NovelToon NovelToon
Aku, Kamu,Dan Duniamu Yang Lain

Aku, Kamu,Dan Duniamu Yang Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:375
Nilai: 5
Nama Author: firsty aulia

Sora Kalani menghabiskan hidupnya di antara detak mesin jam, menunggu satu detik di mana Ezrael Vance akan menoleh ke arahnya. Namun bagi Ezra, Sora hanyalah pelabuhan tenang tempatnya bersandar sebelum ia kembali berlayar mengejar Liora—balerina yang menjadi pusat dunianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon firsty aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: Masa Depan yang Berdetak

​Enam bulan telah berlalu sejak malam mencekam di dermaga tua itu. Kota masih tetap sibuk dengan ritmenya yang tergesa-gesa, namun bagi Sora Kalani, waktu seolah telah menemukan frekuensi baru yang jauh lebih tenang dan bermartabat. Ia tidak lagi terbangun dengan rasa sesak di dada atau kecemasan akan telepon dari seseorang yang hanya membutuhkannya saat dunianya retak.

​Pagi itu, bengkel jam Sora tampak bersinar. Ia tidak lagi menyebutnya sekadar "Bengkel Perbaikan", melainkan "Atelier Kalani: Horologi & Restorasi". Dindingnya kini dicat dengan warna abu-abu merpati yang elegan, dihiasi dengan sketsa-sketsa teknis mesin jam abad pertengahan yang ia bingkai dengan rapi. Tidak ada lagi tumpukan jam dinding rongsokan yang berdebu; yang ada hanyalah lemari kaca kristal yang menampilkan mahakarya-mahasiswa buatannya sendiri.

​Sora sedang duduk di meja kerjanya, mengenakan apron kulit cokelat yang sudah mulai menunjukkan guratan pemakaian. Di depannya, sebuah jam meja berbentuk bola langit sedang ia rakit. Ini adalah pesanan khusus dari sebuah museum di Swiss yang mendengar reputasinya setelah ia berhasil menjinakkan bom waktu dalam wujud The Chronos Heart setengah tahun lalu.

​Lonceng pintu berdenting lembut—bukan suara logam yang kasar, melainkan denting perak yang ia desain sendiri agar frekuensinya menenangkan saraf.

​"Kamu terlambat lima menit, Tuan Antik," ucap Sora tanpa mendongak dari lup mikroskopnya. Ia bisa mengenali langkah kaki itu bahkan dalam tidurnya.

​Hael Arlo tertawa kecil. Pria itu masuk membawa dua gelas kopi hangat dan sebuah kantong kertas berisi croissant mentega. Ia meletakkan kopi itu di meja kecil dekat jendela, lalu bersandar di rak buku Sora. Penampilannya masih sama—kemeja flanel yang digulung hingga siku dan tatapan misterius yang kini terasa lebih hangat bagi Sora.

​"Toko sebelah sedang kedatangan kolektor rewel yang ingin menawar pedang samurai masa Edo dengan harga kacang goreng," jawab Hael santai. Ia mendekati Sora dan menatap jam bola langit yang sedang dikerjakan wanita itu. "Luar biasa. Detak jantungnya sangat stabil. Kamu benar-benar sudah melampaui batasmu sendiri, Sora."

​Sora melepas lup dari matanya dan tersenyum. "Aku belajar dari seseorang yang bilang bahwa benda mati pun punya jiwa jika kita cukup peduli untuk mendengarkannya."

​"Dan bagaimana dengan si 'Pangeran Paris'?" Hael bertanya dengan nada yang tidak lagi cemburu, melainkan sekadar rasa ingin tahu.

​Sora menghela napas pendek, namun tidak ada beban di sana. "Vanya datang minggu lalu. Dia bilang Ezra akhirnya menjual seluruh koleksi jam keluarga Vance. Dia tidak sanggup melihat The Chronos Heart lagi. Kabarnya dia pindah ke sebuah desa kecil di Austria, mengajar musik di sekolah dasar. Dia benar-benar kehilangan panggung besarnya."

​"Beberapa orang memang harus kehilangan segalanya untuk menyadari bahwa mereka tidak pernah memiliki apa pun yang nyata," gumam Hael.

