“Eh, Jing! Sini lu!”
“Apaan sih, Sin? Dasar Sinting!”
Di kantor, Jingga dan Sinta adalah musuh bebuyutan yang hobi cakar-cakaran. Namun di balik meja kerja, mereka menyimpan satu rahasia besar: Sebuah Buku Nikah.
Terjebak perjodohan kolot, mereka terpaksa menikah secara rahasia dengan tiga aturan maut:
Tetap jadi musuh di kantor.
Jangan campuri urusan kekasih masing-masing.
Dilarang jatuh cinta!
Sanggupkah mereka menjaga rahasia saat cemburu mulai terasa lebih nyata daripada sekadar kontrak di atas kertas?
"Pernikahan ini cuma bisnis, tapi kok gue pengen pecat pacar lu sekarang juga, ya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SARAPAN MENCEKAM DI DAPUR BERSAMA
“SINTING! SINTA SINTING! LU LIHAT APA YANG LU PERBUAT?!”
Suara bariton yang melengking itu memecah keheningan apartemen lantai 12 di pagi buta. Jingga berdiri di depan meja makan kayu minimalis dengan wajah yang lebih merah dari matahari terbit. Telunjuknya mengarah gemetar pada permukaan meja yang—menurutnya—adalah tempat kejadian perkara sebuah tindak kriminal tingkat tinggi.
Sinta, yang masih mengenakan daster satin warna navy dan handuk melilit di kepala, muncul dari balik pintu kamar mandi dengan wajah bantal yang sangat tidak bersahabat.
“Apaan sih, Jing?! Pagi-pagi udah teriak kayak anjing kejepit pintu! Berisik!” balas Sinta, tak kalah nyaring.
“Lu lihat ini!” Jingga menunjuk remah-remah roti gandum yang berceceran di atas meja. Tak hanya itu, ada tetesan selai kacang yang mulai mengering tepat di atas taplak meja mahal pemberian ibunda Jingga. “Gue udah bilang berapa kali? Makan itu pakai piring! Jangan langsung di atas meja kayak ayam lagi dipatokin!”
Sinta memutar bola matanya malas. Dia melangkah maju, merebut pisau selai yang masih tergeletak di sana, lalu sengaja menjatuhkan sisa remah roti di tangannya ke lantai. “Cuma remah roti, Jingga. Remah. Roti. Tinggal dilap pakai tisu juga hilang. Lu nggak usah lebay, deh. Kayak nggak pernah makan aja.”
“Ini bukan masalah makannya, ini masalah prinsip! Gue yang bayar iuran kebersihan apartemen ini lebih banyak, jadi gue punya hak buat rumah ini tetap steril dari remah-remah setan ini!”
“Iuran lebih banyak karena lu pakai listrik buat main game sampai jam tiga pagi!” Sinta berkacak pinggang, napasnya memburu. “Lagian, siapa yang suruh kita nikah, hah? Kalau bukan karena kakek lu yang maksa, gue juga ogah serumah sama cowok OCD kayak lu!”
Jingga mendengus, tawa sinis keluar dari mulutnya yang rapi. “Oh, jadi sekarang bawa-bawa kakek? Hebat. Lu pikir gue mau? Nikah sama cewek yang kalau tidur ngoroknya ngalahin suara traktor?”
“GUE NGGAK NGOROK, JING!”
“Tuh kan, lu manggil gue apa tadi?!”
“JINGGA! Maksud gue Jingga! Tapi kalau lu mau ngerasa terpanggil sebagai ‘Anjing’, ya silakan!” Sinta menyeringai puas melihat urat leher Jingga menonjol.
Pertengkaran pagi itu adalah rutinitas wajib. Sejak tiga bulan lalu, ketika surat nikah merah dan hijau itu terpaksa mereka tanda tangani di bawah ancaman pencabutan warisan, hidup mereka berubah menjadi medan perang. Di kantor, mereka adalah rekan divisi pemasaran yang saling bersaing. Di rumah, mereka adalah dua orang asing yang dipaksa berbagi oksigen.
Jingga melirik jam di dinding. Pukul 07.15 WIB. Matanya mendelik. “Kamar mandi! Gue harus mandi sekarang! Ada rapat penting sama klien jam delapan!”
Sinta yang menyadari hal yang sama, langsung melesat bagai anak panah. “Nggak bisa! Gue duluan! Rambut gue masih penuh sampo tadi!”
“Woi! Gue udah telanjang dada, Sin! Minggir!”
“Bodo amat! Siapa suruh lambat!”
BRAKK!
Pintu kamar mandi tertutup tepat di depan hidung Jingga. Dia bisa mendengar suara kunci diputar dari dalam.
“SINTA! Buka nggak?! Gue ada presentasi pagi ini! Kalau gue telat, bos Adrian bakal maki-maki gue!” teriak Jingga sambil menggedor pintu sekuat tenaga.
Dari dalam, Sinta tertawa jahat di bawah kucuran shower. “Biarin! Biar pacar gue makin benci sama lu! Lagian, enak aja lu mau mandi duluan. Gue ini istri lu secara hukum, hormati dikit kek!”
“Istri hukum, tapi hati lu buat Adrian, kan? Dasar istri durhaka! Cepetan, Sin! Gue hitung sampai tiga! Satu... dua...”
“Tiga! Tetep nggak bakal gue buka!”
Jingga mengerang frustrasi. Dia bersandar di pintu kamar mandi sambil memegangi handuknya yang hampir merosot. Di apartemen ini hanya ada satu kamar mandi di kamar utama yang bisa digunakan karena kamar mandi tamu sedang dalam perbaikan pipa. Benar-benar sebuah konspirasi alam semesta untuk menyatukan mereka dalam penderitaan.
