Di bawah terik matahari dan topi caping warna-warni yang merendahkan harga diri, Dewi Laras tak menyangka hari pertama ospek justru mempertemukannya dengan lima orang paling “ajaib” dalam hidupnya. Bagas si santai penuh akal, Juna yang cemas setengah mati, Gia si logis tanpa takut, Rhea si penyelundup biskuit profesional, dan Eno si dramatis penyelamat semut.
Sebuah hukuman kecil karena ponsel dan kekacauan konyol menjadi awal dari persahabatan yang tak terduga. Dari bangku kuliah hingga perjuangan skripsi, dari tawa karena dompet kosong hingga rahasia hati yang perlahan tumbuh, mereka berenam belajar bahwa takdir sering kali dimulai dari hal paling memalukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang tagar dan siasat ruang siber
Jakarta memang punya cara yang kejam untuk merayakan kemenangan seseorang. Baru saja semalam mereka memegang cek simbolis seratus juta, pagi harinya Enam Serangkai dibangunkan oleh notifikasi ponsel yang bertubi-tubi. Sebuah akun gosip anonim dengan pengikut jutaan mengunggah foto Laras dan Bagas yang sedang duduk lemas di pinggir trotoar, ditambah foto dokumen lama Pak Gunawan yang sudah dipelintir narasinya.
“Skandal di Balik Juara NYIC 2026: Mesin Hasil Jiplakan dan Anak Koruptor yang Mencoba Cuci Nama?” tulis caption tersebut. Dalam hitungan jam, kolom komentar penuh dengan hujatan dari warganet yang tidak tahu duduk perkaranya.
"Gila! Ini bener-bener jahat!" teriak Rhea Amara sambil membanting ponselnya ke kasur hotel. "Mereka bilang kita menang karena 'orang dalam' bokapnya Laras. Padahal bokapnya Laras aja ada di penjara!"
Gia Kirana duduk di meja kerja, wajahnya sedingin es. Dia sedang meninjau ribuan komentar yang masuk. "Ini serangan terorganisir. Lihat akun-akun yang pertama kali nyebarin, semuanya akun baru dengan foto profil pemandangan. Mereka pake buzzer buat ngebentuk opini publik."
Juna Pratama sudah di depan laptopnya, jarinya menari cepat di atas keyboard. "Gue lagi coba tracing server pusat penyebaran hoaks ini. Tapi yang lebih parah, pihak panitia NYIC mulai dapet tekanan dari netizen buat 'meninjau ulang' kemenangan kita. Kalau kita diem aja, trofi ini bakal ditarik balik dalam 24 jam."
Bagas Putra berdiri di dekat jendela, menatap macetnya Jakarta dengan tangan mengepal. "Mereka mau kita malu dan nyerah. Mereka mau kita ngerasa kalau sehebat apa pun usaha kita, bayang-bayang Pak Gunawan bakal selalu nempel."
Dewi Laras duduk di pojok ruangan, wajahnya pucat. Dia merasa semua beban ini kembali menjadi kesalahannya. Namun, kali ini dia tidak menangis. Dia berdiri dan berjalan ke arah Juna.
"Jun, lo bisa akses rekaman CCTV di lobi hotel kemarin pas Pak Haris nyoba nyuap kita?" tanya Laras tegas.
"Bisa, kalau gue bisa masuk ke jaringan hotel. Tapi itu ilegal, Ras," jawab Juna ragu.
"Gue punya ide yang lebih bersih," sahut Gia. "Rekaman suara yang gue ambil pas Pak Haris ngancam kita. Itu bukti paling kuat kalau korporasi yang terafiliasi sama Pak Gunawan lagi nyoba nekan kita. Kita jangan cuma bertahan, kita serang balik pakai cara mereka: Media Sosial."
