Hidup Dewa sudah cukup runyam diputusin Sasha, keuangannya hampir kolaps, dan menjadi bulan-bulanan takdir. Tapi takdir memutuskan untuk bercanda lebih kejam
Paket cincin untuk pacarnya Sasha nyasar ke apartemen Dian, dosen killer yang bikin satu kampus bergidik.
Dian mulai curiga Dewa adalah penguntit rahasia, merekrutnya mejadi asisten pribadi—dengan ancaman nilai. Dewa malah terjebak dalam permainan dekan genit yang suka dengan Dian.
Tapi kenapa ada perasaan aneh yang muncul di antara interogasi dan kopi panas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Untukmu
Warung Kopi "Pak Kumis", Jalan Melati.
Hari Senin Dewa duduk dengan tubuh remuk seperti mobil bekas kecelakaan. Lututnya ber plester, punggungnya berteriak, dan harga dirinya — yang seharusnya sudah hancur — entah bagaimana masih bertahan di sudut kecil hatinya.
Dompet di meja atas Rp 1.010.000
Tujuh hari tujuh malam darah, keringat, dan air mata (hampir).
Roby meluncur duduk di seberang, nampan nasi campur lengkap di tangan. "Lo masih disini, bro, bukannya Lo menjaga warnet?"
"'Warnet kena razia satpol PP, anak anak bukannya main game tapi, buka situs judol," ucapnya lemas.
"Trus lu ngapain buka hape ?"
Dewa tidak menjawab membuka ponsel, browsing marketplace dengan jari-jari yang gemetar scroll, scroll sebuah cincin.
Ia ingin mengakhiri semuanya, membuktikan kepada semua orang, kepada orang yang disayangi bahwa dia, tanpa uang Papanya, tanpa nama keluarga, tanpa jaringan — bisa memberikan yang terbaik, meskipun yang terbaik itu hanya satu juta sepuluh ribu rupiah.
Cincin perak dengan batu safir sintetis. Harga satu juta tiga belas ribu rupiah, tiga ribu kurang.
Dewa menatap sahabatnya mengunyah menjengkelkan, " By, pinjam gue tiga ribu."
Roby tidak bertanya untuk apa, mungkin dia tahu atau tidak peduli, mengulurkan tiga lembar seribu dari dompet tebalnya penuh kertas misteri, "Bunga sepuluh persen, kamu besok bayar tiga ribu tiga ratus."
Ia tidak memprotes, klik "Beli Sekarang." mengisi alamatnya dengan tangan bergetar bukan karena lelah, tapi sesuai dengan harapan.
Dewa menatap layar menampilkan "Pesanan Berhasil" dengan senyuman aneh — tidak bahagia, tapi berbahaya melawan dunia dengan satu cincin murah dan harga diri yang tersisa.
"Gue tidur," katanya, berdiri dengan lutut yang masih ber plaster.
"Belum bayar bunga," Roby mengingatkan.
"Besok."
Ia masuk ke kamarnya — kotak 2x3 meter dengan kasur di lantai — dan untuk pertama kali dalam tujuh hari, tidur dengan senyuman.
Di luar, Roby menatap nasi campur yang sudah dingin, dan bergumam pada diri sendirinya: "Gila, Dewa sudah gila."
--
Tiga hari kemudian.
Langit Jakarta menangis dengan kejamnya. Hujan deras mengguyur sejak pagi, mengubah jalanan menjadi sungai kecil dan langkah menjadi pertaruhan.
Dewa berdiri di antrean kantor pos kampus, nomor 27 dari 30 orang yang semuanya tampak tidak sabar. Payung birunya — bocor di tiga titik strategis — meneteskan air ke bahu kiri, lengan kanan, dan sekujur punggung yang sudah basah kuyup sejak 10 menit lalu.
Di tangannya, kotak kecil berpita merah, cincin murah, sederhana. Tapi miliknya, hasil kerja 7 hari 7 malam, ayam yang kabur, badut yang dicoret-coret, dan lemari jati yang hancur.
"Ini dia," Dewa melangkah maju saat nomor 26 dipanggil. "Bukti gue bisa."
Tidak untuk Sasa, tidak untuk memenangkan kembali, tapi untuk mengakhiri bahwa dia tidak gagal, hanya... belum berhasil.
\=\=
Di dalam kantor pos, petugas bernama Budi — pria 40-an dengan kacamata tebal dan senyum yang menunjukkan dia sudah terlalu lama melihat drama mahasiswa — mengambil kotak dari tangannya
"Cincin, Mas?"
"Cincin."
"Buat pacar?"
Dewa berhenti sejenak. "Buat... bukti."
Laki laki bertopi itu tidak bertanya lagi, dia sudah cukup lama di posisi beberapa jawaban tidak perlu dijelaskan.
Formulir pengiriman diletakkan di meja. Dewa mengisi dengan tangan basah:
> Nama Pengirim: — (dikosongkan, ditulis "Rahasia 🤫")
Nama Penerima: Seseorang
Alamat: Apartemen Melati 4-12
Isi: Cincin
Nilai: Rp 50.000 (bohong, demi asuransi murah)
Pesan: Maaf belum bisa kasih yang terbaik. Tapi ini bukti gue serius. Call me?
Tetesan air jatuh dari payung bocor tepat di angka "4" di formulir.
Tinta biru — yang seharusnya tahan air — mulai luntur. Angka "4" berubah bentuk, ujungnya melar, menjadi sesuatu yang mirip huruf "A."
Dewa tidak sadar terlalu sibuk membayangkan ekspresi Sasa saat membuka kotak. Apakah dia akan terkejut? Apakah dia akan menyesal putus? Apakah dia akan —
Tetesan kedua lebih besar lebih kejam.
Jatuh tepat di "12." Angka "1" menyatu dengan "2", menjadi "12B" yang tidak beraturan.
Ia masih tidak sadar membayangkan senyum Sasa, yang mungkin — hanya mungkin — akan menjadi miliknya lagi.
"Sudah, Mas?" tanya Budi, melihat formulir yang kini bertuliskan "A-12B" tanpa curiga.
"Sudah." Dewa menyerahkan formulir, menyimpan nomor resi dengan hati-hati seperti menyimpan tiket lotre terakhir, dan berjalan keluar ke hujan dengan langkah yang hampir bisa disebut bangga.
Payung bocornya berkibar liar di angin. Air mengalir dari rambut ke leher ke punggung. Tapi ia tidak peduli sudah mengirimkan sesuatu yang nyata, tidak bisa dianggap remeh.
Laki laki itu tidak melihat formulir dengan tulisan "A-12B" dimasukkan ke tumpukan paket lain. Tidak melihat Budi mengklasifikasikannya ke jalur Apartemen Anggrek, bukan Apartemen Melati. Tidak melihat bahwa cincinnya — hasil 7 hari 7 malam kerja serabutan — sekarang menuju tujuan yang salah menuju unit sudut, lantai dua, Apartemen Anggrek A-12B.