Bram, lelaki yang berperawakan tinggi besar, berwajah dingin, yang berprofesi sebagai penculik orang-orang yang akan memberi imbalan besar untuk tawanan orang yang diculiknya kali ini harus mengalah dengan perasaan cintanya.Ia jatuh cinta dan bergelora dengan tawanannya. Alih-alih menyakiti dan menjadikan tawanannya takut atas kesadisan. Dia malah jatuh cinta dan menodai tawanannya atas nama nafsunya. Ia mengulur waktu agar Belinda tetap jadi sandranya. walaupun harus mengembalikan uang imbalannya dan ancaman dari pembunuh bayaran ketiga, dia tidak peduli. malam itu dia menodai Belinda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CACASTAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BELINDA YANG BAIK
"Heii, perempuanku menyuruh kalian makan, berarti itu perintah!"
"Makanlah!"
"Siap, Bos!"
mereka lalu berebutan mengambil makanan yang ada di ransel hitam, lalu mengambil masing-masing satu makanan dan memakannya.
Belinda tertawa melihat ke arah belakang tingkah kaki tangan yang menurutnya lucu. Dia belum pernah merasakan pengalaman berjalan-jalan di hutan dan memiliki pengawal yang lucu seperti mereka.
Pengawal ayahnya mukanya menyeramkan, wajahnya dingin, tidak pernah tersenyum dilihatnya. Para pengawal ini beragam ada yang pendek, tinggi, ada yang kurus, gemuk, dan banyak tingkahnya. Ada yang mukanya lucu, ada yang mukanya hancur, ada yang di pipinya penuh jahitan, dan ada yang giginya rontok menghitam.
"hahahaha!"
Belinda tertawa melihat tingkah mereka. Belinda senang sekali ada di sini bersama Bram, orang yang dia sayangi. Ia juga senang Para kaki tangan itu menemani mereka. Bram memberikan suasana baru dalam hidupnya, pengalaman baru, dan sensasi percintaan yang belum pernah dialaminya sebelumnya.
Hidupnya dulu serasa di penjara dan terkekang. Bram memberikannya pengalaman tak terlupakan. Bahkan pengalaman petualangan dunia percintaan orang dewasa yang dilihatnya di telenovela dirasakannya, malahan lebih dari itu. Malam menggairahkan dan membuatnya ketagihan. Dia bahagia, dia bahagia bersama Bram.
11 jam perjalanan memasuki kedalaman hutan untuk sampai ke pondok kecil itu. Sebuah pondok kecil ada di dalam hutan. Yang ada cerobong asapnya.
Mereka memasukinya. Bram menurunkan Belinda. Punggungnya terasa kebas, gadis ringan ini kalau dipangku berjam-jam juga akan terasa berat.
Belinda yang kepanasan lalu minum air dari botol tadi. Ia kian kemari memasuki seluruh ruangan. Lalu masuk kamar kecil yang ada di pondok itu. Ahh, ini kamar mungil seperti cerita dongeng. Pangeran dan tuan putri dalam pondok kecil, bersama 8 kurcaci.
Belinda lalu membaringkan badannya, meregangkan badan, tangan, dan kakinya..dia sangat senang.
Sementara Bram dan 2 kaki tangan duduk di depan perapian menunggu malam berganti pagi. Sementara 6 kaki tangan yang lain berjaga di luar, membuat api unggun dan memanggang seekor kelinci.
Malam yang dingin di tengah hutan membuat Belinda terlelap.
Dia menguap.
"Apakah ini cuma mimpi dan besok aku akan terbangun?"
Dia memegangi perutnya yang sedikit nyeri.
Harusnya dia sudah menstruasi tapi kenapa belum sampai hari ini gumamnya. "Duh, perutku nyeri."
Belinda mengingat-ingat kembali kapan pastinya tanggal ia menstruasi, dia lalu menghitung dengan jemarinya. Ya, dia sudah telat beberapa hari. Ditambah pula perutnya yang sakit ini membuat ia tidak nyaman. Sakit perut yang tidak pernah ia rasa sebelumnya.
Dulu pernah ia merasakan sakit perut karena usai makan sayuran yang disajikan oleh pelayan di rumahnya. Pelayan itu lalu dipecat ayahnya karena teledor menyajikan sayuran yang kurang higienis padanya.
Tapi sakit perut kali ini berbeda, ini lebih seperti kembung tapi menekan di bagian bawah perutnya. Padahal dia mengantuk sekali. Tapi sakit perut ini menyita perhatiannya. Dia berusaha memicingkan matanya. Mengelus perutnya dan berharap sakit di perutnya hilang rasanya.
Ia ingin tidur nyenyak malam ini.
Brrrr...udara di Hutan Larangan dingin sekali. Dia enggan ke perapian itu. Lebih enak berbaring di kasur pondok ini.
Kasur yang sangat tipis, sangat tipis dibandingkan springbed di kamarnya. Apalagi aroma di kamar itu, lembab. Sangat berbeda dengan aroma kamarnya.
minim eksplore gestur, ekspresi, mimik.... jadi pembaca ga bisa membayangkan emosi karakter dan mengenal sifat karakter.
itu seperti membaca cepat tanpa jeda
tidak ada internal monolog yang menguatkan karakterisasi
deskripsi malah lebih menonjol di bagian 'itu' padahal sebagai pembaca aku lebih pengen kenal karakterisasi...
maap kak kalau nda berkenan 🙏
sama chapter ini perlu double check typo 😆