Di Benua Awan Sembilan, kekuatan ditentukan oleh Qi dan garis keturunan. Li Chen hanyalah seorang pelayan di Sekte Pedang Azure yang menderita cacat pada meridiannya, membuatnya mustahil untuk berkultivasi melampaui tingkat dasar. Namun, saat ia jatuh ke Jurang Keputusasaan setelah dikhianati oleh saudara seperguruannya, ia menemukan makam kuno milik Kaisar Pedang yang Menantang Surga.
Li Chen mewarisi sebuah teknik terlarang: Seni Penelan Bintang, yang memungkinkannya menyerap energi dari artefak yang rusak dan emosi negatif musuhnya. Dengan pedang patah yang memiliki jiwa haus darah, Li Chen memulai perjalanannya. Ia tidak mencari keabadian untuk menjadi dewa, melainkan untuk menghancurkan sistem "Langit" yang menentukan nasib manusia sejak lahir. Dari seorang sampah sekte menjadi penguasa semesta, Li Chen harus memilih: menjadi penyelamat dunia atau iblis yang akan meruntuhkan gerbang surga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marcel ( rxel ), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7: Bayangan di Aula Pengetahuan Terlarang
Kekacauan di Lapangan Giok Putih adalah tirai pelindung terbaik bagi Li Chen. Sementara para tabib sekte berkerumun di sekitar tubuh Wang Hu yang hancur dan Penatua Wang meraung menantang langit, Li Chen menyelinap ke balik pilar besar tribun. Dengan gerakan Langkah Pemakan Bayangan yang baru saja ia pelajari secara instingtif dari sisa energi Wang Hu, ia menyatu dengan kegelapan koridor bawah tanah.
Tujuannya jelas: Perpustakaan Paviliun Langit, tempat di mana ribuan tahun sejarah dan teknik rahasia Sekte Pedang Azure disimpan. Namun, Li Chen tidak mencari teknik kelas tinggi sekte itu. Ia mencari sesuatu yang lebih tua—sesuatu yang menurut bisikan Kaisar Pedang, telah "dicuri" dari makam kuno oleh pendiri sekte ini.
"Ke arah timur, bocah. Di bawah fondasi batu nisan para leluhur," suara Kaisar Pedang bergema, kali ini dengan nada penuh dendam yang tak tertahankan.
Li Chen melewati deretan rak buku raksasa yang berisi teknik-teknik tingkat rendah dan menengah. Semakin dalam ia masuk, udara semakin dingin dan berat. Cahaya obor dinding berubah dari kuning hangat menjadi biru mistis, tanda adanya formasi pelindung tingkat tinggi.
Akhirnya, ia sampai di depan sebuah pintu besi hitam tanpa gagang. Di atasnya terukir segel berbentuk naga yang melilit pedang.
"Ini adalah pintu menuju Lantai Terlarang," gumam Li Chen. Ia bisa merasakan tekanan spiritual yang mencoba meremukkan dadanya. Seorang kultivator ranah Pembersihan Sumsum biasa akan langsung pingsan hanya dengan berdiri di sini.
Namun, Li Chen mengangkat tangannya. Pusaran hitam di Dantiannya berputar liar. Ia menempelkan telapak tangannya ke segel naga tersebut.
"Telan segelnya!"
Bukannya mencoba memecahkan kode formasi secara intelektual, Li Chen mulai menyedot energi yang menggerakkan segel tersebut. Cahaya biru pada pintu itu mulai berkedip-kedip, ditarik paksa masuk ke dalam pori-pori kulit Li Chen. Pintu itu bergetar, mengeluarkan suara derit logam yang memilukan, seolah-olah sedang menangis karena kehilangan nyawanya.
KLEK.
Pintu terbuka. Di dalamnya bukan ruangan penuh emas, melainkan sebuah ruang bawah tanah yang dipenuhi oleh ribuan pedang berkarat yang digantung di langit-langit. Di tengah ruangan, duduk seorang pria tua dengan rambut putih yang menjuntai hingga ke lantai. Matanya tertutup rapat, dan kulitnya tampak seperti kulit kayu kering.
Si Penjaga Buta.
"Sudah delapan puluh tahun sejak seseorang berani menyentuh segel itu tanpa kunci," suara pria tua itu serak, seperti gesekan batu. "Dan kau... kau bukan seorang tetua. Kau hanya seorang bocah yang berbau darah dan kegelapan."
Li Chen berhenti. Ia merasakan bahaya yang jauh lebih besar daripada Penatua Wang. Pria tua ini tidak memancarkan aura apa pun, yang berarti ia telah menyatu sepenuhnya dengan alam.
