuma orang asing.

Ikatan hati mereka, kenangan indah mereka, rasa cinta mereka... semuanya hilang. Terhapus bersih oleh sihir paling kejam dari Sang Raja Kabut.

"Lihat itu!" seru Sang Raja Kabut penuh kemenangan. "Kalian sudah lupa satu sama lain! Kekuatan kalian ada karena kalian saling mencintai dan saling percaya! Sekarang itu hilang! Kalian tidak punya apa-apa lagi! Menyerahlah! Atau mati saja di sini dalam kesepian abadi!"

Kakek Wangsa, Nenek Sari, Bara, dan para prajurit berteriak kaget dan cemas melihat pemandangan itu. Mereka melihat Jun Jie dan Mei Lin berdiri berhadapan, saling menatap dengan pandangan kosong dan dingin, persis seperti orang yang tidak pernah saling kenal seumur hidup.

Jun Jie mengerutkan keningnya, bingung. Siapa gadis ini? Kenapa rasanya ada sesuatu yang hilang? Kenapa rasanya ada lubang besar di dada kiri ini?

Mei Lin memegang dadanya, matanya berkaca-kaca karena rasa sakit yang aneh, rasa kehilangan yang tidak tahu apa yang hilang. Siapa pemuda ini? Kenapa saat melihatnya, rasanya dadaku sakit sekali? Kenapa rasanya aku harus melindunginya, meski aku tidak tahu siapa dia?

Sang Raja Kabut tersenyum puas, siap melepaskan serangan terakhir untuk menghancurkan mereka sepenuhnya.

Namun, tiba-tiba... Mei Lin melangkah maju. Ia tidak ingat siapa Jun Jie. Ia tidak ingat nama pemuda itu. Ia tidak ingat semua kenangan indah mereka.

Tapi ia ingat satu hal. Satu hal yang paling dalam, yang tertanam bukan di ingatan kepala, tapi di ingatan jiwa.

Ia melihat pemuda itu terlihat lemah, terlihat kesakitan, terlihat terancam oleh makhluk jahat di depannya. Dan di lubuk hatinya yang paling dalam, ada rasa yang lebih tua dari ingatan, lebih kuat dari waktu, lebih abadi dari kematian.

Rasa itu bernama Cinta. Cinta yang tidak butuh alasan, tidak butuh ingatan, tidak butuh penjelasan. Cinta yang ada begitu saja, karena memang seharusnya begitu.

Mei Lin mengangkat tangannya yang gemetar, lalu dengan sekuat tenaga ia berlari mendekat, berdiri di depan Jun Jie, membelakangi pemuda itu, dan menghadap langsung ke arah Sang Raja Kabut, melindunginya dengan tubuhnya sendiri.

Jun Jie tertegun kaget melihat itu. Kenapa dia melindungiku? Dia tidak kenal aku... kenapa dia rela mati buat aku?

Dan saat ia melihat punggung kecil itu yang berdiri berani melindunginya dari bahaya maut, tiba-tiba di lubuk hatinya juga, rasa itu muncul. Rasa yang lebih kuat dari sihir apa pun.

Ia tidak ingat namanya. Ia tidak ingat wajahnya. Tapi ia tahu satu hal mutlak: Dia adalah orang yang paling berharga di dunia ini. Dan aku harus melindunginya, apa pun yang terjadi.

Jun Jie berjalan cepat, berdiri di samping Mei Lin, lalu mengangkat pedangnya menghadap musuh, menempatkan dirinya di posisi paling depan, menjadi tameng bagi gadis itu.

Mata mereka kembali saling bertemu. Kali ini, meski ingatan hilang, rasa itu ada. Rasa akrab, rasa percaya, rasa "kita satu".

Mei Lin mengeluarkan buku catatannya, tulisan tangannya sedikit goyah tapi penuh kekuatan, diperlihatkan ke arah Sang Raja Kabut:

"Kau bisa hapus ingatan kami... tapi kau tidak bisa hapus rasa kami. Karena rasa ini bukan dibuat dari pikiran... tapi dibuat dari jiwa. Dan jiwa kami sudah menyatu jauh sebelum kami lahir ke dunia ini."

Jun Jie mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, suaranya kembali bergaung kuat dan penuh keyakinan:

"Kau pikir kau menang karena menghapus ingatan? Kau salah besar! Justru sekarang kami buktikan... kami saling mencintai bukan karena kenangan indah... tapi karena kami memang diciptakan untuk saling melengkapi! Tanpa ingatan pun, kami tetap akan memilih satu sama lain! Selamanya!"

