Bagi Naralla Maheswari Putri, laki-laki adalah sinonim dari pengkhianatan. Luka yang ditinggalkan ayahnya serta trauma masa SMP membuat Nara membangun benteng es yang begitu tinggi di hatinya. Ia meyakini satu hal: semua laki-laki akan pergi saat mereka mulai bosan.
Namun, takdir mempertemukannya dengan Arkana Pradipta Mahendra di gerbang sekolah saat ia menunggu Kak Pandu, sepupu sekaligus pelindung satu-satunya di rumah. Arkan bukan sekadar orang asing; ia adalah sahabat Pandu yang memiliki senyum sehangat mentari. Selama dua tahun, Arkan dengan sabar menghadapi sikap dingin Nara. Ia tidak pernah menyerah, selalu mengusahakan bahagia Nara, dan menjadi satu-satunya orang yang mampu membuat jantung Nara berdebar meski Nara selalu berusaha menepisnya.
Saat hubungan mereka menginjak tahun kedua, berkat dorongan Kak Pandu yang meyakinkannya bahwa Arkan berbeda, Nara akhirnya menyerah pada egonya. Ia memutuskan untuk membuka pintu hatinya lebar-lebar, membiarkan Arkan masuk, dan mencoba
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Pagi itu, lusa yang kutakutkan akhirnya tiba. Sinar matahari menerobos celah gorden, namun tidak ada keceriaan yang biasanya menyertai hari ulang tahun. Aku terbangun dengan perasaan was-was, setengah berharap Ayah tidak akan menelpon lagi, dan setengahnya lagi merasa bersalah karena telah mengabaikan panggilannya berkali-kali semalam.
Di meja makan, Mama sudah menyiapkan nasi kuning kesukaanku lengkap dengan ayam goreng dan sambal goreng ati. Wajahnya berseri, seolah ingin menutupi mendung yang ia tahu sedang menggelayut di kepalaku.
"Selamat ulang tahun, anak kesayangan Mama," ucap Mama sambil memelukku erat. "Hari ini, nggak ada sedih-sedih ya? Mama sama Kak Pandu sudah punya rencana seharian buat kamu."
Kak Pandu muncul dari dapur dengan topi ulang tahun kertas yang miring di kepalanya, meniup terompet kecil yang suaranya sumbang. "HBD, Tuan Putri! Hari ini gue jadi supir pribadi lo gratis. Mau ke mal? Mau makan es krim sampai gigi lo linu? Gue jabanin!"
Aku tersenyum tipis. "Gue mau di rumah aja, Kak. Sama Mama. Sama lo."
Aku memilih untuk mematikan ponselku sepenuhnya. Aku tidak ingin satu pesan atau satu panggilan dari "masa lalu" itu merusak sisa-sisa kedamaian yang sedang kubangun. Aku memilih untuk merayakan hidupku bersama orang-orang yang tetap tinggal saat badai datang, bukan yang baru muncul setelah pelangi terlihat.
Siang Hari yang Hangat
Kami menghabiskan waktu dengan cara yang sangat sederhana. Mama mengajari kami membuat kue ulang tahun sendiri. Dapur berubah menjadi medan perang tepung. Kak Pandu, seperti biasa, lebih banyak mengacau daripada membantu, tapi tawa Mama yang lepas adalah kado terbaik yang bisa kuterima.
Saat kue cokelat yang agak bantet itu keluar dari oven, aku merasa beban di dadaku sedikit terangkat. Kebahagiaan ternyata tidak selalu butuh kemewahan atau klarifikasi masa lalu. Kadang, ia hanya butuh pengakuan bahwa kita cukup berharga bagi orang-orang yang ada di depan mata.
"Ra, ada paket di depan," teriak Kak Pandu saat kami sedang asyik menghias kue dengan krim yang belepotan.
Aku mengernyit. "Paket? Gue nggak pesen apa-apa."
"Cek aja sendiri," goda Kak Pandu sambil mengedipkan mata ke arah Mama.
Aku berjalan ke teras. Tidak ada kurir, hanya ada sebuah kotak kayu kecil yang diletakkan di atas kursi teras. Di atasnya tertempel sebuah sketsa bangunan—sebuah rumah kaca mini dengan banyak tanaman di dalamnya.
Di bawah sketsa itu tertulis:
Gue tahu hari ini jadwalnya 'Family Time', jadi asuransi lo libur dulu hari ini. Tapi asuransi nggak pernah bener-bener pergi, Ra.
Ini maket 'Rumah Tanpa Pajak'. Tempat di mana lo bisa ketawa sepuasnya tanpa takut ada tagihan di akhir. Selamat ulang tahun, Nara. Makasih udah lahir dan bikin dunia gue nggak cuma berisi basket sama rumus arsitektur.
- A.
Aku membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah miniatur rumah kaca yang sangat detail, persis seperti sketsanya. Di dalamnya, ada satu figurin kecil seorang gadis yang sedang membaca buku. Arkan mengerjakannya dengan sangat rapi, seolah setiap detiknya ia gunakan untuk meyakinkanku bahwa aku layak untuk diperjuangkan.
"Ciee, dapet asuransi baru," suara Kak Pandu tiba-tiba muncul di belakangku, kali ini tanpa nada mengejek, suaranya terdengar tulus. "Dia tadi pagi-pagi banget ke sini, Ra. Katanya nggak mau ganggu waktu lo sama Mama, jadi dia titip ini lewat gue."
Aku memeluk kotak kayu itu erat. Air mataku jatuh, tapi kali ini bukan karena Ayah. Bukan karena luka lama. Ini adalah air mata karena aku menyadari bahwa meskipun satu orang pergi meninggalkan lubang besar di hidupku, semesta mengirimkan orang lain untuk membantu menambalnya.
"Kak," panggilku.
"Ya?"
"Bilang ke Arkan... besok dia boleh jemput gue. Dan bilang, kuenya bantet tapi rasanya manis banget."
Kak Pandu tertawa dan merangkul bahuku. "Bilang sendiri dong besok! Udah, ayo masuk. Lilinnya belum ditiup!"
Malam itu, aku tidur dengan perasaan ringan. Ponselku masih mati, tapi hatiku menyala. Aku memilih untuk tidak memaafkan Ayah saat ini, dan itu tidak apa-apa. Karena di sini, di rumah ini, bersama Mama, Kak Pandu, dan bayang-bayang Arkan yang selalu menjaga, aku tahu aku akan baik-baik saja.