Jihan Fahira memergoki suaminya selingkuh dengan sahabatnya. saat dia kembali dari rumah sakit. Saat itu suami dan sahabatnya sedang melakukan hubungan yang tidak pantas di dalam sebuah villa.
Saat itu Jihan tewas di tangan suami dan sahabatnya sendiri. Namun keajaiban muncul dalam hidupnya. Dia di beri kesempatan kedua. Jihan kembali hidup ke enam tahun yang lalu.
Kesempatan kedua untuk membalas dendam dan mengubah kembali takdir tragis yang akan terjadi di masa depan.
Mampukah Jihan membalas dendam dan mengubah takdir tragis yang akan menimpanya ?
Follow Ig: Hans_Sejin13.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Malam itu di rumah sakit, Jihan yang terbangun dari tidurnya, dia kemudian berjalan menuju kasir administrasi. Dia ingin menanyakan kapan dirinya akan di operasi.
Dengan langkah yang lambat dan penuh dengan rasa sakit di perut, dia akhirnya sampai di kasir. Jihan kemudian menanyakan jadwalnya kepada pegawai tersebut.
" Permisi mbak... " ucap Jihan kepada pegawai.
" Ia Bu, Ada yang bisa saya bantu? " jawab pegawai itu tersenyum ramah kepada Jihan.
" Begini... Saya mau tanya jadwal operasi untuk saya kapan ya...?" tanya Jihan, merasa penasaran karena dia sudah lama di rumah sakit tapi belum juga di operasi.
" Sebentar ya Bu... Operasi atas nama ibu siapa...?" tanya pegawai kepada Jihan.
" Jihan Fahira... Itu nama saya...." jawab Jihan, semakin penasaran.
" Atas nama ibu Jihan Fahira, tidak ada jadwal operasi untuk ibu, disini hanya tertera bahwa ibu hanya rawat inap saja... " ucap karyawan tersebut menjelaskan bahwa tidak ada jadwal operasi untuk pasien yang bernama Jihan Fahira.
Jihan terkejut setelah mendengar apa yang di katakan oleh pegawai itu, karena yang dia tahu dia memiliki uang asuransi yang bisa dia pakai untuk melakukan pengobatan dan operasi.
" Apa mbak...? Tidak ada...! Coba periksa sekali lagi mbak, mungkin mbak salah periksa, suami saya sudah membayar biaya untuk operasi saya...!" ucap Jihan, mengira bahwa pegawai tersebut salah mencari informasi.
" Tunggu sebentar ya Bu, saya periksa sekali lagi...!" jawab pegawai, lalu kembali mencari jadwal operasi dan biaya pembayaran atau nama Jihan.
Pegawai itu dengan teliti mencari data jadwal operasi dan biaya pembayaran, namun tetap saja tidak ada jadwal operasi atas nama Jihan.
" Sekali lagi maaf Bu... Tidak ada jadwal operasi atas nama ibu... Kalau ibu tidak percaya ibu bisa lihat sendiri...!" ucap pegawai, memperlihatkan data operasi rumah sakit kepada Jihan.
Jihan melihat dengan seksama, dan benar tidak ada jadwal operasi atas namanya. Hal tersebut membuat Jihan tidak bisa berkata-kata apa-apa.
" Apa...? Makasih ya Mbak...!" ucap Jihan sedikit kaget dengan apa yang dia lihat.
" Bu, coba ibu tanya pada suami ibu, jika ibu ingin lebih jelas..." ucap pegawai, memberikan saran kepada Jihan untuk bertanya langsung kepada suaminya.
Jihan kemudian pergi, dia kemudian mencoba menghubungi suaminya. Dia ingin menanyakan kenapa suaminya tidak membayar biaya operasi atas dirinya, sedangkan saat itu uang tersebut di pegang oleh suaminya.
📲 Tut...! Tut...! Tut...!
" Mas, angkat mas...!" ucap Jihan, terlihat sedikit panik dan juga menahan rasa sakit di tubuhnya.
Jihan menghubungi suaminya berkali-kali namun tidak juga di angkat. " Mas, kamu kemana kenapa belum di angkat juga...!".
📳 Nomor telepon yang anda tuju tidak dapat di hubungi... Cobalah beberapa saat lagi...!The phone number you are calling cannot be reached... Please try again later...!
Namun saat itu tiba-tiba nomor telepon suaminya tidak bisa di hubungi. Membuat Jihan menjadi curiga dan tidak tenang, serta perasaan was-was di dalam hatinya.
Apa yang sebenarnya terjadi, ada mengapa suaminya tega membohongi dirinya.
" Mas... kenapa kamu tidak bisa di hubungi... Sekarang aku harus bagaimana...?" ucap Jihan dengan perasaan curiga dan tidak tenang.
Jihan takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan menimpa suaminya, walaupun suaminya tidak peduli dengan dirinya, Jihan tetap saja mencintai suaminya.
" Coba aku telpon Gina, siapa tahu dimana mas Hendrick...!" pikir nya, kemudian menelpon Regina.
📲Tut...! Tut...! Tut...!
Jihan mencoba menelpon Regina, namun Sama saja, Regina juga tidak bisa di hubungi saat itu.
" Gina... Angkat telpon nya, kumohon...!" ucap Jihan sambil mengigit ujung jarinya. "kumohon, tolong angkat...!"
Namun hasilnya tetap nihil, mereka berdua tidak ada yang mengangkat panggilan telepon dari diri nya.
