NovelToon NovelToon
Bocil Milik Mafia Hyper

Bocil Milik Mafia Hyper

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Obsesi / Cintapertama / Nikahmuda / Mafia / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Pandaimut

Aca Latasya Anesia dikenal sebagai badgirl yang tak pernah tunduk pada siapa pun. Mulutnya tajam, sikapnya liar, dan hidupnya selalu penuh masalah. Tidak ada yang berani mengusiknya sampai sebuah kecelakaan mengubah segalanya. Motor kesayangannya menabrak mobil mewah milik Aron Darios Fernandes. Bukan sekadar CEO muda yang dingin dan berkuasa, Aron adalah sosok di balik organisasi mafia paling berbahaya di kota pria yang namanya saja sudah cukup membuat orang gemetar. Mobilnya rusak. Situasi penuh ketegangan. Namun alih-alih takut, Aca justru menatapnya tajam dan melawan tanpa ragu. Di detik itulah sesuatu yang gelap dan berbahaya tumbuh dalam diri Aron sebuah obsesi. Bukan amarah bukan dendam melainkan keinginan untuk memiliki. Sejak saat itu, hidup Aca tak lagi sama. Ia menjadi target perhatian seorang pria yang tak pernah gagal mendapatkan apa pun yang diinginkannya. Dan yang lebih mengerikan Aron tidak mengenal kata menyerah “Aku tidak tertarik jadi milik siapa pun,” Aca mendesis dingin. Aron hanya tersenyum tipis, matanya penuh dominasi. “Sayangnya kamu tak lagi punya pilihan. Baby girl.” Dalam dunia yang penuh kekuasaan, bahaya, dan permainan gelap, satu hal menjadi pasti. Sekali Aron terobsesi, tidak ada jalan keluar lagi bagi Aca untuk bebas pergi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pandaimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cinta Ditolak Anak Bertindak

DEG!

Aron sedikit terkejut ketika Aca tiba-tiba memeluknya erat karena panik mendengar suara Papanya di telepon.

Tubuh kecil itu menempel di dadanya, tangan Aca mencengkeram jasnya seolah mencari perlindungan.

Namun detik berikutnya, sudut bibir Aron justru terangkat. Senyum miring yang gelap.

“Oh jadi Papamu sudah mencari?” gumamnya pelan di dekat telinga Aca.

Aca langsung mendongak dengan wajah panik. “Om! Ini bukan waktunya bercanda! Papa gue bisa bunuh gue kalau tau gue kabur malam-malam begini.” bisiknya frustasi.

Aron menatap wajah gadis itu lekat-lekat. Mata birunya menyipit sedikit, seolah sedang memikirkan sesuatu yang sangat nakal.

Lalu dengan santai ia berkata, “Kiss me.”

Aca membeku. “Hah?!”

“Kiss me,” ulang Aron tenang.

Aca langsung memukul dada pria itu. “Lo gila ya Om?! Gue lagi panik gini malah disuruh cium lo?!” makinya pada Aron saking kesalnya dia dengan lelaki di sampingnya ini.

Aron tidak bergerak sedikit pun. Justru tangannya naik, menahan dagu Aca dengan lembut tapi kuat.

Matanya berubah dingin. “Aca,” ucapnya pelan.

Lalu pistol yang tadi sempat ia pegang kembali muncul dari tangannya dan dengan santai diarahkan ke dashboard mobil.

Tidak benar-benar mengancam tapi cukup membuat Aca tahu dia serius. “Kau tau aku tidak suka ditolak.”

Aca menelan ludah. “Om…”

“Kiss me baby girl.” ulang Aron untuk ketiga kalinya.

Jantung Aca berdetak kacau. Ia menatap pria itu dengan kesal, marah, tapi juga tidak berdaya. “Lo… lo beneran sinting,” gumamnya.

Namun akhirnya Aca mendekat. Dengan sangat kesal. Ia menempelkan bibirnya cepat ke bibir Aron.

Sekilas saja. Namun Aron bukan tipe pria yang mau dirugikan.

Begitu bibir Aca menyentuh bibirnya, tangan besar Aron langsung menahan belakang kepala gadis itu menariknya kembali.

CUP.

Ciuman kedua jauh lebih dalam. Bukan kasar.

Tapi penuh klaim. Aron menyesap bibir kecil itu perlahan seolah menikmati sesuatu yang sejak tadi ia inginkan.

Aca langsung membelalakkan mata. “MMMPH!”

Ia mencoba mendorong dada Aron. Namun pria itu jauh lebih kuat. Beberapa detik kemudian Aron baru melepaskannya.

Napas Aca terengah. Wajahnya merah padam. “OM GILA!” teriaknya.

Aron hanya menyeka bibirnya dengan ibu jari.

Matanya menatap Aca dengan kilatan obsesi yang semakin jelas.

“Sial…” gumamnya pelan. “Aku benar-benar tidak bisa berhenti memikirkan bibirmu.”

