NovelToon NovelToon
Sang Legenda Telah Kembali

Sang Legenda Telah Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: ilwa nuryansyah

Albus adalah puncak evolusi manusia—seorang jenius yang mampu membedah hukum alam tanpa bantuan doa.

Di dunia yang dikuasai oleh dogma agama, keengganannya untuk bersujud kepada para dewa membuatnya dicap sebagai **"Iblis Tanpa Langit."** Lima puluh tahun lalu, ia dikhianati dan diburu oleh aliansi kerajaan suci, hingga akhirnya tewas dalam kepungan ribuan ksatria dan pendeta.

Namun, maut hanyalah jeda bagi inteleknya.

Albus terbangun kembali 50 tahun kemudian di tubuh ilwa Eldersheath putra dari keluarga bangsawan agung yang dikenal memiliki sirkuit mana yang cacat. Dunia kini telah berubah menjadi teokrasi yang kaku, di mana sains dianggap sihir terlarang. Dengan ingatan yang menyimpan ribuan formula magis kuno dan dendam yang dingin, Albus mulai memperbaiki tubuh barunya dari dalam bayang-bayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 15

Keheningan di dalam pondok kayu itu mendadak menjadi sangat menyesakkan.

Penjelasan Gilios tentang kengerian *Omni-Overlord* masih terngiang-ngiang di udara, seperti gema dari masa lalu yang agung sekaligus mengerikan.

Aris menundukkan kepala, menatap lantai kayu yang kasar, sebelum akhirnya mengangkat wajahnya dengan tatapan yang jauh lebih berat.

"Ada satu hal yang mengganjal, Gilios," suara Aris memecah keheningan dengan nada yang rendah.

"Anak itu... dia tidak dilahirkan dengan sempurna. Dia menderita *Aura-Lock Syndicate*."

Mendengar nama penyakit itu, Gilios yang tadinya sedang menyesap minuman kerasnya langsung tersedak.

Ia terbatuk-batuk kecil, matanya melebar menatap Aris seolah pria di depannya baru saja mengatakan sebuah lelucon yang paling buruk di dunia.

"Apa kau bilang? *Aura-Lock*?" Gilios meletakkan botolnya dengan bantingan keras di atas meja.

"Jika benar begitu, maka semua bakat *Omni-Overlord* yang kujelaskan tadi hanyalah sampah! Itu sia-sia belaka!"

Gilios berdiri, berjalan mondar-mandir di depan perapian dengan tangan yang gelisah. "Kau tahu hukum alam, Aris. Penyakit itu adalah belenggu absolut. Semakin besar potensi mana yang dimiliki seseorang, semakin kuat *Aura-Lock* akan meremukkan tubuhnya. Penyakit itu akan menghambat sirkulasi mananya secara total, dan seiring bertambahnya usia, fisiknya akan melemah hingga ia tidak akan bisa berdiri lagi. Anak itu... dia adalah raksasa yang dirantai di dalam seluas kotak korek api."

Gilios berhenti melangkah dan menoleh tajam ke arah Aris. "Dan satu hal lagi yang membuatku heran... bagaimana mungkin seorang anak manusia murni bisa mengidapnya? Setahuku, risiko *Aura-Lock* hanya muncul jika ada pernikahan beda ras yang tidak selaras. Apakah keluarga Eldersheath sudah gila hingga memperbolehkan pernikahan beda ras secara sembarangan? Bukankah mereka sangat terobsesi dengan kemurnian darah ksatria?"

Aris menghela napas, menyandarkan punggungnya ke kursi yang terasa keras. "Itulah misterinya. Ibunya, Elara, adalah manusia murni. Dan ayahnya, Rovelt... meskipun dia orang asing, dia terdaftar sebagai manusia. Kami tidak tahu dari mana asal-usul penyakit itu muncul pada Ilwa. Itu seperti kutukan yang jatuh begitu saja dari langit."

Gilios mendengus kasar. "Manusia atau bukan, penyakit itu tidak peduli. Tanpa aliran mana yang lancar, empat disiplin *Omni-Overlord* itu tidak akan pernah bisa bangkit. Dia hanya akan memiliki nama tanpa kekuatan."

Aris terdiam sejenak, lalu sebuah senyum kecil dan licik perlahan muncul di sudut bibirnya.

Ia menatap Gilios dengan mata yang berkilat penuh kemenangan. "Tapi Gil... kau melupakan satu detail kecil yang sangat krusial."

"Apa?" tanya Gilios ketus.

