Albus adalah puncak evolusi manusia—seorang jenius yang mampu membedah hukum alam tanpa bantuan doa.
Di dunia yang dikuasai oleh dogma agama, keengganannya untuk bersujud kepada para dewa membuatnya dicap sebagai **"Iblis Tanpa Langit."** Lima puluh tahun lalu, ia dikhianati dan diburu oleh aliansi kerajaan suci, hingga akhirnya tewas dalam kepungan ribuan ksatria dan pendeta.
Namun, maut hanyalah jeda bagi inteleknya.
Albus terbangun kembali 50 tahun kemudian di tubuh ilwa Eldersheath putra dari keluarga bangsawan agung yang dikenal memiliki sirkuit mana yang cacat. Dunia kini telah berubah menjadi teokrasi yang kaku, di mana sains dianggap sihir terlarang. Dengan ingatan yang menyimpan ribuan formula magis kuno dan dendam yang dingin, Albus mulai memperbaiki tubuh barunya dari dalam bayang-bayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 10
Fajar menyingsing dengan cahaya yang terasa lebih tajam dari biasanya.
Di paviliun terpencil, suasana pagi itu tampak sibuk dan penuh tekanan.
Martha, dengan tangan yang sedikit gemetar, sedang merapikan kerah kemeja sutra putih yang dikenakan Ilwa.
Ia memastikan setiap lipatan pakaian bocah delapan tahun itu sempurna, menyisir rambut putih Ilwa yang halus, dan memakaikan rompi hitam dengan sulaman benang perak khas bangsawan rendah.
"Tuan Muda," panggil Martha lembut, suaranya sedikit serak karena kegugupan yang tak bisa ia sembunyikan. "Apakah... apakah Anda merasa gugup? Jantung Anda berdetak kencang?"
Ilwa berdiri tegak, membiarkan Martha memutar tubuhnya untuk memeriksa bagian belakang.
Matanya menatap bayangan dirinya sendiri di cermin—seorang bocah dengan wajah dingin dan rambut seputih salju. "Gugup? Tidak. Memangnya kenapa aku harus gugup, Martha?"
Martha menghentikan gerakannya sejenak, menatap Ilwa melalui pantulan cermin. "Ini pertama kalinya Anda akan berkumpul dengan para kerabat besar keluarga Eldersheath. Ada paman, bibi, dan sepupu-sepupu Anda dari berbagai cabang. Rumah utama akan sangat ramai, dan mata semua orang akan tertuju pada Anda. Wajar jika seorang anak seusia Anda merasa sedikit tertekan."
Ilwa hanya mendengus tipis, sebuah ekspresi yang terlalu dewasa untuk wajah mungilnya. "Mereka hanya sekumpulan orang yang memiliki nama belakang yang sama denganku. Aku tidak peduli dengan mereka, jadi tidak ada alasan bagiku untuk merasa takut atau gugup. Apakah penampilanku sudah cukup baik, Martha?"
"Sangat tampan, Tuan Muda," jawab Martha sambil tersenyum sedih. Ia menghela napas, mengagumi ketenangan Ilwa yang luar biasa, namun di sisi lain ia merasa pilu karena bocah ini harus tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu di tengah sarang serigala.
Tak lama kemudian, suara derit roda kereta kuda terdengar di luar.
Kereta itu dikirim langsung dari kediaman utama—sebuah kotak kayu mewah dengan lambang pedang mawar yang berkilau. Ilwa melangkah keluar paviliun, diikuti oleh Martha.
Perjalanan menuju kediaman utama hanya memakan waktu beberapa menit, namun bagi Martha, itu terasa seperti perjalanan menuju pengadilan.
---
Begitu pintu kereta dibuka oleh pelayan berseragam rapi, kemegahan Kediaman Utama Eldersheath langsung menghantam indra.
Bangunan itu menjulang tinggi dengan arsitektur gotik yang angkuh, dinding-dindingnya terbuat dari batu granit putih yang dipahat dengan detail yang luar biasa.
