Denzel Shaquille memilih mencintai Leah Ramiro dalam sunyi. Sebagai asisten pribadi kakak Leah, Zefan, ia hanya sanggup menjadi sandaran lembut bagi sang mahasiswi akuntansi. Namun, Jeff Chevalier—dosen Leah yang posesif—datang mengklaim Leah dengan terang-terangan.
Keadaan makin pelik saat sahabat Leah, Seraphina, mengejar cinta Denzel, sementara Zefan diam-diam memuja Seraphina. Terjebak dalam sandiwara demi tetap dekat dengan Leah, Denzel harus menyaksikan kehancuran hubungan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekacauan di Kantin
Kantin Fakultas Ekonomi siang itu adalah sebuah orkestra kebisingan yang biasa, sampai denting logam kunci motor yang dihantamkan ke meja kayu memutus segalanya. Leah Ramiro tersentak, jemarinya yang ramping gemetar di atas halaman buku akuntansi yang baru saja ia pelajari. Di hadapannya, Daniel berdiri dengan seringai yang meremehkan—tipe pria yang merasa dunia adalah sirkus pribadinya hanya karena ia punya nyali untuk melanggar aturan.
"Jadi, begini caramu memperlakukan teman, Leah? Menolak teleponku tapi asyik bersembunyi di pojokan?" suara Daniel meninggi, cukup untuk membuat beberapa pasang mata di meja sekitar berpaling.
Leah menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. "Aku sedang belajar, Dan. Tolong, jangan buat keributan."
"Keributan? Aku hanya ingin mengajakmu bicara. Atau mungkin kau sudah merasa terlalu berkelas untuk mahasiswa sepertiku sejak sering terlihat keluar dari mobil mewah itu?" Daniel membungkuk, menumpukan kedua tangannya di meja, mengurung ruang gerak Leah. "Katakan padaku, siapa pria tua yang menjemputmu itu? Simpananmu? Atau kau sedang menjual angka-angka akuntansimu pada CEO kesepian?"
Darah Leah berdesir dingin. Pria di mobil itu adalah Zefan, kakaknya. Namun, rahasia identitasnya sebagai adik dari seorang konglomerat properti adalah instruksi mutlak. Zefan tidak ingin musuh bisnisnya menjadikan Leah sebagai titik lemah, terutama saat perusahaan mereka sedang di ujung tanduk.
"Jaga bicaramu!" desis Leah, matanya berkaca-kaca karena amarah dan malu yang bercampur menjadi satu.
"Oh, lihat! Si Tikus Kecil mulai menggigit," Daniel tertawa, tangannya terjulur kasar, mencengkeram pergelangan tangan Leah. "Ikut aku. Kita bicara di luar."
"Lepaskan! Sakit, Daniel!"
Saat itu juga, suhu di dalam kantin seolah merosot drastis hingga ke titik beku. Sebuah bayangan tinggi dan kokoh jatuh menimpa meja mereka, mematikan tawa Daniel seketika. Seseorang berdiri di sana dengan keheningan yang jauh lebih menakutkan daripada teriakan Daniel.
Jeff Chevalier.
Dosen muda yang dikenal dengan intelek setajam silet dan disiplin yang tak tergoyahkan. Ia mengenakan kemeja abu-abu arang yang membalut tubuh atletisnya dengan sempurna. Kacamata berbingkai perak bertengger di hidungnya yang bangir, membingkai sepasang mata yang sedingin es kutub. Di kampus ini, ia adalah standar kesempurnaan. Di luar kampus, ia adalah pria yang mengklaim Leah dalam kegelapan.
"Saudara Daniel," suara Jeff rendah, hampir berupa bisikan, namun bergema di keheningan kantin. "Saya tidak sadar bahwa kurikulum universitas ini mencakup pelecehan fisik di ruang publik."
Daniel melepaskan tangan Leah seolah baru saja menyentuh bara api. Ia mencoba menegakkan punggung, namun tinggi badannya tetap kalah telak dari Jeff. "Pak Jeff... ini hanya salah paham. Kami hanya bercanda."
Jeff tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menatap Daniel, sebuah tatapan predator yang sedang menimbang-nimbang di bagian mana ia akan mematahkan leher mangsanya. Ia melangkah satu tindak lebih dekat, memaksa Daniel mundur hingga menabrak kursi.
"Salah paham?" Jeff mengulang kata itu dengan nada meremehkan. "Jika dalam tiga detik Anda tidak mengangkat kaki dari hadapan saya, saya akan memastikan beasiswa Anda dicabut dan catatan kriminal atas tindakan tidak menyenangkan masuk ke dalam berkas kelulusan Anda. Satu..."
Daniel tidak menunggu hitungan kedua. Dengan wajah pucat pasi dan langkah seribu, ia menyambar kuncinya dan menghilang di balik pintu kantin, meninggalkan Leah yang masih gemetar hebat.
