Di Benua Awan Sembilan, kekuatan ditentukan oleh Qi dan garis keturunan. Li Chen hanyalah seorang pelayan di Sekte Pedang Azure yang menderita cacat pada meridiannya, membuatnya mustahil untuk berkultivasi melampaui tingkat dasar. Namun, saat ia jatuh ke Jurang Keputusasaan setelah dikhianati oleh saudara seperguruannya, ia menemukan makam kuno milik Kaisar Pedang yang Menantang Surga.
Li Chen mewarisi sebuah teknik terlarang: Seni Penelan Bintang, yang memungkinkannya menyerap energi dari artefak yang rusak dan emosi negatif musuhnya. Dengan pedang patah yang memiliki jiwa haus darah, Li Chen memulai perjalanannya. Ia tidak mencari keabadian untuk menjadi dewa, melainkan untuk menghancurkan sistem "Langit" yang menentukan nasib manusia sejak lahir. Dari seorang sampah sekte menjadi penguasa semesta, Li Chen harus memilih: menjadi penyelamat dunia atau iblis yang akan meruntuhkan gerbang surga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marcel ( rxel ), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5: Panggung Para Jenius dan Sang Bayangan
Sinar matahari pagi menyentuh puncak-puncak menara Sekte Pedang Azure, mengubah salju yang membeku menjadi kilauan permata. Namun, suasana di Lapangan Giok Putih sama sekali tidak sedingin cuaca. Ribuan murid berkumpul, menciptakan dengungan kegembiraan yang memenuhi udara. Hari ini adalah Ujian Seleksi Murid Luar, sebuah acara tahunan yang menentukan siapa yang layak mendaki lebih tinggi ke jajaran Murid Dalam, dan siapa yang akan dibuang ke luar gunung sebagai pelayan seumur hidup.
Di tribun utama, duduk para penatua dengan jubah biru tua yang melambai ditiup angin. Di tengah mereka adalah Penatua Wang, ayah dari Wang Hu, yang wajahnya terlihat muram dan tegang. Matanya terus menyapu kerumunan, mencari seseorang yang telah membuat putranya pulang dalam keadaan hancur secara mental kemarin malam.
"Siapa pun yang melakukannya, aku akan mengulitinya hidup-hidup," gumam Penatua Wang, jari-jarinya meremas sandaran kursi batu hingga retak.
Di sudut lapangan yang paling tidak mencolok, seorang pemuda dengan jubah pelayan abu-abu yang sudah lusuh berdiri dengan tenang. Li Chen. Ia telah membersihkan noda darah dari tubuhnya dan menyembunyikan auranya menggunakan teknik pernapasan dari Seni Penelan Bintang. Di mata orang lain, ia masihlah si "Gelas Retak" yang tidak berguna. Namun, di dalam Dantiannya, pusaran hitam itu berputar dengan tenang, siap meledak kapan saja.
"Lihat itu, bukankah itu si sampah Li Chen?" bisik seorang murid di dekatnya.
"Kenapa dia di sini? Bukankah seharusnya dia membelah kayu? Apa dia pikir keajaiban akan terjadi hanya karena dia berdiri di lapangan ujian?"
Li Chen mengabaikan cemoohan itu. Matanya tertuju pada platform batu di tengah lapangan, di mana sebuah Batu Penguji Roh berdiri setinggi tiga meter. Batu itu akan bersinar dengan warna yang berbeda sesuai dengan tingkat kultivasi dan kemurnian Qi seseorang.
"Ujian dimulai!" teriak seorang diaken sekte. "Satu per satu, maju dan tunjukkan hasil latihan kalian!"
Satu per satu murid maju. Cahaya biru dan hijau bergantian menyinari lapangan.
"Tahap Kelima Pengumpulan Qi! Lulus!"
"Tahap Keenam Pengumpulan Qi! Luar biasa, bakat tingkat menengah!"
Hingga tiba giliran seorang pemuda dengan perban di kepalanya. Wang Hu. Meskipun pedang gioknya hancur dan mentalnya terguncang, ayahnya telah memberinya pil pemulih darurat semalam. Ia berjalan dengan angkuh, mencoba menutupi ketakutannya. Saat ia menyentuh batu itu, cahaya biru terang meledak.
