NovelToon NovelToon
Maaf Pangeran, Bawang Merah Ini Terlalu Savage

Maaf Pangeran, Bawang Merah Ini Terlalu Savage

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Antagonis / Fantasi Wanita
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Riyana Biru

"Kalau kamu mau jadi malaikat, lakukan di tempat lain. Di Kediaman Jati Jajar, akulah ratunya!"

Rosie, seorang manajer sukses di era modern, terbangun di tubuh Kirana Merah Trajuningrat, sosok antagonis yang dibenci seluruh rakyat Kerajaan Indraloka.

Dunia di mana "Citra Diri" adalah segalanya, Merah dikenal sebagai gadis pemarah yang hobi menindas adiknya, Putih Sekar. Namun, Rosie segera menyadari ada yang salah.

Putih yang dianggap "Anak Kesayangan Rakyat" ternyata adalah manipulator ulung yang lihai bermain peran sebagai korban di depan para pelayan dan Pangeran.

Ditambah lagi, Ibu kandung Merah, Nyai Citra, adalah wanita ambisius yang menyiksa Putih demi kekuasaan, tanpa sadar bahwa setiap cambukannya justru memperburuk reputasi Merah di mata Pangeran Ararya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riyana Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hutan Terlarang

Langkah Rosie terasa semakin berat saat kaki telanjangnya yang beralaskan sendal kayu terus menghantam akar pohon yang mencuat dari tanah lembap. Rasa perih di pergelangan kakinya yang baru saja membaik kembali berdenyut, seolah-olah ribuan jarum sedang berpesta di bawah kulitnya.

Bedak dingin yang dipoleskan Gendis setebal semen di wajahnya kini terasa gatal luar biasa karena bercampur dengan keringat yang mengucur dari pelipis.

Dia menghentikan langkah sejenak, menyandarkan bahunya pada batang pohon mahoni yang besar. Rosie mengembuskan napas panjang dengan raut wajah penuh penyesalan. Harusnya dia tadi mengikuti jalur utama saja bersama Putih dan Melati.

Biarpun harus berdebu dan memutar jauh, setidaknya jalan itu tidak memaksanya untuk memanjat lereng tebing yang sedikit curam seperti ini.

Hanya karena ego ingin cepat sampai ke rumah dan rasa lelah yang menghimpit, dia justru menyeret rombongannya ke jalur sunyi yang auranya mulai terasa tidak enak. Rasanya perjalanan ini malah menjadi lebih jauh karena rintangan akar dan semak yang harus dia lalui.

"Nona, pernapasan Nona terlihat sangat payah. Apa perlu kami berhenti sejenak?" tanya Jaka dengan nada cemas yang kental.

Rosie mendongak, matanya tidak sengaja menangkap sosok Jaka dan Wira yang berdiri siaga di depannya. Karena udara yang pengap, Rosie menatap kedua pria itu yang kini hanya mengenakan rompi kain kasar tanpa atasan, memperlihatkan dada bidang dan otot lengan yang mengkilap karena peluh.

Rosie terdiam sesaat, wajahnya yang tertutup bedak putih mendadak terasa semakin panas.

Sexy juga ya kalau dilihat-lihat secara profesional, batin Rosie dengan otak budak korporat yang sedang butuh asupan visual segar.

Dia segera menggelengkan kepala, berusaha mengusir pikiran tidak senonoh itu di tengah situasi genting. "Enggak perlu. Aku masih bisa jalan kok. Ayo lanjut aja."

Baru saja Rosie hendak melangkahkan kaki, sebuah gerakan kilat muncul dari semak-semak di sisi kiri. Seekor rusa jantan dengan tanduk bercabang melesat cepat, melompati jalur setapak hanya beberapa jengkal di depan hidung Rosie. Angin yang dibawa hewan itu menyapu wajahnya, membuatnya terkesiap mundur.

Belum sempat napasnya kembali normal, sebuah suara desisan tajam membelah keheningan udara.

Syuuuut! Jleb!

Sebuah anak panah dengan bulu unggas hitam di pangkalnya menancap dengan sangat kuat pada batang pohon jati, tepat di samping kepala Rosie. Ujung anak panah itu bergetar hebat, mengeluarkan bunyi berdengung pelan yang menandakan betapa kuatnya lesatan tersebut.

Jaraknya tidak lebih dari dua inci dari pelipisnya. Beberapa helai rambut hitam Rosie yang terlepas dari sanggulnya jatuh melayang, terpotong oleh tajamnya mata panah tersebut.

Rosie membeku. Dunianya seolah berhenti berputar. Matanya melotot menatap batang kayu panah yang masih bergetar di depan matanya.

