Arga hanyalah pemuda biasa di sudut kota yang keras—hidup dari kerja kasar, dipandang rendah, dan selalu kalah oleh keadaan. Ia percaya hidupnya akan berakhir sebagai pecundang, sampai suatu malam hujan berdarah mengantarkannya pada sebuah benda terkutuk sekaligus suci: Mustika Macan Kencana.
Sejak saat itu, dunia Arga berubah.
Mustika itu bukan sekadar sumber kekuatan, tetapi suara di dalam batinnya—memberi pemahaman, strategi, dan jalan keluar dari situasi mustahil. Seolah takdir sendiri membisikkan langkah-langkah menuju kemenangan. Namun setiap kekuatan selalu menuntut harga.
Di kota yang dipenuhi kejahatan, pengkhianatan, dan rahasia gelap, Arga mulai bangkit dari nol—melawan preman, sindikat bayangan, hingga musuh yang memiliki kekuatan serupa. Di tengah pertarungan hidup dan mati, hadir cinta yang rumit: Sari yang tulus namun rapuh, dan Clarissa yang penuh misteri serta luka masa lalu.
Semakin Arga kuat, semakin besar pengorbanan yang harus ia bayar.
Rasa sakit, keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. Darah di Gang Terlarang
Hujan Jakarta malam itu bukan sekadar air; ia adalah ribuan jarum dingin yang menghujam aspal, mengubah gang sempit di kawasan pelabuhan menjadi labirin yang mencekik. Aroma limbah minyak dan sisa makanan busuk menyengat, menyatu dengan bau anyir darah yang merembes dari sudut bibir Arga.
Arga tersungkur. Aliran air di kakinya berubah merah, menghanyutkan harga dirinya bersama sisa-sisa tenaga yang ia miliki.
"Cuma ini nyalimu, Arga?"
Tendangan mendarat telak di ulu hatinya. Arga terbatuk, memuntahkan cairan kental. Tubuhnya—yang selama belasan tahun dipaksa membungkuk menahan beban karung di pasar—kini bergetar hebat, mencoba bertahan dari guncangan di dalam perutnya. Di depannya, Rano berdiri angkuh. Jaket kulitnya mengilap tertimpa cahaya lampu jalan yang remang. Tato naga di leher pria itu tampak menggeliat, seolah menertawakan ketidakberdayaan Arga.
"Jangan sentuh Sari," desis Arga. Suaranya parau, nyaris kalah oleh gemuruh petir yang membelah langit. Ia merangkak, mencoba bangkit, tapi jemarinya hanya mencengkeram lumpur dingin.
Rano tertawa, suara yang lebih menyakitkan daripada pukulan fisik apa pun. Ia mencengkeram rambut Arga, memaksa pemuda itu mendongak. Mata Arga yang sayu masih menyisakan sisa amarah yang membara—amarah yang sia-sia.
"Sari itu cantik, Arga. Bos kami bisa menghapus semua utang bapaknya hanya dengan satu malam. Itu penawaran yang adil, bukan? Tapi lihat dirimu. Kamu hanya kuli sampah yang berlagak jadi pahlawan. Malam ini, di gang buntu ini, riwayatmu tamat. Dan dunia? Dunia tidak akan berkedip saat kuli panggul seperti dirimu hilang ditelan limbah pelabuhan."
Satu pukulan mentah menghantam pelipisnya. Kegelapan menyergap, bukan sebagai kehampaan, tapi sebagai tirai hitam yang dingin.
Apakah ini akhirnya? batin Arga pahit. Mati sebagai pecundang yang bahkan tidak mampu melindungi satu-satunya cahaya dalam hidupku? Sari... maafkan aku.
Saat jemarinya yang lemas menyentuh tanah becek, ia merasakan sesuatu yang janggal. Benda itu dingin, padat, dan anehnya, terasa hangat seolah menyerap sisa denyut nadinya. Sebuah fragmen taring.
Tiba-tiba, udara di sekitar gang membeku.
