NovelToon NovelToon
Penjaga Hati Di Wisma Lavender

Penjaga Hati Di Wisma Lavender

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Bad Boy / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:486
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Penjaga Hati di Wisma Lavender mengisahkan perjalanan Arka,mahasiswa tingkat akhir Teknik Informatika yang terhimpit masalah finansial setelah kontrakan lamanya digusur. Di tengah keputusasaan, ia menemukan iklan kos misterius dengan harga sangat murah dan fasilitas mewah, termasuk internet super cepat.

Namun, Arka terjebak dalam situasi yang tidak terduga setelah menandatangani kontrak dengan Oma Rosa, sang pemilik wisma yang eksentrik dan gemar bermain TikTok. Ternyata, Wisma Lavender adalah sebuah kos-kosan putri. Arka terpaksa menjadi satu-satunya laki-laki di sana dan harus mematuhi aturan ketat serta tugas tambahan yang diberikan oleh para penghuni wanita yang beragam karakternya, terutama Sari, sang ketua kos yang disiplin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 Manda yang Salah Alamat

Malam merayap semakin larut di Wisma Lavender, membawa serta hawa dingin yang menusuk dari sela-sela ventilasi kayu tua. Jam dinding di koridor lantai dua, yang biasanya berdetak dengan ritme yang menenangkan, kini sudah menunjukkan pukul dua pagi—sebuah waktu di mana hampir seluruh penghuni seharusnya sudah terlelap dalam buaian mimpi, kecuali Arka. Di kamarnya yang diterangi lampu meja temaram, Arka masih berkutat dengan barisan kode pemrograman yang tampak seperti ribuan semut hitam yang tak kunjung menemukan jalan pulang.

Di rumah ini, jam sembilan malam adalah batas suci yang tak boleh dilanggar untuk keluar kamar, sebuah garis demarkasi antara kehidupan sosial dan isolasi mandiri. Namun, tidak ada aturan yang melarang seseorang untuk bekerja lembur hingga nyaris fajar di dalam kesunyian kamarnya sendiri. Bagi Arka, kegelapan malam justru menjadi satu-satunya kawan setia saat ia harus bertarung dengan logika algoritma yang rumit.

Arka menguap lebar, matanya terasa perih dan panas seolah telah ditaburi pasir halus karena terlalu lama menatap radiasi layar monitor. Setelah hampir empat jam berkutat dengan sebuah bug yang sangat menjengkelkan—yang entah mengapa selalu muncul setiap kali ia mencoba melakukan kompilasi—ia akhirnya memutuskan untuk menyerah sejenak. Dengan gerakan malas, ia mematikan laptop, meregangkan otot-ototnya yang kaku hingga berbunyi gemeretak yang nyaring di kesunyian kamar, dan berjalan menuju wastafel kamar mandi dalam yang sempit untuk membasuh muka dengan air dingin yang menggigit.

Namun, saat ia kembali ke area tempat tidur dengan niat untuk langsung terjun ke dalam mimpi tanpa bantal, langkahnya terhenti seketika. Jantungnya berdegup kencang, seolah-olah ia baru saja melihat penampakan hantu penunggu Wisma Lavender yang sering diceritakan Tia.

Di atas kasur tipisnya yang biasanya berantakan dengan kabel pengisi daya dan buku catatan, kini ada sesosok manusia yang sedang meringkuk nyaman, terbungkus rapat di balik selimut biru miliknya yang aromanya sudah mulai bercampur antara parfum murah dan debu.

"Lho... kok? Tunggu dulu..." Arka mengucek matanya berulang kali, mengira penglihatannya mulai terdistorsi menjadi fatamorgana akibat kelelahan saraf mata yang ekstrem.

Ia mendekat perlahan, melangkah dengan jingkat seolah-olah lantai kayu itu terbuat dari kaca yang mudah pecah. Ia mencoba mengenali siapa "penyusup" yang berani secara ilegal menempati wilayah kedaulatannya. Rambut hitam panjang yang berantakan menutupi sebagian besar wajah si penyusup, namun Arka segera mengenali sebuah kacamata dengan bingkai tebal yang tergeletak pasrah di atas bantalnya.