Dua puluh menit berlalu dengan penuh sumpah serapah. Ketika pintu akhirnya terbuka, uap panas keluar bersamaan dengan sosok Sinta yang sudah terlihat segar dengan bathrobe-nya.
“Minggir, rakyat jelata,” ucap Sinta sombong sambil menepuk pipi Jingga dengan ujung jarinya yang basah.
Jingga tidak membalas. Dia langsung masuk, tapi sedetik kemudian teriakan lebih dahsyat terdengar.
“SINTA!!! KENAPA LU HABISIN SABUN MUKA GUE?!”
“Opsi darurat, Jing! Sabun muka gue habis!” teriak Sinta dari kejauhan, diiringi suara tawa yang sangat menyebalkan.
Pagi yang seharusnya tenang menjadi ajang balapan dengan waktu. Jingga mandi secepat kilat (bahkan mungkin ada bagian yang terlewat sabun), sementara Sinta sibuk menyetrika kemeja kerjanya dengan terburu-buru.
Saat mereka berdua berdiri di depan cermin besar di lorong, suasananya sangat canggung. Sinta sedang memasang anting, sementara Jingga sedang menyimpul dasi dengan gerakan kasar.
“Inget,” desis Jingga sambil menatap bayangan Sinta di cermin. “Turun di halte depan. Jangan sampai kita turun di lobi kantor barengan.”
“Lu pikir gue mau ketahuan nikah sama lu?” Sinta memoleskan lipstik merah menyala. “Adrian bisa mutusin gue kalau dia tahu gue satu atap sama saingan terberatnya.”
“Bagus kalau gitu. Gue juga nggak mau Luna tahu kalau cowok ganteng kayak gue udah punya 'beban' kayak lu di rumah.”
“Beban?!” Sinta berbalik, menatap Jingga tajam. “Lu yang beban! Lu nggak pernah buang sampah kalau nggak disuruh!”
“Sudah, diam! Ayo jalan!” Jingga menyambar kunci mobilnya. “Gue anter sampai halte. Cepat!”
Mereka keluar apartemen dengan jarak satu meter, seolah-olah tidak saling kenal. Di dalam lift, ada tetangga lantai sebelah, seorang ibu paruh baya bernama Bu RT yang selalu curiga.
“Lho, Mas Jingga sama Mbak Sinta berangkat bareng lagi?” tanya Bu RT dengan mata menyelidik.
Sinta langsung memasang senyum palsu paling manis sedunia. “Eh, Ibu. Iya nih, kebetulan tadi ketemu di depan lift. Searah kantornya, Bu, jadi lumayan hemat ongkos ojek online.”
Jingga hanya mengangguk kaku, hampir menyerupai gerakan robot. “Iya Bu, bantu sesama warga.”
Begitu pintu lift terbuka di lobi, senyum Sinta langsung hilang, digantikan oleh wajah datar. Mereka berjalan menuju parkiran basement dengan langkah lebar-lebar.
“Akting lu bagus juga, Sin. Cocok jadi pemain sinetron 'Istri yang Terzalimi Remah Roti',” sindir Jingga saat mereka masuk ke dalam mobil.
“Diem lu, Anjing!”
“Nama gue Jingga, Sinting!”
Mobil sedan hitam itu melesat membelah jalanan Jakarta yang mulai macet. Di dalam mobil, perang dingin berlanjut. Sinta sibuk membalas pesan WhatsApp dari Adrian dengan senyum-senyum sendiri, membuat telinga Jingga panas.
“Kenapa lu senyum-senyum gitu? Jijik gue lihatnya,” komentar Jingga ketus.
“Adrian bilang mau bawain gue sarapan nanti di kantor. Romantis banget, kan? Nggak kayak lu, pagi-pagi udah kasih sarapan remah roti sama omelan,” balas Sinta tanpa menoleh.
Jingga mencengkeram setir lebih kuat. “Cih, paling juga bubur ayam depan kantor. Luna malah mau ajak gue makan malam di restoran fine dining nanti malam. Kita bakal ngerayain proyek gue yang lebih sukses dari lu.”
“Jangan mimpi lu! Proyek itu bakal jatuh ke tangan gue!”
Begitu sampai di halte yang berjarak 500 meter dari kantor, Jingga menginjak rem dengan mendadak. CIIIITT!
“Turun,” perintah Jingga singkat.
“Nggak usah pakai ngerem kayak mau bunuh diri juga kali!” Sinta membuka pintu mobil, tapi sebelum turun, dia berbalik. “Eh, Jing. Inget, jemuran tadi pagi... lu yang angkat nanti malam kalau hujan. Jangan sampai daster gue basah lagi!”
“Angkat sendiri! Gue bukan babu lu!”
Sinta menutup pintu mobil dengan dentuman keras yang hampir membuat kaca mobil pecah. Jingga mengumpat pelan, lalu tancap gas menuju parkiran kantor.
Dia tidak tahu, bahwa hari ini bukan hanya soal remah roti atau rebutan kamar mandi. Di kantor nanti, sebuah kejutan besar sudah menanti mereka yang akan membuat pernikahan rahasia ini berada di ujung tanduk.
Jingga merapikan kerah kemejanya, menarik napas panjang, dan bergumam pada bayangan di spion tengah.
“Oke, Jingga. Saatnya pura-pura jadi jomblo berkualitas lagi.”