Bukan rasa sakit yang ia rasakan, melainkan sebuah ledakan kesadaran yang menghantam batinnya. Sebuah suara purba—berat, otoritatif, dan penuh dendam—bergema dari dalam relung jiwanya sendiri.
Kau merintih seperti serangga, sementara kekuatan dewa ada dalam genggamanmu? Apakah sedemikian hinanya darah yang mengalir di nadimu, wahai keturunan yang lupa akan asalnya?
Napas Arga terhenti. Jantungnya, yang sempat melambat, tiba-tiba dipacu oleh sengatan listrik yang menyiksa.
Darahmu adalah kunci. Jiwamu adalah wadah. Pinjamkan aku amarahmu, dan aku akan meminjamkanmu taringku.
Rasa panas membakar tulang belakangnya—seperti api yang merayap di saluran darah. Luka di pelipisnya menutup dengan derik halus, jaringan otot yang robek menyatu kembali. Arga tidak lagi merasakan dinginnya hujan. Ia merasakan kekuatan yang meluap, mendesak ingin merobek sangkar dagingnya.
Ia berdiri. Bukan dengan cara manusia yang bersusah payah merangkak, melainkan dengan keanggunan seorang predator yang baru saja terbangun dari tidur panjang. Ia menunduk, menyembunyikan wajah di balik helai rambutnya yang basah. Air hujan yang menyentuh pundaknya tidak lagi membasahinya; ia menguap menjadi kabut tipis karena suhu tubuhnya yang membara.
Rano, yang hendak berbalik, tertegun. Insting binatangnya menjeritkan bahaya. "Habisi dia!" teriaknya gugup pada dua anak buahnya.
Dua preman menerjang. Namun, bagi Arga, waktu telah melambat. Ia tidak melihat pria yang menyerang; ia melihat aliran napas mereka, melihat ketegangan di serat otot bahu, dan celah fatal di pertahanan mereka yang bersinar seperti emas redup.
Arga bergerak. Satu gerakan presisi. Terdengar dentuman tulang yang patah, lalu belati berdenting di aspal. Detik berikutnya, preman kedua terkapar tanpa suara.
Saat Arga mendongak, matanya bukan lagi milik seorang kuli panggul. Pupil itu memanjang vertikal, membara dengan warna emas yang tidak manusiawi.
"Sekarang," suara Arga kini berlapis, berat dan menggetarkan tanah. "Giliranmu untuk merasakan apa yang kurasakan."
Rano mundur, kakinya terpaku oleh aura dominasi yang menindas. "Kau... kau bukan Arga! Setan apa kau!"
Arga tidak menjawab. Ia menatap leher Rano—melihat detak nadinya, kelemahannya. Mustika Macan Kencana di dadanya mendesak untuk merobek, namun ada satu sisi kemanusiaan yang ia jaga dengan sisa-sisa kesadarannya.
"Pergi," geram Arga, suaranya rendah seperti kucing besar yang menahan lapar. "Jangan pernah dekati Sari lagi. Jika kulihat wajahmu besok... aku tidak akan mematahkan tanganmu. Aku akan merobek duniamu."
Rano lari terbirit-birit, kakinya tersandung ketakutan sendiri.
Arga berdiri sendirian di tengah gang. Cahaya emas di matanya perlahan memudar, digantikan oleh kelelahan yang luar biasa. Ia limbung. Ia harus pulang, ia harus memastikan Sari aman.
Namun, saat ia berusaha mengingat nama jalan tempat ia tinggal, otaknya kosong. Ia mencoba mengingat wajah ibunya, namun yang muncul hanyalah kabut hitam.
Mustika itu tidak hanya meminjamkan taring. Arga memegangi kepalanya yang terasa retak. Ia menyadari harga dari kekuatan ini. Mustika itu sedang mengunyah masa lalunya sebagai bahan bakar.
Ia terus berjalan menembus hujan. Arga Satria yang lama telah mati di gang itu. Namun, di dalam dadanya, detak jantung baru yang haus akan darah mulai menuntut takdirnya sendiri.