Arsa Kalandra — pria 30 tahun yang bekerja sebagai story archaeologist: ia dibayar keluarga untuk merekonstruksi kisah hidup orang-orang yang telah meninggal, menyusun kepingan memori menjadi sebuah warisan. Ia hidup di dalam cerita orang lain sementara hidupnya sendiri membeku sejak enam tahun lalu.
Wren Amara — perempuan 27 tahun, pengisi suara buku audio yang diam-diam memiliki kanal anonim bernama "Suara Asing" — tempat ia membacakan surat-surat cinta usang yang ia temukan di toko barang antik. Jutaan orang mendengarkan suaranya, tapi tak ada yang tahu wajahnya. Ia jatuh cinta pada penulis surat-surat itu, seseorang yang menulis untuk "Langit" — nama yang tak pernah bisa ia temukan.
Yang tidak mereka tahu: surat-surat itu adalah surat yang tidak pernah terkirim dari adik Arsa yang sudah tiada.
Dan ketika Arsa ditugaskan merekonstruksi kisah hidup seseorang yang ternyata terhubung dengan adiknya — mereka bertemu.
Dua orang yang sama-sama hidup di antara suara-suara masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hai el, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PAGI DI ATAS TOKO BUKU
Wren terbangun dengan email A. Kalandra sudah menunggu di ponselnya.
Ia membacanya tiga kali sambil masih berbaring, rambut berantakan, satu mata setengah terbuka. Sinar matahari pagi masuk miring melalui celah tirai yang tidak pernah benar-benar menutup sempurna — celah yang sudah ada sejak ia pindah ke sini dua tahun lalu dan yang tidak pernah ia perbaiki karena, sejujurnya, ia suka cahaya itu.
"Ini lebih dari sekadar urusan pengambilan kotak."
Ia meletakkan ponsel di dadanya. Menatap langit-langit.
Studionya — yang merangkap sebagai kamar tidur dan ruang makan dan kadang ruang nangis — berada di lantai dua di atas toko buku bekas milik Pak Suryadi. Ia menyewanya sudah tiga tahun, dan kesepakatan tidak resminya dengan Pak Suryadi adalah: ia boleh ambil buku dari toko sesuka hati asalkan ia kasih review jujur dan kadang bantu jaga toko kalau Pak Suryadi perlu ke dokter.
Kesepakatan terbaik yang pernah ia buat.
Dari tempat tidurnya ia bisa mendengar suara toko yang mulai buka — kunci yang diputar, pintu yang berderit, dan sesekali suara Pak Suryadi yang berbicara dengan pelanggan pertama. Suara-suara itu sudah menjadi semacam alarm organik baginya: ketika ia mendengarnya, hari sudah mulai.
Ia duduk. Meraih notesbook dari meja samping — bukan untuk mencatat sesuatu, hanya kebiasaan memegangnya saat berpikir. Sudah penuh dari depan sampai belakang dengan coretan, kutipan, ide-ide yang ditulis dengan huruf kecil rapi dan ide-ide yang ditulis dengan huruf besar awut-awutan tergantung seberapa bersemangat ia waktu menulisnya.
A. Kalandra. A untuk apa? Ia belum tahu nama lengkapnya. Email itu ditandatangani hanya dengan initial.
Yang ia tahu: kakak dari seseorang yang menulis dua belas surat kepada Langit. Seseorang yang bekerja — dari alamat emailnya yang berakhiran ".work" — dalam bidang yang tidak ia tahu. Seseorang yang tidak mudah minta tolong tapi melakukannya karena situasinya memaksa.
Dan seseorang yang, berdasarkan cara ia menulis email, memilih kata dengan cermat tapi tidak dingin. Ada kehangatan di balik efisiensinya.
Wren mengetik balasan:
A.,
Saya bisa bertemu hari Sabtu. Ada tempat yang Anda prefer?
Satu hal: saya perlu tahu dulu — apakah keluarga Anda tahu bahwa Anda menghubungi saya?
Bukan untuk alasan apapun selain ingin tahu seberapa besar konteks yang perlu saya pahami sebelum kita bertemu.
— W.
Balasan datang ketika ia sedang menyeduh kopi di dapur kecilnya — ruang dua meter kali satu meter yang entah bagaimana memuat kompor dua tungku, kulkas mini, dan rak bumbu yang kebanyakan isinya kadaluarsa.
"Kakak perempuan saya tahu. Dia yang pertama mendengar podcast Anda dan memberi tahu saya.
Sabtu bisa. Anda pilih tempatnya — Anda yang lebih tahu kota ini, saya rasa.
— A."
Wren tersenyum tipis di atas cangkir kopinya. Anda yang lebih tahu kota ini — asumsi yang menarik. Dari apa yang membuatnya berpikir begitu?
