Nabila Asofi telah dijodohkan orangtuanya, Tapi sebuah kecelakaan merenggut nyawa suaminya disaat pernikahan mereka belum genap satu tahun ,dan Sofi sedang hamil tua. Disaat itu mantan kekasih yang ditinggalkannya mencoba mendekatinya lagi, akankah Sofi berpaling dan kembali pada kekasihnya setelah menyandang status janda dengan dua anak kembar?
SELAMAT MEMBACA SEMOGA TERHIBUR...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binti Ulfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kok nonton film Horor
🍒🍒 Happy Reading🍒🍒
Budayakan like dan komen yah, biar author semangat nulisnya. Gratis kok! Ingat, membuat senang orang lain adalah ibadah.
\=\=\=\=\=\=
Di Subuh itu Sofi membuka matanya yang masih terasa berat, sayup sayup terdengar suara adzan. Tak seperti biasanya dia merasa tubuhnya sakit semua, tapi dia memaksakan dirinya untuk bangun. Betapa kaget saat dia bangun mendapati dirinya tak memakai sehelai benang pun menempel ditubuh. Sofi juga merasa di pusat intinya terasa sakit.
Disaat itulah pintu kamar mandi terbuka dan mendapati biang kerok dari rasa sakitnya muncul. Semalam mereka baru menjalani kehidupan suami istri sesungguhnya. Mereka tidur lebih dari tengah malam, karena sang keris sakti minta jatah masuk ke sarungnya berkali kali. Lagi dan lagi.
Seperti tiada puasnya, mungkin penyebabnya adalah sang keris yang terlambat masuk sarang yang seharusnya sudah terjadi dua minggu yang lalu.
Faiz keluar dari kamar mandi sudah memakai sarung dan atasan kaos polos putih, sambil mengusap usap rambut basahnya dengan handuk. Ia segera mengambil baju koko dan segera memakainya.
"Sudah bangun, sayang?" Sofi hanya mengangguk. Berusaha untuk bangun dari tempat tidur. Tubuhnya terbungkus selimut, sambil mendesis menahan sakit, dia berjalan menuju kamar mandi." Ssshh, aaawww. " desis Sofi pelan.
"Masih sakit banget ya?" Faiz menatap Sofi dari tempatnya berdiri sembari mengulum senyum Ia mengangguk malu. Lalu perlahan berjalan hati hati menuju kamar mandi. Faiz masih memperhatikannya sampai di depan pintu kamar mandi.
"Sayang, aku ke masjid dulu ya? sudah hampir telat nih, kamu sholat sendiri gak apa apa kan?" katanya kemudian saat Sofi telah masuk sebelum menutup pintu kamar mandi. Sofi pun lagi lagi hanya mengangguk dan segera menutup pintu. Jalan pun rasanya seperti tidak biasa karena rasa nyeri di pangkal paha.
Setelah Sofi selesai sholat subuh, Faiz sudah kembali dari masjid. Ia meletakkan kopiah di atas nakas lalu tangannya segera membuka sprei tempat tidur.
"Eh, kok dibuka mas? Aku baru kemarin lho mengganti spreinya." kata Sofi protes sambil mendekati Faiz yang sedang menggulung sprei itu.
"Lihat tuh, ada bercak darah disini " tunjuk Faiz pada noda merah di sprei membuat Sofi sedikit tersenyum malu.
"Alhamdulillah," Sofi berucap lirih. Mengucap syukur bisa menjaga marwah sampai ia menikah dan menyerahkannya pada yang berhak mendapatkannya yaitu suami." kata Sofi dalam hati.
Farhan mendekati istrinya yang melipat mukena, menyentuh kedua bahu dan menatapnya sambil tersenyum.
"Makasih ya, sayang. Tadi malam tak akan aku lupakan sepanjang hidupku. Aku rasanya seperti melayang ke awang awang dengan kenikmatan yang kamu berikan."
Lalu mengecup kening Sofi yang tengah menunduk. Faiz menangkup wajah itu, menengadahkannya, lalu mengecup bibir berkali kali. Dan terakhir kecupan di pipi kanan kiri Sofi.
"Ishh, apaan sih mas. Malu tahu," kata Sofi tersenyum malu, sambil mendorong Faiz pelan, pipinya merona. Rasa canggung berdekatan dengan sang suami pun masih ada.
Di hari itu mereka melakukan aktivitas seperti pagi pagi sebelumnya, Sofi membantu bik Ida menyiapkan sarapan didapur, sedang Faiz bersiap siap untuk berangkat bekerja.
"Kopi dong, sayang!" ucap Faiz di dekat telinga Sofi.