"Tahap Ketujuh Pengumpulan Qi! Hampir menyentuh Pembersihan Sumsum! Lulus dengan pujian!"
Wang Hu menarik napas lega. Ia menoleh ke arah kerumunan dan matanya menangkap sosok Li Chen. Rasa benci dan takut bergejolak di dadanya. Ia berbisik kepada diaken yang bertugas, yang kemudian mengangguk dengan senyum licik.
"Selanjutnya... Li Chen!" teriak diaken itu dengan nada mengejek.
Suasana lapangan tiba-tiba sunyi, lalu meledak dalam tawa. Seorang pelayan mengikuti ujian seleksi murid luar? Ini adalah lelucon terbesar dalam sejarah Sekte Azure.
Li Chen berjalan maju dengan langkah mantap. Setiap langkahnya terasa berat bagi orang yang memperhatikannya dengan saksama, seolah-olah ia membawa beban gunung di pundaknya. Saat ia berdiri di depan Batu Penguji Roh, ia merasakan tatapan tajam Penatua Wang yang seolah ingin menembus jantungnya.
"Mulailah, bocah. Jangan membuang waktu kami," desis diaken itu.
Li Chen meletakkan telapak tangannya pada permukaan batu yang dingin. Ia tidak langsung melepaskan energinya. Ia teringat kata-kata Kaisar Pedang: “Jangan biarkan mereka melihat seluruh kegelapanmu, atau mereka akan menghancurkanmu sebelum kau bisa terbang. Berikan mereka cukup untuk membuat mereka takut, tapi jangan cukup untuk membuat mereka waspada.”
Li Chen mengalirkan Qi-nya. Namun, ia tidak memberikan Qi murni. Ia menggunakan Seni Penelan Bintang untuk membalikkan aliran energi batu tersebut.
SREEEET!
Batu Penguji Roh yang biasanya mengeluarkan cahaya cerah tiba-tiba bergetar hebat. Cahayanya mulai meredup, seolah-olah ada sesuatu yang mengisap cahaya dari dalamnya. Penatua di tribun berdiri dengan kaget.
"Apa yang terjadi pada Batu Penguji itu?"
Tiba-tiba, dari kegelapan di dalam batu, muncul percikan cahaya hitam keunguan yang sangat pekat. Cahaya itu meledak dengan kekuatan yang begitu besar hingga retakan mulai muncul di permukaan batu giok yang sangat keras itu.
"Tahap... Tahap Kedelapan Pengumpulan Qi?!" teriak diaken itu, suaranya gemetar.
Seluruh lapangan terdiam. Hening yang mematikan. Seorang pelayan yang meridiannya dianggap mati, tiba-tiba muncul dengan tingkat kultivasi yang melampaui sebagian besar murid luar jenius?
"Tidak mungkin! Dia pasti berbuat curang!" Wang Hu berteriak dari pinggir lapangan, wajahnya pucat pasi. "Dia menggunakan artefak terlarang atau ilmu hitam! Ayah, tangkap dia!"
Penatua Wang melompat dari tribun, mendarat di tengah lapangan dengan dentuman keras. Auranya sebagai ahli ranah Inti Emas (Golden Core) menekan seluruh area, membuat murid-murid tingkat rendah berlutut karena tekanan.
"Li Chen!" suara Penatua Wang menggelegar seperti guntur. "Berani-beraninya kau menggunakan trik kotor di ujian sekte! Katakan, dari mana kau mendapatkan kekuatan iblis ini?"
Li Chen berdiri tegak di bawah tekanan aura Penatua Wang. Tulangnya berderak, tapi ia tidak berlutut. Pusaran hitam di dalam dirinya justru berputar lebih cepat, mencoba menyerap tekanan aura yang menindasnya.
"Trik kotor?" Li Chen mendongak, matanya berkilat dingin. "Saat Wang Hu menindasku selama bertahun-tahun, Anda menyebutnya 'pelatihan'. Saat aku bangkit dengan kekuatanku sendiri, Anda menyebutnya 'ilmu hitam'. Apakah keadilan di Sekte Azure hanya berlaku bagi mereka yang memiliki nama keluarga Wang?"
