NovelToon NovelToon
My Possession Hot Daddy

My Possession Hot Daddy

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Sepuluh tahun Aluna (20) hidup dalam "sangkar emas" milik Bramantyo (35), wali tunggal sekaligus sahabat mendiang ayahnya. Bagi Aluna, Bram adalah pelindung yang ia panggil "Daddy". Namun bagi Bram, Aluna adalah obsesi yang ia rawat hingga matang.
Saat Aluna mulai menuntut kebebasan, kasih sayang Bram berubah menjadi dominasi yang gelap. Tatapan melindunginya berganti menjadi kilat posesif yang membakar. Di antara rasa hormat dan hasrat terlarang, Aluna harus memilih: tetap menjadi putri kecil yang penurut dalam kuasa Bram, atau melarikan diri dari jerat pria yang takkan pernah melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Hilang jejak

Lantai teratas gedung Bramasta Group biasanya merupakan simbol ketenangan dan otoritas yang tak tergoyahkan. Namun, sore itu, atmosfer di sana pecah berkeping-keping. Suara debuman pintu lift yang dihantam tangan kekar terdengar menggema hingga ke meja resepsionis. Para karyawan yang biasanya berlalu-lalang dengan langkah teratur kini berdiri mematung, menundukkan kepala sedalam mungkin, tidak berani bernapas saat melihat sang CEO keluar dengan wajah yang menyerupai badai petir.

"Anwar! Di mana dia?!" suara Bramasta menggelegar, memantul di dinding-dinding kaca antipeluru.

Anwar berlari kecil menghampiri, wajahnya pucat pasi. "Maaf, Tuan Besar. Nona Aluna keluar melalui pintu darurat staf di lantai bawah. Dia masuk ke taksi kuning tanpa sempat kami cegat. Saya sedang melacak nomor pelatnya melalui CCTV kota, tapi Nona... dia melepaskan gelangnya di dalam lift."

Bram membeku sejenak. Matanya tertuju pada benda kecil berkilau yang tergeletak di lantai lift yang baru saja terbuka. Gelang emas putih inisial 'B'. Alat sadap dan pelacak yang ia banggakan sebagai sangkar paling aman, kini hanyalah seonggok logam dingin yang tak berguna. Aluna telah belajar. Gadis kecilnya telah belajar cara melarikan diri darinya.

"Cari dia sampai ketemu! Kerahkan semua unit lapangan! Blokir semua akses keluar kota!" teriak Bram sambil mencengkeram kerah baju Anwar. "Jika seujung kuku pun dia terluka karena berkeliaran sendirian, aku akan memastikan kau tidak akan pernah melihat matahari lagi!"

Bram melangkah menuju mobilnya dengan amarah yang meluap. Di belakangnya, di balik meja sekretaris, Clara berdiri mematung. Ia menatap kepergian Bram dengan senyum yang sangat tipis—sebuah senyum kepuasan yang dingin. Ia telah berhasil mengguncang fondasi hubungan mereka hanya dalam waktu satu minggu. Baginya, kekacauan ini adalah seni yang indah.

Sementara itu, di sebuah sudut taman kota yang mulai temaram karena mendung yang menggantung rendah, Aluna duduk bersandar di bangku kayu yang catnya sudah mengelupas. Air matanya sudah mengering, meninggalkan jejak kemerahan yang perih di pipinya yang pucat. Ia memeluk tas sekolahnya dengan erat, menatap kosong ke arah kolam air mancur yang airnya mulai berhenti memancar.

Ia merasa hancur. Ia merasa dikhianati oleh satu-satunya pria yang ia percayai sebagai tempat berlindung. Bayangan Clara yang berdiri dengan tenang dan profesional saat ia bermanja-manja pada Bram terus berputar di otaknya seperti adegan film horor. Ia merasa kerdil. Ia merasa seperti anak kecil yang sedang dipermainkan oleh dua orang dewasa yang jauh lebih pintar darinya. Dia hanya menjadikanku investasi, bukan cinta, batin Aluna dengan kepahitan yang meracuni hatinya.

Ia sengaja mematikan ponselnya dan membuang gelangnya. Untuk pertama kalinya, Aluna ingin benar-benar menghilang. Ia ingin tahu, apakah Bram akan tetap mencarinya jika ia bukan lagi "barang berharga" yang bisa diawasi?

Di saat yang sama, beberapa meter dari sana, Rio sedang berjalan gontai. Ia baru saja pulang dari sebuah toko suku cadang motor di pinggiran taman untuk mencari komponen bengkel ayahnya yang mulai sepi sejak gangguan anak buah Bram. Rio tidak sengaja melewati jalur setapak taman karena ingin menghindari kemacetan di jalan utama.

Langkahnya terhenti saat ia melihat sosok gadis yang sangat ia kenal sedang meringkuk di bangku taman. Gaun floral yang dikenakan gadis itu tampak kontras dengan suasana taman yang muram.

"Aluna?" suara Rio terdengar ragu di tengah kesunyian sore itu.

