Daripada penasaran, yuk mampir ><
[Update Tergantung Mood]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Tamu Tak Diundang di Oxford Street
Pagi itu, ketenangan penthouse mewah milik Emrys hancur berkeping-keping. Suara tawa yang berat dan langkah kaki yang tidak sabaran menggema di ruang tamu yang biasanya sesunyi perpustakaan.
Gaby, yang baru saja keluar dari kamar dengan piyama sutra dan rambut sedikit berantakan, terlonjak kaget melihat sosok asing yang sedang duduk santai di sofa marmer milik kakaknya. Pria itu memakai jaket kulit oversized, kacamata hitam yang disangkutkan di kerah kaosnya, dan memiliki aura bintang yang tidak bisa disembunyikan.
Armor Keytlon Gardermoen.
"Lemon! Safe, bruv! Don’t be so stiff, yeah?" seru Keytlon sambil menyandarkan punggungnya ke sofa mahal itu dengan gaya sangat santai. "I’ve come all the way from the studio just 'cause I was gassed to see this 'little distraction' that made you ghost our meet-up yesterday. What's the deal, mate?"
Emrys, yang sedang berdiri di dekat mesin kopi dengan kemeja hitam yang sangat rapi, hanya memijat pelipisnya perlahan. Ia menatap sahabatnya dengan tatapan datar yang mematikan.
"The name’s Emrys, Keytlon. Allow it with that sour fruit nickname, alright? One more 'Lemon' and I’m booting you out of my penthouse, I’m dead serious," balas Emrys dengan nada dingin namun tetap elegan.
Keytlon terkekeh, sama sekali tidak merasa terancam. "C'mon, don't be a liberty, mate! I'm just takin' the mickey. So, where is she? The one who's actually got you actin' like a human for once?"
Saat itulah mata Keytlon tertuju pada Gaby yang berdiri mematung di dekat tangga. Senyumnya melebar. "Oh, brilliant. Is this the famous cousin then?"
Ia langsung berdiri, menunjukkan senyum charming yang sering muncul di papan iklan raksasa Piccadilly Circus.
Gaby mengerjapkan mata. Sebagai remaja yang aktif di media sosial, wajah ini terlalu familiar. "Kau... Me Amor 7, kan?" tanya Gaby spontan dalam bahasa Inggris yang cukup fasih.
Keytlon mengangkat alisnya, tampak terkesan. Ia melangkah mendekat. "Hello there, little lady. So, you’ve heard of me?"
"Tentu saja! Lagu-lagumu ada di playlist-ku, terutama lagu 'Wonder Woman'. Itu sangat bagus!" seru Gaby penuh semangat, mendadak lupa bahwa ia sedang mengenakan piyama di depan seorang bintang besar.
Keytlon menyilangkan tangan di dada, lalu melirik Emrys dengan tatapan mengejek. "Hear that, Lemon? At least someone in this family has a decent taste in music. Not like you, who only listens to stock market news and classical cello."
Emrys mendengus dingin sembari menyerahkan segelas air mineral pada Keytlon. "Dia sepupuku, Gabriella. Dan Gaby, ini Keytlon. Sahabat paling tidak berguna yang kudapatkan sejak masa kuliah di Oxford."
"Ouch, that hurts, mate!" Keytlon tertawa kecil, lalu beralih kembali pada Gaby. "So, Gabriella... welcome to the lion's den. Tell me, how long can you survive living with this grumpy statue?"
Gaby tertawa, merasa suasana rumah yang tadinya kaku mendadak menjadi jauh lebih berwarna karena kehadiran Keytlon. Namun, di sudut ruangan, Emrys hanya menatap mereka berdua dengan mata menyipit. Ada rasa protektif yang tiba-tiba muncul saat melihat betapa akrabnya Keytlon menggoda adik sepupunya itu.
.
.
.
Suasana pagi di penthouse mendadak sibuk. Emrys sudah mengenakan jas charcoal miliknya, memeriksa jam tangan sejenak sebelum menyambar tas kerjanya. Keytlon, sang bintang pop, tentu saja tidak mau ketinggalan momen.
