Tessa hanyalah gadis biasa yang hidupnya digerakkan oleh takdir dan kesalahan orang lain. Pernikahan mendadak dengan Nickolas Adhitama, pria kaya dan dingin, bukanlah pilihannya, tapi kenyataan yang harus dihadapinya.
Nick, yang terbiasa menguasai segalanya, kini berhadapan dengan Tessa, wanita lembut, teguh, tapi menantang yang membuatnya kehilangan kendali.
Sementara Tessa berjuang menjaga harga diri dan kemandirian, Nick harus belajar bahwa hati manusia tak bisa diatur dengan kekuasaan atau uang.
Di dunia di mana satu keputusan bisa menjadi perang psikologis, akankah cinta tumbuh di antara ketegangan dan luka masa lalu, ataukah mereka hanya menjadi tawanan takdir yang kejam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ludiantie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 21
Makan malam belum benar-benar selesai ketika Nick berdiri.
Kursinya bergeser cukup keras hingga beberapa kepala menoleh.
Ia tidak meminta izin.
Tidak memberi senyum formal.
Tangannya langsung menggenggam pergelangan tangan Tessa kuat.
Ia membawa Tessa keluar ke balkon. Pintu kaca tertutup dengan bunyi yang cukup keras.
Begitu mereka sendirian, ia melepaskan tangannya.
Berbalik cepat.
“Aku bilang jangan bicara.”
Suaranya tidak lagi rendah terkendali.
Ia membentak.
Tidak berteriak penuh, tapi cukup keras untuk membuat dada Tessa bergetar.
“Kau bilang kalau aku tidak boleh membiarkan mereka meremehkanku,” jawab Tessa, berusaha tetap tegak.
Nick tertawa pendek. Bukan lucu. Sinis.
“Dan kau pikir dengan menyela ayahku di meja makan itu membantu?”
“Aku hanya...”
“Jangan potong aku ketika sedang berbicara, tessa.”
Jawab nick dengan kalimatnya tegas dan tajam.
Ia melangkah mendekat. Ruang di antara mereka nyaris hilang.
“Aku tidak perlu kau berlagak seperti pahlawan di hadapan keluargaku.”
Tatapannya menyala. Rahangnya mengeras.
“Kau tahu apa yang kau lakukan barusan? Kau memberi mereka panggung.”
“Aku cuma tidak mau diam...”
“Diam itu bukan lemah!”
Bentakan kali ini lebih jelas.
Suara angin malam seperti berhenti.
Nick mengusap wajahnya kasar, frustrasi.
“Ini rumahku. Itu ayahku. Itu urusanku.”
Nada suaranya keras. Penuh tekanan.
“Kau istriku. Tugasmu berdiri di sisiku, bukan mengambil alih.”
Kalimat itu berat. Dominan.
Tessa terdiam sesaat, tapi ia tetap menatapnya.
“Aku tidak mau hanya jadi bayangan.”
Tatapan Nick langsung berubah.
Lebih gelap.
“Selama kau bersamaku, tidak ada yang menjadikanmu bayangan.”
Suaranya turun sedikit, tapi tetap keras.
“Jangan pernah berasumsi aku tidak mampu melindungimu.”
“Aku tidak bilang begitu.”
“Tapi tindakanmu bilang begitu.”
Satu langkah lagi ia mendekat. Hampir memojokkannya ke pagar balkon.
“Aku tidak suka dibantah. Apalagi di depan mereka.”
Kalimat itu jelas.
Tidak ada ruang diskusi.
“Kalau aku bilang diam, maka diam.”
Hening menggantung.
Napas Tessa terasa berat.
Nick menatapnya beberapa detik lebih lama.
Darah masih mendidih di wajahnya.
Lalu suaranya sedikit melemah, bukan lembut, tapi lebih terkendali.
“Ayahku sedang menguji. Dia ingin melihat celah diantara kita,”
Ia menunjuk ke arah dalam rumah.
“Dan kau hampir memberinya satu celah untuk dia manfaatkan,”
Tessa menelan ludah pelan,
“Jadi aku harus apa?”
Pertanyaan itu terdengar lebih kecil.
Nick terdiam dua detik.
Lalu menjawab tegas,
“Percaya padaku.”
Itu jelas perintah.
“Kalau ada yang menyerangmu, aku yang bicara. Bukan kau.”
Ia merapikan jasnya dengan gerakan tajam.
Emosinya belum sepenuhnya reda.
“Dan jangan pernah lagi membantahku di depan keluargaku.”
Itu garis batas.
Jelas.
Tanpa kompromi.
Ia membuka pintu balkon, lalu berhenti sebentar.
Tanpa menoleh.
“Masuk.”
Satu kata.
Perintah.
Dan malam itu, semua orang di ruang utama langsung tahu,
Nick dalam suasana yang tidak bisa diganggu.
Begitu Nick dan Tessa kembali masuk ke ruang utama, atmosfer berubah.
