NovelToon NovelToon
My Possession Hot Daddy

My Possession Hot Daddy

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Sepuluh tahun Aluna (20) hidup dalam "sangkar emas" milik Bramantyo (35), wali tunggal sekaligus sahabat mendiang ayahnya. Bagi Aluna, Bram adalah pelindung yang ia panggil "Daddy". Namun bagi Bram, Aluna adalah obsesi yang ia rawat hingga matang.
Saat Aluna mulai menuntut kebebasan, kasih sayang Bram berubah menjadi dominasi yang gelap. Tatapan melindunginya berganti menjadi kilat posesif yang membakar. Di antara rasa hormat dan hasrat terlarang, Aluna harus memilih: tetap menjadi putri kecil yang penurut dalam kuasa Bram, atau melarikan diri dari jerat pria yang takkan pernah melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Racun dalam Madu

Di ruang tengah yang luas dan berplafon tinggi itu, suasana formalitas bisnis perlahan mencair menjadi kehangatan keluarga yang, bagi siapa pun yang memiliki rahasia besar, terasa sangat menyesakkan.

Bram duduk di sofa tunggal berbahan kulit premium, wajahnya kembali menjadi topeng es yang sempurna—dingin, berwibawa, dan tak tersentuh.

Di hadapannya, Clara sedang meninjau dokumen audit dengan ketelitian seorang profesional sejati. Di seberang mereka, Tuan Adiguna dan Nyonya Widya memperhatikan interaksi itu dengan binar kebanggaan yang tidak disembunyikan.

"Luar biasa, Clara," decak Nyonya Widya kagum. Matanya tidak lepas dari cara Clara menjelaskan poin-poin kerugian investasi dengan bahasa yang sangat lancar dan cerdas.

"Jarang sekali ada gadis seusiamu yang tidak hanya cantik secara fisik, tapi juga sangat mandiri dan paham seluk-beluk perusahaan sesulit ini. Bram sangat beruntung memilikimu di sampingnya selama kami tidak ada."

Clara tersenyum manis, sebuah senyum yang tampak sangat tulus namun penuh perhitungan di baliknya.

"Saya hanya menjalankan tugas, Nyonya. Bekerja di bawah arahan langsung Pak Bramasta adalah pelajaran yang sangat berharga bagi saya. Beliau adalah guru yang sangat keras, namun adil."

Bram hanya mengangguk singkat, jemarinya mengetuk lengan sofa dengan ritme yang tidak sabar. Pikirannya tidak benar-benar ada pada angka-angka di atas kertas. Pikirannya masih tertinggal di kamar lantai atas, pada tubuh kecil yang ia tinggalkan dalam keadaan gemetar dan kulit yang penuh dengan tanda kepemilikannya.

Tiba-tiba, suara langkah kaki yang pelan namun pasti terdengar dari arah tangga marmer. Semua mata di ruangan itu menoleh serentak.

Aluna muncul dengan tubuh yang dibalut jubah mandi tebal berwarna putih bersih, membuat sosoknya tampak semakin mungil dan rapuh. Wajahnya masih pucat pasi, namun matanya berkilat dengan emosi yang sulit didefinisikan—perpaduan antara rasa sakit hati dan tekad untuk tidak kalah.

Ia sengaja mengabaikan keberadaan Bram dan Clara di sofa. Dengan langkah yang sedikit menyeret—namun ia samarkan dengan gerakan yang terlihat lemas karena sakit—Aluna langsung menghambur ke arah Tuan Adiguna.

"Kakek..." rengek Aluna dengan suara serak yang sengaja dibuat manja, seolah ia baru saja terbangun dari mimpi buruk yang panjang.

Tanpa memedulikan tatapan heran Clara, Aluna langsung duduk bersimpuh di atas karpet beludru, tepat di bawah kaki kakeknya.

Ia menyandarkan kepalanya di lutut Tuan Adiguna dan melingkarkan tangannya erat-erat di kaki pria tua itu, mencari perlindungan sekaligus menegaskan posisinya sebagai "pemilik asli" perhatian di rumah ini.