Seketika itu juga, cahaya emas dan perak yang tadinya meredup, meledak kembali menyala jauh lebih terang, jauh lebih panas, dan jauh lebih dahsyat dari sebelumnya! Cahaya itu begitu terang sampai-sampai dinding es hitam istana itu mulai meleleh dan retak-retak!

Sihir Perpisahan Abadi yang dianggapnya tak terkalahkan, hancur lebur berkeping-keping karena satu hal sederhana: Cinta sejati tidak butuh ingatan untuk tetap ada.

Sang Raja Kabut mundur terhuyung-huyung, untuk pertama kalinya terlihat ketakutan dan kewalahan.

"Tidak mungkin... tidak mungkin... Tidak ada kekuatan yang bisa melawan kelupaan... Tidak ada..."

"Kekuatan kami bisa!" seru Jun Jie dan Mei Lin serentak.

Mereka berdua mengangkat tangan ke atas, menyatukan telapak tangan mereka, dan di antara mereka, terbentuklah bola cahaya putih raksasa, bersih, dan murni. Cahaya itu bukan lagi cahaya roti, bukan lagi cahaya sihir... tapi cahaya Cinta Sejati yang paling murni, yang mengalahkan segalanya.

"Ini akhir dari segalanya, Paduka Raja Kabut!" seru Jun Jie lantang. "Kami datang bukan untuk memusuhimu... kami datang untuk membangunkanmu sama seperti kami membangunkan yang lain! Kau juga makhluk hidup... kau juga punya hati yang tertidur ratusan tahun karena kesepian dan kepahitan! Terimalah cahaya ini... terimalah rasa ini... dan berakhirlah penderitaanmu yang panjang itu!"

Dengan satu gerakan serentak, mereka melepaskan bola cahaya raksasa itu lurus ke arah dada Sang Raja Kabut.

BLARRRRRR!!!

Ledakan cahaya yang luar biasa dahsyat memenuhi seluruh ruangan, menyebar ke seluruh penjuru istana, menembus dinding-dinding tebal, dan menyapu bersih setiap gumpalan kabut hitam yang ada di sana.

Istana Keputusasaan itu bergetar hebat, batu-batu hitamnya meleleh berubah menjadi cahaya, es-esnya mencair menjadi air jernih. Dan di tengah cahaya itu, wujud Sang Raja Kabut yang tinggi besar itu bergetar, menyusut, dan perlahan-lahan kabut hitamnya hilang, menampakkan wujud aslinya...

Seorang pemuda tampan, berwajah lembut namun penuh kesedihan mendalam, mengenakan pakaian kuno yang sederhana. Ia terbaring di lantai, matanya terbuka lebar, air mata bening mengalir turun untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun.

Ia bukan makhluk jahat asli. Ia adalah penyihir hebat zaman dahulu, yang hatinya hancur karena kehilangan orang yang dicintainya, yang memilih untuk menutupi seluruh dunia dalam kabut supaya tidak ada orang lain yang merasakan rasa sakit yang sama sepertinya. Ia hidup dalam kesedihan abadi, menyesatkan dirinya sendiri bahwa dia membawa kedamaian, padahal dia cuma membawa kesepian.

Ia mengangkat wajahnya, menatap Mei Lin dan Jun Jie yang berdiri di depannya dengan pandangan penuh kasih sayang, bukan rasa benci atau kemenangan.

"Jadi... begini rasanya..." bisiknya lirih, suaranya kini lembut dan damai. "Rasa dicintai... rasa dipahami... rasa bahwa hidup itu berharga meski ada rasa sakit... Terima kasih... terima kasih sudah membangunkan aku dari mimpi buruk yang panjang ini..."

Cahaya itu menyebar terus ke luar istana, menyebar ke seluruh wilayah utara, menyapu bersih semua kabut abu-abu dan hitam yang bertahun-tahun menutupi negeri itu. Langit yang tadinya kelabu kini berubah menjadi biru cerah, matahari bersinar terang menyinari tanah yang beku, rumput-rumput hijau tumbuh kembali, dan udara menjadi segar, hangat, dan penuh kehidupan.

Bahaya sudah lewat. Musuh utama sudah dikalahkan... bukan dengan pedang, tapi dengan pengertian dan kasih sayang.

 

1
listia_putu
❤️
Kawaichan Opi: ,terima kasih
total 1 replies
HiaTus
💪 sukses karyanya kak
Kawaichan Opi: terima kasih kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!