"Lancang!" Penatua Wang mengangkat tangannya, energi biru pekat terkumpul di telapak tangannya. "Sekte tidak butuh sampah yang membangkang!"
Tepat sebelum Penatua Wang menyerang, sebuah suara dingin dan merdu bergema dari langit, seolah-olah datang dari awan itu sendiri.
"Penatua Wang, sejak kapan seorang penatua diizinkan mencampuri ujian murid secara langsung?"
Sesosok wanita turun dari langit, berdiri di atas sehelai kelopak bunga teratai putih yang terbang. Ia mengenakan jubah biru muda yang elegan dengan sulaman awan perak. Namanya adalah Penatua Su, salah satu dari sedikit penatua wanita yang dikenal karena kejujuran dan kekuatannya yang setara dengan Penatua Wang.
"Penatua Su, bocah ini menggunakan teknik yang mencurigakan! Lihat Batu Pengujinya, dia merusaknya!" protes Penatua Wang.
Penatua Su mendarat dengan anggun di samping Li Chen. Ia menatap batu yang retak itu, lalu beralih ke Li Chen. Ia merasakan sesuatu yang aneh pada pemuda ini—sesuatu yang sangat dalam dan berbahaya—namun ia juga melihat keteguhan yang jarang ditemukan.
"Batu itu retak karena tidak mampu menahan kepadatan Qi-nya, bukan karena sihir hitam," ujar Penatua Su tenang. "Li Chen, kau telah mencapai Tahap Kedelapan. Menurut aturan sekte, siapa pun yang mencapai tahap ini sebelum usia dua puluh tahun berhak menantang salah satu dari 'Sepuluh Murid Luar Teratas' untuk memperebutkan posisi Murid Dalam."
Li Chen membungkuk hormat pada Penatua Su. "Terima kasih atas keadilan Anda, Penatua."
Lalu, Li Chen berbalik. Jarinya menunjuk langsung ke arah Wang Hu yang sedang bersembunyi di balik pengikutnya.
"Wang Hu. Kau bilang aku sampah. Kau bilang aku noda bagi sekte. Hari ini, di depan semua orang, aku menantangmu di Panggung Hidup dan Mati. Apakah kau berani, atau kau hanya berani menggonggong di bawah ketiak ayahmu?"
Seluruh lapangan kembali gempar. Panggung Hidup dan Mati adalah tempat di mana semua aturan sekte dikesampingkan. Hanya satu orang yang boleh turun dari sana dalam keadaan hidup atau setidaknya utuh.
Wang Hu gemetar. Ia tahu Li Chen yang sekarang bukanlah Li Chen yang dulu. Tapi di bawah tatapan ribuan murid dan mata tajam ayahnya, ia tidak punya pilihan. Jika ia menolak, ia akan kehilangan kehormatannya selamanya.
"Baik! Aku akan membunuhmu dan mengakhiri lelucon ini!" teriak Wang Hu dengan suara yang dipaksakan berani.
Penatua Wang tersenyum licik. Panggung Hidup dan Mati? Bagus. Di sana, aku bisa memberikan Wang Hu 'Pil Ledakan Qi' secara rahasia untuk memastikan sampah ini mati tanpa sisa.
"Pertarungan akan dilakukan satu jam dari sekarang!" diaken mengumumkan.
Li Chen berjalan menuju pojok lapangan untuk bermeditasi. Di dalam pikirannya, ia berkomunikasi dengan Kaisar Pedang.
"Kau terlalu berisiko, Nak," suara sang kaisar terdengar. "Penatua itu pasti akan memberikan sesuatu pada putranya."
"Biarkan saja," jawab Li Chen dalam hati, senyum tipis muncul di wajahnya. "Semakin banyak energi yang mereka berikan pada Wang Hu, semakin banyak yang bisa kutelan. Aku butuh lompatan terakhir untuk mencapai ranah Pembersihan Sumsum, dan Wang Hu adalah 'makanan' terbaik yang bisa kupinta hari ini."
Satu jam berikutnya akan menentukan masa depan Li Chen. Apakah ia akan menjadi debu yang terlupakan, ataukah ia akan mulai menelan seluruh Sekte Azure dari dalam?