"Ish geli!" mengusap telinganya. Faiz terkikik pelan, Mama Sarah hanya melirik sebentar, lalu menjauh. Begitu juga bi Ida, ia mengulum senyum Mereka maklum kalau pengantin baru lagi mesra mesranya.
Selesai menyiapkan sarapan, Sofi naik lagi ke kamar untuk memberitahu Izzah jika sarapan udah siap. Ia juga telah rapi dengan style nya saat pergi ke kampus.
"Sarapannya mas, aku dari kemarin belajar bikin nasi goreng kesukaan kamu dari bibi Ida, loh," Sofi bicara sambil membuka piring. Mengisi piring suaminya dengan nasi goreng bikinannya. Faiz segera meletakkan kopinya dan menerima piring yang diulurkan Sofi. Ia memandang istrinya lekat sambil tersenyum.
"Jadi gak sabar, mau sarapannya, apalagi habis olahraga semalam, lapernya banget banget sekarang." bisik Faiz di telinga istrinya, Sofi melirik tajam suaminya sambil cemberut. Yang dilirik hanya terus senyam senyum menggoda.
"Sayang, rasanya hari ini aku malas buat bekerja. Boleh gak aku bolos, sekali ini saja?" Sofi menatap Faiz khawatir, mereka kini ada di teras rumah.
"Kok gitu sih mas, memang kenapa mas mau bolos? Gak enak badankah?" terlihat Sofi mengkhawatirkan suaminya sambil meraba dahi sang suami.
Faiz menggeleng sembari tersenyum menggenggam tangan yang meraba dahi, lalu mengecupnya. Tatapan mereka terkunci satu sama lain.
"Rasanya aku hanya ingin seharian berduaan denganmu, sambil peluk kamu. Dan, rasanya ingin aku mengulang lagi yang semalam itu," ucapnya sambil mengerling nakal.
" Nakal ya kamu ternyata mas!"
"Aku tuh nakalnya cuman sama kamu. Suer!"
mencubit pinggang Faiz. Ia membulatkan matanya, tak percaya Faiz ingin bolos kerja hanya karena ingin berduaan dan berkasih mesra berdua.
"Ih mas, kirain kenapa juga! Kalau aku yang jadi atasan mas, aku bakal langsung pecat mas tanpa pesangon kalau berani bolos tanpa alasan."
"Galak amat adek cinta tersayangku ini, jadi gemes aku nya pengen aku makan bulat bulat jadinya," Faiz tertawa puas bisa menggoda istrinya di pagi hari ini, bisa jadi moodbooster nya saat bekerja nanti. Hingga sebuah cubitan melayang di lengannya. Lagi.
" Uuuh sakit sayang, sekarang adek punya kepiting maut ya." sambil mengusap usap lengan yang kena cubit.
"Yang, nanti insha Alloh aku pulang lebih awal ya. Aku, mau ngajak kamu jalan jalan, mumpung besok weekend, nanti kamu siap siap ya."
"Maaf belum sempat ngajak kamu jalan jalan." Sofi tersenyum sambil mengangguk.
"Tapi nanti bener, kan. Gak ingkar janji?"
"Insya Alloh. Semoga di kantor gak ada agenda mendadak. Karena aku sudah memikirkannya dari kemarin."
"Aku paham kok, kamu pasti bete dan butuh hiburan."
Ih, so sweet suamiku
"Iya, aku siap siap setelah ashar. Nanti sekalian ajak Izzah ya, dia pasti senang di ajak jalan?"
"Izzah? Sepertinya dia punya acara sendiri. Gak usah ajak dia, kita berdua aja. Anggap aja kita ini sedang kencan," Faiz membuka pintu mobil.
Kencan
"Dah aku berangkat ya!"
"Tapi mas!"
"Apalagi sayang!"
"Ah gak ada. Hati hati ya. Kerja yang bener. Jangan deket deket cewek di kantor, jangan suka senyumin teman cewek. Nanti mereka jadi salah paham. Dikiranya Mas suka mereka!
Faiz tertawa. Ia masih berdiri di pintu mobil. Ternyata istrinya possesive juga.
Sofi melambaikan tangan sembari tersenyum, mengiringi kepergian suaminya.
🐌🐌🐌🐌🐌🐌
Sore harinya Faiz memenuhi janjinya untuk mengajak istrinya jalan jalan, setelah membersihkan diri, lalu shalat ashar, mereka meluncur pergi ke sebuah pusat perbelanjaan yang lumayan ramai pada sore itu.
Dengan penuh semangat, mereka keluar masuk toko untuk membeli barang barang yang di inginkan Sofi, hingga membuat tangan keduanya penuh dengan tas belanjaan mulai dari baju gamis, peralatan make up, parfum, hingga aksesoris di belinya. Mumpung ada mas suami yang menawarinya belanja, batin Sofi. Perempuan mana ya yang menolak jika diajak shopping.