"Oke, Operasi Counter-Attack dimulai!" seru Eno Surya, meski tangannya masih diperban. "Gue bakal bikin video TikTok. Gue bakal tunjukin tangan gue yang melepuh ini sebagai bukti kalau mesin ini dibangun pakai keringat dan darah, bukan pakai surat sakti!"
Selama enam jam berikutnya, hotel tempat mereka menginap berubah menjadi ruang redaksi. Eno dan Rhea bertugas memproduksi konten video emosional namun jujur yang menceritakan perjalanan mereka dari garasi Juna. Gia menyusun pernyataan resmi dari sisi hukum, menantang siapa pun yang menuduh mereka menjiplak untuk membawa bukti ke pengadilan.
Sementara itu, Laras membuat sebuah video pendek yang sangat personal. Dia bicara langsung ke kamera, tanpa riasan berlebih, mengakui siapa ayahnya namun dengan tegas memisahkan jati dirinya sebagai seorang mahasiswi yang berjuang.
"Saya tidak bisa memilih lahir dari siapa," kata Laras dalam video itu. "Tapi saya bisa memilih untuk tidak menjadi seperti dia. Mesin ini adalah bukti bahwa kami, anak-anak muda, punya cara sendiri untuk memperbaiki dunia, tanpa perlu mencuri dari siapa pun."
Video itu diunggah tepat saat jam makan siang, saat trafik media sosial paling tinggi. Juna menggunakan keahliannya untuk memastikan video tersebut masuk ke algoritma yang tepat.
Keajaiban terjadi. Dukungan mulai mengalir. Profesor Wijaya ikut mengunggah pernyataan di akun Twitter pribadinya, membela orisinalitas riset tim Resimen Hijau. Mahasiswa dari kampus mereka di daerah juga mulai menaikkan tagar #DukungResimenHijau.
"Woy! Lihat! Video Eno masuk trending nomor dua!" teriak Rhea kegirangan.
Di video itu, Eno dengan lucunya menceritakan betapa pelitnya Juna soal listrik garasi dan betapa galaknya Gia kalau mereka telat bangun pagi. Kesederhanaan dan kejujuran mereka justru membuat netizen balik mendukung.
Namun, di tengah euforia itu, Juna mendadak terdiam. "Guys... ada yang nggak beres."
"Kenapa lagi, Jun?" tanya Bagas waspada.
"Gue baru aja berhasil nembus satu file tersembunyi dari akun yang nyerang kita pertama kali. Ada satu foto yang nggak mereka sebarin. Foto itu... foto Bagas lagi ketemu sama seorang pria di taman belakang rumah sakit, dua hari setelah kecelakaan ibunya."
Bagas tertegun. Laras menatap Bagas dengan bingung. "Gas? Itu pria siapa?"
Di foto itu, Bagas tampak menerima sebuah amplop cokelat dari pria misterius tersebut. Narasi yang sudah disiapkan namun belum sempat disebar adalah: “Bagas Putra, Anak Polisi yang Menjual Informasi Kasus Pak Gunawan demi Uang Kuliah?”
Bagas terduduk lemas. "Itu... itu om gue, Ras. Dia emang mau minjemin uang buat pengobatan Ibu. Tapi kenapa mereka bisa punya fotonya dari sudut kayak gitu?"
Gia mendekat, wajahnya serius. "Artinya, mereka udah ngintai kita jauh sebelum kita berangkat ke Jakarta. Dan target mereka selanjutnya bukan cuma Laras, tapi Bagas dan kredibilitas bokapnya sebagai polisi."
Perang ini ternyata lebih dalam dari yang mereka duga. Pak Gunawan bukan cuma mau menghancurkan masa depan Laras, dia sedang mencoba menghancurkan satu persatu anggota Enam Serangkai dengan rahasia pribadi masing-masing.
"Kita nggak bisa pulang ke daerah dulu," kata Bagas dengan suara berat. "Kita harus cari tahu siapa yang ngambil foto ini. Kalau reputasi bokap gue hancur, dia bisa dipecat secara tidak hormat."
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...