Ilwa turun dari kereta, matanya yang tajam menyapu setiap sudut halaman.
Ia memperhatikan posisi penjaga, fluktuasi mana di udara, dan kemegahan yang dibangun di atas penderitaan rakyat jelata.
"Mari, Tuan Muda," bisik Martha sambil membimbingnya masuk.
Begitu mereka melewati pintu masuk ganda yang terbuat dari kayu jati berlapis emas, hiruk-pikuk suara manusia langsung menyambut mereka.
Aula utama sudah dipenuhi oleh orang-orang berpakaian mewah. Mereka adalah kerabat keluarga Eldersheath, dari cabang jauh hingga cabang dekat.
Namun, suasana seketika berubah saat langkah kaki Ilwa bergema di lantai marmer. Satu per satu, percakapan terhenti.
Mata-mata tajam mulai menatap sinis ke arah bocah berambut putih itu.
Kehadirannya seolah menjadi noda di tengah kemewahan tersebut.
"Lihat itu... benarkah itu anak dari Elara?" bisik seorang wanita paruh baya di balik kipas sutranya. "Rambut putih itu... sangat tidak lazim. Kudengar ayahnya hanya ksatria jalanan."
"Ssst, jangan terlalu keras. Tapi kau benar, dia terlihat seperti anak haram yang tak diinginkan," timpal pria di sebelahnya dengan senyum meremehkan. "Kudengar dia menderita penyakit *Aura-Lock*. Benar-benar aib bagi darah Eldersheath."
"Kenapa anak cacat seperti itu diizinkan ikut Upacara Aptitudo?" gumam seorang pemuda bangsawan yang berdiri di dekat pilar. "Hanya membuang-buang waktu kita saja. Paling-paling dia hanya akan menjadi pelayan atau dikirim ke biara."
"Ibunya dibuang ke Veldora, dan anaknya ditinggalkan di sini seperti sampah yang terlupakan. Kasihan sekali, tapi begitulah takdir orang-orang yang mengkhianati martabat keluarga," sahut yang lain dengan nada penuh penghinaan.
Gunjingan itu merayap seperti ular di antara kerumunan.
Martha menundukkan kepalanya, wajahnya memerah karena malu dan sakit hati mendengar tuan mudanya dihina sedemikian rupa.
Namun, Ilwa tetap berjalan dengan kepala tegak.
Ia mendengar setiap kata, setiap hinaan, dan setiap nada kebencian itu dengan ketenangan seorang raja.
Baginya, suara-suara itu tak lebih dari dengungan lalat yang mengganggu.
"Teruslah bicara, para badut,"batin Ilwa dingin. *Tertawalah selagi kalian masih bisa, sebelum aku meruntuhkan panggung tempat kalian berdiri ini.*
---
Tiba-tiba, suasana yang tadinya penuh bisikan rahasia seketika menjadi sunyi senyap.
Keheningan yang mencekam menyelimuti aula saat pintu di ujung ruangan terbuka.
Dua sosok berjalan masuk dengan aura yang begitu menekan hingga beberapa bangsawan rendah tanpa sadar menahan napas mereka. Di depan, **Robert Eldersheath** melangkah dengan gagah.
Jubah kebesarannya tersampir di bahu, dan aura ksatria pedang tingkat tingginya terpancar jelas, membuat udara terasa berat. Di sampingnya,
**Elisa Eldersheath** berjalan dengan keanggunan yang mengintimidasi, matanya yang setajam elang menyapu seluruh ruangan, membuat siapa pun yang bertatapan dengannya segera menunduk.
Mereka berdua berjalan menuju singgasana kembar di podium utama.
Setiap langkah kaki Robert terdengar seperti dentuman genderang perang.
Kerumunan kerabat itu terbelah, memberikan jalan dengan rasa hormat yang bercampur dengan ketakutan murni.
Robert duduk dengan perlahan, tangannya bertumpu pada hulu pedang yang melingkar di pinggangnya.
