Kematian Tragis Aning membuat desa Kalung Ganu di teror. satu persatu pemuda di temukan mati mengenaskan. ketakutan mulai menyelubungi penduduk desa..
Namun, yang menjadi anda tanya besar siapa pemerkosa dan pembunuh Aning?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kesurupan
Keriuhan di depan rumah Bu Rati saat matahari terbenam habis, tepatnya saat Magrib membuat beberapa orang yang akan ke masjid terpaksa berhenti.
Ratmi, gadis remaja baru saja menginjak usia tujuh belas tahun itu kini tampak seperti binatang buas.
Suara raungannya tidak terdengar seperti suara manusia. Itu adalah kombinasi antara geraman parau dan pekikan melengking yang sanggup merontokkan nyali siapa pun yang mendengar. Ratmi meronta, tubuh kecilnya memiliki kekuatan yang tidak masuk akal. Empat pria dewasa, termasuk Pak Warsito yang badannya gempal, hampir kewalahan memegangi lengannya saat Ratmi mencoba berlari.
"Lepaskan aku!" teriak Ratmi dengan mata yang mendelik ke atas, menyisakan bagian putih yang mengerikan.
"Ratmi, kamu kenapa nak, sadar Ratmi. Istighfar nak." Ujar Bu Rati mengingatkan Ratmi.
Namun, percuma. Ratmi tak peduli, dia justru terlihat lebih menakutkan. Dia kini beralih mencakar-cakar tanah membuat kuku-kukunya patah dan berdarah.
Setiap kali kuku itu menghunjam tanah, dia akan tertawa kecil yang kemudian berubah menjadi isak tangis yang memilukan.
"Cepat panggil pak Ustadz ke sini." Ujar pak Warsito di tengah kepanikannya dengan beberapa orang lain yang masih mencoba untuk menahan tubuh kecil Ratmi yang begitu kuat.
Tak berapa lama, terlihat pak Ustadz Sakari yang sehabis sholat magrib di masjid datang dengan terburu-buru bersama pemuda yang tadi pergi untuk mengabarinya tentang apa yang terjadi pada Ratmi.
"Pak Ustadz! Tolong, Pak Ustadz!" seru Bu Rati histeris. Ia bersimpuh di dekat kaki putrinya, namun setiap kali ia mencoba menyentuh Ratmi, gadis itu akan menyalak dan mencoba menggigit tangan ibunya sendiri.
Wajah ustadz Sakari yang tadinya tenang kini tampak sedikit menegang saat melihat Ratmi yang di penggangi empat pria termasuk pak Warsito. Ustadz Sakari segera meminta warga untuk membentuk lingkaran dan tidak menghalangi aliran udara.
Ritual di Ambang Kegelapan
Ustaz Sakari mulai merapal ayat-ayat suci. Suaranya yang rendah namun tegas mencoba membelah kegaduhan. Namun, alih-alih tenang, Ratmi justru bereaksi semakin liar. Tubuhnya melengkung ke belakang dengan sudut yang tidak alami, seolah-olah tulang belakangnya terbuat dari karet.
"Siapa kau yang bersemayam di tubuh anak ini? Pergilah!" bentak Ustaz Sakari sambil memercikkan air doa ke wajah Ratmi.
Ratmi mendadak diam. Kepalanya perlahan menoleh ke arah Ustaz Sakari, gerakannya patah-patah seperti engsel pintu yang karatan. Senyum tipis mengembang di bibirnya yang penuh tanah.
"Aku datang menangis hutang..." bisik Ratmi, suaranya kini berubah menjadi ganda, ada suara anak kecil dan suara wanita dewasa yang bergaung di dalamnya.
"Kalian yang mengundangku. Kalian yang membiarkan darah itu mengalir."
Mendengar ucapan itu membuat Pak Warsito dan semua yang ada di tempat itu mendadak lemas, meskipun mereka tidak mengerti sama sekali apa yang di maksud.
"Bicara yang jelas! Jangan menyesatkan!" Ustaz Sakari kembali merapal doa dengan nada lebih tinggi.
Ratmi mulai tertawa terbahak-bahak. Tawa itu menular menjadi suasana mencekam. Ia tiba-tiba menunjuk ke arah kerumunan, menunjuk satu persatu orang-orang yang ada di sana.
"Dia akan datang menuntut balas! Satu persatu akan bersimbah darah..." Ujarnya dengan suara menyeramkan.
"Satu sudah membayarnya..." Tawa Ratmi meledak, memantul di antara para warga yang mulai merapat karena ketakutan.
Setiap kali dia tertawa, bahunya berguncang hebat, dan matanya yang putih melirik tajam.
"Siapa yang kau maksud sudah membayar?! Siapa?!" seru seorang warga dari barisan belakang, suaranya bergetar antara penasaran dan horor.
Ratmi tidak menjawab dengan kata-kata yang masuk akal. Dia justru menjilat bibirnya yang belepotan tanah, lalu mendesis.
