Lana hanyalah gadis desa bersahaja yang membawa koper tua ke ibu kota demi sebuah cita-cita. Namun, ia tak menyangka bahwa beasiswa dari paman jauhnya datang dengan "syarat" tak tertulis: tinggal satu atap dengan tujuh pria elit di sebuah penthouse mewah.
Arka sang CEO dingin, Bumi si dokter lembut, hingga Kenzo sang aktor idola—ketujuh sahabat ini memiliki dunia yang terlalu berkilau bagi Lana. Awalnya ia dianggap gangguan, namun perlahan kepolosan Lana memicu persaingan panas di antara mereka. Saat perjanjian persahabatan mulai retak demi satu cinta, siapakah yang akan Lana pilih? Ataukah ia hanya bidak dalam permainan para Tuan Muda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aroma Terapi di Penjuru Ruangan
Sore itu, mendung menggelayut rendah di langit Jakarta, memberikan nuansa abu-abu yang suram pada kaca-kaca jendela penthouse. Lana baru saja selesai merapikan kamarnya ketika ia melangkah keluar ke koridor utama yang menuju ruang perpustakaan pribadi milik Ezra. Saat itulah, indra penciumannya menangkap sesuatu yang asing.
Bukan bau masakan, bukan pula bau pembersih lantai yang tajam. Itu adalah aroma yang sangat lembut, seperti perpaduan antara kayu basah, bunga yang belum pernah ia lihat, dan sedikit sentuhan jeruk yang segar. Namun, yang membuat Lana bingung adalah munculnya kabut tipis berwarna putih yang keluar dari sebuah lubang kecil di dinding marmer setiap beberapa menit sekali.
Pshhh...
Lana tersentak. Ia mendekati lubang itu, matanya membelalak curiga. "Aduh, ini temboknya bocor asap ya? Apa ada yang kebakaran di dalem semen?"
Ia mencoba mengendus asap itu. Wanginya enak, tapi bagi Lana, segala sesuatu yang keluar dari dinding tanpa ada api adalah sebuah keajaiban yang menakutkan. Ia teringat di desanya, asap biasanya berarti ada sampah yang dibakar atau tungku di dapur yang sedang mengepul. Tapi asap ini dingin, dan baunya terlalu... mewah.
"Lana, lo lagi ngapain? Mau jadi detektif asap?"
Suara datar dan dingin itu muncul dari arah perpustakaan. Ezra berdiri di sana, menyandarkan bahunya di kusen pintu kayu jati yang tinggi. Ia mengenakan kacamata baca berbingkai perak dan memegang sebuah buku tebal tentang arsitektur modern. Kemeja hitamnya yang pas di badan membuatnya tampak seperti bagian dari dekorasi rumah yang mahal—elegan dan tidak tersentuh.
"Eh, Kak Ezra... Maafin Lana, Kak. Lana cuma bingung, ini temboknya kok keluar asap terus? Lana takut ada yang konslet di dalem, ntar rumahnya angus gimana?" tanya Lana polos, wajahnya penuh kekhawatiran yang jujur.
Ezra menarik napas panjang, lalu berjalan mendekat ke arah Lana. Langkah kakinya yang tenang tidak bersuara di atas karpet Persia. "Angus pala lo peyang, Lan. Gak asik banget kalau rumah hasil desain gue angus cuma gara-gara ini."
Ezra menunjuk ke arah lubang kecil di dinding tersebut. "Ini namanya integrated scent diffuser. Ini bagian dari sistem ventilasi yang udah gue rancang khusus. Alat ini nyebarin aroma terapi ke seluruh penjuru ruangan secara otomatis setiap sepuluh menit sekali."
Lana mengernyitkan dahi, mencoba mencerna istilah-istilah sulit itu. "Aroma... terapi? Itu kayak minyak kayu putih buat orang masuk angin ya, Kak?"
Ezra hampir saja menjatuhkan bukunya karena menahan tawa. Ia berdeham, mencoba menjaga wibawanya yang dingin. "Bukan, bocah. Minyak kayu putih itu bau rumah sakit. Ini namanya essential oil. Yang lagi keluar sekarang itu varian Sandalwood dicampur Bergamot. Fungsinya buat relaksasi, biar saraf lo yang tegang gara-gara kaget liat teknologi mulu bisa lebih santai."
Ezra mengajak Lana masuk ke dalam perpustakaannya. Ruangan itu adalah "kuil" pribadi Ezra. Rak-rak buku setinggi lima meter memenuhi dinding, dan di tengah ruangan terdapat sebuah alat berbentuk tabung kaca minimalis yang mengeluarkan cahaya hangat kekuningan. Kabut tipis menari-nari keluar dari puncaknya.
