Menumpang di rumah kakaknya sendiri seharusnya terasa aman.
Namun justru di sanalah semuanya berubah.
Di balik rumah tangga yang terlihat tenang, ternyata tersimpan jarak, kesunyian, dan luka yang tak pernah terlihat orang lain. Ia hanya berniat tinggal sementara… tapi semakin lama, ia mulai melihat sisi lain dari pria yang seharusnya tak boleh ia perhatikan.
Tatapan yang terlalu lama.
Perhatian yang terasa berbeda.
Dan debar yang muncul di waktu yang salah.
Ia tahu batasnya.
Ia tahu itu salah.
Tapi bagaimana jika hati justru tertarik pada seseorang yang tak pernah dimiliki siapa pun bahkan oleh istrinya sendiri?
Dan ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap…
hubungan terlarang itu perlahan menjadi sesuatu yang tak bisa lagi dihentikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syizha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana
"Kemarin Ronal melihatmu. Kamu lagi di restoran sama laki-laki."
"Terus apa salahnya?"
"Dia siapa?"
"Teman."
"Benarkah?"
"Jadi kau tak percaya?"
"Aku bukannya tak percaya. Aku hanya_"
Tap ... Tap ... Tap ....
Suara langkah kaki menghentikan ucapanku. Alana muncul di ruangan ini. Seperti kemarin penampilannya begitu mencengangkan. Kali ini ia mengenakan pakaian tidur yang begitu tipis dan lumayan menerawang. Dengan model pundak yang terbuka. Hingga belahan dadanya jadi sedikit terlihat.
"Mbak Lilian sama Mas Juna lagi liat acara apa? Aku ikutan dong." Dengan ekspresi ceria, Alana bergabung bersama kami.
Dia ikut duduk di sofa yang tengah kami duduki.
"Apa-apaan pakaianmu ini?" omel Liliana terhadap sang Adikkk.
"Memangnya pakaianku kenapa?" Alana kebingungan.
"Pakaianmu nggak sopan."
"Lah, kenapa musti sopan. Aku kan emang lagi di rumah. Masak aku harus pakek kemeja."
"Pakaianmu terlalu terbuka." Liliana memperjelas maksudnya.
"Aku nyaman kayak gini.
Lagian nggak ada orang lain kan di sini."
"Di sini ada Masmu."
Mendengar kata-kata tersebut, Alana langsung sekilas melihatku.
"Emang kenapa kalau ada Mas Juna. Mas Juna nyaman-nyaman aja, kok. Kan, aku adiknya. Ya kan, Mas?" Alana meminta pendapatku. Dan terpaksa aku pun mengangguk.
Karena tak mungkin aku berterus-terang bahwa sesungguhnya aku begitu tidak terbiasa melihat penampilan Alana yang seperti ini.
"Terserah lah. Capek aku menasehati adik kayak kamu!" rutuk Liliana. Ia terlihat muak menghadapi Alana.
"Hihihi ... makanya aku nggak perlu dinasehati." Alana malah tertawa.
"Gimana kamu udah dapat pekerjaan?" Liliana membuat obrolan lain.
"Udah," jawab Alana.
"Kerja apa?"
"Ada lah. Mbak Liliana kepo banget." Alana tak mau menjawab.
"Kamu dapat kerjaan dari siapa?" Liliana melemparkan pertanyaan lain.
"Dari temen."
"Temenmu ada yang tinggal di kota ini."
"Iya. Dia kuliah di Universitas Garuda."
Drrrrrt....
Handphoneku bergetar, obrolan antara Liliana dan Alana jadi berjeda.
Aku pun merogoh benda pipihku tersebut dari kantong celana pendekku. Ada panggilan dari Ronal.
'Bangsat! Dia lagi,' batinku.
Aku beranjak berdiri. Aku meninggalkan ruang keluarga. Meninggalkan Liliana dan Alana. Aku menuju ke teras rumah. Duduk di kursi kecil yang ada di tempat ini.
"Halo!!!" Aku menerima telepon Ronal.
"Kamu lagi apa?" Terdengar suara Ronal di seberang telepon.
"Ngocokkk!"
"Bansattt! Aku serius." Dia mengumpat karena jawaban asalku.
"Nggak lagi ngapa-ngapain. Kenapa?"
"Kamu masih inget temen SMP kita nggak?"
"Siapa?"
"Karimin dan Ngatamin."
"Si kembar itu?"
"Iya."
"Inget lah, kenapa emang?"
tanyaku sambil merogoh rokok dari saku celana. Mengambilnya satu, lalu kuselipkan di bibirku. Aku pun menyalakannya.
Kuhisap dalam-dalam kemudian asapnya kuhempaskan ke udara.
"Mereka pingin kumpul-kumpul sama kita."
"Lah, bukannya mereka udah meningal tahun lalu karena ketabrak odong-odong." Aku terheran. Karena setahuku mereka sudah almarhum.
"Belum. Mereka masih idup."
"Oh. Aku malah baru tahu."
"Gimana, kamu mau nggak kumpul-kumpul sama mereka?" tanya Ronal.
"Kapan?"
"Besok siang."
Aku diam sejenak. Aku mengingat-ingat apakah besok aku memiliki waktu luang. Dan ternyata, ya. Besok jadwal siang ada Dokter lain yang melayani pasienku.
"Oke. Kita mau kumpul-kumpul di mana?"
"Di kamar hotel."
"Hah!" Aku terheran.
"Kamu nggak lagi ngajakin aku pesta gay kan?"
"Pesta gay matamu!!!" Ronal mengumpat aku pun tertawa.
"Soalnya kamu aneh, acara kumpul-kumpul kok di kamar hotel."
"Maksudnya mereka tuh lagi nginep di salah satu kamar hotel. Dan kita disuruh ke sana."
"Oh." Aku mengangguk-anggukkan kepala.
"Di hotel mana?" tanyaku.
"Di hotel Janda Kesepian. Kalau kamar dan waktunya, besok aku kabarin lagi."
"Oke." Aku mengiyakan ucapan Ronal.
Setelah obrolan tersebut, kami pun berbincang-bincang tentang hal yang lain. Tumben dia tak lagi menyinggung-nyinggung soal perempuan. Dia tak ngebet lagi ingin mencarikanku wanita.
***