Jihan kemudian mengakhiri panggilan telepon. Saat itu dia tidak tahu harus menghubungi siapa. Jika dia menghubungi mertuanya. Percuma saja pasti tidak akan pernah di angkat.
" Kemana mereka berdua...? Kenapa tidak ada yang mengangkat telpon ku...?" ucap Jihan, bertanya-tanya kenapa sahabat nya juga tidak bisa di hubungi.
Jihan kemudian berjalan keluar dari rumah sakit, saat itu baru pukul 21:13 . Dia berjalan menahan rasa sakit sampai ke depan gedung.
Dengan langkah kaki yang lambat, sambil menahan rasa sakit, Jihan mencari mobil taksi di pinggir jalan. Karena sudah malam, sangat sulit untuk mendapatkan taksi di malam hari.
" Kenapa tidak ada satupun mobil taksi yang lewat...? " ucap nya sambil terus melihat kearah jalan raya yang ramai.
Tidak lama kemudian sebuah taksi berwarna hitam lewat di sebrang jalan raya yang berlawanan arah. Jihan berteriak memanggil taksi tersebut.
" Pak!, Taksi pak..! " teriak Jihan, memanggil taksi di arah yang berlawanan arah.
Pengemudi mobil taksi itu melihat Jihan yang memanggilnya dari sebrang jalan raya yang ramai. Dia kemudian memutar arah menghampiri Jihan.
Jihan perlahan melihat mobil taksi itu menghilang, dan dirinya berhenti mengejar mobil itu dan berbalik arah.
" Sudah tidak terlihat lagi taksinya... Lebih baik aku kembali lagi...!"
Saat dia berjalan kembali, tidak lama kemudian terdengar suara klakson mobil dari belakang.
🚖📢: Tut..! Tut...!
Bunyi klakson taksi tersebut. Saat itu Jihan melihat ke arah belakang. Mobil taksi itu menghampiri dirinya.
Jihan berdiri diam di samping jalan raya. Mobil taksi itu akhirnya berhenti di depan Jihan.
" Mbak, tadi ibu memanggil saya...?" tanya sopir taksi kepada Jihan.
" Ia pak, saya tadi memanggil taksi " ucap Jihan, menundukkan wajahnya melihat sang supir taksi.
" Mbak mau pergi kemana...?" tanya sang supir taksi kepada Jihan.
Jihan kemudian memberi tahu alamat rumah nya, yang berbeda di lokasi A.
" kebetulan sekali Mbak, saya juga mau pulang kearah sana...? Mari mbak masuk sekalian saya antar...!" ucap sang sopir taksi, menyuruh Jihan masuk kedalam mobil taksi nya.
Jihan kemudian segera masuk ke dalam mobil, dengan hati-hati dia masuk kedalam mobil taksi itu, lalu memasangkan sabuk pengaman.
Mobil taksi itu kemudian berjalan, saat itu sang sopir bertanya dan mengajak Jihan mengobrol.
" Mbak, sebenarnya mbak mau pergi kemana, malam-malam begini pergi sendirian, bukannya mbak sedang sakit...!" ucap sang sopir, yang melihat Jihan mengenakan pakaian rumah sakit.
Jihan kemudian menjawab pertanyaan sang sopir taksi.
" Saya ingin pulang ke rumah pak, tadi suami saya tidak bisa di hubungi, jadi saya pulang sendiri " ucap Jihan kepada sang sopir, matanya masih memancarkan kesedihan.
Sang sopir melihat Jihan dari kaca spion mobil. Dia melihat wajah Jihan yang sangat pucat dan tubuhnya yang kurus kering.
" Mbak, kalau boleh tahu mbak sakit apa ya...?" tanya sang sopir yang melihat kondisi Jihan.
Walaupun tampak sedih Jihan memberi tahu kondisi nya yang menderita kanker perut.
" Saya mengidap kanker perut stadium akhir pak... " jawab Jihan.
" Yang kuat ya mbak, sebentar lagi mbak akan sembuh dan sehat kembali, jika sudah kembali sehat jangan sia-siakan kesempatan, untuk mbak semoga bahagia...!" ucap sang sopir taksi, tetap fokus mengemudi di jalan raya.
" Entah, pak saya tidak tahu, apa mungkin saya akan sembuh dan juga bahagia " ucap Jihan, dirinya belum pernah merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya.
Setiap kebahagiaan yang dia rasakan langsung di balas dengan kesedihan yang mendalam dan kehilangan harapan untuk bisa hidup bahagia.
Saat itu Jihan, melihat bahwa sang sopir salah mengambil arah, menuju rumah nya. Dia kemudian memberi tahu sang sopir.
" Pak, ini bukan arah kerumah saya sepertinya kita salah jalan...." ucap Jihan memberi tahu sopir.
" Tidak, kita ke arah yang benar, masih ada banyak jalan menuju tempat yang kita tuju. Jika bukan hanya itu jalan satu-satunya, masih banyak jalan..." ucap sang sopir
Mereka terus berjalan menuju rumah Jihan, saat itu Jihan terpukau melihat keindahan jalan yang baru pertama kali dia lewati.
Akhirnya Jihan sampai di jalan dekat rumah nya. Namun saat mobil taksi berhenti dia melihat Suaminya dan Regina, masuk kedalam mobil.
" Mau pergi kemana mereka berdua...?"
❅
❅
❅
𝐵ℯ𝓇𝓈𝒶𝓂𝒷𝓊𝓃ℊ...ღ