NovelToon NovelToon
Nayara'S Story

Nayara'S Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / Action
Popularitas:510
Nilai: 5
Nama Author: Aini Nuraini

JUDUL: NAYARA'S STORY: TAWANAN DUA MORETTI

Hanya karena salah melihat eksekusi berdarah, hidup Nayara berubah menjadi neraka.

Dia diseret ke Mansion Moretti untuk dilenyapkan. Namun, saat pistol sang penguasa mafia, Lorenzo Moretti, menempel di dahinya, eksekusi itu batal. Wajah Nayara sangat mirip dengan wanita dari masa lalu Lorenzo.

Alih-alih bebas, Nayara justru terjebak menjadi tawanan sekaligus pemuas obsesi gila sang ayah, dan pelampiasan dendam sang anak—Dante Moretti—yang posesif. Diapit dua iblis mafia, Nayara dihancurkan hingga tak tersisa.

Namun mereka lupa, singa yang terluka akan menggigit lebih mematikan.

"Bagi mereka, tubuhku adalah candu yang memabukkan. Namun mereka lupa, candu ini pulalah yang akan menjadi racun paling mematikan bagi akhir hidup mereka."


Genre: Dark Romance, Mafia, Revenge, Toxic Triangle
⚠️ Peringatan: Mengandung konten dewasa dan konflik emosional yang intens.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aini Nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

perjanjian aliansi

"𝘈𝘸𝘢𝘴 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘺𝘢, 𝘣𝘢𝘫𝘪𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘨𝘪𝘭𝘢! 𝘗𝘴𝘪𝘬𝘰𝘱𝘢𝘵!" 𝘶𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘕𝘢𝘺𝘢𝘳𝘢 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘪𝘴𝘪𝘬, 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘵𝘢𝘱 𝘱𝘪𝘯𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘢𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘥𝘪𝘵𝘶𝘵𝘶𝘱 𝘋𝘢𝘯𝘵𝘦 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘵𝘶𝘮𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘳𝘢𝘴.

𝘋𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘮𝘱𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘬𝘢𝘴𝘶𝘳, 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘵𝘢𝘱 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘪𝘵-𝘭𝘢𝘯𝘨𝘪𝘵 𝘬𝘢𝘮𝘢𝘳 𝘩𝘰𝘵𝘦𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘸𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘯𝘢𝘱𝘢𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘳𝘶 𝘱𝘢𝘯𝘢𝘴. 𝘙𝘢𝘴𝘢 𝘱𝘶𝘴𝘪𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘦𝘯𝘺𝘶𝘵 𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘭𝘪𝘱𝘪𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘪𝘬𝘴𝘢 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘳𝘢𝘴 𝘵𝘦𝘯𝘢𝘨𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘦𝘳𝘪𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘥𝘪. 𝘕𝘢𝘺𝘢𝘳𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨𝘪 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘱𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘢𝘭𝘶𝘵 𝘱𝘦𝘳𝘣𝘢𝘯, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘶𝘵𝘶𝘬𝘪 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪.

"𝘉𝘰𝘥𝘰𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘦𝘵 𝘴𝘪𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘕𝘢𝘺𝘢! 𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘥𝘪 𝘨𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘯𝘢𝘯𝘨𝘪𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘭𝘦𝘮𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘪𝘣𝘭𝘪𝘴 𝘪𝘵𝘶?!" 𝘨𝘶𝘮𝘢𝘮 𝘕𝘢𝘺𝘢𝘳𝘢 𝘫𝘦𝘯𝘨𝘬𝘦𝘭, 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘭𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘳𝘦𝘢𝘬𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘥𝘪𝘤𝘶𝘭𝘪𝘬.

𝘋𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘪𝘯𝘨, 𝘮𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨𝘬𝘶𝘬 𝘴𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘮𝘢𝘴 𝘶𝘫𝘶𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘭𝘪𝘮𝘶𝘵 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘩𝘢𝘵. 𝘗𝘦𝘯𝘺𝘦𝘴𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘵𝘪𝘣𝘢-𝘵𝘪𝘣𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘺𝘢𝘱𝘪 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢.

