NovelToon NovelToon
Ixevons

Ixevons

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat / Action
Popularitas:338
Nilai: 5
Nama Author: Riahe

"Sebutkan namaku saat waktunya tiba, Riezky..."
Dua puluh tahun lalu, Kerajaan Ixevon runtuh dalam satu malam. Raja Thomas gugur setelah menyegel iblis Malakor, dan Ratu Rebecca tewas demi menyelamatkan putra tunggal mereka.
Kini, Riezky Ixevon tumbuh di desa nelayan terpencil. Ia tak tahu siapa dirinya, hanya pemuda yang berjuang menjinakkan kutukan Petir Biru dan Api Merah di tubuhnya. Satu-satunya dunianya adalah Lyra, seorang janda nelayan yang merawatnya dengan kasih sayang sejak bayi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riahe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DERMAGA PERPISAHAN

Pagi itu, pelabuhan Aethelgard tidak seperti biasanya. Jika dulu Riezky berangkat ke Redhenvous hanya dilepas oleh doa lirih ibunya dan lambaian tangan Sabrina yang cuek, kini suasananya jauh berbeda. Kabar keberangkatan Sang Pelindung telah menyebar secepat angin laut ke seluruh penjuru kota.

Riezky berdiri di dermaga kayu, tas kain sederhana tersampir di bahunya. Di depannya, Lyra menatapnya dengan mata berkaca-kaca namun penuh kebanggaan. Ia merapikan kerah baju anaknya untuk terakhir kali.

"Hati-hati, Nak. Jangan lupa makan, dan jangan terlalu memaksakan diri," bisik Lyra lembut.

"Tenang saja, Bu. Aku pergi bareng Paman Valerius, dia sudah seperti pengasuh pribadiku sekarang," canda Riezky untuk mencairkan suasana.

Sabrina berdiri sedikit di belakang Lyra dengan tangan bersilang di dada. Ia melemparkan sebuah kantong kecil berisi persediaan obat-obatan herbal ke arah Riezky. "Jangan bikin malu Aethelgard di negeri orang. Kalau kotamu ini kenapa-napa selama aku yang jaga, kamu harus bayar aku dua kali lipat!"

Riezky tertawa lebar sambil menangkap kantong itu. "Siap, Bos!"

Saat ia berbalik menuju kapal yang sudah disiapkan, Riezky tertegun. Puluhan warga Aethelgard berdiri di sepanjang dermaga. Ada para penambang yang dulu bekerja bersamanya, hingga anak-anak kecil yang menganggapnya pahlawan.

Mereka semua bersorak, meneriakkan nama Riezky. Bagi mereka, Riezky tetaplah pemuda nelayan yang rendah hati, namun kini ia berangkat untuk memikul beban yang lebih besar. Sosok ikonik pemuda nelayan yang dulu hanya bergelut dengan jaring dan ombak, kini melangkah menuju kapal besar untuk menghadapi dunia.

"Sudah dramanya? Ayo naik, pasang surut air tidak akan menunggu air matamu kering," gerutu Valerius yang sudah berada di atas kapal, sibuk memeriksa tali-temali.

Riezky pun melangkah naik. Saat kapal mulai menjauh dari bibir pantai, ia melihat warga masih melambai dari kejauhan. Aethelgard perlahan mengecil di cakrawala, tertutup oleh buih lautan yang putih. Valerius akan menuntun perjalannya sekali lagi, melewati samudra luas menuju tempat di mana misteri "Malako" dan kain bayinya berasal.

Perjalanan untuk menemukan jati diri telah dimulai. Tentang siapa sebenarnya dia, dan mungkin saja... tentang siapa orang tuanya yang telah menitipkannya pada arus laut belasan tahun silam.

Kapal kayu yang membawa mereka membelah ombak dengan stabil. Setelah beberapa jam meninggalkan dermaga Aethelgard, daratan kini benar-benar sudah tidak terlihat. Yang tersisa hanyalah sejauh mata memandang hamparan air biru yang berkilau terpapar sinar matahari.