Aluna tersentak. Ia mendongak, matanya yang sembap menatap Rio dengan keterkejutan yang nyata. "Rio? Apa yang kau lakukan di sini?"

Rio mendekat, menatap wajah Aluna yang hancur dengan rasa iba yang mendalam. Pertemuan ini benar-benar sebuah ketidaksengajaan yang aneh, namun bagi Rio, ini adalah kesempatan. "Aku baru pulang dari toko sparepart. Luna... kau kenapa? Kenapa kau sendirian di sini di jam seperti ini? Di mana pengawal-pengawalmu?"

Aluna tidak bisa menahan isakannya lagi. Pertahanan yang ia bangun selama di taksi tadi runtuh saat melihat wajah Rio yang jujur dan tulus. "Aku lari, Rio. Aku tidak tahan lagi. Dia... dia membohongiku."

Rio duduk di samping Aluna, menjaga jarak yang sopan namun cukup dekat untuk memberikan kehangatan. "Tenanglah, Luna. Tarik napas."

"Dia mempekerjakan wanita itu, Rio. Wanita di kampus kemarin. Sekarang dia ada di kantornya, setiap hari, setiap detik di sampingnya. Dia membohongiku seolah-olah tidak terjadi apa-apa," adu Aluna dengan suara pecah.

Rio mendengarkan dengan seksama. Tangannya terkepal di atas lututnya. "Sudah kubilang, kan? Dia adalah penjara bagimu. Dia akan memberikan apa pun untuk membuatmu tetap dalam genggamannya, termasuk kebohongan-kebohongan manis itu."

"Aku ingin pergi, Rio. Aku tidak mau pulang ke rumah itu. Rumah itu bukan rumah, itu penjara," ujar Aluna penuh dendam.

Rio menatap Aluna, ada binar tekad di matanya. "Jika kau benar-benar ingin pergi, aku bisa membantumu. Ada rumah bibiku di luar kota. Sangat tersembunyi. Tapi Luna... kau tahu siapa Bramasta. Dia tidak akan membiarkanmu pergi dengan mudah. Dia akan memburu siapa pun yang bersamamu."

"Aku tidak peduli lagi. Aku lebih baik mati daripada harus melihat wajah wanita itu di sampingnya lagi," balas Aluna nekat.

Namun, belum sempat mereka berdiri untuk melangkah pergi, sebuah suara deru mesin mobil yang sangat kuat membelah kesunyian taman. Lampu sorot tinggi dari sebuah Lamborghini hitam membelah kegelapan yang mulai turun, menyilaukan mata mereka berdua. Mobil itu berhenti dengan sentakan kasar, hanya terpaut beberapa sentimeter dari bangku taman tempat mereka duduk.

Pintu mobil terbuka ke atas. Bramasta keluar.

Wajahnya tidak lagi hanya sekadar marah. Itu adalah wajah seorang pria yang sudah kehilangan kewarasannya. Nafasnya memburu, jasnya terbuka, dan matanya berkilat penuh kegilaan posesif yang mengerikan. Ia telah melacak taksi Aluna melalui koneksi kepolisiannya dan menemukan lokasi ini tepat waktu.

Melihat Aluna duduk bersandingan dengan Rio di taman yang sepi—tanpa pengawasan, tanpa gelang yang ia berikan—membuat darah Bram mendidih melampaui batas.

"ALUNA! IKUT AKU SEKARANG!" teriakan Bram menggelegar, membuat beberapa burung yang bertengger di pohon terbang ketakutan.

Rio segera berdiri, menempatkan tubuhnya di depan Aluna, menghalangi jalan Bram. "Dia tidak mau ikut denganmu, Pak Bramasta! Kau telah menghancurkan hatinya!"

Bram tidak membuang waktu untuk berdebat. Ia menerjang maju dengan kecepatan yang luar biasa. Dengan satu sentakan tangan kekarnya, ia mencengkeram kerah jaket Rio, mengangkat pemuda itu hingga kakinya nyaris terangkat dari tanah.

"Berani sekali kau menyentuhnya saat aku tidak ada, hah?!" desis Bram tepat di depan wajah Rio. Suaranya rendah, serak, dan penuh ancaman maut. "Kau pikir kau siapa? Kau hanya serangga kecil yang sedang mencoba mencuri permata milikku!"

"Daddy, lepaskan dia! Kau menyakitinya!" teriak Aluna, mencoba memukul lengan Bram agar melepaskan Rio.

Bram melepaskan Rio dengan sentakan yang sangat kasar hingga Rio terlempar menghantam bangku kayu tadi. Bram kemudian berbalik pada Aluna, matanya menatap tajam ke arah pergelangan tangan Aluna yang kosong.

"Di mana gelangmu, Aluna?" tanya Bram, suaranya kini bergetar karena emosi yang tertahan.

"Aku membuangnya! Aku benci gelang itu! Aku benci kau, Daddy!" teriak Aluna histeris.

