NovelToon NovelToon
Aku, Kamu,Dan Duniamu Yang Lain

Aku, Kamu,Dan Duniamu Yang Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:375
Nilai: 5
Nama Author: firsty aulia

Sora Kalani menghabiskan hidupnya di antara detak mesin jam, menunggu satu detik di mana Ezrael Vance akan menoleh ke arahnya. Namun bagi Ezra, Sora hanyalah pelabuhan tenang tempatnya bersandar sebelum ia kembali berlayar mengejar Liora—balerina yang menjadi pusat dunianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon firsty aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: Mesin yang Terlupakan ​

​Gedung pengadilan yang riuh itu kini berada di belakang mereka, namun kata-kata terakhir Liora Thalassa tentang "mesin ketiga" terus berputar di kepala Sora seperti roda gigi yang tidak sinkron. Di dalam jip Hael yang melaju menjauhi pusat kota, Sora menatap tangannya yang masih sedikit gemetar. Kemenangan atas Ezra ternyata bukan akhir dari sebuah simfoni, melainkan hanya perpindahan kunci nada ke gerakan yang lebih rumit.

​"Hael, apakah kamu percaya ada mesin ketiga?" tanya Sora, suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin yang masuk melalui jendela yang terbuka sedikit.

​Hael terdiam sejenak, matanya fokus pada jalanan yang mulai mengering. "Aris Kalani adalah seorang visioner, Sora. Seorang maestro jarang berhenti pada satu atau dua karya. Jika The Infinite Spring adalah jantung, dan The Chronos Heart adalah wadahnya, maka masuk akal jika ada mesin ketiga yang berfungsi sebagai otak atau pengatur dari semuanya. Sesuatu yang mengunci seluruh sistem agar tidak bisa disalahgunakan."

​Sora mengeluarkan sebuah foto usang dari saku blazernya—foto masa kecilnya bersama sang ayah di depan bengkel lama mereka sebelum api melahap segalanya. Di foto itu, ayahnya sedang memegang sebuah kotak kayu kecil yang berbeda dari kotak jam biasanya. Kotak itu memiliki ukiran geometris yang rumit, menyerupai labirin tanpa jalan keluar.

​"Kita harus kembali ke sana, Hael. Ke Puing-Puing Sektor Tujuh," ucap Sora mantap.

​"Tempat itu sekarang sudah menjadi zona terlarang, Sora. Setelah kebakaran sepuluh tahun lalu, tanahnya dibeli oleh perusahaan cangkang milik keluarga Vance. Mereka tidak pernah membangun apa pun di sana. Mereka hanya membiarkannya membusuk di balik pagar kawat berduri."

​"Itulah alasannya," sela Sora cepat. "Mereka membiarkannya membusuk karena mereka takut mencari sesuatu yang mereka tahu ada di sana, tapi tidak bisa mereka temukan. Ezra tidak pernah mendapatkan kunci terakhirnya karena kunci itu bukan berupa benda fisik. Kunci itu adalah kenangan."

​Dua jam kemudian, mereka sampai di pinggiran kota yang sunyi. Puing-puing bengkel Aris Kalani berdiri tegak seperti nisan raksasa di tengah padang rumput liar yang tinggi. Aroma hangus seolah masih tertinggal di udara, bercampur dengan bau besi berkarat dari pagar yang mengelilinginya.

​Hael menggunakan tang pemotong untuk membuat celah di kawat berduri. Mereka melangkah masuk dengan hati-hati. Sora merasakan sensasi deja vu yang menyakitkan. Setiap langkahnya di atas tanah yang menghitam mengingatkannya pada malam jahanam itu—jeritan ayahnya, panasnya api, dan tangan Ezra yang menariknya menjauh.

​"Di sini," Sora berhenti di sebuah titik yang dulunya adalah ruang kerja pribadi ayahnya. "Ayah selalu bilang bahwa waktu yang paling aman adalah waktu yang disembunyikan di balik bayangan."

​Sora berlutut, menyisir abu dan sisa-sisa kayu yang melapuk. Ia mencari sesuatu yang spesifik. Di bawah fondasi beton yang retak, ia menemukan sebuah lubang kecil yang tertutup oleh plat kuningan yang sudah sangat berkarat. Ia membersihkannya dengan kain, menampakkan simbol yang sama dengan liontin kunci yang diberikan Hael: sebuah lingkaran dengan titik di tengahnya.

​"Ini bukan lubang kunci biasa," gumam Hael sambil mengarahkan senter ke arah tersebut.

​Sora melepaskan jam tangan The Infinite Spring dari pergelangan tangannya. Ia membalik jam itu, menempelkan bagian belakangnya yang memiliki ukiran magnetik ke plat kuningan tersebut.

​Klik.

​Suara mekanis yang halus terdengar dari bawah tanah. Tanah di bawah kaki mereka bergetar sedikit sebelum sebuah kotak besi kecil terangkat dari balik beton. Kotak itu tidak terbakar sama sekali; ia dilindungi oleh lapisan asbes dan baja khusus.