Elisa menyusul di sampingnya, melipat tangannya dengan tenang.
Kehadiran mereka seolah-olah menyedot seluruh cahaya di ruangan itu, memfokuskan segala otoritas hanya pada mereka berdua.
"Upacara Aptitudo akan segera dimulai," suara Robert menggelegar, memenuhi setiap sudut aula dan membungkam sisa-sisa bisikan yang ada.
Ilwa berdiri di tengah aula, menatap langsung ke arah kakek dan neneknya itu.
Di bawah tatapan dingin dua penguasa Eldersheath, sang legenda yang kini bertubuh bocah itu hanya tersenyum tipis di dalam hatinya.
Panggung sandiwara telah dibuka, dan ia sudah tidak sabar untuk menunjukkan kepada seluruh kerabat Eldersheath bahwa "cacat" yang mereka bicarakan adalah awal dari kehancuran mereka semua.
---
Suasana di Aula Agung Eldersheath mendadak menjadi sangat formal.
Di tengah ruangan, sebuah pilar kristal bening setinggi manusia dewasa berdiri di atas altar perak.
Itulah **Kristal Aptitudo**, peninggalan kuno yang mampu membaca resonansi jiwa dan sirkuit mana seseorang untuk menentukan **Jobdesk** mereka.
-------
Dalam sistem tatanan sosial Kerajaan Dorn, *Jobdesk* bukan sekadar profesi, melainkan "Surat Takdir" yang diberikan oleh sistem mana dunia.
Begitu seseorang menyentuh Kristal Aptitudo, bakat laten mereka akan terukir dalam bentuk segel di memori otot dan aliran mana.
* **Magician (Penyihir):** Mereka adalah penguasa elemen dan hukum alam. Seorang Magician murni tidak memfokuskan mana pada tubuh fisik, melainkan memanifestasikannya di luar raga dalam bentuk mantra.
Mereka memiliki kapasitas mana yang sangat luas namun biasanya memiliki fisik yang rentan.
* **Sword Magic (Ksatria Sihir):** Inilah kelas bangsawan yang paling umum di keluarga Eldersheath.
Mereka mengalirkan mana ke dalam bilah senjata dan melapisi tubuh mereka dengan energi untuk serangan jarak dekat yang eksplosif.
Mereka tidak bisa merapal mantra rumit, namun serangan pedang mereka bisa membakar atau membekukan musuh dalam sekejap.
* **Sword Master (Ahli Pedang):** Berbeda dengan ksatria sihir, seorang Sword Master memfokuskan mana sepenuhnya untuk memperkuat insting, kecepatan, dan ketajaman fisik.
Mereka jarang melepaskan energi ke luar; sebaliknya, mereka menggunakan mana untuk membuat tubuh mereka melampaui batas manusia, mampu membelah baja tanpa bantuan elemen apa pun.
Bagi manusia biasa, memiliki satu *Jobdesk* adalah hal lumrah. Memiliki dua adalah **Berlian Langka**. Memiliki tiga? Itu dianggap kemustahilan yang hanya terjadi dalam mitos dewa-dewa.
Alasannya sangat teknis: **Kontrol Mana Dualitas**. Mengontrol mana untuk satu bidang saja membutuhkan fokus mental yang luar biasa;
jika seseorang mencoba menguasai Magician (mana luar) dan Sword Master (mana dalam) secara bersamaan, arus energinya biasanya akan bertabrakan dan menghancurkan pembuluh mananya sendiri.
Namun, Ilwa di masa lalunya sebagai Albus adalah anomali.
Ia menguasai ketiganya—Trinity Jobdesk. Ia mampu merapal sihir tingkat tinggi sambil menari di medan perang dengan teknik pedang Sword Master, serta memperkuat serangannya dengan Sword Magic.
Hal inilah yang membuatnya dianggap sebagai ancaman bagi gereja dan para dewa; manusia yang tidak beriman namun memiliki kekuatan yang melampaui batas "pemberian" dewa.
Bersambung...