"𝘏𝘢𝘳𝘶𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘥𝘶𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘪 𝘨𝘢𝘯𝘨, 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘶𝘴𝘢𝘩 𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘯𝘢𝘯𝘨𝘪𝘴 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢. 𝘏𝘢𝘳𝘶𝘴𝘯𝘺𝘢... 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘶𝘢𝘵-𝘬𝘶𝘢𝘵 𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘶𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘯𝘢𝘨𝘢!" 𝘕𝘢𝘺𝘢𝘳𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘶𝘴 𝘨𝘦𝘳𝘢𝘮, 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘬𝘦𝘯𝘢𝘳𝘪𝘰 𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘮𝘣𝘢𝘵 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢𝘯𝘺𝘢. "𝘉𝘪𝘢𝘳 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘢𝘯𝘥𝘶𝘭 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯! 𝘉𝘪𝘢𝘳 𝘪𝘮𝘱𝘰𝘵𝘦𝘯𝘴𝘪 𝘴𝘦𝘶𝘮𝘶𝘳 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱, 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘯𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘔𝘰𝘳𝘦𝘵𝘵𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘶𝘵𝘶𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘵𝘶𝘳𝘶𝘯𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘣𝘪𝘢𝘳 𝘱𝘶𝘯𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘶𝘬𝘢 𝘣𝘶𝘮𝘪! 𝘙𝘢𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶!"

𝘕𝘢𝘺𝘢𝘳𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘰𝘮𝘦𝘭 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪𝘢𝘯, 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘮𝘱𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢𝘩 𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘥𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘯𝘢𝘪𝘬 𝘵𝘶𝘳𝘶𝘯. 𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯, 𝘬𝘰𝘮𝘣𝘪𝘯𝘢𝘴𝘪 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘶𝘵 𝘬𝘰𝘴𝘰𝘯𝘨, 𝘥𝘦𝘮𝘢𝘮 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘬𝘢𝘳 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩, 𝘥𝘢𝘯 𝘦𝘮𝘰𝘴𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘥𝘢𝘬-𝘭𝘦𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘳𝘶𝘯𝘵𝘶𝘩.

𝘋𝘦𝘯𝘺𝘶𝘵𝘢𝘯 𝘩𝘦𝘣𝘢𝘵 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪, 𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘬𝘪𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮𝘯𝘺𝘢, 𝘴𝘦𝘰𝘭𝘢𝘩-𝘰𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘥𝘢 𝘳𝘪𝘣𝘶𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘳𝘶𝘮 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘴𝘶𝘬 𝘰𝘵𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪𝘨𝘶𝘴.

"𝘜𝘨𝘩... 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪..." 𝘳𝘪𝘯𝘵𝘪𝘩 𝘕𝘢𝘺𝘢𝘳𝘢 𝘱𝘦𝘭𝘢𝘯. 𝘒𝘦𝘥𝘶𝘢 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘵.

𝘚𝘪𝘴𝘢-𝘴𝘪𝘴𝘢 𝘢𝘮𝘢𝘳𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘢𝘱, 𝘥𝘪𝘨𝘢𝘯𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘭𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘧𝘪𝘴𝘪𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘢𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘵𝘢𝘴. 𝘚𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘭𝘶𝘬 𝘴𝘦𝘭𝘪𝘮𝘶𝘵 𝘵𝘦𝘣𝘢𝘭 𝘩𝘰𝘵𝘦𝘭 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘪𝘨𝘪𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘥𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘕𝘢𝘺𝘢𝘳𝘢 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘫𝘢𝘮𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘵𝘢 𝘳𝘢𝘱𝘢𝘵-𝘳𝘢𝘱𝘢𝘵. 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘰𝘮𝘦𝘭, 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘥𝘢𝘳𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘱𝘪𝘴 𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘫𝘢𝘵𝘶𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘪𝘥𝘶𝘳 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬𝘴𝘢𝘥𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘬𝘢𝘵 𝘢𝘬𝘪𝘣𝘢𝘵 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘶𝘩 𝘥𝘦𝘮𝘢𝘮 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘳𝘢𝘯𝘺𝘢.