"Aku harus ke kantor untuk rapat divisi. Kau tetap di sini, Gaby. Jangan keluar tanpa pengawalan," perintah Emrys dengan nada otoriter yang biasa.
"Allow it, Lemon! Chill out, yeah?" sela Keytlon sambil memberikan kedipan mata nakal ke arah Gaby. "I’m headin' the same way anyway, bruv. Let your cousin hop in with me, we’ll just convoy it straight to your office. Don't be a wet blanket, mate!"
Setelah perdebatan singkat yang melelahkan, Emrys akhirnya mengalah. Mereka berangkat dengan dua mobil mewah yang berbeda. Emrys dengan Bentley-nya yang elegan, dan Keytlon dengan Range Rover custom miliknya yang mencolok. Gaby memilih masuk ke mobil Keytlon, merasa ini adalah kesempatan langka untuk mengobrol dengan sang idola.
Begitu mobil melaju membelah jalanan London yang padat, Gaby tidak bisa menahan rasa penasarannya. Ia menoleh ke arah Keytlon yang sedang menyetir dengan santai, sebelah tangannya bertengger di jendela.
"Kau benar-benar Me Amor 7, kan? Maksudku, ini terasa sangat tidak nyata!" seru Gaby penuh semangat.
Keytlon terkekeh, aksen Londoner-nya terdengar sangat keren di telinga Gaby. "In the flesh, darling. Are you gonna ask for an autograph or just stare at me all the way to the City?"
"Mungkin keduanya!" jawab Gaby tertawa. "Tapi serius, bagaimana kau bisa berteman dengan Kak Emrys? Dia itu... yah, kau tahu sendiri. Kaku seperti patung di museum."
Keytlon tertawa lepas, melirik spion tengah untuk memastikan mobil Bentley Emrys masih mengekor di belakang mereka. "Lemon? Oh, he’s a right proper stick-in-the-mud, isn't he? Kami satu asrama saat di Oxford. Dia yang mengerjakan tugas finansialku, dan aku yang memastikan dia tidak mati kebosanan karena terus-menerus membaca grafik saham."
"Tapi lagu 'Wonder Woman'... itu benar-benar meledak di Indonesia! Semua orang menggunakannya sebagai backsound video mereka," celoteh Gaby tak henti-henti. "Dan gaya berpakaianmu hari ini, sangat London street style. Apa kau selalu berpakaian seperti ini meski tidak ada kamera?"
"Listen to you! Kau tahu banyak soal fashion, ya?" tanya Keytlon, tampak terkesan dengan pengetahuan Gaby tentang tren. "I like your vibe, Gaby. You're way more fun than your cousin. If Lemon gets too boring at the office, just ring me up, yeah? We’ll go hit the studios."
Gaby terus berceloteh tentang konser-konser Keytlon yang pernah ia tonton lewat YouTube, sementara di mobil belakang, Emrys memperhatikan interaksi mereka melalui kaca depan dengan dahi yang berkerut. Ia bisa melihat Gaby yang tertawa lepas di dalam mobil Keytlon, dan entah mengapa, pemandangan itu membuatnya sedikit tidak tenang.
Lobi Kaito Group yang biasanya hening dan bernuansa formal mendadak pecah saat Range Rover custom milik Keytlon berhenti tepat di depan pintu putar kristal. Begitu Gaby melangkah turun, beberapa staf muda yang kebetulan berada di lobi langsung membeku. Bisik-bisik histeris mulai terdengar.
"Is that... Me Amor 7?"
"Oh my god, it is! Who’s the girl with him?"
Dalam sekejap, beberapa staf perempuan yang biasanya disiplin mendadak kehilangan kendali. Mereka mendekat dengan ragu namun antusias, mencoba mencuri foto atau sekadar menyapa sang bintang pop London tersebut. Gaby, yang berdiri di samping Keytlon, hanya bisa mengerjapkan mata, sedikit terkejut dengan popularitas pria ini di dunia nyata.
