NovelToon NovelToon
WANITA PANGGILAN CEO DINGIN

WANITA PANGGILAN CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Rara

Namaku Aluna Putri Sagara, panggil saja Aluna. Aku memiliki keluarga yang sangat bahagia. Ayahku seorang PNS dan ibuku memiliki usaha jahit yang cukup terkenal di Semarang. Aku sendiri adalah seorang honorer di sekolah dasar. Aku mempunyai kakak laki-laki bernama Sultan, dia bekerja sebagai PNS seperti ayah di instansi yang sama. Aku juga memiliki Adik perempuan yang bernama Alika yang saat ini masih sekolah. Namun, hidupku berubah drastis ketika ayah meninggal dunia.Langit seolah runtuh dan kebahagiaan yang kami dapat selama ini ikut hilang bersama dengan Ayah. Ibu sakit-sakitan, Kak Sultan dan istrinya Mbak Nisa mulai berubah dan menjauh, Alika yang butuh biaya untuk kuliah nanti.
Begitu banyak beban yang aku tanggung setelah Ayah tiada. Awalnya aku kerja sebagai guru honorer kini banting setir menjadi Wanita Panggilan seorang CEO pemilik klub tempatku bekerja.Marko Bumi Ferdinand. Nama itu adalah pemilik diriku sekarang. Dia butuh anak untuk mewarisi perusahaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ciuman

Siang itu, ruang kerja Amar dipenuhi cahaya matahari yang menembus kaca besar di sisi kiri ruangan. Lampu gantung kristal yang tergantung tepat di atas meja panjang berwarna cokelat tua memberikan pantulan lembut, menambah kesan mewah namun dingin. Di depan jendela, Amar berdiri sambil menatap layar ponselnya, wajahnya fokus dan tegang.

“Sudah aku kirimkan instruksinya.” gumam Amar pelan lebih kepada dirinya sendiri.

Renata menghampirinya dengan langkah rapi, harum parfumnya memenuhi ruangan. Ia berhenti di samping suaminya sambil bertanya dengan nada manja namun penuh siasat. “Bagaimana, sayang?”

Amar tidak mengalihkan pandangan dari ponselnya. “Mereka sedang bergerak. Kita tunggu infonya sampai besok malam.”

Renata langsung menegakkan tubuhnya, ekspresinya berubah tajam. “Apa? Besok malam, Mas? Kenapa lama sekali? Suruh mereka kerja cepat. Selesaikan hari ini juga.” Suaranya meninggi, mencampurkan kekhawatiran dan rasa tidak terima.

Amar menurunkan ponselnya. “Sabarlah, Ren.” Ia mengerutkan keningnya, jelas tidak suka didesak. “Mereka itu orang kepercayaanku. Mereka pasti bekerja dengan cepat. Dan mereka akan segera menghubungi kita.”

Renata mendengus keras, melipat tangan di dada. “Huft… aku cuma takut perempuan itu hanya memanfaatkan nama besar keluarga kita. Terutama… memperalat Marko. Aku tidak rela, Mas.”

Amar menatap istrinya lebih dalam. Tangannya terulur mengusap bahu Renata. “Kamu tenang saja, sayang. Marko bukan orang bodoh yang mudah diperalat. Tidak usah berlebihan.”

Renata menggeleng cepat. “Tapi Mas… kita harus mewanti-wanti segala kemungkinan. Aku tidak mau ketenangan keluarga ini dirusak hanya karena perempuan asing itu.”

Amar menarik napas panjang, lalu memeluk Renata untuk menenangkannya. “Iya, sayang. Tidak akan ada yang berani mengusik keluarga kita.”

Renata memejamkan mata, namun rahangnya mengeras. “Mas… rasanya aku tetap tidak percaya kalau Marko sudah menikah. Dia kenapa bisa menikah tanpa memberitahu kita? Apa benar dia menikah? Atau hanya pura-pura?”

“Semua itu akan segera kita tahu, sayang.” Amar mengusap punggungnya lembut. “Kalau dia pura-pura… tentu dia akan mendapat ganjaran atas kebohongan itu. Termasuk perempuan itu.”