Kantin kembali berbisik. Mahasiswa lain memandang dengan kekaguman pada sang dosen pahlawan. Namun, bagi Leah, kengerian yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Jeff berbalik perlahan. Ia meletakkan selembar map di atas meja Leah, sebuah gerakan yang terlihat sangat profesional di mata publik. Namun, saat ia sedikit menunduk untuk "menjelaskan" isi map tersebut, aroma parfum sandalwood dan tobacco miliknya mengepung indra penciuman Leah—arama yang selalu menandai kepemilikan.
"Sudah berapa kali kukatakan, jangan biarkan sampah seperti dia menyentuhmu, Leah?" suara Jeff berubah, menjadi gelap dan penuh ancaman yang hanya bisa didengar oleh Leah.
"Dia yang tiba-tiba datang, Jeff... tolong, jangan mulai di sini," bisik Leah dengan suara serak. Ia tidak berani menatap mata Jeff. Ia tahu apa yang ada di sana: api posesif yang siap menghanguskan siapa saja.
"Kau milikku. Setiap inci darimu adalah urusanku," tangan Jeff bergerak, seolah merapikan kerah baju Leah yang sedikit berantakan, namun jemarinya sempat mengelus leher gadis itu dengan tekanan yang membuat Leah merinding. "Jika kau tidak bisa menjaga dirimu sendiri dari lalat-lalat itu, aku yang akan mengurungmu di tempat di mana tidak ada satu orang pun bisa melihatmu."
Leah memejamkan mata, merasakan dadanya sesak. "Semua orang melihat kita, Pak Jeff," ia menekankan kata 'Pak' sebagai pengingat batas.
Jeff menarik tangannya, kembali ke posisinya yang tegak dan berwibawa. Wajahnya kembali menjadi topeng dosen yang dingin dan tak tersentuh. "Pastikan Anda mempelajari bab berikutnya dengan teliti, Nona Ramiro. Saya tidak suka mahasiswa yang tidak kompeten di kelas saya."
Tanpa menunggu jawaban, Jeff melangkah pergi. Jubah dosennya seolah berkibar tertiup angin kekuasaan. Ia baru saja melakukan sebuah pertunjukan yang luar biasa—menyelamatkan mahasiswi dari perundungan sambil tetap menjaga citra sucinya sebagai pendidik, sementara secara emosional ia baru saja meremukkan harga diri Leah di bawah tumit sepatunya yang mahal.
Leah terduduk lemas. Ia merasa seperti tontonan di kebun binatang. Bisik-bisik pujian untuk Jeff terasa seperti ejekan di telinganya. Mereka tidak tahu. Mereka tidak pernah tahu bahwa pria yang mereka puja adalah monster yang mencekiknya setiap hari melalui pesan singkat, telepon di tengah malam, dan pengawasan yang tak pernah putus.
Rasa malu itu membakar pipinya. Ia menyambar tas punggungnya, tidak peduli lagi pada buku akuntansinya yang berharga mahal. Ia harus pergi. Ia butuh pelarian.
Dengan langkah terburu-buru, Leah keluar dari kantin, melewati koridor-koridor kampus yang terasa semakin sempit. Ia mengabaikan panggilan teman-temannya. Dunianya terasa berputar, dan satu-satunya hal yang bisa membuatnya tetap berpijak di bumi adalah bayangan seorang pria yang selalu menunggunya dengan kesabaran yang tak masuk akal.
Ia meraba ponselnya, jarinya dengan cepat menekan satu nama di daftar kontak cepatnya. Bukan kakaknya, bukan Jeff, melainkan satu-satunya manusia yang memberinya ruang untuk bernapas.
"Denzel... jemput aku. Sekarang. Di taman belakang," ucapnya lirih saat sambungan telepon terhubung, suaranya pecah di ujung kalimat.
Di seberang sana, tidak ada pertanyaan yang menghakimi. Hanya ada suara napas yang tenang dan jawaban singkat yang menenangkan. "Lima menit, Leah. Saya sudah di sana."
Leah berlari kecil menuju taman belakang yang rimbun. Di kejauhan, ia melihat sosok pria dengan setelan jas hitam yang berdiri tegak di samping mobil sedan hitam yang mengilap. Pria itu tidak memakai kacamata hitam, namun tatapannya selalu terasa seperti pelindung yang tak terlihat.
Denzel Shaquille.
Melihat sosok itu, beban di pundak Leah seolah terangkat sedikit. Denzel adalah keheningan di tengah badai, air di tengah api yang dikobarkan oleh Jeff. Ia tahu Denzel hanyalah asisten kakaknya, pria yang dibayar untuk mengurus keperluan hidupnya. Namun di mata Leah, Denzel adalah satu-satunya tempat di mana ia tidak perlu menjadi "milik" siapa pun.
Sambil menghapus air matanya yang jatuh, Leah mempercepat langkahnya, tidak menyadari bahwa di balik kaca jendela gedung fakultas yang tinggi, sepasang mata tajam milik Jeff Chevalier sedang mengamati setiap gerakannya dengan kepalan tangan yang mengeras di balik saku celananya.
Permainan ini baru saja dimulai, dan Jeff tidak berniat membiarkan "asisten peliharaan" itu mendapatkan apa yang menjadi miliknya.