Raka adalah pria yang selalu menunda banyak hal dalam hidupnya pekerjaan, keputusan, bahkan perasaannya sendiri.
Bagi Raka, semua selalu bisa dilakukan nanti. Selalu ada waktu. Selalu ada alasan untuk berkata, “ya mungkin besok.”
Namun semuanya berubah ketika Lala, seorang perempuan yang sederhana, jujur, dan penuh keberanian, masuk ke dalam hidupnya. Lala bukan hanya membuat Raka tertawa, tapi juga perlahan memaksanya menghadapi hal yang selama ini ia hindari: keputusan tentang cinta dan masa depan.
Ketika masa lalu Raka kembali muncul dan keraguan mulai menguji hubungan mereka, Raka harus memilih—tetap menjadi orang yang selalu menunda, atau akhirnya berani mengatakan “hari ini.”
Sebuah kisah komedi romantis hangat tentang cinta, keraguan, dan keberanian untuk tidak lagi menunggu besok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Budiarto Consultant, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu yang Tidak Direncanakan
Pagi itu Lala bangun lebih cepat dari biasanya.
Bukan karena alarm.
Bukan juga karena pekerjaan.
Melainkan karena satu hal yang cukup sederhana… tapi membuatnya terus memikirkan sejak semalam.
Status baru.
Pacar.
Ia masih belum sepenuhnya terbiasa dengan kata itu.
Selama hampir satu tahun, hubungannya dengan Raka selalu berada di wilayah abu-abu. Tidak jelas. Tidak pasti. Kadang dekat sekali, kadang tiba-tiba menjauh.
Dan sekarang?
Sekarang mereka resmi.
Lala tersenyum kecil sambil melihat layar ponselnya.
Ada chat dari Raka semalam.
"Selamat tidur ya, pacar."
Lala menutup wajahnya dengan bantal.
“Duh…”
Ia sendiri tidak tahu kenapa setiap membaca kata pacar, jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.
Tapi pagi ini ada rencana.
Hari ini Lala ingin memberi kejutan kecil.
Ia masuk ke dapur dan mulai memasak.
Menu sederhana.
Ayam goreng.
Nasi hangat.
Dan sambal kesukaan Raka.
Sambil memasak, ia bergumam.
“Pacar pertama harus diperlakukan baik.”
Lalu ia berhenti sebentar.
“Meskipun kadang agak bodoh.”
Ia tersenyum.
Sekitar satu jam kemudian, Lala sudah berdiri di depan kantor Raka.
Gedung dua lantai yang cukup sederhana.
Ia belum pernah datang langsung ke sini sebelumnya.
Biasanya mereka bertemu di luar.
Kafe.
Angkringan.
Atau jalan-jalan di Malioboro.
Lala menarik napas.
“Semoga dia senang.”
Ia masuk ke dalam kantor.
Seorang resepsionis menyambutnya.
“Selamat pagi, ada yang bisa dibantu?”
Lala tersenyum.
“Saya mau ketemu Raka.”
“Mas Raka di ruang kerja. Lurus lalu belok kanan.”
“Terima kasih.”
Lala berjalan pelan menuju ruangan itu.
Namun langkahnya tiba-tiba berhenti sebelum sampai di pintu.
Dari dalam ruangan terdengar suara tawa.
Suara perempuan.
Lala mengintip sedikit dari celah pintu.
Dan di situlah ia melihatnya.
Raka sedang duduk di meja kerjanya.
Di depannya berdiri seorang perempuan tinggi dengan rambut panjang dan pakaian rapi.
Perempuan itu terlihat sangat percaya diri.
Dan… cantik.
Mereka sedang melihat dokumen yang sama.
Tangan mereka hampir bersentuhan saat menunjuk sesuatu di kertas.
Perempuan itu tertawa lagi.
Raka juga tertawa.
Lala tiba-tiba merasakan sesuatu yang aneh di dadanya.
Perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Tidak nyaman.
Aneh.
Dan sedikit panas.
Ia berdiri diam beberapa detik.
Lalu mundur sedikit dari pintu.
Tak lama kemudian perempuan itu keluar dari ruangan.
Saat melewati Lala, perempuan itu tersenyum sopan.
“Permisi.”
Lala hanya mengangguk kecil.
Begitu perempuan itu pergi, Lala menarik napas panjang.
“Tenang.”
Ia mengetuk pintu.
“Tok tok.”
Raka langsung menoleh.
Matanya membesar.
“LALA?!”
Ia berdiri dengan wajah terkejut sekaligus senang.
“Kamu ke sini?”
Lala mengangkat kotak makanan di tangannya.