"Ini ... apa?" bisik Rosie dengan suara yang hampir tidak terdengar. Tubuhnya mulai gemetar hebat. Jantungnya berdegup sangat kencang hingga telinganya berdenging.

"Nona!" jerit Gendis dan Laras serentak.

Mereka segera menghambur mendekat, memeluk lengan Rosie dengan wajah pucat pasi. "Ampun, Nona! Hampir saja mengenai Nona! Seseorang hampir saja membunuh Nona!" ujar Laras.

"Maksudnya ... seseorang hampir aja membunuh aku?" tanya Rosie dengan suara yang mulai meninggi karena kaget.

Logika modernnya mencoba memproses fakta bahwa dia baru saja hampir menjadi korban salah sasaran di tengah hutan.

Dalam sekejap, suasana berubah menjadi sangat tegang. Jaka dan Wira tidak lagi berdiri santai. Dengan gerakan yang sangat tangkas, Jaka mencabut keris pendek dari pinggangnya, sementara Wira memutar tongkat kayu jatinya dengan posisi melindungi Rosie sepenuhnya.

Otot-otot punggung dan dada mereka menegang, memberikan kesan perlindungan yang sangat absolut di bawah siraman cahaya matahari yang menembus celah daun.

"Siapa di sana?! Tunjukkan dirimu atau nyawamu akan berakhir di ujung besiku!" teriak Jaka dengan suara yang menggelegar, membuat burung-burung di dahan pohon terbang berhamburan.

Dari balik rimbunan pohon pakis di lereng atas, seorang pria muncul dengan tenang. Dia mengenakan pakaian berburu berwarna cokelat bumi yang terbuat dari kain sutra kusam tapi terlihat sangat kokoh. Tidak ada hiasan emas atau atribut mewah lainnya, hanya sebuah busur kayu melengkung yang dipegangnya dengan sangat terampil.

Pria itu memiliki postur tubuh yang sangat tegap, dengan rahang tegas dan tatapan mata setajam elang yang membuatnya tampak sangat gagah meskipun tanpa perhiasan.

Dia berdiri tegak, menatap Jaka dan Wira yang sedang menghunus senjata ke arahnya. Matanya kemudian beralih menatap sosok Rosie yang berdiri di tengah perlindungan kedua pengawalnya.

Rosie, meskipun masih dalam keadaan terguncang, tidak bisa menahan matanya untuk tidak memperhatikan sosok yang baru muncul itu. Pria itu tampak sangat berwibawa, tapi kemarahan Rosie jauh lebih besar daripada rasa kagumnya.

Perhatiannya sempat kembali teralihkan saat dia melirik ke arah punggung dan dada bidang Jaka serta Wira yang berdiri pasang badan untuknya.

Gila, mereka berdua beneran keren kalau lagi serius begini, batin Rosie lagi.

Di tengah ancaman maut, dia justru sempat merasakan aman sekaligus sedikit terpesona dengan kesigapan para penjaganya yang terlihat sangat maskulin dengan rompi terbuka itu. Wajahnya yang semula pucat kini dihiasi rona merah yang tembus dari balik lapisan bedak.

Namun, rasa panas di wajahnya segera berganti menjadi ledakan amarah. Rosie mendorong bahu Jaka agar dia bisa bicara langsung.

"Heh, kamu!" semprot Rosie dengan nada bicaranya yang ketus, mengabaikan segala tata krama yang dipelajari sebagai Merah. "Kamu gila ya? Punya mata enggak sih? Ini bukan area berburu sembarangan!"

Pria pemburu itu terdiam. Alisnya bertaut, mencoba mencerna keberanian wanita di depannya. "Saya sedang mengejar rusa itu, Nona. Saya tidak mengira akan ada orang di jalur ini."

"Tidak mengira?!" Rosie melangkah maju, tangannya menunjuk anak panah yang masih menancap di pohon. "Kamu tahu enggak, ini namanya pelanggaran prosedur keamanan yang fatal! Ini jalur yang bisa aja dilewati orang! Kamu main lepas panah aja tanpa melihat ada objek hidup atau enggak di sekitarnya. Kamu hampir aja membuat nyawaku melayang!"

Pria itu tertegun, belum pernah ada wanita yang bicara seberani itu, apalagi dengan istilah-istilah yang tidak dia pahami.

"Dengar ya, Pak Pemburu," lanjut Rosie sambil berkacak pinggang, napasnya memburu. "Harusnya di setiap batas area berburu itu dipasang papan peringatan! Tanda bahaya! Biar orang tahu kalau ada aktivitas memanah di sini. Jangan asal bidik aja! Kamu kalau memanah di dekat jalan umum atau jalur pemukiman begini sangat membahayakan nyawa publik!"