Bram tidak menjawab. Tanpa peringatan, ia langsung menyambar pinggang Aluna, mengangkat tubuh gadis itu dan memanggulnya di bahu seolah-olah Aluna hanyalah barang bawaan.

"Lepaskan aku! Rio, tolong aku!" Aluna memukul-mukul punggung Bram, kakinya menendang udara.

"Jangan pernah panggil namanya lagi atau aku pastikan dia tidak akan pernah bersuara lagi besok pagi!" ancam Bram dengan nada yang sangat serius.

Bram menatap Rio yang sedang berusaha bangkit di tanah. "Ini peringatan terakhir bagimu, Mahasiswa. Jika aku melihatmu lagi dalam radius satu kilometer dari Aluna, aku tidak akan hanya menghancurkan bengkel ayahmu. Aku akan memastikan namamu hanya tinggal sejarah di kota ini."

Bram memasukkan Aluna ke dalam kursi penumpang Lamborghini-nya dengan paksa. Ia segera mengunci pintu secara otomatis melalui sistem kontrol pusatnya, membuat Aluna terjebak di dalam kabin yang sempit.

Sepanjang perjalanan pulang, suasana di dalam mobil terasa begitu mencekam. Aluna menangis tersedu-sedu, membuang muka ke arah jendela yang gelap. Bram tidak mengatakan sepatah kata pun. Tangannya mencengkeram kemudi dengan sangat kuat hingga buku jarinya memutih, seolah-olah ia sedang menahan diri agar tidak meledak di sana.

Sesampainya di rumah, Bram tidak membawa Aluna ke kamarnya sendiri. Ia justru menyeret Aluna masuk ke ruang kerja pribadinya yang kedap suara. Ia mendudukkan Aluna di kursi besar, sementara ia berdiri di depannya, menjulang seperti monster yang menakutkan.

"Kau ingin kebebasan, Aluna? Kau ingin lari ke pelukan bocah miskin itu?" tanya Bram dingin. Ia meraih sebuah tablet dan menunjukkan rekaman CCTV di kantor tadi—saat Aluna mencium lehernya di depan Clara. "Kau melakukannya untuk menunjukkan bahwa kau milikku, kan? Lalu kenapa sekarang kau bertingkah seolah-olah aku yang bersalah?"

"Karena kau membohongiku! Kau membawa wanita itu ke kantor!" teriak Aluna.

"Dia bukan siapa-siapa! Dia hanya alat bisnis!" Bram membentak balik, membuat Aluna terdiam ketakutan. "Tapi kau... kau lari dan membuatku gila mencarimu ke seluruh kota. Kau membuang pemberianku!"

Bram berlutut di depan Aluna, mencengkeram kedua tangan gadis itu. "Mulai malam ini, tidak ada lagi kampus. Tidak ada lagi keluar rumah. Kau akan tinggal di sini, di bawah pengawasanku 24 jam. Jika kau mencoba lari lagi, aku akan memastikan Rio mendapatkan 'hadiah' yang tidak akan pernah kau lupakan seumur hidupmu."

Aluna hanya bisa terisak, menyadari bahwa pelarian singkatnya tadi justru telah mengunci pintu sangkarnya jauh lebih rapat. Ia merasa terjebak dalam cinta yang merusak, namun saat Bram memeluknya dengan sangat erat malam itu, Aluna menyadari satu hal yang mengerikan: ia membenci Bram, tapi ia juga tidak tahu bagaimana cara hidup tanpa pria itu.

1
Lfa🩵🪽
yey akhirnya up lagi 😍😍
ollyooliver🍌🥒🍆
aluna terlalu lemah, dia mudah menujukkan rasa cemburu.
Lfa🩵🪽: semangat update nya Thor 🫶❤️‍🔥
total 2 replies
Hilag
semangatt kak 👍Bram Luna lope
Senja_Puan: siap kak💪
total 1 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
mengungkapkan cinta dengan gairah? itu bukan cinta..nafsu iya🙃
Yasa: terlalu terobsesi juga Bram nya. Ngeri sih, kalau ada yang kaya gini di dunia asli.

tapi perbedaan usia 15 tahun, masih oke-oke aja.
total 1 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
tiga hari sdh berlalu dan bram bekerja diruang kerjanya bahkan menginzinkan aluna menemaninya..kok baru ketahuan bau parfum clara..mereka flu parah kh🙃 kalau anting" wajar gk keliatan. lalu emng masuk akal clara datang kerumah bram tanpa bram ketahui?🙂
Senja_Puan: 2. Untuk yang Clara, sudah dijelaskan ya Kak. Clara ini cukup 'cerdas' dan 'ngeyel' ya, jadi dia tetap datang walau dilarang. Dan Anwar tetap memperbolehkannya masuk karena tahu dia putri rekannya Bram.
total 4 replies
Anom
team second lead a.k Rio😍
Senja_Puan: wah keren kak, sudah siap memilih akmj
total 1 replies
Anom
waduh disadap
Anom
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!