“Aku bawain makan siang.”
Wajah Raka langsung bersinar.
“Serius?”
“Iya.”
Raka cepat-cepat mengambil kotak itu.
“Wah aku lagi lapar banget!”
Lala masuk dan duduk di kursi tamu.
Raka membuka kotak makanannya dengan semangat.
“Wah ayam goreng!”
Ia mencium aromanya.
“Ini buatan kamu?”
“Iya.”
“Wah aku beruntung banget punya pacar.”
Lala mencoba tersenyum.
Tapi pikirannya masih memikirkan perempuan tadi.
Akhirnya ia bertanya dengan santai.
“Tadi siapa?”
Raka yang sedang mengambil nasi berhenti.
“Hah?”
“Tadi yang dari sini.”
“Oh.”
Raka terlihat santai.
“Client.”
“Client?”
“Iya.”
Lala mengangguk pelan.
“Namanya?”
Raka berpikir sebentar.
“Clara.”
Lala menatap meja.
“Dia cantik ya.”
Raka masih sibuk makan.
“Iya lumayan.”
Suasana tiba-tiba berubah.
Lala langsung berdiri.
“Yaudah aku pulang.”
Raka hampir tersedak nasi.
“Hah?!”
Ia cepat-cepat menelan makanannya.
“Kenapa?”
Lala mengambil tasnya.
“Gak apa-apa.”
Raka berdiri panik.
“Ini jelas ada apa-apa!”
Lala berjalan menuju pintu.
Raka mengejarnya.
“Lala tunggu!”
Lala berhenti tapi tidak menoleh.
“Apa?”
“Kamu marah?”
“Enggak.”
“Ini jelas marah.”
Lala akhirnya menoleh.
“Kamu tadi bilang dia lumayan.”
Raka bingung.
“Iya… emang lumayan.”
Lala menghela napas panjang.
“Raka…”
“Iya?”
“Kalau cewek nanya ‘dia cantik ya?’ itu bukan pertanyaan.”
Raka semakin bingung.
“Terus apa?”
Lala menatapnya serius.
“Perangkap.”
Raka membeku di tempat.
“Perangkap?”
“Iya.”
Raka terlihat seperti komputer yang sedang error.
“Otak gue lagi loading.”
Lala menyilangkan tangan.
“Pokoknya kamu salah jawab.”
Raka memegang kepalanya.
“Tapi kamu nanya!”
“Itu bukan pertanyaan!”
“TERUS ITU APA?!”
Lala hampir tertawa tapi menahannya.
Raka berjalan mondar-mandir.
“Oke tunggu… gue harus jawab ulang.”
Lala mengangkat alis.
“Silakan.”
Raka menunjuk ke arah pintu tempat Clara tadi keluar.
“Dia… lumayan.”
Lalu ia menunjuk Lala.
“Kamu… luar biasa.”
Lala mencoba tetap serius.
“Kamu belajar dari mana?”
Raka mengambil ponselnya.
“Google.”
Lala akhirnya tidak bisa menahan tawa.
Ia tertawa cukup lama sampai Raka ikut tertawa.
Raka menghela napas lega.
“Untung kamu ketawa.”
“Kenapa?”
“Gue kira kita putus di minggu kedua.”
Lala menatapnya.
“Kamu tau gak…”
“Apa?”
“Itu pertama kalinya aku cemburu.”
Raka terdiam.
“Serius?”
Lala mengangguk kecil.
Raka tersenyum lebar.
“Berarti kamu sayang banget sama aku.”
Lala langsung memukul lengannya.
“Jangan pede!”
Raka tertawa.
“Sedikit boleh lah.”
Lala duduk lagi.
“Sekarang makanannya dimakan.”
Raka langsung duduk dengan patuh.
“Siap!”
Ia makan dengan lahap.
Sambil makan ia berkata pelan.
“Lala.”
“Iya?”
“Makasih ya.”
“Buat apa?”
“Udah cemburu.”
Lala mengerutkan kening.
“Itu malah kamu kasih?”
Raka tersenyum.
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena berarti aku penting buat kamu.”
Lala menatapnya beberapa detik.
Lalu tersenyum kecil.
“Sedikit.”
Raka tertawa.
Dan siang itu di kantor kecil itu…
Untuk pertama kalinya mereka merasakan cemburu kecil yang justru membuat hubungan mereka semakin dekat.
Sementara di luar sana…
Doni baru saja masuk kantor dan melihat Raka tertawa bersama Lala.
Ia berbisik sendiri.
“Wah… Raka udah berubah.”
Ia berhenti sebentar lalu menambahkan.
“Bahaya.”