​Saat Sora membukanya, ia tidak menemukan jam emas atau perhiasan mahal. Di dalamnya terdapat sebuah mekanisme perunggu tua yang terlihat seperti miniatur orery (model sistem tata surya), namun dengan susunan roda gigi yang jauh lebih kompleks. Di tengahnya, terdapat sebuah kristal bening yang berdenyut dengan cahaya perak yang sangat redup.

​"Ini dia," bisik Sora, matanya berkaca-kaca. "Mesin Ketiga. The Chronos Weaver—Penunung Waktu."

​"Apa fungsinya?" Hael tampak terpukau oleh keindahan mekanis di depannya.

​Sora menyentuh kristal itu. Seketika, kristal tersebut memproyeksikan sebuah hologram buram ke dinding puing yang gelap. Itu adalah peta—peta lokasi seluruh aset rahasia keluarga Vance yang selama ini disembunyikan dari pemerintah. Bukan hanya jam tangan, tapi transaksi gelap, kepemilikan tambang ilegal di Afrika, dan bukti-bukti konspirasi politik yang jauh lebih besar dari sekadar pencurian karya seni.

​"Ayahku bukan hanya seorang tukang jam, Hael," Sora menyadari kebenaran yang mengerikan. "Dia adalah penjaga rahasia mereka. Dia dipaksa membuat jam-jam ini sebagai kunci untuk brankas-brankas gelap mereka. Dan ketika dia memutuskan untuk berhenti, mereka membakarnya."

​Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar dari arah gerbang. Lampu sorot mobil yang menyilaukan menerobos kegelapan malam, menyapu ke arah mereka.

​"Aku sudah menduga kamu akan kembali ke sini, Sora," sebuah suara yang berat dan berwibawa menggema.

​Itu bukan Ezra. Itu adalah pria yang lebih tua, dengan rambut putih yang disisir rapi dan tongkat berkepala elang emas. Alistair Vance, kepala keluarga besar Vance sekaligus ayah Ezra. Pria yang selama ini mengendalikan segalanya dari balik layar, membiarkan putranya menjadi tameng sementara ia tetap bersih.

​"Berikan mesin itu padaku, Nak," ucap Alistair sambil melangkah mendekat dengan dikawal oleh empat pria berbadan tegap. "Itu bukan milikmu. Itu adalah properti perusahaan yang tidak seharusnya berada di tangan orang luar."

​Hael berdiri di depan Sora, tangannya meraba saku di mana ia menyimpan senjata pertahanan diri. "Dia bukan orang luar, Alistair. Dia adalah pemilik sah dari setiap baut dan roda gigi yang ada di tempat ini."

​Alistair tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti gesekan batu nisan. "Dunia tidak bekerja berdasarkan keadilan emosional, anak muda. Dunia bekerja berdasarkan siapa yang memegang kendali atas waktu dan informasi. Berikan mesin itu, atau kalian berdua akan menjadi bagian dari puing-puing ini selamanya."

​Sora menggenggam The Chronos Weaver erat-erat. Ia menatap Alistair dengan keberanian yang kini sudah mencapai puncaknya. "Ayahku menghabiskan hidupnya untuk menciptakan keindahan, sementara Anda menggunakannya untuk menutupi kebusukan. Anda mungkin memiliki uang dan kekuasaan, Alistair. Tapi Anda tidak memiliki kuncinya."

​Sora menekan sebuah tombol kecil di samping kristal tersebut. Seketika, data yang diproyeksikan mulai terkirim secara otomatis melalui jaringan satelit yang telah disiapkan Hael sebelumnya.

​"Data ini sudah terkirim ke sepuluh kantor berita internasional dan markas Interpol," ucap Sora dengan senyum kemenangan yang tipis. "Dalam sepuluh menit, seluruh kerajaan Vance akan runtuh lebih cepat daripada jam murah yang kehilangan baterainya."

​Wajah Alistair berubah merah padam. "Berhenti! Matikan itu sekarang!"

​Namun sudah terlambat. Langit malam di atas mereka tiba-tiba diterangi oleh lampu helikopter kepolisian yang menderu mendekat. Sirine meraung dari kejauhan, membelah keheningan Sektor Tujuh.

​Hael menarik Sora untuk berlari menuju jip mereka. "Ayo! Waktunya kita pergi dari tempat terkutuk ini!"

​Sora berlari dengan kotak perunggu itu di pelukannya. Di belakangnya, ia melihat Alistair Vance jatuh berlutut di atas puing-puing, menyadari bahwa waktunya benar-benar telah berakhir. Kebenaran yang selama sepuluh tahun disembunyikan di bawah abu, kini telah bangkit dan membakar kembali para pelakunya.

​Saat jip mereka melesat menjauhi lokasi, Sora menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya. Ia melihat puing-puing itu perlahan menghilang di kegelapan. Beban sepuluh tahun itu benar-benar telah luruh. Ayahnya telah memenangkan pertempuran terakhirnya melalui tangan putrinya.

​"Apa langkah kita selanjutnya, Sora?" tanya Hael sambil menggenggam tangan Sora yang dingin.

​Sora menatap The Chronos Weaver yang kini bersinar terang di pangkuannya. "Kita akan memastikan bahwa mulai detik ini, tidak ada lagi waktu yang dicuri. Kita akan memulai akademi itu, Hael. Dan mesin ini... akan menjadi jantung dari masa depan yang jujur."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!