Aca langsung menendangnya. “JANGAN NGOMONG KAYAK GITU!”

Aron tertawa pelan. Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, ia menyalakan mobil dan mulai mengemudi.

“Om! Mau kemana lagi?!”

“Pulang.”

“Ya udah turunin gue!”

“Ke rumahmu.”

Aca membeku. “HAH?”

Aron meliriknya sebentar. “Papamu sudah menelpon. Kalau kau tidak pulang sekarang, masalahnya akan lebih besar.”

Aca langsung panik lagi. “ANJIR IYA!”

Mobil hitam mewah itu meluncur cepat di jalan malam yang basah oleh hujan.

Beberapa menit kemudian. Gerbang besar mansion keluarga Anesia sudah terlihat. Lampu halaman menyala terang.

Aca langsung panik lagi. “OM STOP STOP STOP!”

“Kenapa lagi rubah kecil? berhenti buat masalah sekarang oke.”

“Baju gue!”

Aron melirik mini dress hitam yang dipakai Aca. Gaun itu memang sangat pendek.

Dan jelas tidak cocok untuk pulang ke rumah di jam segini. Aron menghela napas. Lalu ia melepas jas mahal yang ia pakai.

Dan melemparkannya ke tubuh Aca. “Pakai.”

Aca refleks memakainya. Jas itu sangat besar untuk tubuh mungilnya.

Namun cukup menutupi dressnya. Mobil berhenti di depan halaman mansion.

Aca menarik napas panjang. “Gue mati…”

Aron mematikan mesin mobil. “Turun sayang.”

Mereka keluar dari mobil. Di depan pintu mansion. Sudah berdiri dua orang pria. Papa Hendra. Dan Bara.

Tatapan Papa Hendra langsung tajam ketika melihat Aca turun dari mobil pria asing. Namun ekspresinya berubah drastis ketika ia melihat siapa yang berdiri di depan mobil itu.

Aron Darios Fernandes. Pengusaha muda paling berpengaruh yang selama ini ingin ia ajak kerja sama bisnis.

Papa Hendra membelalakkan mata. “T-Tuan Aron?”

Bara juga ikut kaget. “Anjir…”

Aca menunduk sedikit. Papa Hendra menatap putrinya. Lalu menatap Aron. “Tuan Aron anda kenapa bisa bersama putriku?”

Suasana menjadi sangat hening. Aca sudah siap dimarahi. Namun Aron justru menjawab dengan sangat santai. “Dia kekasihku.”

Semua orang langsung membeku.

“Hah?” Bara.

“Apa?” Papa Hendra.

“APA?!” Aca.

Bara langsung berjalan mendekat. Ia menatap Aron dengan wajah kesal setengah bercanda.

“Anjir! Kenapa lo gak bilang kalau pacar lo adek gue?!”

Bara menepuk bahu Aron. “Tau gitu dari dulu gue porotin lo tiap nongkrong!”

Aron hanya tersenyum tipis. Sementara Aca langsung protes. “IHH ABANG!”

“Ishh abang! Om Aron bukan pacar Aca ya! Aca single!” ujar Aca kesal.

Papa Hendra langsung menoleh tajam. “Diam kamu Aca.”

Aca langsung manyun. Papa Hendra kembali menatap Aron dengan sopan. “Tuan Aron, mari masuk dulu.”

Aron menggeleng pelan. “Tidak perlu.”

Ia melirik Aca sebentar. “Aku ke sini hanya untuk mengantar Aca pulang.”

Lalu Aron menatap Papa Hendra dengan serius. “Jangan marahi atau lukai dia.”

Nada suaranya tetap tenang. Tapi ada sesuatu yang sangat jelas di sana. Ancaman halus.

Papa Hendra justru tersenyum lebar. “Tentu saja.”

Ia bahkan terlihat sangat senang. Dalam pikirannya hanya ada satu hal. Jika putrinya benar-benar bersama Aron Masa depan Aca akan sangat terjamin.

Aron adalah pria yang sangat berkuasa. Papa Hendra mengangguk hormat. “Terima kasih sudah mengantar putri saya pulang dengan selamat.”

Aron tidak menjawab. Ia hanya menatap Aca sekali lagi. Tatapan yang dalam. Seolah mengatakan sesuatu tanpa kata.

Aca menatap balik dengan kesal. “Jangan liatin gue kayak gitu Om.”

Aron tersenyum tipis. “Selamat malam, baby girl.”

Lalu ia masuk ke mobilnya kembali. Mesin mobil menyala. Dan perlahan mobil hitam itu meninggalkan halaman mansion.

Aca masih berdiri di sana. Dadanya berdebar aneh. Bara menatap adiknya curiga. “Aca…”

“Apaan?”

“Sejak kapan lo pacaran sama Aron?”

“GUE GAK PACARAN SAMA DIA!”

Bara mengangkat alis. “Terus kenapa dia nganter lo pulang?”

