Di Kota Chang’an zaman modern, hiduplah seorang pemuda bernama Mu Chen. Ia berusia 22 tahun, bertubuh tegap dan gagah, tapi dikenal sebagai kutu buku yang haus akan pengetahuan sejarah dan filsafat Tiongkok kuno. Suatu sore di pasar loak, ia menemukan sebuah batu giok berwarna hijau pucat yang diukir pola Yin-Yang. Tanpa sadar, ia membawanya pulang. sebuah perjalanan yang merubah hidupnya dari jaman modern ke jaman kuno hidupnya para dewa Dewi dan iblis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon premier MT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Tingkatan Dunia Dewa dan Fondasi yang Tak Tertandingi
Suatu sore, saat Mu Chen sedang duduk santai sambil memetik buah di kebunnya, Kitab Jalan Bintang tiba-tiba mulai memancarkan cahaya lembut. Sejak misteri asal-usulnya terungkap, Kitab ini mulai membuka lebih banyak pengetahuan dasar yang selama ini tersimpan.
"Mu Chen, kau sudah memahami cara berkultivasi yang sesuai dengan tubuhmu. Sekarang saatnya kau mengetahui struktur tingkatan kekuatan di dunia ini — bahkan hingga tingkatan yang hanya ada dalam legenda, yang disebut sebagai Dunia Dewa."
Mu Chen berhenti memetik buah, lalu duduk bersandar di pohon dengan wajah penasaran: "Dunia Dewa? Bukankah itu hanya cerita dongeng untuk anak-anak?"
"Bukan dongeng. Tingkatan kekuatan ini sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Para pendiri sekte besar dan makhluk kuno mengetahui hal ini, meski jarang dibicarakan karena sangat sulit dicapai. Dengarkan baik-baik."
"Secara garis besar, jalan kultivasi terbagi menjadi sembilan tingkatan utama, mulai dari yang paling dasar hingga yang mencapai ambang batas menuju Dunia Dewa:"
✅ 1. Tingkat Pemula: Baru bisa merasakan energi langit dan bumi, tubuh mulai diperkuat. Ini tingkatan sebagian besar murid baru.
✅ 2. Tingkat Pelatihan: Mulai bisa menarik dan menyimpan energi, menciptakan serangan dasar.
✅ 3. Tingkat Penyatuan: Energi mulai menyatu dengan tubuh, kekuatan fisik meningkat pesat.
✅ 4. Tingkat Transformasi: Bisa mengubah bentuk energi, menciptakan jurus yang lebih kuat. Ini tingkatan para tetua sekte.
✅ 5. Tingkat Inti: Membentuk inti energi yang kokoh di dalam dantian — batas yang dianggap sulit dilewati banyak orang.
✅ 6. Tingkat Jiwa: Kesadaran dan kekuatan jiwa mulai berkembang, bisa merasakan lingkungan di sekitarnya tanpa melihat.
✅ 7. Tingkat Alam: Energi mulai selaras dengan alam, kekuatan bisa mempengaruhi cuaca dan lingkungan.
✅ 8. Tingkat Bumi: Mencapai puncak kekuatan di dunia fana, memiliki umur panjang dan kekuatan yang luar biasa.
✅ 9. Tingkat Langit: Ambang batas tertinggi di dunia ini. Mereka yang mencapai tingkatan ini bisa mencoba melangkah menuju Dunia Dewa.
"Di atas tingkatan kesembilan itulah terletak Dunia Dewa — tempat di mana energi tidak lagi sekadar disimpan, tapi sudah menjadi bagian dari diri sendiri, dan kekuatannya bisa mengubah ruang dan waktu. Namun, selama ribuan tahun, hampir tidak ada yang berhasil mencapainya."
Mu Chen mengangguk-angguk sambil memakan buahnya: "Jadi orang-orang biasanya berusaha naik tingkatan secepatnya agar bisa lebih kuat ya?"
"Tepat. Banyak orang terburu-buru. Mereka menarik energi sebanyak-banyaknya, memadatkannya dengan paksa, dan berusaha naik tingkatan secepat mungkin. Tapi ada harga yang harus dibayar — fondasi mereka menjadi rapuh. Semakin tinggi tingkatan, semakin terlihat kelemahannya, dan akhirnya mereka tidak bisa berkembang lebih jauh lagi."