"Saya datang untuk mengambil apa yang seharusnya bukan milik sekte ini," jawab Li Chen tegas.
Pria tua itu perlahan membuka matanya. Ternyata, matanya tidak memiliki pupil, hanya warna putih susu yang kosong. Namun, ia seolah bisa melihat langsung ke dalam jiwa Li Chen.
"Seni Penelan Bintang..." bisik si penjaga. "Jadi, warisan Iblis Langit telah kembali ke dunia. Kau tahu, bocah? Pendiri sekte ini mengurung teknik itu di sini bukan untuk menyimpannya, tapi untuk memastikan tidak ada lagi monster yang lahir di bawah langit ini."
Pria tua itu mengangkat satu jarinya. Tanpa ada gerakan fisik, ribuan pedang berkarat di langit-langit mulai bergetar dan mengarah ke jantung Li Chen.
"Pergilah, atau jadilah salah satu dari pedang mati di ruangan ini."
Li Chen mengepalkan tinjunya. "Jika saya pergi sekarang, saya akan selamanya menjadi mangsa. Saya lebih baik mati sebagai monster daripada hidup sebagai ternak yang menunggu disembelih!"
Li Chen melesat maju. Ia tidak menggunakan senjata. Ia mengubah seluruh tubuhnya menjadi senjata. Setiap langkahnya menghancurkan lantai batu, meninggalkan jejak Qi hitam yang menghanguskan udara.
"Langkah Pertama: Tebasan Tanpa Bentuk!"
Penjaga Buta itu hanya mengayunkan tangannya dengan lembut. Ratusan pedang berkarat melesat seperti hujan badai menuju Li Chen.
CLANG! CLANG! CLANG!
Li Chen menangkis pedang-pedang itu dengan tangan kosongnya yang diperkuat oleh Qi hitam. Namun, setiap benturan membuat lengannya mati rasa. Pedang-pedang itu tidak hanya tajam secara fisik, tetapi juga mengandung niat pedang (Sword Intent) yang mencoba memotong jiwanya.
"Kau punya keberanian, tapi kultivasimu terlalu dangkal," ujar si penjaga.
"Benarkah?" Li Chen menyeringai di tengah hujan pedang. "Lihatlah sekelilingmu!"
Penjaga Buta itu tertegun sesaat. Ia menyadari bahwa pedang-pedang yang telah ditangkis Li Chen tidak jatuh ke tanah. Sebaliknya, pedang-pedang itu hancur menjadi debu sebelum menyentuh lantai, dan energi yang ada di dalamnya mengalir menuju satu titik: punggung Li Chen.
Li Chen menggunakan pertarungan ini untuk menyerap energi dari ribuan pedang kuno di ruangan itu!
"Kau... kau berani menelan niat pedang para leluhur?!" pria tua itu tampak murka untuk pertama kalinya.
"Energi adalah energi! Tidak ada leluhur atau keturunan di mata rasa lapar ini!"
Tubuh Li Chen mulai membengkak dengan kekuatan. Pembuluh darahnya bersinar keunguan. Dengan raungan yang menggetarkan seluruh paviliun, ia melepaskan ledakan energi hitam berbentuk cakram raksasa.
BOOM!
Ruangan itu dipenuhi oleh debu dan serpihan logam. Saat debu mulai menipis, Li Chen berdiri terengah-engah, darah mengucur dari hidung dan telinganya. Di depannya, Penjaga Buta itu masih duduk, namun jubahnya robek dan ada luka kecil di pipinya.
Pria tua itu menyentuh luka di pipinya, menatap darah di jarinya dengan ekspresi tak terbaca. "Luar biasa. Di ranah Pembersihan Sumsum, kau berhasil melukaiku, seorang ahli ranah Jiwa Baru (Nascent Soul)."
Ia menurunkan tangannya, dan pedang-pedang yang tersisa kembali ke langit-langit.
"Kenapa berhenti?" tanya Li Chen waspada.
"Karena takdir memiliki cara yang lucu untuk bekerja," pria tua itu menghela napas. "Aku telah menjaga tempat ini terlalu lama. Aku bosan melihat sekte ini menjadi busuk dari dalam karena keserakahan orang-orang seperti Penatua Wang. Jika teknik itu memang memilihmu, maka ambillah. Tapi ingatlah satu hal, bocah..."
Penjaga Buta itu menunjuk ke arah sebuah kotak kayu hitam di sudut ruangan yang paling gelap.
"Teknik itu tidak akan memberimu kedamaian. Ia akan memberimu tahta di atas gunung mayat. Apakah kau siap untuk itu?"
Li Chen berjalan menuju kotak itu tanpa ragu. Ia membukanya dan menemukan sebuah gulungan kulit manusia yang sudah mengering, bertuliskan tinta darah emas: Sembilan Gerbang Pembantaian Surga.