Valerius berdiri di dek sambil memegang pagar pembatas, menoleh ke arah Riezky yang tampak sangat tenang menikmati hembusan angin laut.

"Kuat juga kamu, nggak mabok laut," ucap Valerius sambil bersantai, sedikit terkejut melihat muridnya tidak terlihat mual sama sekali meski kapal dihantam ombak cukup besar.

Riezky menoleh, memberikan tatapan datar yang sedikit lucu. "Iya juga ya... padahal aku nelayan," ucap Riezky dengan nada satir yang kental.

Valerius terdiam sejenak, lalu menepuk jidatnya sendiri. "Masuk akal..." ucap Valerius merasa tertegur. Ia lupa bahwa sebelum menjadi "Pahlawan Aethelgard", Riezky sudah menghabiskan separuh hidupnya di atas perahu, bergulat dengan jaring dan badai kecil setiap harinya. Laut sudah seperti rumah kedua baginya.

Selama perjalanan yang panjang itu, Riezky benar-benar melihat dunia dalam skala yang berbeda. Dari atas dek, ia menyaksikan pemandangan yang tak pernah ia temukan di pesisir Aethelgard

Perjalanan Riezky dan Valerius ternyata jauh lebih berwarna daripada sekadar menatap ombak biru. Setelah seminggu di lautan, kapal mereka akhirnya bersandar di sebuah pelabuhan kecil yang menjadi gerbang menuju daratan luas. Namun, itu barulah permulaan.

Dari pelabuhan, mereka harus menempuh jalur darat yang menantang. Riezky kembali ke insting lamanya sebagai pemuda desa yang tangguh.

Kadang mereka berjalan kaki menyusuri jalan setapak di pinggir hutan yang udaranya terasa jauh lebih lembap daripada Aethelgard. Kadang pula, keberuntungan berpihak pada mereka; Riezky berhasil menjinakkan seekor kuda liar dengan pendekatan yang tenang—mengingatkannya pada caranya menjinakkan Harry dulu—untuk mempercepat perjalanan mereka melintasi padang rumput.

"Paman, kita ini sebenarnya mau ke mana? Kakiku sudah mau lepas rasanya," keluh Riezky suatu pagi saat mereka sedang duduk di bak belakang kereta kuda milik seorang pedagang sayur yang mereka tumpangi secara cuma-cuma ("nebeng") menuju pasar terdekat.

"Sabar, Riez. Jawaban besar tidak pernah ada di pinggir jalan. Kita harus masuk lebih dalam," jawab Valerius sambil bersedekap, matanya tetap waspada melihat sekeliling.

Hingga akhirnya, setelah melewati deretan bukit yang hijau dan sungai-sungai jernih yang mengalir tenang, udara mulai berubah. Aroma kayu yang dibakar dan suara dentingan logam dari kejauhan mulai terdengar. Arsitektur bangunan di sekitar mereka pun mulai berubah—atap-atap melengkung yang estetis dan gerbang-gerbang kayu tinggi menyambut pandangan mereka.

Mereka tiba di sebuah desa yang tampak tenang namun menyimpan wibawa kuno. Di sinilah, menurut Valerius, tinggal seseorang yang memahami bahasa benang dan sejarah yang tidak tertulis di buku.

Riezky turun dari kereta kuda pedagang itu, membetulkan letak tasnya. Ia meraba kain bayi yang ia simpan di balik bajunya. Jantungnya berdegup lebih kencang. Ia merasa bahwa di tempat inilah, setidaknya, sebuah jawaban kecil tentang siapa dirinya akan segera ditemukan.

"Ayo," ajak Valerius singkat sambil melangkah menuju sebuah rumah kayu besar yang dikelilingi pohon sakura yang mulai berguguran. "Jangan bengong saja."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!