Dante melangkah masuk ke dalam ruang VIP bar bawah tanah yang remang-remang di pusat kota Surabaya. Aroma cerutu mahal dan wiski menguar di udara, bercampur dengan ketegangan yang pekat. Di tengah ruangan, seorang pria paruh baya dengan setelan jas abu-abu bermotif garis—Don Hendra, pemimpin aliansi wilayah Timur—sudah duduk menunggu bersama empat pengawal bersenjata lengkap di belakangnya.

Dante mengambil tempat duduk di sofa seberang Hendra, sementara Lucas berdiri tegap di sisi kanannya.

"Kau terlambat sepuluh menit, Dante," ujar Hendra, suaranya berat dan serak, sengaja mengembuskan asap cerutunya ke udara untuk mengintimidasi. "Bukan kebiasaan keluarga Moretti untuk membuat sekutunya menunggu."

Dante tidak bergeming. Dia menatap Hendra dengan mata elangnya yang dingin, lalu menyandarkan tubuhnya dengan santai namun sarat akan kuasa. "Perjalanan udara sedikit terhambat, Hendra. Tapi kurasa sepuluh menit tidak akan membuat bisnismu bangkrut, bukan?"

Hendra terkekeh sinis, lalu memberi isyarat pada anak buahnya untuk meletakkan sebuah koper hitam di atas meja kaca. Koper itu dibuka, memperlihatkan tumpukan dokumen tebal bersimbol rahasia.

"Ini berkas kesepakatan baru untuk jalur distribusi senjata dan pencucian uang lewat pelabuhan internasional," Hendra mengetuk dokumen itu dengan jarinya yang dihiasi cincin emas besar. "Aku mau bagianku naik menjadi tiga puluh lima persen. Mengingat pemeriksaan bea cukai sekarang jauh lebih ketat karena pergantian kepala divisi."

Rahang Dante mengeras. Atmosfer di dalam ruangan langsung turun beberapa derajat. "Tiga puluh lima persen? Perjanjian awal kita adalah dua puluh lima persen, Hendra. Jangan memanfaatkan situasi untuk memeras Moretti."

"Situasi sudah berubah, Anak Muda," Hendra memajukan tubuhnya, menatap Dante dengan pandangan meremehkan. "Tanpa jalurgku di Timur, jet pribadi dan pengiriman senjatamu minggu depan ke Singapura itu cuma akan jadi rongsokan yang disita negara. Tanda tangani ini dengan angka tiga puluh lima persen, atau kita selesai di sini."

Suasana mendadak menjadi sangat mencekam. Para pengawal Hendra secara serentak meletakkan tangan mereka di atas sarung pistol yang tersampir di pinggang. Lucas di samping Dante ikut menegang, bersiap menarik senjata dari balik jasnya kapan saja.

Dante justru tertawa pelan—sebuah tawa dingin yang membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya merinding. Pria itu mematikan iPad-nya, lalu menatap Hendra dengan sorot mata membunuh yang teramat pekat.

"Kau pikir kau sedang bicara dengan siapa, Hendra?" bisik Dante, suaranya bariton, rendah, namun menggema penuh ancaman mutlak. "Kau pikir karena ayahku sedang di Jakarta, kau bisa mendikteku?"

"Aku hanya bersikap realistis, Tuan Muda Dante—"

"Kau tidak realistis, kau cuma sedang bunuh diri," potong Dante tajam. Dia mengisyaratkan tangan pada Lucas.

Lucas dengan cepat meletakkan sebuah map tipis lain di atas meja, tepat di atas dokumen milik Hendra.

"Buka," perintah Dante dingin.