Hingga tak terasa waktu sudah semakin sore. Faiz melihat jam tangannya.
"Sof, sudah masuk waktu maghrib, di depan sana ada musholla, kita ke sana yuk?"
"Sudah waktunya ya! Ayuk!" mereka pun berjalan ke arah mushalla. Ternyata banyak juga orang yang mau melaksanakan ibadah. Terlihat beberapa orang mengantri untuk berwudhu, ada yang sudah selesai menunaikannya.
"Nanti, kita sambil nunggu jam enam. Mau lihat film gak?" Faiz sudah menyingsingkan kemejanya, bersiap untuk wudhu.
"Kita lihat film di bioskop xx. Ada film terbaru yang tayang nanti di jam itu, kamu mau kan, Sof? " Sofi mengangguk saja menyetujui.
"Setelah shalat, aku mau menyimpan semua belanjaan ke mobil dulu. Kita shalat gantian, menjaga barang barang kita!" Sofi hanya mengangguk
Tepat pukul enam sore.
Mereka sudah masuk ke gedung bioskop. Sofi memberengut.
Ternyata film terbaru yang dimaksud Faiz adalah film horor, Sungguh kesal Sofi dibuatnya, tapi apa boleh buat, suaminya menginginkan untuk menonton mau tak mau dia pun ikut masuk kedalam bioskop dan menontonnya.
" Gimana sih mas, ngajak nonton tahunya nonton film horor, tahu gitu tadi aku nolak aja, " Sofi bersungut-sungut. Sungguh suami yang benar benar tidak romantis . Dan yang lebih menyebalkan saat istrinya menahan teriak karena takut, Faiz malah terkekeh senang. Karena dipastikan Sofi akan memeluk lengannya erat, sambil memejamkan mata menyembunyikan wajah di bahu Faiz.
Dua jam sudah, film telah usai. Sofi tak begitu melihat adegan film, ia malah enak enakan tidur berbantal lengan Faiz. Dan Faiz memeluknya erat.
"Faiz!" seseorang memanggil namanya saat mereka berjalan untuk pulang.
"Doni? ngapain kamu, baru nonton juga?" Doni mengangguk, ia menggenggam erat tangan wanita di sampingnya, yang Faiz kenal sebagai cewek Doni, teman sekolah sekaligus teman kerjanya. Wanita itu terlihat anggun mengenakan dress selutut, dengan rambut di gerai panjang.
"Pengantin baru lagi jalan jalan nih!" canda Doni.
"Iya lah, pacaran halal. Emang lo, segera halalin tuh cewek, jangan dibawa bawa mulu, gak jelas statusnya juga!" Doni menyebik.
"Yeee, gak jelas gimana? Dia ini cewek gue, sebentar lagi kita tunangan kok. Ngawur!"
"Lo yang ngawur. Lo tahu yang seperti ini yang jelas itu. Pacaran setelah nikah. Gak perlu was-was kalau mau ngajak jalan kemalaman. Dibawa ke hotel juga oke, gak ada yang gerebek."
"Iya iya, yang udah halal. Nyerah kalah gue. Oiya, gimana kalau ngobrolnya sambil minum. Biar lebih afdol gitu!" ajak Doni.
"Faiz melirik istrinya "Gimana? Mau minum dulu, ngeteh atau ngopi sambil ngobrol. Masih jam delapan juga?"
"Terserah mas Faiz aja."
Mereka pun ngeteh bersama. Sofi pun segera akrab dengan gadis yang bersama Doni, Mira namanya. Mereka ngobrol dan bercanda, sembari menghabiskan minuman di gelas mereka, hingga tak terasa waktu menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.
Mereka segera pamit berpisah di parkiran menggeber mobil tunggangan ke rumah masing masing.
Mereka sampai rumah hampir jam 10 malam, rasanya tubuh Sofi limbung karena mengantuk, dan malam sebelumnya mereka pun kurang tidur.Tapi tenang aja karena besok adalah weekend, jadi boleh bebas sepuas hati untuk tidur, tapi tentunya dengan tidak melalaikan kewajiban kepada Tuhan.
Eeh memang di rumah mertua bisa ya seenaknya tidur di pagi hari? Kalau aku sih bisa bisa ada tutup panci jatuh dari ketinggian 5 meter dan menimbulkan suara yang merdu tapi memekakkan telinga dan membuat kaget orang tidur.😄😄😄
😻😻😻😻😻😻😻😻😻
Sampai jumpa di story berikutnya, Aku ucapkan banyak banyak terima kasih kepada teman teman yang telah memberikan like untuk story receh aku. Semoga bisa menjadi amal baik kalian karena sudah menyenangkan hatiku. Love You All