Kitab itu kemudian menyoroti keadaan tubuh Mu Chen saat ini:
"Kalau diukur dengan standar biasa, secara jumlah energi kau baru setara dengan Tingkat Pelatihan menuju Penyatuan. Sangat lambat jika dibandingkan dengan orang berbakat lainnya — mereka bisa mencapai tingkatan ini dalam waktu satu tahun, sedangkan kau sudah berlatih lebih lama."
Mu Chen hanya tersenyum santai: "Lambat tidak apa-apa, kan? Yang penting tidak sakit kepala."
Namun nada Kitab itu berubah menjadi lebih tegas:
"Tapi kau salah satu yang paling beruntung — meski lambat, kualitas dan fondasimu berada di tingkat yang bahkan melebihi orang Tingkat Inti sekaligus!"
Mu Chen tertegun sedikit: "Maksudnya?"
"Coba kau lihat sendiri melalui Mata Kebenaranmu. Bandingkan energimu dengan energi orang lain."
Mu Chen menutup matanya sebentar, membuka Mata Kebenaran, dan melihat ke dalam tubuhnya. Ia bisa melihat jelas:
- Cairan di Dantian Surgawi-nya sangat jernih dan padat, tidak seperti kabut tipis milik orang lain
- Cairan di Dantian Neraka-nya berat namun stabil, tidak ada bagian yang kacau
- Setiap tetes energinya memiliki kilauan halus khas energi asal galaksi
"Satu tetes energimu setara dengan seratus tetes energi biasa dalam hal kepadatan dan kemurnian. Orang Tingkat Penyatuan yang memiliki energi seribu tetes, kekuatannya belum tentu bisa menandingi sepuluh tetes milikmu."
"Dan yang terpenting — fondasimu tidak memiliki celah sedikit pun. Tidak ada paksaan, tidak ada energi kotor yang tersisa, semuanya tumbuh secara alami dan sempurna. Ini yang disebut fondasi tingkat tertinggi, atau yang sering orang sebut sebagai fondasi over power."
"Ada alasan mengapa kau terasa lambat naik tingkatan. Pertama, energimu terlalu padat. Yang dianggap sebagai 'energi cukup' untuk naik tingkatan oleh orang lain, bagimu itu masih terlalu sedikit — karena setiap tetesnya membutuhkan waktu dan penyaringan yang jauh lebih lama."
"Kedua, Gerbang Galaksi secara alami membatasi aliran. Ia tidak membiarkan terlalu banyak energi masuk sekaligus agar fondasi tetap sempurna. Ia lebih memilih 'sedikit tapi sempurna' daripada 'banyak tapi rapuh'."
Mu Chen kini mulai memahami: "Jadi seperti membangun rumah ya? Kalau mau bangun rumah cepat, pakai batu bata biasa dan semen tipis — jadi cepat selesai tapi tidak tahan lama. Tapi kalau mau fondasi yang kuat, gali tanah lebih dalam, cari batu yang keras, semen yang bagus — jadi butuh waktu lama, tapi rumahnya bisa berdiri ribuan tahun."
"Tepat sekali! Perumpamaan itu sangat pas. Orang lain membangun rumah kayu atau batu bata biasa. Sedangkan kau sedang membangun benteng yang terbuat dari logam langit dan debu bintang. Butuh waktu jauh lebih lama, tapi tidak ada badai atau gempa yang bisa meruntuhkannya — bahkan ketika kau mencapai tingkatan yang lebih tinggi nanti."
Saat mereka berbicara, terdengar suara langkah kaki. Ternyata Bai Hao dan Zhao Feng datang mencari Mu Chen.
"Mu Chen, besok akan ada ujian antar murid dengan Sekte Angin Emas. Kau akan ikut?" tanya Bai Hao.
Zhao Feng menambahkan: "Kau sebaiknya ikut. Ini kesempatan untuk mengukur seberapa jauh perkembanganmu. Secara resmi aku sekarang sudah mencapai Tingkat Penyatuan Awal."
Mu Chen menggaruk kepalanya: "Kalau diukur, saya kira saya masih di Tingkat Pelatihan akhir. Masih jauh dari kalian berdua."
Zhao Feng tertawa pelan: "Itu tidak masalah. Yang penting pengalaman."
Namun Kitab Jalan Bintang berbisik dalam hati Mu Chen:
"Biarkan mereka mengukur. Kau akan melihat perbedaannya sendiri."
Keesokan harinya, di lapangan ujian, disediakan batu ukur energi. Batu ini akan bersinar semakin terang semakin besar jumlah dan kualitas energi yang dimasukkan.