Hendra mengerutkan dahi, lalu membuka map tersebut. Dalam hitungan detik, wajah pria paruh baya itu berubah pucat pasi. Tangannya yang memegang kertas mulai gemetar. Di sana terdapat foto-foto manifes ilegal rahasia milik Hendra yang selama ini disembunyikan dari Moretti, lengkap dengan koordinat gudang pribadi keluarganya.

"K-Kau... dari mana kau mendapatkan ini?" gagap Hendra, suaranya naik satu oktav.

"Aku tahu setiap sen yang masuk dan keluar dari kantongmu, Hendra," desis Dante, matanya mengunci pergerakan lawannya. "Kau bermain di belakang kami dengan menjual pasokan ke aliansi Barat. Itu pengkhianatan. Dan hukuman untuk pengkhianat di duniaku... adalah eksekusi mati beserta seluruh keluarganya."

Mendengar ucapan Dante, empat pengawal Hendra langsung menarik senjata mereka dan mengarahkannya tepat ke kepala Dante. \*Klik! Klik!\*

Lucas dengan gerakan kilat juga sudah menodongkan Glock hitamnya langsung ke arah kening Hendra. "Turunkan senjata kalian, atau kepala bos kalian bolong sekarang juga!" bentak Lucas tegas.

Ketegangan di dalam ruangan berada di titik didih. Satu tarikan pelatuk saja bisa memicu pertumpahan darah yang mengerikan. Namun, Dante yang kepalanya ditodong empat laras senapan justru tetap duduk dengan tenang tanpa berkedip sedikit pun. Keberaniannya yang gila benar-benar mencerminkan darah seorang Moretti.

"Tembak saja kalau kalian punya nyali," ucap Dante menantang para pengawal Hendra dengan senyuman miring yang kejam. "Tapi begitu peluru kalian keluar, dalam waktu lima menit, seluruh isi gudangmu akan diledakkan oleh orang-orangku yang sudah mengepung tempat itu. Pilihannya ada di tanganmu, Hendra. Mati konyol malam ini, atau patuh."

Hendra menelan ludah dengan susah payah. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Dia tahu Dante tidak pernah menggertak. Pria muda di depannya ini jauh lebih tidak punya belas kasihan dibanding ayahnya, Lorenzo.

"T-Turunkan senjata kalian!" perintah Hendra akhirnya pada anak buahnya dengan suara gemetar.

Para pengawal itu perlahan menurunkan laras senjata mereka dengan ragu. Lucas tetap mempertahankan posisinya sampai situasi benar-benar aman, sebelum akhirnya menurunkan senjatanya perlahan.

Dante mengambil pulpen montblanc hitam dari saku jasnya, lalu menggeser lembar dokumen kesepakatan yang asli—yang mencantumkan angka dua puluh pipis persen.

"Tanda tangani berkas yang asli. Sekarang," perintah Dante, nadanya tidak menerima bantahan apa pun. "Dan bagianmu turun menjadi lima belas persen sebagai denda atas kelancanganmu malam ini."

Hendra tidak punya pilihan lagi. Dengan tangan yang masih bergetar hebat, dia meraih pulpen tersebut dan membubuhkan tanda tangannya di atas berkas kesepakatan aliansi.

Dante merebut kembali dokumen itu setelah selesai ditandatangani, lalu ikut membubuhkan tanda tangan resminya dengan coretan yang tegas dan cepat. Dia bangkit berdiri, merapikan kancing jas hitamnya, dan menatap Hendra yang kini tampak layu di sofanya.

"Senang berbisnis denganmu, Hendra. Jangan pernah mencoba menguji kesabaranku lagi kalau kau masih sayang nyawa," ucap Dante dingin.

Dia berbalik dan melangkah lebar keluar dari ruanganVIP yang mencekam itu, diikuti oleh Lucas yang langsung mengamankan berkas kesepakatan di dalam dekapannya.

1
𝘚𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩𝘢𝘯_𝘧𝘪𝘬𝘴𝘪 🥀
😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!