Renata membuka mata, menatap suaminya sambil tersenyum sinis. Senyum yang tipis namun menusuk. “Kadang aku pikir, Mas… Marko itu terlalu keras kepala. Egois. Dia selalu merasa paling benar bahkan terhadap papanya sendiri.” Ia menatap Amar lebih lama, memancing emosi. “Dan perempuan itu… dia bisa saja memanfaatkan kondisi ini. Menikahi Marko untuk mendapat status. Uang. Nama besar kita. Dan Mas tahu? Walaupun Marko dingin tapi dia selalu mudah tersentuh kalau melihat seseorang tertekan. Perempuan itu mungkin saja bersandiwara. Apa Mas benar-benar yakin dia bukan ancaman?”

Alis Amar terangkat, rahangnya menegang.

Renata masih melanjutkan, melihat perubahan kecil itu. “Bagaimana kalau Marko dimanfaatkan, Mas? Bagaimana kalau perempuan itu sengaja merayu dia, membuat drama, demi masuk ke keluarga ini? Dan kalau dia sudah masuk… siapa yang tahu apa yang akan dia lakukan nanti? Jangan-jangan dia ingin memecah kita… menguasai harta… atau mencemarkan nama baik keluarga.”

Nafas Amar terdengar berat. “Renata…”

“Mas.” Renata menggenggam tangan suaminya erat, tajam, penuh tekanan halus. “Dia bahkan tidak punya latar belakang jelas. Kita tidak tahu keluarganya, tidak tahu masa lalunya. Mas yakin mau biarkan anak kita terikat dengan seseorang yang bahkan tidak kita kenal?”

Amar menarik tangan Renata perlahan, namun matanya sudah dipenuhi api curiga. “Kamu benar… kita harus berhati-hati.”

Renata tersenyum puas, senyum tipis perempuan yang berhasil memainkan benang-benang emosi suaminya.

**

Sementara itu, di rumah sakit suasana koridor tampak tenang. Bau obat-obatan dan antiseptik memenuhi udara. Friska berdiri di depan kaca ruang rawat, menatap sosok Bu Sasmi yang berbaring dengan alat-alat medis yang tersusun rapi. Tubuh wanita itu terlihat lemah, napasnya tersengal pelan namun stabil.

Kondisinya dari pagi hingga siang tetap sama. Stabil, namun belum menunjukkan tanda membaik signifikan.

Friska menghela napas, lalu berjalan menemui Alika yang duduk di kursi tunggu. “Aku pamit, yah. Besok pagi aku balik lagi.”

Alika langsung berdiri, ekspresinya dingin. “Nggak usah balik lagi, Mbak. Kamu bukan siapa-siapa di sini. Kamu tidak punya kewajiban menunggu ibu. Kamu hanya orang asing.”

Friska tersenyum miring, bukan marah tapi kasihan. “Aku nggak peduli. Besok aku tetap datang melihat kondisi ibu.”

Alika mencibir.

“Aku memang orang asing buat kalian, tapi Aluna sudah aku anggap sebagai adik sendiri.” lanjut Friska, suaranya tajam dan emosional. “Jadi tentu saja aku harus menjaga ibu dari adikku sendiri.”

Alika terdiam, tapi matanya membulat tajam.

Friska melangkah mendekat, menatap Alika tanpa gentar. “Meski aku dan kakakmu nggak punya ikatan darah, persaudaraan kami nyata. Kami saling mendukung. Tidak seperti kamu, saudara kandung yang bahkan tidak tahu bagaimana penderitaan Aluna selama ini.”

“Jangan sok tahu."  bentak Alika.

Namun Friska terus berbicara. “Apa kak Sultan pernah membiayai kuliahmu? Pernah kirim uang? Pernah peduli? Tidak, kan? Dan kamu… kamu menghina Aluna hanya karena satu kesalahan. Ck… andai kamu tahu bagaimana dia menangis setiap malam, setelah kerja… kamu pasti malu membencinya.”

Alika terdiam. Sementara Friska mengambil tasnya dan berkata berat.  “Aluna tidak serendah yang kalian pikir. Dia kerja di klub, iya. Tapi dia tidak pernah menjual tubuhnya.”

Alika tersenyum sinis. “Kalian sesama pekerja malam pasti saling membela.”

“Terserah kamu.” jawab Friska. “Yang jelas aku sudah bilang yang sebenarnya.”

Friska pergi, meninggalkan Alika terpaku. Tatapannya mengikuti punggung Friska hingga hilang di ujung lorong.