Ia mengetik nama sebuah tempat. Bukan kafe besar yang terkenal, bukan tempat hip yang akan membuat mereka harus berteriak melebihi musik terlalu keras. Tempat kecil, tenang, di mana orang bisa bicara dengan benar.
Tempat yang cocok untuk percakapan yang berat.
Hari itu Wren ada tiga sesi rekaman.
Dua untuk audiobook — satu thriller hukum yang membosankan tapi bayarannya bagus, satu novel anak-anak yang membutuhkan ia menirukan tujuh karakter dengan suara berbeda termasuk seekor bebek yang berbicara dengan logat Jawa. Dan satu sesi untuk iklan radio yang akan membuatnya menyesali beberapa pilihan karir, tapi bayaran iklan selalu terlalu baik untuk ditolak.
Ia profesional. Sesi berjalan baik. Sutradara puas, klien puas, bebek Jawa-nya diapresiasi secara khusus.
Tapi di antara sesi-sesi itu, di ruang tunggu yang ada sofa merah dan dispenser air yang bunyinya terlalu keras, pikirannya terus kembali ke kotak kayu yang sekarang ada di rak buku studionya.
Dua belas amplop. Empat sudah ia buka dan bacakan. Delapan lagi menunggu.
Dan mulai Sabtu, kotak itu bukan lagi hanya miliknya untuk dijaga.
Ia belum tahu bagaimana perasaannya tentang itu. Selama tiga minggu terakhir, surat-surat itu terasa seperti sesuatu yang dipercayakan kepadanya oleh semesta — dan ia tidak mau melepaskan kepercayaan itu begitu saja. Mengembalikan surat-surat itu kepada keluarganya terasa benar, tapi ada sesuatu yang hilang dari gagasan itu. Sesuatu yang tidak bisa ia namai.
Mungkin karena surat-surat itu sudah menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari sekadar objek fisik.
Mungkin karena jutaan orang sekarang ikut mendengarkan, ikut menunggu, ikut merasa seperti mereka kenal Raka melalui kata-katanya — walau tidak satu pun dari mereka tahu nama aslinya.
Mungkin karena Wren sendiri sudah merasa kenal Raka, dan perasaan itu aneh dan tidak logis dan nyata.
Di sesi rekaman terakhir — iklan parfum yang naskahnya memintanya bicara dengan nada "seductive tapi sophisticated" — ia duduk di depan mikrofon dan tiba-tiba teringat satu baris dari surat ketiga yang sudah ia bacakan minggu lalu:
"Langit, aku pernah berpikir bahwa mencintai seseorang berarti harus memahami mereka sepenuhnya. Sekarang aku rasa aku salah. Mungkin mencintai seseorang berarti mau hadir bahkan di bagian-bagian dari mereka yang kamu tidak mengerti."
"Wren?" Sutradara dari balik kaca. "Siap?"
Ia mengangguk. Menarik napas.
Dan membaca naskah parfumnya dengan sempurna. Tapi di kepalanya ada kata-kata lain yang terus berdengung.
Jakarta di pagi hari Sabtu punya karakter yang berbeda dari hari kerja — lebih lembut di pinggirnya, lebih lambat di ritmenya, seperti kota yang sedang mengambil napas panjang setelah lima hari berlari.
Arsa bangun pukul enam — bukan karena alarm, tapi karena tidurnya memang sudah ringan sejak beberapa hari terakhir. Sejak ia mendengarkan podcast itu. Sejak ia tahu.
Ia membuat kopi. Duduk di depan kotak-kotak Pak Wahyu yang masih belum selesai ia buka semuanya. Seharusnya pagi ini ia lanjutkan membaca isinya — ada timeline yang perlu ia susun, ada nama-nama yang perlu ia hubungkan. Tapi pikirannya tidak di sana.
Pikirannya sudah di kafe kecil di Blok M yang akan ia datangi jam sepuluh.
Ia tidak tahu apa yang ia ekspektasikan. Lebih tepatnya: ia tidak mengizinkan dirinya untuk mengekspektasikan apapun, karena pengalaman mengajarinya bahwa ekspektasi dalam konteks seperti ini hampir selalu menjadi bentuk pertahanan — cara seseorang mengontrol sesuatu yang tidak bisa dikontrol.
Ini bukan konteks romantis. Ini konteks yang jauh lebih rumit dari itu.
Ini tentang adiknya. Tentang surat-surat yang tidak pernah terkirim. Tentang seseorang bernama Langit yang masih menjadi pertanyaan. Tentang kisah Pak Wahyu yang ternyata kusut dengan kisah Dito dengan cara yang belum sepenuhnya ia mengerti.
Ia menyelesaikan kopi. Mandi. Memilih pakaian yang ia langsung ambil tanpa terlalu memikirkan — kemeja abu-abu, celana hitam, sepatu yang sudah cukup tua untuk terlihat tidak berusaha tapi tidak cukup tua untuk terlihat tidak peduli.