Pria pemburu itu terpaku. Dia menatap Rosie dengan pandangan yang sangat dalam, seolah sedang melihat makhluk asing yang baru saja turun dari langit. Belum pernah ada yang memarahinya soal 'prosedur keamanan' atau 'tanda bahaya' dengan gaya otoriter seperti seorang pengawas proyek.

"Papan peringatan?" gumam pria itu pelan.

"Iya! Papan yang tulisannya 'Dilarang Melintas, Area Berburu'! Kamu harus pasang itu di setiap pintu masuk jalur ini!" perintah Rosie habis-habisan. "Kalau aku tadi mati, apa kamu bisa mengembalikan nyawaku? Pikirkan keselamatan orang lain sebelum melepaskan anak panahmu itu!"

Laras dan Gendis menarik-narik selendang Rosie dengan panik. "Nona, sudah Nona. Mari kita pergi saja sekarang," bisik Laras dengan suara gemetar.

Pria pemburu itu hanya menatap Rosie dengan senyum tipis yang sangat sulit diartikan. Dia membungkukkan badan sedikit, sebuah gerakan yang terlalu anggun untuk seorang pemburu hutan biasa.

"Mohon maaf atas kelalaian saya, Nona. Saya tidak mengira akan bertemu dengan seorang ... wanita yang sangat peduli pada aturan keselamatan di tengah hutan seperti ini."

"Bagus kalau kamu mengerti! Sekarang minggir, kami mau pulang!" Rosie mendengus kasar. Dia kemudian menoleh ke arah pengawalnya. "Jaka, Wira, ayo jalan. Aku enggak mau berurusan lagi dengan orang sembrono ini."

Jaka dan Wira memberikan tatapan peringatan terakhir kepada pria itu sebelum akhirnya mengikuti langkah Rosie yang berjalan terburu-buru. Rosie sesekali menoleh ke belakang, melihat pria pemburu itu masih berdiri di sana, memperhatikannya dengan pandangan yang sangat penuh rasa penasaran.

Saat rombongan itu sudah agak jauh, Rosie kembali melirik ke arah dada bidang Jaka dan Wira yang bergerak seiring langkah mereka yang sigap. Rasa takutnya perlahan berganti menjadi rasa puas karena ternyata dia dikelilingi oleh orang-orang yang bisa diandalkan.

Ternyata punya penjaga yang gagah dan jago berkelahi itu ada gunanya juga, batin Rosie sambil membetulkan selendang merahnya. Setidaknya hidup di dunia dongeng ini tidak semuanya terasa buruk jika memiliki perlindungan sekuat ini.

1
Hana Agustina
y Allah.
tlg than tahan.. jangan ampe aku ngehujat si putih..
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕: jangan dong, lagi bulan Ramadhan soalnya🤭
total 1 replies
Sita Sakira
ahhh gemes deh sama kelakuan putih😭🤣
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕: 🤭cubit aja
total 1 replies
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
💪💪💪 lanjut
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
alah sok peduli
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
akhirnya ibu mengakui merah
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
😍
shinobu
lanjut min ceritanya bagus min
shinobu: sama-sama min
Samagat terus min
total 2 replies
lin sya
bagus putih teruslah bermain halus dan mengamati gerak gerik Rosie alias bawang merah, klo baca alurnya knp skrg yg antagonis siputih thor bkn simerah lgi, hrusnya sft antagonis gk melulu jahat tpi pertahanan diri buat bertahan hidup, ini kayaknya sirosie pinter iya bodoh iya julukan nya trmsuk karakter menye menye bkn thor gk bsa liat musuh dlm selimut kyk putih dan melati apa hrus dibikin mentalnya terpuruk baru sadar, greget tau 😄
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕: 🤣 hahaha
kasian rosie dikatain mulu
bener, antagonis gak selalu jahat
total 1 replies
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
😍 ada pangeran
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
💪
fril bunny🌼
lama²gw sleding juga ni si melati,suka banget memprovokasi si putih🗿💢
🍃🌸sativa🌸🍃
harus nya up gila gilaan sih thorr 😄
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕: 2 bab perhari itu dah gila menurutku yg biasanya up 1 bab perminggu
total 1 replies
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
rosie mah gitu, gak ad curigaan dikit kek ke putih
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
lah malah nyalahin orang, itu mah salah elu
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
gara gara putih nih, nambah beban rosie kan
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
kasian rosie, baru juga mau bahagia
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
tuh kan, jadi bawa bencana deh buat keluarga
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
itu bukan emas lah, oon luh
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
gara gara si ular rupanya
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
emang dasar si bawang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!