Keytlon, dengan gaya cool-nya, hanya menurunkan kacamata hitamnya sedikit dan memberikan kedipan maut kepada para penggemarnya. "Easy, ladies. Just dropping off a friend, yeah?"
Tepat saat suasana mulai riuh, suara deru mesin Bentley yang halus namun bertenaga berhenti tepat di samping mereka. Emrys keluar dari mobil dengan gerakan yang sangat efisien. Wajahnya datar, rahangnya mengeras, dan aura kepemimpinannya sebagai Managing Director langsung membungkam keriuhan di lobi. Para staf yang tadi mengerumuni Keytlon segera tertunduk dan pura-pura sibuk kembali.
Emrys tidak mengatakan sepatah kata pun pada Keytlon. Ia hanya berdiri tegap, membetulkan letak kancing jas charcoal-nya, lalu memberikan tatapan tajam yang tidak bisa dibantah kepada Gaby. Tatapan yang dengan jelas berkata: "Masuk ke dalam. Sekarang."
Gaby meringis kecil, merasa seperti murid yang tertangkap basah melanggar aturan sekolah. "Ehm, oke. Aku masuk dulu ya, Key."
Keytlon tertawa lepas melihat wajah protektif sahabatnya. Ia mencondongkan tubuh dari jendela mobilnya, memberikan lambaian santai pada Gaby. "Safe, Gaby! Kapan-kapan aku akan mengajakmu bermain ke agensiku ya, gadis kecil. Don't let the Lemon sour your day, alright?"
Gaby tertawa kecil mendengar ejekan Keytlon, sementara Emrys hanya mendengus dingin. Pria itu meletakkan tangannya di punggung Gaby, menuntunnya masuk ke gedung Kaito Group dengan langkah lebar, meninggalkan sahabatnya yang masih tebar pesona di lobi.
"Berhenti tertawa, Gaby. Dan berhenti mendengarkan omong kosong Keytlon," gumam Emrys saat mereka memasuki lift khusus direksi. Pintu lift berlapis krom itu tertutup, seketika membungkam hiruk-pikuk fans Me Amor 7 di bawah sana. "Dia itu pengaruh buruk. Agensinya bukan tempat untuk gadis yang minggu depan harus mulai serius di Oxford."
Gaby menatap pantulan mereka di dinding lift yang mengkilap. Emrys tampak begitu berwibawa dengan jas charcoal-nya, sementara Gaby terlihat sangat mungil di sampingnya. "Tapi dia seru, Kak! Lagipula kalian kan dulu satu asrama di Oxford, masa kau bilang dia pengaruh buruk sekarang?"
"Justru karena aku mengenalnya sejak zaman kuliah, aku tahu persis betapa berantakannya hidup pria itu," balas Emrys datar, meski ada nada protektif yang tak bisa ia sembunyikan. "Dia adalah alasan kenapa aku hampir tidak lulus ujian finansial semester tiga karena dia mengajakku balapan motor di tengah malam."
Gaby terbelalak. "Kak Emrys... balapan motor? Kau?"
Emrys berdeham pelan, seolah menyesal telah membocorkan sedikit kenakalan masa mudanya bersama Keytlon. "Itu masa lalu yang tidak perlu kau tiru. Sekarang, kau akan duduk di ruanganku dan melihat bagaimana dunia kerja yang sebenarnya berjalan."
Lift berdenting lembut, menandakan mereka telah sampai di lantai paling atas. Lantai kekuasaan Emrys sebagai Managing Director. Begitu pintu terbuka, deretan staf langsung berdiri dan membungkuk hormat.
"Good morning, Mr. Kaito."
Emrys tidak berhenti, ia hanya mengangguk singkat sembari terus menuntun Gaby menuju ruangan kantornya yang sangat luas dengan pemandangan The Skyline of London.
"Duduk di sana," tunjuk Emrys ke arah sofa kulit di sudut ruangan. "Aku punya tiga rapat berturut-turut. Jangan mencoba menyelinap keluar untuk menelepon Keytlon."
Gaby mendengus, merebahkan tubuhnya di sofa empuk itu. "Siap, Tuan Besar. Aku akan jadi asisten bayanganmu hari ini."