NovelToon NovelToon
SENJA TAK BERTUAN

SENJA TAK BERTUAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dokter / Penyelamat
Popularitas:183
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Yasmin selalu percaya bahwa kerapuhannya adalah kutukan, hingga Arya datang membawa kepastian di bawah senja. Di sana, mereka mencuri satu petak langit untuk saling memiliki. Namun, ketika ikrar telah terucap dan senja mulai meredup, semesta seolah menagih kembali kebahagiaan yang mereka dapatkan.

Dan, ketika kegelapan itu datang...

Yasmin tersadar satu hal, mereka tidak sedang memiliki senja, hanya sedang meminjamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SESAL

​Hening yang mencekam segera menyergap kamar itu setelah badai gairah yang terlarang itu mereda. Tama terbaring lemas di sisi ranjang, napasnya perlahan mulai teratur, sementara matanya menatap langit-langit kamar dengan kilat kepuasan yang tak tersembunyi. Baginya, ini adalah kemenangan besar. Namun bagi wanita di sampingnya, ini adalah akhir dari dunianya.

​Yasmin meringkuk, membelakangi Tama dengan tubuh yang masih bergetar hebat. Isak tangis yang sejak tadi tertahan kini pecah menjadi tangisan berat yang menyesakkan dada. Setiap tarikan napasnya terasa seperti duri yang menyayat tenggorokan.

​Ia menatap nanar ke arah bantal di sampingnya—tempat di mana Arya biasanya merebahkan kepala. Rasa mual dan benci pada diri sendiri meluap hingga ke ujung kepala.

​"Apa yang sudah kulakukan..." bisik Yasmin di sela isakannya, suaranya parau dan nyaris hilang.

​Pikirannya melayang pada sosok Arya. Pria yang dengan sabar menariknya keluar dari lubang keterpurukan masa lalu, pria yang memberikan nama besarnya sebagai perlindungan, dan pria yang meski sedang dingin pagi ini, sebenarnya adalah satu-satunya orang yang benar-benar menjaga kehormatannya selama ini.

​Selama ini ia berjuang mati-matian menjaga jarak dari Arya karena rasa takut dan ancaman Tama yang membayangi pikirannya, namun ironisnya, ketakutan itu justru membawanya jatuh ke dalam dosa yang paling menjijikkan tepat di atas ranjang pernikahan mereka.

​"Mas Arya... maafkan aku..."

Gumam ​Yasmin meremas seprai dengan kuku-kukunya, seolah ingin mencabik-cabik kenyataan pahit ini. Ia merasa kotor. Ia merasa pengkhianatan ini telah menghancurkan pondasi cinta yang selama ini Arya bangun dengan susah payah untuknya. Segalanya runtuh hanya dalam hitungan jam. Cinta yang tulus itu kini ia balas dengan noda yang tak akan pernah bisa dibasuh, bahkan dengan air mata darah sekalipun.

​Tama menoleh, memperhatikan bahu Yasmin yang berguncang hebat. Bukannya merasa bersalah, ia justru mengulurkan tangan, mencoba menyentuh punggung polos Yasmin yang hanya tertutup sebagian oleh kain satin yang sudah berantakan.

​"Jangan menangis, Yasmin," ucap Tama dengan nada santai, seolah baru saja melakukan hal yang biasa. "Bukankah tadi kamu juga merasakannya? Kamu milikku sekarang, lebih dari kamu milik Arya."

​Sentuhan itu membuat Yasmin tersentak jijik. Ia segera menjauhkan tubuhnya hingga nyaris jatuh dari pinggir ranjang. Setiap inci kulitnya yang baru saja disentuh Tama terasa panas dan beracun. Ia ingin lari, ingin menghilang, namun ia tahu, mulai detik ini, ia tidak akan pernah bisa menatap mata Arya dengan cara yang sama lagi. Ia telah menghancurkan rumah yang paling aman bagi jiwanya.

Kemudian, Yasmin meringkuk semakin dalam, memeluk lututnya sendiri di tepi ranjang seolah berusaha mengecilkan tubuhnya agar menghilang dari pandangan dunia. Suara isak tangisnya yang tadinya pecah kini berubah menjadi sedu-sedan yang tertahan, menyesakkan kerongkongan.

​"Berhenti menangis, sayang. Suara tangismu itu merusak suasana," ucap Tama datar, tanpa ada nada penyesalan sedikit pun. Ia pun meraih helai rambut Yasmin yang berantakan, namun Yasmin segera menepisnya dengan gerakan kasar yang penuh kebencian.

​"Pergi... keluar dari sini! Keluar!" teriak Yasmin parau. Suaranya gemetar hebat, matanya merah karena amarah dan kehancuran yang menyatu.

Tama tertawa pendek, tawa yang terdengar sangat menjijikkan di telinga Yasmin. "Kamu mengusirku setelah apa yang kita lalui tadi? Ingat, Yasmin, kamu sendiri yang tadi terbuai. Jangan berlagak jadi korban suci sekarang."

​Tama mulai berdiri, mulai memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai dengan gerakan santai. Sebelum melangkah keluar, ia berhenti sejenak di depan Yasmin yang masih terisak. ​"Oya, satu hal lagi." Sambungnya. "Jangan berpikir untuk mengadu pada Arya. Kalau dia tahu istrinya yang suci ini ternyata sudah aku rasakan lebih dulu, menurutmu dia akan memelukmu? Tidak. Dia akan membuangmu seperti sampah. Jadi, tutup mulutmu rapat-rapat kalau masih ingin menyandang nama besar keluarga ini."

​"KELUAAARRR!" Jerit Yasmin Pecah, suaranya melengking menyayat keheningan kamar, penuh dengan keputusasaan dan kebencian yang mendalam. Ia melempar bantal ke arah pintu, napasnya tersengal-sengal seolah oksigen di ruangan itu telah habis dihisap oleh keberadaan Tama.

​Tama hanya mendengus meremehkan, merapikan kerah kemejanya di depan cermin sejenak sebelum melangkah keluar dengan senyum kemenangan yang menjijikkan.

****

Dia akan membuangmu seperti sampah.

​Yasmin menyeret langkahnya yang lunglai menuju kamar mandi, jemarinya mencengkeram kusen pintu dengan sisa tenaga yang ia punya. Tubuhnya terasa berat, seolah dosa yang baru saja terjadi menambah beban ribuan ton di pundaknya, apalagi ketika kalimat Tama masih terngiang di kepalanya.

Begitu sampai di dalam, ia segera mengunci pintu rapat-rapat, lalu menyandarkan punggungnya di sana hingga merosot jatuh ke lantai marmer yang dingin.

​Ia lalu menyalakan pancuran shower dengan suhu paling rendah. Air dingin yang menusuk segera mengguyur tubuhnya yang masih mengenakan pakaian lengkap. Yasmin tidak peduli. Ia membiarkan air itu membasahi bajunya, meresap ke pori-porinya, berharap rasa dingin yang ekstrem bisa membekukan rasa sakit dan mual yang mengaduk-aduk perutnya.

​"Aku kotor... aku kotor..." Isaknya tertahan di sela gemericik air.

​Dengan kalap, ia menyambar sabun cair dan menggosok lengan, leher, serta dadanya dengan kasar. Ia menggosok berkali-kali hingga kulit putihnya memerah dan terasa perih tersayat, namun rasa "tercemar" itu tak kunjung hilang. Di bawah guyuran air, Yasmin meraung tanpa suara, membayangkan wajah Arya yang tulus. Pernikahan yang ia jaga dengan rasa takut selama ini justru hancur oleh orang yang paling ia hindari.

​****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!