NovelToon NovelToon
Jangan Cintai Aku, Tuan Muda!

Jangan Cintai Aku, Tuan Muda!

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Teen
Popularitas:475
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Lana hanyalah gadis desa bersahaja yang membawa koper tua ke ibu kota demi sebuah cita-cita. Namun, ia tak menyangka bahwa beasiswa dari paman jauhnya datang dengan "syarat" tak tertulis: tinggal satu atap dengan tujuh pria elit di sebuah penthouse mewah.

​Arka sang CEO dingin, Bumi si dokter lembut, hingga Kenzo sang aktor idola—ketujuh sahabat ini memiliki dunia yang terlalu berkilau bagi Lana. Awalnya ia dianggap gangguan, namun perlahan kepolosan Lana memicu persaingan panas di antara mereka. Saat perjanjian persahabatan mulai retak demi satu cinta, siapakah yang akan Lana pilih? Ataukah ia hanya bidak dalam permainan para Tuan Muda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lana dengan Sentuhan Bedak Tipis

Suara mesin mobil mewah milik Arka yang halus berhenti tepat di depan drop-off gedung Fakultas Ekonomi. Lana menarik napas panjang, membiarkan oksigen memenuhi paru-parunya yang mendadak terasa sempit. Di dalam tas kulitnya, kotak kayu putih gading itu tidak ia bawa, namun "isinya" kini melekat di wajahnya. Sebelum turun, ia sempat melirik sekilas ke arah spion tengah.

Di sana, ia melihat pantulan dirinya yang berbeda. Ia tidak lagi memakai "wajah menyerah" yang pucat. Dengan tangan yang sedikit lebih stabil pagi tadi, ia telah membubuhkan bedak tabur transparan pemberian Bumi—begitu tipis hingga hampir tak terlihat, namun cukup untuk membuat kulitnya tampak sehalus porselen dan menghilangkan kilap keringat akibat rasa cemas. Bibirnya merona peach lembut, memberikan kesan segar yang sangat natural.

"Nona Lana, kita sudah sampai," ucap sopir pribadi Arka dengan sopan.

"Terima kasih, Pak," jawab Lana pelan.

Ia melangkah keluar. Begitu sepatunya menyentuh lantai lobi kampus yang mengilat, Lana merasakan sensasi yang berbeda. Biasanya, ia akan langsung menunduk, menatap ujung sepatunya sendiri sampai masuk ke dalam kelas. Namun hari ini, ia teringat pesan Bumi: Jangan pernah nundukin kepala lagi.

Lana membetulkan letak tasnya, menegakkan bahunya yang mungil, dan mulai berjalan.

Koridor kampus pagi itu sudah mulai ramai. Mahasiswi-mahasiswi dengan gaya hidup jetset berlalu-lalang, aroma parfum mahal mereka saling bertabrakan di udara. Saat Lana melewati sekumpulan mahasiswa yang sedang duduk di selasar, ia merasakan beberapa pasang mata mulai tertuju padanya. Namun, berbeda dengan kemarin, ia tidak merasa "telanjang". Lapisan bedak tipis itu seolah-olah menjadi baju zirah transparan yang melindunginya dari tatapan tajam.

"Eh, itu si Lana, kan?" bisik seorang mahasiswi yang sedang memegang gelas kopi bermerek.

"Kok dia kelihatan... beda ya hari ini? Lebih bersih gitu mukanya," sahut temannya.

Lana mendengar bisikan itu, namun ia terus berjalan. Hatinya berdesir. Ternyata, perubahan kecil yang ia lakukan memiliki dampak. Ia merasa sedikit lebih berani. Sedikit lebih pantas untuk berpijak di atas lantai marmer ini.

Ia masuk ke dalam ruang kelas Makroekonomi. Suasana kelas yang biasanya terasa seperti ruang eksekusi, kini terasa sedikit lebih bersahabat. Lana memilih kursi di barisan tengah, bukan lagi di pojokan paling belakang yang gelap. Ia ingin mencoba "terlihat", meski hanya sedikit.

Saat ia sedang mengeluarkan buku catatannya, Sisca dan gengnya masuk ke kelas. Langkah mereka yang angkuh terhenti tepat di samping meja Lana. Sisca, dengan riasan mata yang sangat tebal dan bibir merah menyala, menatap Lana dengan dahi berkerut.

"Wah, wah, liat siapa ini. Si anak kampung kayaknya habis dapet 'pencerahan' ya?" sindir Sisca sambil bersedekap. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Lana, mencoba mencari celah atau kesalahan pada riasan Lana.

Lana merasakan jantungnya berdegup kencang, namun ia teringat tangan hangat Bumi di bibirnya semalam. Ia tidak membuang muka. Ia menatap balik mata Sisca, meski dengan tatapan yang masih lembut.

"Selamat pagi, Sisca," ucap Lana tenang.

Sisca tertegun sejenak. Ia tidak menyangka akan mendapatkan sapaan yang begitu tenang dari gadis yang kemarin hanya bisa menangis di toilet. Ia memperhatikan kulit wajah Lana. "Lo pake apa? Kok tumben nggak pucet kayak mayat? Pake bedak murahan yang beli di pasar ya?"