Tidak ada yang bertanya.
Tapi semua orang tahu.
Nick berjalan lebih dulu. Tegap. Wajahnya masih keras. Tidak tersenyum pada siapa pun.
Tessa mengikutinya setengah langkah di belakang.
Di sudut ruangan, Ayah Nick berdiri dengan segelas minuman di tangan.
Ia memperhatikan dengan tajam.
Ia melihat cara Nick menarik kursi Tessa tanpa bicara.
Melihat cara Nick berdiri sedikit lebih depan, seolah membentuk garis tak terlihat antara istrinya dan keluarga lain.
Ayahnya tersenyum tipis.
Bukan puas.
Bukan marah.
Tertarik.
Ia melihat sesuatu barusan di balkon, bukan kata-kata, tapi bahasa tubuh.
Nick marah.
Dan itu berarti ada retakan yang bisa ditekan.
Ayahnya melangkah mendekat.
“Nick.” Dengan nada yang terdengar santai. Seolah tak terjadi apa-apa.
“Kita perlu bicara soal proyek Singapura.”
Nick menoleh pelan.
“Besok.”
“Ini penting.” desak ayahnya lagi,
“Besok.”
Jawaban singkat. Tegas.
Ayahnya menatap Tessa sekilas.
“Keputusan bisnis besar tidak bisa ditunda hanya karena urusan rumah tangga.”
Kalimat itu disengaja.
Beberapa orang di sekitar pura-pura tidak mendengar.
Nick tidak langsung menjawab.
Ia mengambil gelas minum dari nampan pelayan.
Kemudian meneguknya.
Lalu meletakkan kembali dengan bunyi cukup keras.
“Ayah ingin bicara proyek?”
Suaranya tenang.
Tapi ada bara di dalamnya.
“Baik.”
Ia menoleh ke arah salah satu direktur senior yang berdiri di dekat rak pajangan.
“Pak Rendi.”
Semua kepala langsung menoleh.
“Saya rasa sudah waktunya mereka tahu.”
Ayahnya sedikit mengernyit.
“Tahu apa?”
Nick menatap lurus ke arah ayahnya.
“Bahwa mulai kuartal depan, seluruh keputusan ekspansi Asia Tenggara berada penuh dibawah kendaliku.”
Ruangan langsung sunyi.
Beberapa sepupu saling pandang.
Tante Livia berhenti mengaduk minumannya.
Ayahnya tertawa kecil.
“Kendali penuh? Sejak kapan?”
“Sejak aku membeli 18 persen saham tambahan minggu lalu.”
Hening total.
Itu bukan keputusan kecil.
Itu pernyataan perang.
Ayahnya perlahan menurunkan gelasnya.
“Kau lagi-lagi tidak berdiskusi dengan keluarga,”
“Tidak perlu.” jawab nick tegas,
Nick melangkah mendekat.
“Ayah ingin bicara soal fondasi? Sekarang aku punya cukup struktur untuk berdiri sendiri.”
Nada suaranya tidak meledak.
Tapi keras. Final.
“Dan untuk memperjelas...” Nick menoleh ke seluruh ruangan.
“Tidak ada keputusan pribadiku yang akan mempengaruhi stabilitas perusahaan. Karena aku sendiri yang mengamankan stabilitas itu.”
Kalimat itu jelas ditujukan untuk menghentikan gosip tentang Tessa.
Ayahnya menatapnya lama.
Ini bukan lagi anak yang bisa ditekan lewat meja makan.
Ini pria yang siap merebut panggung.
“Berani sekali,” ucap ayahnya pelan.
Nick tidak tersenyum.
“Bukan berani tapi memang perlu.”
Tatapan mereka bertahan beberapa detik.
Dua generasi.
Dua ego.
Dua pusat kekuasaan.
Lalu Nick memecah ketegangan dengan satu keputusan terakhir.
“Pak Rendi, kirim memo internal malam ini. Perubahan struktur kepemilikan dan otoritas efektif besok pagi.”
Ayahnya langsung menoleh.
“Kau mengumumkannya di sini?”
“Aku hanya menegaskannya di sini.”
Bukan lagi Nick yang emosional di balkon.
Ini Nick yang menyerang balik.
Menggunakan kekuasaan.
Menggunakan angka.
Menggunakan momentum.
Dan tanpa perlu menyebut nama Tessa lagi, ia sudah memastikan,
Tidak ada yang berani menganggap istrinya sebagai celah.
Ayahnya tersenyum tipis.
Tapi kali ini senyum itu berbeda.
Bukan menguji lagi.
Melainkan menghitung langkah berikutnya.
Permainan baru saja naik level.
capek banget keknya jadi tessa
kalo aku jadi tessa keknya gak akan sanggup deh soalnya aku gtogian arangnya😁🤭
sweet banget😍😍😍
padahal baru kenal tessa tapi di bertanggung jawab dengan statusnya sebagai suami dg begitu sempurna