Dan untuk pertama kalinya, mata Alika berembun. “Kak… Aluna…” bisiknya kecil.

Beberapa detik kemudian, seorang dokter masuk memeriksa kondisi Bu Sasmi.

“Bagaimana dengan ibu saya, Dok?” tanya Alika cemas.

Dokter tersenyum lega. “Alhamdulillah, kondisi ibu Anda berangsur membaik. Alat bantu pernapasan dan obat-obatan yang kami berikan bekerja sangat efektif. Oksigenasi tubuhnya sudah stabil, tekanan darah mulai normal dan ada respons lebih baik dibanding pagi tadi. Kalau terus seperti ini, ibu Anda bisa melewati masa kritis jauh lebih cepat.”

Alika menghela napas lama. “Terima kasih, Dok.”

Setelah dokter pergi, Alika duduk di sisi ibunya. Kata-kata Friska mulai masuk pelan, tapi menghantam keras. Andai tidak ada fasilitas mahal ini… mungkin ibu tidak akan selamat.

Dan yang membiayai semua ini… adalah Aluna. Kakaknya yang ia hina habis-habisan.

Hatinya berperang. Sakit. Ragu. Bersalah.

**

Di tempat lain, Aluna dan Marko baru saja meresmikan pernikahan secara agama di KUA. Singkat, tenang tanpa sorot lampu kamera atau keluarga. Hanya batalion kecil saksi dari pihak Marko dan senyap yang menggantung panjang setelah ijab kabul.

Setelah itu, mereka menuju sebuah studio foto besar dengan interior putih elegan dan lampu sorot profesional yang menggantung seperti bintang modern. Para kru sibuk mempersiapkan pencahayaan dan background yang telah sesuai konsep.

Aluna keluar dari ruang ganti.

Dan seluruh ruangan seakan berhenti.

Gaun pengantin itu terbuat dari satin putih lembut dengan siluet mermaid yang membalut tubuhnya dengan pas dan anggun. Bagian bahunya dibiarkan terbuka, dihiasi renda tipis berkilau yang lembut memantulkan cahaya. Pinggangnya dipertegas dengan potongan halus, sementara bagian bawah gaun menjuntai elegan seperti ombak kecil.

Make up Aluna tidak berlebihan. Riasan natural dengan highlight tipis yang membuat wajahnya bercahaya. Rambutnya disanggul rapi, dihiasi jepit mutiara kecil yang mempermanis keseluruhan tampilan.

Marko tertegun. Sekilas wajahnya kehilangan ketegasan. Namun ia cepat menguasai diri mengalihkan pandangan.

Sesi pemotretan dimulai. Pose demi pose… semakin intim. Semakin dekat. Napas Aluna pun semakin kacau.

Marko membungkuk di telinganya. “Profesional Aluna." suaranya dingin.

Aluna menelan ludah keras. “I..iya.”

Mereka berpose saling berpelukan, Marko memegang pinggangnya, wajah mereka hampir menempel. Aluna kaku, terasa tidak nyaman. Sementara Marko tampak tenang, seolah ini hanya pekerjaan.

Hingga fotografer berkata, “Pose terakhir… ciuman.”

Aluna langsung melotot. “Apa???"

Marko menatap tajam, dalam, seperti peringatan. Dan sebelum Aluna sempat mundur, bibir Marko mendarat dengan tekanan tegas.

Ciuman itu panjang. Dalam. Tidak profesional sama sekali.

Terlalu nyata.

Aluna memukul bahunya berkali-kali, wajahnya merah, napasnya tersengal saat Marko akhirnya melepaskan.

Para staff tersenyum melihat “kemesraan” yang mereka kira cinta.

Namun bagi Aluna itu adalah awal dari kekacauan yang lebih besar.

1
Ariany Sudjana
Aluna itu adik kamu sultan, dan Aluna itu keluarga inti, yang bukan keluarga itu si pelacur murahan Anisa, kamu bodoh percaya semua omongan si pelacur murahan itu
Ariany Sudjana
sabar yah Aluna, sultan ini bodoh,punya istri tapi pelacur murahan, dan masih percaya dengan semua omongan pelacur murahan itu
Boa
nama karakternya kok beda ya sama yg di sinopsis, apa aku yg salah baca? 🙏
Boa: semangat Thor, mana udah 14 episode 💪
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!