Begitu tangannya menyentuh gulungan itu, informasi mengalir masuk seperti air bah. Ini bukan hanya teknik pedang; ini adalah peta jalan untuk menghancurkan hukum ruang dan waktu.
"Saya tidak mencari kedamaian," jawab Li Chen sambil memasukkan gulungan itu ke dalam cincin ruangnya. "Saya mencari kebenaran di balik kematian orang tua saya dan alasan mengapa Langit mengunci meridian saya sejak lahir."
Penjaga Buta itu kembali menutup matanya. "Kalau begitu, pergilah. Penatua Wang dan pasukannya sudah berada di luar pintu masuk paviliun. Jika kau ingin keluar hidup-hidup, jangan gunakan pintu depan."
Li Chen membungkuk dalam—sebuah penghormatan terakhir bagi satu-satunya orang di sekte ini yang memperlakukannya sebagai manusia. "Siapa nama Anda, Senior?"
"Nama tidak ada artinya bagi orang mati yang bernapas. Pergilah!"
Li Chen mengangguk. Ia melihat sebuah ventilasi kecil di langit-langit yang menuju ke tebing belakang gunung. Dengan satu lompatan bertenaga Qi, ia menghilang ke dalam kegelapan.
Beberapa detik kemudian, pintu besi itu hancur berkeping-keping. Penatua Wang masuk dengan mata merah penuh amarah, diikuti oleh puluhan murid penegak hukum.
"Penjaga! Di mana bocah itu?! Dia mencuri pusaka sekte!" teriak Penatua Wang.
Pria tua itu bahkan tidak bergerak. "Bocah? Tidak ada bocah di sini. Hanya ada angin yang lewat, membawa serta bau busuk dari keserakahanmu, Wang."
"Kau! Kau berani melindunginya?!" Penatua Wang mengangkat pedangnya, namun tiba-tiba ia merasa seolah-olah seluruh ruangan itu menekan tubuhnya. Ia terpaksa mundur tiga langkah, napasnya sesak.
"Jangan memaksaku untuk mengotori tanganku dengan darah serangga sepertimu, Wang," suara Penjaga Buta itu sekarang terdengar seperti guntur yang tertahan. "Keluar dari sini sebelum aku memutuskan untuk menjadikannya makammu juga."
Penatua Wang gemetar ketakutan. Ia tahu ia tidak bisa melawan monster tua ini. "Cari dia! Dia pasti belum jauh! Kepung seluruh tebing belakang! Siapa pun yang membawa kepalanya akan mendapatkan jabatan Murid Inti!"
Sementara itu, di tebing belakang yang curam, Li Chen berpegangan pada dahan pohon yang tumbuh di sela-sela batu. Di bawahnya adalah jurang sedalam ribuan meter yang dikenal sebagai Lembah Kabut Abadi.
Ia bisa melihat obor-obor murid sekte mulai menyebar di sepanjang pinggiran tebing di atasnya.
"Sial, mereka sangat cepat," gumam Li Chen.
"Jangan naik, bocah. Lompatlah," suara Kaisar Pedang kembali muncul.
"Lompat? Kau ingin aku bunuh diri?"
"Di bawah sana bukan hanya kabut. Di bawah sana adalah sisa-sisa medan perang kuno di mana aku jatuh sepuluh ribu tahun yang lalu. Itu adalah tempat di mana Seni Penelan Bintang-mu akan mencapai kesempurnaan sejati. Lompat, atau mati di tangan anjing-anjing itu."
Li Chen menatap ke atas, melihat bayangan Penatua Wang yang mulai terlihat di tepi tebing. Lalu ia menatap ke bawah, ke dalam kegelapan yang tak berdasar.
Sebuah senyum liar muncul di wajahnya.
"Jika aku harus jatuh ke neraka untuk menjadi dewa, maka biarlah neraka itu menyambutku!"
Li Chen melepaskan pegangannya. Tubuhnya meluncur bebas ke dalam kabut putih yang tebal, menghilang dari pandangan para pengejarnya tepat saat anak panah pertama melesat ke arahnya.
Penatua Wang sampai di tepi tebing, menatap ke bawah dengan wajah geram. "Lembah Kabut Abadi... tidak ada yang pernah kembali hidup-hidup dari sana. Bagus. Setidaknya mayatnya akan membusuk di sana bersama pusaka itu."
Namun, di dalam hatinya, Penatua Wang merasakan firasat buruk yang tidak bisa ia jelaskan. Seolah-olah ia baru saja melepaskan seekor naga yang sedang tidur ke dalam sarangnya sendiri.