"Kristal Aptitudo," ucap Aris perlahan. "Kristal itu hanya akan menunjukkan nama *Jobdesk* jika ada mana yang menyentuhnya. Jika Ilwa benar-benar lumpuh secara mana karena *Aura-Lock*, maka kristal itu seharusnya tetap diam dan gelap. Namun kenyataannya, kristal itu memberikan jawaban. Itu artinya..."

Gilios tertegun.

Matanya menyipit saat otaknya yang tajam mulai memproses implikasi dari ucapan Aris. "Itu artinya... bocah itu secara sadar atau tidak, telah berhasil mengeluarkan sedikit mananya untuk memicu kristal tersebut. Dia telah mulai meretakkan belenggunya sendiri."

Aris memukul lututnya dengan semangat, tawanya meledak di ruangan sempit itu. "Tepat! Itulah alasanku datang kemari dengan semangat seperti ini! Jika di usia delapan tahun dengan penyakit mematikan itu dia sudah bisa memicu kristal legendaris, bayangkan apa yang bisa dia lakukan jika kita melatihnya dengan benar! Ini adalah harapan, Gil! Jika kita berhasil membangkitkan setidaknya separuh dari kekuatan *Omni-Overlord* itu, keluarga Eldersheath tidak hanya akan kembali ke masa jayanya, tapi kita akan memimpin benua ini menuju era baru!"

Aris berdiri, mendekati Gilios dan menepuk bahu kawan lamanya itu. "Keluarga ini butuh pahlawan, bukan sekadar ksatria berbakat seperti Leo. Dan Ilwa... dia adalah kunci yang selama ini kita cari."

Gilios menepis tangan Aris dengan kasar, wajahnya kembali mengeras karena kesal, meskipun ada rasa ingin tahu yang tidak bisa ia sembunyikan di balik matanya yang lelah. "Lalu untuk apa kau menceritakan semua omong kosong ini padaku, Aris? Untuk apa kau bertanya padaku dengan wajah menjengkelkan itu?"

Aris terkekeh, tidak terganggu oleh amarah Gilios. "Karena aku butuh monster untuk melatih calon monster, Gil. Dan aku tidak bisa melakukannya sendirian di barak itu jika Robert terus mengawasiku. Aku butuh bantuanmu."

Gilios hanya mendengus, kembali duduk di kursinya dan menatap api yang mulai mengecil.

Aris tetap berdiri di sana, menatap punggung Gilios dengan keyakinan penuh bahwa umpan yang ia lemparkan telah tertelan.

Di luar pondok, angin hutan menderu lebih kencang, seolah-olah alam sendiri sedang mempersiapkan diri untuk badai yang akan dibawa oleh bocah berambut putih yang kini menjadi pusat perhatian dua veteran perang tersebut.

------

Suasana di dalam pondok kayu itu kembali jatuh ke dalam keheningan yang berat setelah Aris melontarkan tawarannya.

Gilios terdiam, matanya yang sedalam sumur tua itu terpaku pada lidah api yang mulai mengecil di perapian.

Ada beban yang tak kasat mata di bahunya—beban dari masa lalu, dari luka-luka lama, dan dari sebuah rahasia medis yang ia simpan sendiri selama bertahun-tahun.

Aris memperhatikan kawan lamanya itu dengan seksama.

Ia bisa melihat sedikit getaran pada tangan kiri Gilios yang bersandar di lengan kursi.

Sebagai orang yang telah bertempur di sampingnya selama puluhan tahun, Aris tahu betul bahwa Gilios tidak hanya sekadar pensiun karena usia.

"Aku paham kondisimu sekarang, Gilios," suara Aris melembut, kehilangan nada jenakanya.

"Terutama tentang penyakit yang perlahan menggerogoti sirkuit manamu itu. Kau dan aku tahu, tabib mana pun di kerajaan ini sudah menyerah padamu. Tapi bukankah ini... satu-satunya cara bagimu untuk tetap hidup?"

Gilios mendongak, matanya berkilat tajam di bawah naungan alisnya yang lebat. "Apa maksudmu, Aris? Jangan mencoba bermain teka-teki denganku."

Aris berdiri, berjalan perlahan mengelilingi ruangan yang sempit itu.

"Kau sendiri yang mengatakannya tadi. Seorang *Omni-Overlord* memiliki kemampuan **Mana Architect**. Dia bisa memanipulasi struktur makhluk hidup dan benda mati. Bukankah itu berarti kekuatannya mendekati esensi dari sihir penyembuh tingkat dewa? Jika dia bisa menyusun ulang struktur mana yang rusak, maka kemungkinan besar... dia bisa mengangkat penyakitmu dan mengembalikan kejayaan sirkuit manamu yang hancur."