"Aluna tidak bisa tidur, Kek. Kepala Aluna pusing sekali," adu Aluna sambil mendongak polos.

Tuan Adiguna tertawa renyah, hatinya luluh seketika melihat cucu angkat kesayangannya kembali menunjukkan sisi manjanya yang paling tulus.

Ia mengusap rambut panjang Aluna dengan penuh kasih sayang, mengabaikan fakta bahwa beberapa jam yang lalu gadis di bawah kakinya ini baru saja melewati adegan "dewasa" bersama putranya sendiri.

"Lihatlah bayi besar ini, baru ditinggal sebentar saja sudah merajuk luar biasa," ujar Tuan Adiguna sambil menatap istrinya.

"Padahal Daddy-mu sudah menjagamu tadi, bukan? Kenapa masih merengek mencari Kakek?"

Aluna mendongak, memberikan senyum polos ke arah kakeknya, namun matanya sempat melirik tajam ke arah Bram yang kini sedang menatapnya dengan rahang yang mengeras.

"Daddy sibuk kerja terus, Kek. Jadi Aluna merasa rindu Kakek saja yang tidak pernah memarahi Aluna kalau sedang manja."

Nyonya Widya mendekat, membawa piring porselen berisi buah ceri merah besar yang dibawa oleh Clara tadi. "Nah, karena kau sudah bangun, ini makanlah buah ceri kiriman Clara. Segar sekali, Nenek sudah mencucinya. Ayo, buka mulutmu, Sayang."

Nyonya Widya menyuapi Aluna dengan penuh kasih. Aluna mengunyah buah itu perlahan, namun matanya tetap tertancap pada Clara yang kini sedang menatapnya dengan senyum profesional—senyum yang Aluna artikan sebagai ejekan.

Aluna merasa setiap kunyahannya adalah cara dia menunjukkan pada wanita itu bahwa dialah yang paling dicintai di rumah ini.

Namun, di tengah kunyahan yang tenang itu, Nyonya Widya tiba-tiba menoleh pada Tuan Adiguna, lalu kembali menatap Aluna dengan binar mata yang penuh dengan rencana perjodohan.

"Sayang, coba lihat Clara baik-baik," ujar Nyonya Widya dengan suara yang sangat lembut, seolah sedang membisikkan sebuah rahasia masa depan.

"Dia sangat pintar, berkelas, dan sudah paham luar dalam pekerjaan Daddy-mu. Tadi Nenek bicara dengan Kakek, bukankah Daddy-mu akan sangat cocok jika berdampingan dengan wanita sehebat Clara, Aluna? Mereka tampak sangat serasi saat sedang serius bekerja tadi."

Uhukk!

Aluna tersedak seketika. Buah ceri yang belum sempat ia lumat sempurna menyangkut di tenggorokannya, menyumbat jalan napasnya selama beberapa detik yang mencekam.

Wajahnya yang semula pucat pasi kini berubah menjadi merah padam. Bukan karena malu, melainkan karena rasa cemburu yang menghujam jantungnya lebih menyakitkan daripada luka fisik yang ia rasakan di bawah jubah mandinya.

Bram langsung berdiri dengan gerakan refleks yang sangat cepat, hendak menghampiri Aluna dengan wajah panik yang nyaris membongkar topengnya.

Namun, ia segera menahan diri saat melihat ayahnya sudah lebih dulu menepuk-nepuk punggung Aluna dengan cemas.

"Hati-hati, Sayang! Pelan-pelan makannya!" seru Nyonya Widya panik sambil menyodorkan segelas air putih.

Aluna meminum air itu dengan rakus, mencoba menormalkan napasnya yang memburu dan menyakitkan.

Setiap sel di tubuhnya berteriak ingin meledak, ingin berteriak di depan wajah Clara bahwa Bram adalah miliknya, bahwa semalam pria itu telah memujanya habis-habisan di atas ranjang. Namun, Aluna dipaksa oleh keadaan untuk menelan semua amarah itu pahit-pahit.

