Arsenia Valen, CEO paling ditakuti di kota, hidup dengan aturan dingin:
“Perasaan adalah kelemahan.”
Sampai suatu hari, hidupnya berubah saat ia bertemu Raka—
seorang pria biasa yang bahkan tidak tahu siapa dia… dan memperlakukannya seperti manusia, bukan seorang ratu.
Dari pertemuan yang tak disengaja, muncul hubungan yang tak masuk akal.
Namun dunia mereka terlalu berbeda.
Dan ketika masa lalu Arsenia kembali menghancurkan segalanya,
pertanyaannya bukan lagi “apakah mereka saling mencintai”
—tapi apakah cinta cukup untuk bertahan.?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvandem Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Air Mata di Balik Lensa
Raka duduk di sebuah bar remang-remang di pinggiran kota, menatap cek bernilai miliaran rupiah yang sudah kotor terkena lumpur. Di depannya, Pak Broto terus mendesaknya untuk menandatangani surat kuasa gugatan.
"Tanda tangani ini, Raka. Kita hancurkan takhta yang dibangun di atas panti asuhanmu," desak Pak Broto dengan suara serak.
Tiba-tiba, seorang wanita dengan jaket kulit cokelat dan kamera menggantung di lehernya duduk di samping Raka. Dia adalah Dian, jurnalis investigasi yang selama ini mengawasi gerak-gerik The Syndicate.
"Jangan terburu-buru, Raka Adiwangsa," ujar Dian sambil meletakkan sebuah tablet di atas meja. "Dendam itu buta, tapi kamera saya tidak."
Dian menggeser sebuah foto di layar tablet. Itu adalah foto yang diambil dengan lensa tele dari kejauhan—beberapa menit setelah Raka pergi meninggalkan Arsenia di tepi sungai sore tadi. Di sana terlihat Arsenia bersimpuh di tanah, wajahnya tertutup tangan, bahunya terguncang hebat karena tangisan yang hancur.
"Itu bukan wajah seorang wanita yang baru saja menang menyuap korbannya," lanjut Dian. "Itu wajah seseorang yang baru saja memotong jantungnya sendiri demi sesuatu yang lebih besar."
Raka tertegun. Jantungnya berdegup kencang. "Maksudmu... dia berpura-pura?"
"Arsenia Valen sedang dalam pengawasan 24 jam oleh orang-orang Sofia. Jika dia menunjukkan cinta padamu, Sofia akan menghancurkanmu dalam semalam. Dia sedang memancing Sofia keluar, Raka. Dia bermain api dengan The Syndicate."
Sementara itu, di rumah besar keluarga Valen, Arsenia menjalankan.
Ia tahu Sofia sedang mengadakan pertemuan rahasia dengan Daniel di ruang kerja bawah tanah.
Dengan kaki telanjang agar tidak bersuara, Arsenia menyelinap melewati lorong-lorong gelap. Ia menggunakan alat peretas kecil yang ia dapatkan dari kenalan lamanya di bagian IT perusahaan.
Klik.
Pintu ruang server pribadi Sofia terbuka. Arsenia masuk dengan napas memburu. Ia memasukkan flashdisk ke komputer utama Sofia.
"Memindahkan Data: Proyek Lentera Merah (Original Log)... 45%... 60%..."
Tiba-tiba, lampu ruangan menyala terang.
"Mencari sesuatu, keponakanku tersayang?" suara Sofia terdengar dari ambang pintu. Di sampingnya, berdiri Daniel dengan senyum miringnya yang menjijikkan.
Arsenia membeku. Tangannya gemetar, tapi ia tetap berdiri tegak. "Bibi membunuh anak-anak itu. Ayah mencoba menghentikannya, tapi Bibi menjebaknya seolah dia yang memerintahkannya."
Sofia melangkah maju, membelai pipi Arsenia dengan dingin. "Ayahmu terlalu lemah untuk menjadi seorang Valen. Dan kau... kau mewarisi kelemahannya. Daniel, urus dia. Pastikan dia tidak bisa bicara sampai pengalihan saham besok pagi selesai."
Daniel mendekat, mencengkeram lengan Arsenia dengan kasar. "Senang bertemu kembali, Arsenia. Kali ini, tidak ada polisi yang akan datang menyelamatkanmu."
Aliansi yang Terbentuk
Kembali ke bar, Raka berdiri dengan amarah yang kini terarah pada sasaran yang benar. Ia meremas surat gugatan dari Pak Broto dan merobeknya menjadi dua.
"Pak Broto, maaf. Saya tidak akan menggugat Valen Group," ujar Raka tegas.
"Apa?! Kamu gila? Ini hakmu!" seru Pak Broto panik.
"Tidak. Jika saya menggugat sekarang, saya hanya akan membantu rencana Sofia menjatuhkan Arsenia. Dian, di mana Arsenia sekarang?"
Dian melihat pelacak di ponselnya yang terhubung dengan GPS di mobil Arsenia. "Dia di rumah utama. Tapi tunggu, ada sinyal gangguan di sana. Sesuatu yang buruk sedang terjadi."
Raka mengambil jaketnya. "Aku datang, Senia. Kali ini, si penjaga warung yang akan menyelamatkan sang Ratu."