Aca langsung kesal. “Cerita panjang abang.”

Papa Hendra menatap ke arah mobil Aron yang sudah menghilang di ujung jalan. Lalu ia bergumam pelan. “Menarik…”

Ia menoleh ke arah Aca. “Masuk.”

Aca langsung mengikuti dengan malas. Namun tanpa ia sadari di dalam mobil yang melaju menjauh dari mansion itu Aron menyentuh bibirnya sendiri.

Masih mengingat ciuman tadi. Matanya menyipit. Senyumnya perlahan muncul lagi. “Rubah kecil…” gumamnya pelan.

“Kau boleh bilang tidak mau dekat denganku.”

“Tapi sekarang…” Ia menatap jalanan malam di depannya. “Kau sudah terlalu dalam masuk ke duniaku.”

Mobil melaju semakin jauh. Dan obsesi Aron terhadap Aca baru saja dimulai. Pintu mansion tertutup pelan setelah Aron pergi.

Aca langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa ruang tamu dengan wajah kesal. Jas milik Aron masih melekat di tubuhnya, kebesaran dan hampir menutupi seluruh paha mulusnya.

Bara yang sejak tadi memperhatikan adiknya tiba-tiba tertawa keras.

“HAHAHAHAHA!” Tawanya keras sekali sampai menggema di ruang tamu besar itu.

Aca langsung melotot. “APASIH ABANG?!”

Bara bahkan sampai memegang perutnya karena terlalu geli. “Anjir… anjir… ini lucu banget!” katanya di sela tawa.

Papa Hendra hanya menggeleng kecil melihat tingkah anak sulungnya.

“Apa yang lucu?” tanya Aca kesal.

Bara akhirnya mencoba berhenti tertawa, tapi tetap saja sering terkekeh.

“Lo… gak suka sama Aron kan?” tanyanya sambil menyipitkan mata.

Aca langsung menjawab cepat. “ENGGAK!”

Tanpa ragu. Tanpa pikir panjang. Bara langsung tertawa lagi. “HAHAHAHAHA! Gila sih ini!”

Aca makin kesal. “Apaan sih?!”

Bara mendekat, lalu duduk di depan adiknya. “Lo tau gak Aron itu tipe orang yang gak pernah ngejar cewek.”

Aca mendengus. “Terus?”

“Biasanya cewek yang ngejar dia.”

Aca memutar mata. “Ya terus kenapa?”

Bara menyeringai lebar. “Tapi sekarang dia malah tergila-gila sama lo.”

Aca langsung berdiri dari sofa. “HALAH! Mimpi kali dia!”

Bara menatap wajah kesal adiknya dengan tatapan penuh hiburan. “Wah kalau Aron tau lo ngomong gitu, dia pasti ngamuk.”

Aca melipat tangan. “Biarin!”

Bara terkekeh lagi. “Gila sih ini bakal seru banget.”

Malam berikutnya Bara mengendarai mobilnya menuju mansion milik Aron.

Rumah itu jauh lebih besar dari kebanyakan rumah di kota. Sebuah mansion megah dengan penjagaan ketat.

Begitu Bara masuk ke ruang kerja Aron ia langsung melihat sahabatnya itu duduk di kursi besar, sedang membaca beberapa dokumen bisnis.

Aron bahkan tidak mengangkat kepala. “Datang juga akhirnya,” ucapnya tenang.

Bara menyandar santai di sofa. Lalu ia tiba-tiba tertawa lagi.

Aron akhirnya mengangkat kepala, menatap Bara dengan mata dingin. “Kenapa kau tertawa?”

Bara menatapnya dengan wajah penuh hiburan. “Gue baru tau ternyata mafia besar kayak lo bisa jatuh cinta juga.”

Aron menyipitkan mata. “Masalah buat lo.”

Namun Bara justru makin santai. “Apalagi sama adek gue.”

Aron diam. Tatapan birunya sedikit berubah.

Bara menyeringai lebar. “Dan yang paling lucu…”

Ia mencondongkan tubuh. “Aca sama sekali gak suka sama lo.”

Ruangan langsung hening. Aron menatap Bara tanpa ekspresi. Namun rahangnya menegang.

Bara malah makin puas. “Gue bahkan yakin kalau lo ngejar dia… dia bakal makin lari dari lo.”

Beberapa detik hening. Lalu Aron akhirnya bersandar di kursinya. Senyum tipis muncul di wajahnya. “Tak masalah.”

Bara mengangkat alis. Aron menatap jendela malam di sampingnya. Matanya tajam. “Kalau dia lari…”

Senyumnya berubah lebih gelap. “Gue bakal bikin dia hamil anak gue.”

Bara tertawa keras lagi namun setelah sekian detik ia langsung menatap Aron kesal. “Bicara apa lo anjir?!”

“Ya, gue bakal hamilin adek lo.” jawab Aron santai sambil tersenyum miring.

BRAK!

“ARONNJING!” teriak Bara keras.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!