Anela adalah janda muda beranak satu yang telah belajar bangkit setelah pernikahan pertamanya hancur karena pengkhianatan. Hidup mandirinya membawanya menjadi wanita dewasa yang kuat, anggun, dan memikat—dengan aura sensual alami yang membuatnya mudah menarik perhatian pria.
Rico adalah pembasket terkenal, tampan, kaya, dan dominan dalam cara yang tenang namun penuh karisma. Pertemuan mereka dimulai dari satu malam yang penuh ketegangan hasrat dan rasa penasaran yang sulit dijelaskan.
Apa yang awalnya hanya percikan gairah berubah menjadi hubungan yang semakin dalam—dipenuhi tarikan emosional, ketegangan hasrat, dan keinginan untuk memiliki satu sama lain di tengah dunia mereka yang berbeda. Namun cinta mereka harus menghadapi masa lalu, tekanan karir, dan kenyataan bahwa cinta panas tidak selalu mudah untuk dipertahankan.
Semakin mereka mendekat, semakin kuat pula rasa ingin memiliki… dan semakin berbahaya cinta yang mereka sembunyikan dari dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIDAK INGIN JATUH KE LUBANG YANG SAMA
Sore itu Anela memutuskan keluar rumah.
Ia butuh udara.
Butuh lihat dunia yang lebih luas dari sekadar chat “aku kepikiran kamu”.
Ia menemui Ratih di butik kebaya langganan. Ratih sedang fitting kebaya putih gading yang berkilau lembut di bawah lampu.
“Gimana? Kelihatan kayak calon istri orang gak?” tanya Ratih sambil muter.
“Kelihatan kayak calon bikin mantan nyesel,” jawab Anela santai.
Ratih tertawa. “Doain ya lancar.”
Anela mengangguk. Ada hangat di dadanya. Bahagia lihat sahabatnya siap menikah.
Sekilas ia bertanya dalam hati—masih ada nggak sih cerita yang rapi kayak gitu buat dirinya?
—
Sepulang dari butik, Anela mampir ke mall. Niatnya beli mainan kecil buat Ziyo. Dan mungkin… menenangkan otak yang terlalu rajin mikirin si atlet basket.
Mall sore itu cukup ramai. Wangi kopi dan parfum bercampur di udara.
Langkahnya melambat saat melewati café yang agak masuk ke dalam.
Awalnya ia tidak berniat melihat. Tapi matanya otomatis tertarik.
Seketika jantungnya berdegup kencang begitu melihat sosok yang ingin dia lupakan sejenak.
Rico.
Duduk di sana.
Mengenakan kemeja gelap, dengan lengan digulung, postur santai yang terlalu mudah dikenali. Wajahnya serius, seperti sedang mendengarkan seseorang.
Di depannya duduk seorang wanita.
Cantik.
Stylish.
Makeup flawless.
Aura percaya diri level “aku tahu aku menarik”.
Anela berhenti. Setengah bersembunyi di balik pilar.
Oke. Tenang.
Mungkin sponsor.
Mungkin kerjaan.
Mungkin wawancara.
Ia bahkan hampir mengolok dirinya sendiri karena langsung kepikiran drama.
Lalu wanita itu berdiri.
Rico ikut berdiri.
Mereka saling menatap.
Dan tanpa aba-aba, wanita itu memegang wajah Rico… lalu mencium bibirnya.
Bukan cium pipi.
Bukan peluk formal.
Langsung. di bibir.
Anela berkedip.
“Oh.”
Suara mall mendadak seperti dikecilkan volumenya.
Ciumannya tidak lama.
Tapi cukup.
Cukup buat menghancurkan semua skenario manis yang tadi sempat ia rajut diam-diam.
Wanita itu bicara dengan ekspresi emosional, lalu pergi duluan. Rico berdiri diam sebentar, mengusap wajahnya, lalu duduk lagi.
Anela mundur satu langkah.
Dadanya terasa seperti ditekan.
Bodoh.
Kamu ngarep apa sih?
Ia sempat tertawa kecil—tawa yang lebih mirip ejekan kepada dirinya sendiri.
Ya jelas lah.
Dia itu atlet nasional. Main di Indonesian Basketball League. Hidupnya penuh sorotan. Mantannya artis. Dikenal orang.
Dan kamu pikir kamu satu-satunya perempuan di dunianya?
Anela memutar mata pada dirinya sendiri.
“Bagus, Nela. Cepat sekali kamu bikin film romantis sendiri.”
Air matanya tidak langsung jatuh. Tapi matanya panas.
Ia berbalik sebelum Rico sempat melihatnya.
Langkahnya cepat ke eskalator.
Mainan Ziyo? Lupa.
Belanja? Tidak penting.
Di kepalanya cuma satu kalimat berulang:
Tentu saja.
Tentu saja terlalu manis buat jadi nyata.
Di parkiran, ia berhenti. Menarik napas dalam-dalam.
Oke.
Marah? Iya.
Cemburu? Jelas.
Tersinggung? Banget.
Tapi yang paling bikin kesal—
Ia sadar rasa sakit itu ada karena ia sudah mulai berharap.
Dan itu artinya… semalam bukan cuma fisik buat dirinya.
Ia menyandarkan punggung ke mobil.
“Hebat ya, baru kenal sehari udah bisa bikin hati aku senam,” gumamnya setengah kesal.
Tapi di balik kemarahan itu, ada bagian kecil yang masih ingat cara Rico menatapnya. Cara pria itu membuatnya tertawa. Cara sentuhan semalam terasa tulus, bukan sekadar main-main.
Dan itu yang bikin semuanya makin rumit.
Anela menghela napas panjang.
Oke.
Kalau memang dia punya dunia yang rumit, dia harus jelasin.
Karena Anela bukan tipe yang mau jadi figuran di hidup orang.
Kalau mau masuk ke dunianya—
Ia harus masuk dengan kepala tegak.
Dan kalau ternyata ia cuma satu dari banyak pilihan?
Well.
Ia sudah pernah patah sebelumnya.
Ia tahu caranya berdiri lagi.
Tapi kali ini… sebenarnya ia berharap tidak perlu. Walaupun kenyataanya seperti ini sekarang.
....