Ia mendongak setelah napasnya stabil, memaksakan sebuah senyum manis—senyum paling palsu dan paling perih yang pernah ia tunjukkan dalam hidupnya.

"I-iya, Nek... Kak Clara memang sangat luar biasa," suara Aluna sedikit bergetar, namun ia berhasil menjaganya tetap terdengar manja di telinga kakeknya.

Ia merapatkan pelukannya pada kaki Tuan Adiguna, mencari pegangan agar tubuhnya tidak rubuh karena rasa sakit hati yang luar biasa.

"Daddy pasti sangat beruntung jika ada wanita sehebat Kak Clara yang mengurusnya di kantor... dan mungkin di rumah."

Aluna melirik Bram. Pria itu kini sudah duduk kembali, namun rahangnya tampak sangat kaku dan matanya berkilat penuh amarah yang tertahan.

Bram benci mendengar Aluna merestui hubungannya dengan wanita lain, bahkan jika itu hanya bagian dari sandiwara demi keamanan mereka.

Clara hanya menyesap tehnya dengan sangat tenang, namun di balik gelas kristal yang mahal itu, ia memperhatikan setiap detail kecil. Ia memperhatikan bagaimana jemari Aluna mencengkeram kain celana Tuan Adiguna begitu kuat hingga kuku-kukunya memutih.

Clara adalah wanita yang sangat cerdas, dan ia mulai mencium aroma keganjilan di balik "kemanjaan" Aluna yang terasa terlalu defensif dan penuh dengan emosi yang tertahan.

"Terima kasih atas pujiannya, Nyonya," ujar Clara dengan suara merdu yang tak bercela.

"Tapi saya rasa, bagi Pak Bramasta, Aluna tetaplah prioritas nomor satu yang tak tergantikan. Beliau sangat mencintai Aluna... dengan cara yang sangat istimewa, bukan begitu Pak Bram?"

Kalimat Clara terasa seperti sindiran halus yang membuat bulu kuduk Aluna meremang. Di ruang keluarga itu, badai besar sedang bersembunyi di balik senyuman manis dan pujian formal, menunggu saat yang tepat untuk menghancurkan sangkar emas yang sedang mereka pertahankan dengan susah payah.

Aluna bersandar lebih erat pada kakeknya, menyadari bahwa mulai detik ini, musuh terbesarnya bukanlah otoritas sang kakek, melainkan kelicikan wanita yang duduk di hadapannya itu.

1
Lfa🩵🪽
yey akhirnya up lagi 😍😍
ollyooliver🍌🥒🍆
aluna terlalu lemah, dia mudah menujukkan rasa cemburu.
Hilag
semangatt kak 👍Bram Luna lope
Senja_Puan: siap kak💪
total 1 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
mengungkapkan cinta dengan gairah? itu bukan cinta..nafsu iya🙃
Yasa: terlalu terobsesi juga Bram nya. Ngeri sih, kalau ada yang kaya gini di dunia asli.

tapi perbedaan usia 15 tahun, masih oke-oke aja.
total 1 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
tiga hari sdh berlalu dan bram bekerja diruang kerjanya bahkan menginzinkan aluna menemaninya..kok baru ketahuan bau parfum clara..mereka flu parah kh🙃 kalau anting" wajar gk keliatan. lalu emng masuk akal clara datang kerumah bram tanpa bram ketahui?🙂
Senja_Puan: 2. Untuk yang Clara, sudah dijelaskan ya Kak. Clara ini cukup 'cerdas' dan 'ngeyel' ya, jadi dia tetap datang walau dilarang. Dan Anwar tetap memperbolehkannya masuk karena tahu dia putri rekannya Bram.
total 4 replies
Anom
team second lead a.k Rio😍
Senja_Puan: wah keren kak, sudah siap memilih akmj
total 1 replies
Anom
waduh disadap
Anom
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!