Gilios tertegun. Ia terdiam selama beberapa saat, membiarkan kata-kata Aris meresap ke dalam benaknya. Memang benar, secara teori, seorang *Mana Architect* adalah satu-satunya orang yang mampu melakukan intervensi langsung pada inti mana seseorang tanpa menyebabkan kematian.

Namun, Gilios adalah seorang realis yang pahit.

"Itu hanyalah teori, Aris," gumam Gilios sambil menatap telapak tangannya yang kasar. "Bocah itu bahkan belum bisa mengendalikan napasnya sendiri karena *Aura-Lock*. Mengharapkan seorang anak berusia delapan tahun untuk menguasai teknik arsitektur mana yang hilang demi menyembuhkanku... itu seperti mengharapkan seekor semut untuk memindahkan gunung. Kemungkinannya bahkan tidak sampai satu persen."

Aris menghela napas panjang, ia mengambil lenteranya yang sudah mulai meredup. "Satu persen tetaplah sebuah kemungkinan, Gil. Dibandingkan dengan nol persen yang kau miliki sekarang, bukankah satu persen itu adalah sebuah keajaiban?"

Aris berjalan menuju pintu pondok, berhenti sejenak sebelum membukanya. "Aku pulang dulu. Pikirkanlah baik-baik. Jangan terlalu memaksakan diri jika hatimu memang sudah mati untuk bertarung lagi. Aku tidak akan memaksamu melatih anak itu jika kau lebih memilih membusuk di hutan ini."

Aris menarik pintu kayu itu, membiarkan angin dingin malam masuk ke dalam ruangan. Namun, tepat saat kaki Aris hendak melangkah keluar ke kegelapan hutan, suara serak Gilios menghentikannya.

"Tunggu."

Aris berhenti, namun ia tidak berbalik, hanya menolehkan sedikit kepalanya.

Gilios berdiri dari kursinya, sosoknya tampak menjulang tinggi di bawah bayangan api yang hampir padam. "Aku... aku akan mengambil pekerjaan itu. Aku akan menjadi *In-truk-tur* gadunganmu di barak itu."

Aris yang mendengar hal itu langsung membalikkan badannya.

Sebuah senyuman lebar, tulus dan penuh kemenangan, merekah di wajahnya.

Ia tertawa kecil melihat kawan lamanya itu masih saja kesulitan mengucapkan istilah militer yang baru.

"Instruktur, Gil. Namanya Instruktur!" ralat Aris dengan nada senang yang tak terbendung. "Dan kau tidak akan menjadi instruktur gadungan. Kau akan menjadi mimpi buruk paling mengerikan yang pernah dilihat oleh para kadet itu, termasuk Ilwa."

Gilios hanya mendengus kasar, ia mengambil pedang besarnya dan mulai mengasahnya dengan batu asah, menciptakan suara gesekan logam yang tajam dan dingin. "Jangan banyak bicara. Bawa anak itu padaku bulan depan. Jika dia tidak mati di tanganku dalam satu minggu, mungkin kita bisa membicarakan tentang satu persen kemungkinan itu lagi."

Aris mengangguk mantap. "Kesepakatan tercapai. Sampai jumpa di barak, Instrukur Gilios."

Aris pun melangkah keluar, menutup pintu pondok dengan rapat.

Ia berjalan menembus hutan yang gelap dengan langkah yang jauh lebih ringan.

Di dalam pondok, Gilios terus mengasah pedangnya dengan ritme yang stabil.

Matanya tidak lagi menatap api, melainkan menatap kegelapan di sudut ruangan, seolah-olah ia sedang melihat sosok Ilwa yang sedang menunggunya.

Bulan depan, barak pelatihan Eldersheath tidak akan lagi menjadi tempat latihan biasa. Itu akan menjadi arena di mana dua orang yang "patah"—seorang ksatria tua yang sekarat dan seorang penguasa masa lalu yang terperangkap dalam tubuh bocah—akan bertemu untuk menantang takdir yang telah membuang mereka.

Malam itu, takdir dunia kembali berputar pada porosnya, bersiap untuk ledakan yang akan mengguncang pondasi sejarah yang telah lama tertidur.

bersambung...

1
Orimura Ichika
oke sih
Ilwa Nuryansyah
terimakasih banyak 😄😄
black_rose
Karyamu masterpiece teruskan dan semagattt(っ´▽`)っ
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!