"Sini, lo duduk di sini," perintah Ezra sambil menunjuk sofa kulit berwarna cokelat tua.
Lana menurut, ia duduk dengan kaku sementara Ezra duduk di kursi kerjanya yang ergonomis. "Kenapa harus pakai asap-asap gini, Kak? Kan mending buka jendela aja, biar angin masuk?"
"Angin Jakarta itu isinya polusi sama debu, Lan. Kalau lo buka jendela, paru-paru lo bisa berubah jadi item dalam semalam," jelas Ezra dengan bahasa "Gue-Lo" yang ketus namun berisi fakta. "Aroma terapi ini beda. Ini buat ngebangun mood. Kalau lo ngerasa stres atau kangen rumah, aroma ini bisa ngebantu otak lo buat ngelepas hormon kebahagiaan."
Ezra berdiri lagi, ia mengambil sebuah botol kaca kecil dari laci mejanya dan membawanya ke depan Lana. "Coba lo hirup ini pelan-pelan. Tutup mata lo."
Lana memejamkan mata. Ia merasakan botol kecil itu didekatkan ke hidungnya oleh tangan Ezra yang terasa dingin namun stabil. Ia menghirup aromanya. Seketika, bayangan tentang hutan bambu di belakang rumahnya setelah hujan turun melintas di pikirannya. Aromanya sangat murni, sangat damai.
"Enak, Kak... Rasanya kayak Lana lagi di sawah pas mendung," bisik Lana tanpa membuka mata.
Ezra menatap wajah Lana yang kini tampak lebih rileks. Garis-garis kecemasan di dahi gadis itu menghilang, digantikan oleh senyum kecil yang sangat tulus. Ezra merasa ada sesuatu yang bergetar di balik sikap dinginnya. Ia, yang selalu mengukur segala sesuatu dengan presisi arsitektur, mendadak merasa ada variabel yang tidak bisa ia hitung dalam diri Lana.
"Itu namanya varian Forest Rain. Gue khusus pesen ini karena gue tau lo pasti sering kangen bau tanah," gumam Ezra pelan, hampir tidak terdengar.
Lana membuka matanya, menatap Ezra dengan binar kekaguman. "Kak Ezra pesen khusus buat Lana? Kakak baik banget... Lana kira Kakak nggak suka sama Lana karena Kakak selalu bicara galak."
Ezra langsung memalingkan wajahnya ke arah deretan buku di rak. "Dih, siapa yang bilang buat lo? Gue pesen karena gue juga suka bau hutan, jangan kepedean lo, nyet. Gak asik banget kalau lo baper cuma gara-gara pewangi ruangan."
Lana tertawa kecil, suara tawa yang jernih seperti lonceng. "Hehe, maaf Kak Ezra. Tapi makasih ya, Lana sekarang jadi nggak takut lagi sama asap di tembok. Ternyata itu asap pinter ya, bisa bikin hati tenang."
Ezra kembali menatap Lana, kali ini dengan tatapan yang sedikit lebih lama. "Inget ya, Lan. Di rumah ini, kenyamanan itu nomor satu. Kalau lo ngerasa pusing atau baunya terlalu nyengat, lo bilang ke gue. Gue bisa atur konsentrasinya lewat ponsel gue. Jangan lo sumpel lubangnya pakai tisu, awas lo kalau sistem ventilasi gue rusak."
"Iya, Kak Ezra! Lana janji nggak akan ganggu asap pinternya!" seru Lana penuh semangat.
Lana kemudian berdiri dan berpamitan untuk kembali ke kamarnya, meninggalkan Ezra sendirian di perpustakaan. Ezra menatap pintu yang tertutup, lalu beralih ke layar ponselnya. Ia membuka aplikasi kendali rumah dan meningkatkan frekuensi scent diffuser di area kamar Lana dengan aroma yang paling menenangkan.
"Bocah aneh," gumam Ezra sambil menyandarkan punggungnya. "Tapi emang bener sih, aroma ini jadi kerasa lebih enak semenjak ada dia."
Ezra menyadari satu hal: arsitektur yang sempurna bukan hanya soal dinding yang tegak atau pencahayaan yang pas, tapi soal siapa yang menghuninya. Dan baginya, kehadiran Lana adalah satu-satunya elemen "alami" yang membuat penthouse kaku ini akhirnya terasa seperti sebuah rumah. Gak asik banget kalau dia sampai harus mengakui itu di depan saudara-saudaranya yang lain, terutama Jeno yang pasti akan meledeknya habis-habisan.
Sambil kembali membaca bukunya, Ezra sesekali melirik ke arah sensor suhu dan aroma di layar ponselnya, memastikan bahwa Lana sedang tidur dalam suasana yang paling sempurna yang bisa diciptakan oleh seorang arsitek kelas dunia.