​Sora mengangguk setuju. Ia teringat berita singkat di kolom gaya hidup sebulan lalu tentang seorang pelatih balet misterius di pinggiran kota Roma yang selalu memakai topi lebar dan kacamata hitam. Wanita itu disebut-sebut memiliki teknik yang sangat mirip dengan Liora Thalassa, namun ia berjalan dengan bantuan tongkat kayu ukir yang sangat indah. Sora tahu, Liora sedang menari dengan caranya sendiri—di panggung yang ia bangun dengan tangannya sendiri, bebas dari ekspektasi siapa pun.

​"Hael," panggil Sora pelan.

​"Ya?"

​"Terima kasih. Untuk koin di atas bukit itu. Untuk jip tuamu yang berbau pelitur. Dan untuk tidak membiarkanku jatuh saat aku hampir menyerah pada gravitasi."

​Hael melangkah mendekat, jarak di antara mereka kini hanya beberapa senti. Ia meraih tangan Sora—tangan yang begitu tangguh namun lembut. "Aku tidak menyelamatkanmu, Sora. Aku hanya berdiri di sana dengan lampu, menunggumu menemukan jalan keluar dari labirinmu sendiri. Dan sekarang, aku ingin menanyakan sesuatu yang tidak melibatkan jam rusak atau barang antik."

​Sora menatap mata gelap Hael. "Apa itu?"

​"Malam ini, di puncak bukit pemancar itu... matahari terbenam akan sangat indah. Aku ingin kita di sana, bukan untuk membuang koin atau meratapi masa lalu, tapi untuk melihat bagaimana hari ini berakhir dan bagaimana hari esok akan dimulai. Tanpa beban, tanpa rahasia."

​Sora merasakan debaran jantungnya yang paling jujur. Bukan debaran ketakutan, melainkan debaran harapan yang selama ini ia kunci rapat-rapat. "Aku akan membawa jam bola langit ini. Aku ingin dia merasakan cahaya matahari pertama yang murni di luar bengkel ini."

​"Janji?"

​"Janji tepat waktu, Hael."

​Malam itu, di atas bukit yang pernah menjadi saksi bisu kehancuran hati Sora, suasana terasa sangat berbeda. Angin berembus lembut, membawa aroma pinus dan tanah basah. Sora duduk di kap mobil jip Hael, sementara Hael duduk di sampingnya, membiarkan bahu mereka bersentuhan.

​Sora mengeluarkan sebuah jam tangan kecil dari sakunya. Jam itu tidak memiliki jarum detik. Hanya ada jarum jam dan menit yang terbuat dari perak murni. Di bagian belakangnya, terukir sebuah kalimat dalam bahasa Latin: "Amor Fati"—Cintailah Takdirmu.

​"Ini untukmu," Sora menyerahkan jam itu pada Hael. "Aku membuatnya selama sebulan terakhir. Jam ini tidak akan pernah memberitahumu kapan kamu harus pergi atau kapan kamu terlambat. Dia hanya akan memberitahumu bahwa setiap menit yang kamu lalui adalah milikmu sepenuhnya."

​Hael menerima jam itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia menatap ukirannya, lalu menatap Sora. Untuk pertama kalinya, pria yang biasanya penuh kata-kata sinis itu kehilangan suaranya. Ia menarik Sora ke dalam pelukannya, sebuah pelukan yang terasa seperti pelabuhan yang paling aman setelah pelayaran badai yang panjang.

​"Detak jam ini... terasa seperti rumah, Sora," bisik Hael di telinganya.

​Sora memejamkan mata, menghirup aroma flanel dan kebebasan. Di bawah mereka, lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu, tampak seperti bintang-bintang yang jatuh ke bumi. Sora menyadari bahwa duniaya yang lain tidak lagi berada di Paris atau di dalam kenangan pahit bersama Ezra. Dunianya yang baru ada di sini, di detak saat ini, bersama pria yang menghargai setiap inci dari jiwanya yang pernah retak.

​Waktu tidak lagi menuntut pengorbanan darinya. Waktu kini adalah sahabatnya, yang menemaninya berjalan perlahan menuju masa depan yang cerah.

​Jarum jam di pergelangan tangan mereka berdetak serempak, menciptakan simfoni kecil yang hanya bisa didengar oleh mereka yang telah berhasil mengalahkan masa lalunya. Sora Kalani bukan lagi seorang jangkar. Ia adalah sang nakhoda, dan laut di depannya tampak begitu tenang, menanti untuk diarungi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!