"Cukup! Jangan dengarkan tipu daya setan ini!" bentak Ustaz Sakari. Wajahnya kini bercucuran keringat, namun sorot matanya menajam. Beliau menyadari bahwa entitas yang merasuki Ratmi bukanlah sekadar jin pengganggu biasa.
Ustaz Sakari kembali melafalkan doa-doa. Kali ini, beliau membacakan ayat-ayat Ruqyah dengan nada yang lebih tinggi dan bergetar, seolah setiap huruf yang keluar adalah pedang yang menghujam kegelapan.
Ayat Kursi diderunya berulang kali. seakan ada listrik yang memercik di udara.
"Panas! Berhenti, Tua Bangka! Itu bukan urusanmu!" Ratmi menjerit, tubuhnya mengejang hebat hingga empat pria yang memeganginya terseret di atas tanah. Kekuatan Ratmi meningkat dua kali lipat. Kuku-kukunya kembali menghujam tanah, mencakar dengan beringas hingga ujung jarinya mengeluarkan darah segar yang bercampur dengan tanah hitam.
"Bismillah!" Ustaz Sakari menekan jempolkan tepat di antara kedua alis Ratmi.
Gadis itu melolong panjang.
"Dia pasti akan kembali! Membalas kalian semua!" Teriaknya.
Bu Rati yang mendengar itu langsung menutup telinga sambil menangis histeris tak tega melihat anaknya dalam keadaan seperti itu.
"Pergi kau! Kembali ke alammu! Jangan kau ganggu yang masih hidup!" perintah Ustaz Sakari dengan penuh penekanan.
Ratmi mendongak, wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dari wajah Ustaz Sakari. Dengan suara ganda yang semakin berat, ia berbisik, "Aku tidak akan pergi sebelum tiga kepala bersujud di bawah kakiku."
Tepat setelah kata-kata itu terucap, lampu neon di teras rumah pecah berantakan. Pyarr! Kegelapan seketika menyergap. Dalam detik-detik gelap gulita itu, warga mendengar suara napas yang berat tepat di telinga mereka masing-masing, seolah sosok tak kasat mata sedang berjalan melintasi kerumunan.
Ketika seseorang menyalakan senter, Ratmi sudah terkulai lemas, pingsan di atas tanah yang porak-poranda.
Ustaz Sakari terengah-engah, dadanya naik turun.
Ustaz Sakari menyeka keringat yang membanjiri dahinya dengan ujung sorban. Napasnya masih menderu, berat dan tidak beraturan. Di bawah temaram cahaya senter yang bergoyang-goyang, pemandangan di halaman rumah Bu Rati tampak seperti perang yang baru saja usai.
"Bawa dia masuk ke dalam," perintah Ustaz Sakari dengan suara serak. "Berikan air putih yang sudah didoakan, jangan biarkan dia sendirian sampai fajar menyingsing."
Warga bergerak dengan canggung. Ketakutan masih mencengkeram erat tenggorokan mereka. Pak Warsito, yang biasanya paling vokal, kini hanya diam seribu bahasa. Tangannya masih gemetar hebat, bukan karena lelah menahan tubuh Ratmi, melainkan karena kata-kata terakhir gadis itu terus terngiang seperti lonceng kematian. Entah kutukan apa yang kini bersarang di desa mereka. Sebagai kepala desa, apa yang harus dia lakukan.
Ustaz Sakari kemudian mendekati Bu Rati yang masih terisak di samping tubuh lunglai putrinya. Ia meletakkan tangannya di dekat kepala Ratmi tanpa menyentuh, seolah sedang memagarinya dengan sisa-sisa doa yang masih menggetarkan udara.
"Bu Rati," panggil Ustaz Sakari dengan suara yang kini jauh lebih lembut.
"Bu Rati tidak usah takut. Tenangkan hati Ibu. Ingatlah, lindungan Allah itu pasti dan jauh lebih luas dari kegelapan apa pun yang mencoba menerobos masuk tanpa izin."
Beliau mengambil napas dalam-dalam, memberikan ketenangan yang sangat dibutuhkan di tengah suasana yang mencekam itu.
"Setan hanya bisa menakuti-nakuti, tapi ia tidak punya kuasa atas hamba-hamba-Nya yang berserah diri. Perbanyaklah zikir. Selama kita berpegang pada Allah, tidak akan ada satu pun makhluk yang sanggup melampaui kehendak-Nya."
Bu Rati mengangguk pelan, air matanya perlahan berhenti mengalir berganti dengan pancaran ketabahan yang muncul dari keyakinan. Kata-kata Ustaz Sakari seperti air sejuk yang memadamkan bara api ketakutan di dadanya.
Setelah memastikan keadaan benar-benar kondusif, Ustaz Sakari pun pamit. Langkah kakinya yang tenang namun mantap meninggalkan halaman rumah Bu Rati, menyisakan warga yang kini mulai membubarkan diri dengan membawa rasa takut sekaligus perenungan yang dalam.