Teman-teman Sisca tertawa, namun tawa mereka terdengar sedikit dipaksakan karena mereka pun menyadari bahwa Lana tampak jauh lebih cantik dan segar hari ini.

"Ini resep dari dokter keluarga saya," jawab Lana singkat, mengikuti gaya bicara yang disarankan Bumi. Ia tidak menjelaskan lebih lanjut, ia hanya kembali membuka bukunya seolah-olah keberadaan Sisca bukan lagi ancaman yang besar.

Sisca mendengus kesal karena tidak mendapatkan reaksi "ketakutan" yang ia harapkan. "Dih, sok elit banget pake 'dokter keluarga'. Gak asik banget gaya lo, Lan!" Sisca mengibaskan rambutnya dan berjalan menuju kursinya di depan.

Lana menghela napas lega setelah mereka menjauh. Tangannya yang memegang pulpen perak pemberian Arka terasa sedikit dingin karena tegang, namun ia tersenyum tipis. Ia berhasil. Ia berhasil melewati konfrontasi pertama tanpa air mata.

Selama jam kuliah berlangsung, Lana merasa jauh lebih fokus. Rasa minder yang biasanya menyumbat otaknya kini mulai mencair. Ia berani mencatat dengan rajin, bahkan sempat mengangkat tangan sekali untuk bertanya pada profesor, meskipun suaranya masih terdengar sangat kecil. Perubahan mungil pada wajahnya ternyata memicu perubahan besar pada keberaniannya untuk bersuara.

Setiap kali ia merasa ragu, ia akan menyentuh bibirnya pelan, merasakan sisa-sisa pelembap yang masih ada di sana. Baginya, bedak tipis dan pelembap bibir ini bukan sekadar alat kecantikan. Ini adalah bukti bahwa ia disayangi. Ini adalah bukti bahwa ia tidak sendirian di kota ini.

Saat jam istirahat tiba, Lana berjalan menuju kafetaria. Ia tidak lagi bersembunyi di pojokan. Ia memesan makan siang dan duduk di meja yang cukup terbuka. Ia melihat pantulan dirinya di dinding kaca kafetaria. Di bawah cahaya lampu yang terang, wajahnya tampak bercahaya secara alami. Bedak tabur transparan itu melakukan tugasnya dengan sangat baik, mengunci kelembapan dan memberikan kesan kulit yang sehat tanpa cela.

"Lana?"

Seorang mahasiswa dari kelasnya, yang biasanya tidak pernah menyapanya, tiba-tiba berhenti di depan mejanya. "Lo... yang tadi nanya di kelas Pak Hendra, kan? Gue baru sadar, lo punya suara yang bagus pas lagi jelasin pendapat."

Lana terkesima. Ia tersenyum malu-malu. "Terima kasih... Nama saya Lana."

"Gue Satria. Eh, lo kelihatan seger banget hari ini. Beda sama kemarin yang kayaknya lagi sakit," ucap mahasiswa itu sambil tersenyum ramah sebelum pergi.

Lana terpaku. Sebuah pujian tulus dari orang asing. Sesuatu yang kemarin terasa mustahil ia dapatkan di kampus elit ini. Ia menyadari bahwa ketika ia mulai menghargai dirinya sendiri, orang lain pun mulai memperlakukannya dengan cara yang berbeda. Sentuhan bedak tipis itu ternyata menjadi jembatan bagi orang lain untuk melihat siapa dia sebenarnya di balik label "anak desa".

Namun, di tengah rasa bahagianya, Lana tetap waspada. Ia tahu bahwa dunia ini tidak selalu ramah. Ia melihat Sisca dari kejauhan yang masih menatapnya dengan pandangan tidak suka. Tapi bagi Lana, hari ini adalah sebuah kemenangan kecil.

Sore harinya, saat mobil jemputan tiba, Lana masuk ke dalam dengan perasaan yang sangat puas. Ia tidak lagi menyandarkan kepala ke kaca dengan lesu. Ia duduk tegak, memandangi jalanan Jakarta dengan mata yang penuh binar. Ia sudah tidak sabar untuk sampai ke penthouse dan menceritakan keberhasilannya hari ini pada Bumi.

Ia ingin menunjukkan pada Bumi bahwa "resep"-nya bekerja dengan sempurna. Bahwa Lana yang sekarang bukan lagi Lana yang mudah diinjak-injak. Meskipun perjuangannya masih panjang, dan mungkin badai yang lebih besar akan datang, namun setidaknya untuk hari ini, Lana telah menemukan perisainya.

"Terima kasih, Kak Bumi," bisiknya pelan sambil mengusap pipinya yang masih terasa halus oleh bedak tabur.

Lana menyadari satu hal penting hari ini: kecantikan tidak selalu tentang meniru orang lain. Terkadang, kecantikan adalah tentang memiliki cukup keberanian untuk menjadi diri sendiri dengan sedikit bantuan dari orang-orang yang peduli. Dan dengan bedak tipis serta pelembap bibir itu, Lana baru saja memulai babak baru dalam hidupnya—babak di mana ia bukan lagi korban, melainkan seorang pejuang yang sedang belajar untuk bersinar.

1
Bri Anto
sunting mantap
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!