Giliran pertama Zhao Feng: ia memasukkan energinya, dan batu itu bersinar terang berwarna hijau keemasan — mencapai tanda Tingkat Penyatuan.
"Bagus sekali! Kekuatanmu stabil dan cukup besar," puji Tetua Chang.
Kemudian giliran Bai Hao — bersinar agak redup sedikit, mencapai Tingkat Pelatihan Akhir.
Lalu giliran Mu Chen. Ia mendekat, dan dengan santai meletakkan telapak tangannya, mengalirkan sedikit energinya — sama seperti saat ia biasa berlatih.
Awalnya batu itu hanya bersinar redup, membuat banyak orang berpikir "benar seperti yang dikatakan". Namun seketika — cahaya perak terang meledak keluar!
Batu itu tidak hanya bersinar, tapi mulai bergetar hebat, retakan halus muncul di permukaannya, dan cahayanya melewati batas Tingkat Penyatuan, terus naik hingga mendekati batas Tingkat Transformasi — lalu tiba-tiba redup kembali saat Mu Chen menarik energinya.
Semua orang terdiam.
"Ini... bagaimana bisa?! Secara jumlah seharusnya sedikit, tapi tekanan dan kualitasnya bahkan melebihi Tingkat Penyatuan Puncak!" seru Tetua Qingyun yang memeriksa batu itu.
Zhao Feng menatap dengan mata terbelalak: "Itu... itu hanya sedikit energimu kan? Tapi rasanya jauh lebih berat dan padat daripada energiku!"
Mu Chen menggaruk kepalanya kikuk: "Maaf sepertinya saya memasukkan terlalu banyak. Tapi begitulah energinya, agak berat dan padat."
Di dalam hatinya, Kitab Jalan Bintang berkomentar:
"Lihat? Inilah kekuatan fondasi yang sempurna. Kau belum naik tingkatan secara resmi, tapi kekuatan dasarmu sudah melebihi mereka yang dua tingkat di atasmu. Ketika kau akhirnya naik tingkatan nanti, lonjakannya akan sangat besar — tidak seperti orang lain yang hanya bertambah sedikit kekuatannya."
"Ada banyak keuntungan memiliki fondasi seperti milikmu:"
✅ Tidak ada hambatan di masa depan: Saat orang lain akan kesulitan naik tingkatan karena fondasi yang rapuh, kau akan berjalan mulus tanpa hambatan
✅ Energi tidak mudah habis: Karena sangat padat, satu tetes bisa dipakai lebih lama dan lebih kuat
✅ Lebih mudah mempelajari teknik tinggi: Energi yang murni bisa menyesuaikan diri dengan segala jenis teknik, bahkan teknik tingkat dewa
✅ Tahan terhadap serangan energi kotor: Energi galaksi memiliki ketahanan alami terhadap racun dan energi terlarang seperti milik Sekte Bayangan Gelap
Mu Chen tersenyum lega mendengarnya: "Jadi lambat tidak apa-apa ya? Selama dasarnya kuat, nanti bisa tumbuh setinggi apa pun kan?"
"Tepat. Ingat pepatah: Pohon yang tumbuh cepat akan cepat roboh. Pohon yang tumbuh lambat akan berdiri selama ribuan tahun. Jalur yang kau tempuh ini bukan jalan pendek, tapi jalan yang paling luas dan paling kokoh — bahkan bisa menembus hingga Dunia Dewa kelak."
Sore itu, Mu Chen kembali berlatih dengan caranya sendiri — santai, rileks, tidak terburu-buru. Ia membuka Gerbang Galaksi seukuran lubang jarum, membiarkan energi mengalir masuk sedikit demi sedikit, disaring, dan diolah menjadi sesuatu yang semakin sempurna.
Ia tidak memikirkan tingkatan apa yang akan dicapainya, tidak membandingkan dirinya dengan orang lain. Ia hanya menjalani hari demi hari, memperkuat fondasinya sedikit demi sedikit — seperti menanam pohon yang kelak akan tumbuh menjulang tinggi, memiliki akar yang sangat dalam dan kuat.
"Lambat tidak masalah. Yang penting tidak terburu-buru, tidak memaksakan diri, dan tetap bisa makan enak setiap hari," gumamnya sambil tersenyum.
Dan di dalam dirinya, dua lautan energi yang jernih dan padat terus tumbuh perlahan, membangun fondasi yang tidak akan pernah bisa dicapai oleh siapa pun di dunia ini
Terima kasih...
Mohon dukungannya teman teman