Itu Manda. Mahasiswa kedokteran tingkat akhir yang di kalangan penghuni kos dikenal karena tingkat pelupanya yang sudah berada di tahap kronis. Kabarnya, Manda seringkali begitu fokus pada hafalan anatomi hingga lupa jalan pulang atau bahkan lupa bahwa ia sudah makan siang. Tekanan ujian praktik yang kabarnya sangat mengerikan tampaknya telah merampas sisa-sisa fungsi kognitifnya malam ini.

Manda tampak tertidur sangat pulas, jauh melampaui fase tidur biasa. Napasnya teratur namun berat, dan tangannya mendongak sedikit, mendekap erat bantal guling Arka seolah itu adalah benda paling berharga di dunia. Di samping tempat tidur, ada tumpukan buku tebal tentang patologi dan fisiologi yang tampaknya baru saja ia jatuhkan karena rasa kantuk yang tak tertahankan.

"May... eh, Manda!" bisik Arka dengan suara yang ditekan serendah mungkin namun penuh dengan kepanikan yang meluap. Ia tidak berani menyentuh kulit Manda secara langsung, takut hal itu akan memicu teriakan histeris, namun ia juga tidak bisa membiarkan situasi berbahaya ini berlanjut satu menit pun lagi. "Manda, bangun! Ini bukan kamarmu, demi apa pun, bangun!"

Manda hanya mengerang pelan, sebuah suara yang terdengar seperti protes kecil dari alam bawah sadarnya. Ia berbalik posisi, menarik selimut Arka hingga menutupi dagunya, dan menggumamkan sesuatu tentang "saraf kranial" dan "arteri karotis" dalam tidurnya yang kacau.

Arka mulai merasakan keringat dingin membasahi punggungnya. Pikirannya melayang liar ke daftar aturan operasional sepanjang dua meter milik Sari yang ditempel di balik pintunya. Poin nomor 14 dengan huruf kapital tebal: Dilarang keras berada di kamar lawan jenis tanpa izin tertulis dari Ketua Kos dan Oma Rosa di luar jam kunjung resmi.

Konsekuensi dari poin ini sangat jelas: pengusiran instan. Jika ada yang melihat ini—terutama Sari yang memiliki pendengaran setajam kelelawar atau Oma Rosa yang rajin berkeliling melakukan inspeksi mendadak demi konten TikTok-nya—Arka bukan hanya akan diusir, ia mungkin akan langsung dicoret dari daftar penduduk bumi yang bermartabat karena dianggap telah melakukan tindakan asusila di tengah malam.

"Manda, ayo bangun, Manda! Kamarmu itu nomor sembilan, ini nomor sepuluh! Lihat pintunya, lihat sekelilingmu!" Arka mencoba mengguncang ujung selimutnya dengan ujung jari dengan gerakan ragu-ragu, seolah-olah kain itu mengandung tegangan listrik ribuan volt.

Manda akhirnya membuka matanya perlahan, kelopak matanya tampak sangat berat dan membengkak. Ia mengerjap-ngerjap berkali-kali, mencoba memfokuskan penglihatannya yang kabur total tanpa bantuan kacamata. Ia menatap ke arah Arka dengan tatapan kosong selama beberapa detik, sebuah tatapan yang benar-benar tidak menunjukkan kesadaran penuh.

"Eh... kok ada asisten dosen di kamarku? Pak, saya sudah hafal anatomi panggul..." gumam Manda dengan suara parau dan berat, khas orang yang jiwanya masih tertinggal di alam mimpi.

"Bukan asisten dosen! Ini Arka! Dan ini kamar gue, Manda! Lu salah masuk!"

Manda duduk tegak dengan gerakan kaku, meraih kacamatanya yang tergeletak di bantal, dan baru kemudian ia menyadari sesuatu yang salah. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, mengamati poster-poster di dinding yang bukan lagi berisi diagram sistem saraf manusia yang rumit, melainkan berisi poster cheat sheet bahasa Python, diagram arsitektur basis data, dan beberapa karakter anime favorit Arka yang tampak menatapnya dengan aneh. Ia melihat ke arah pintu yang sedikit terbuka, lalu kembali menatap Arka yang berdiri di depannya dengan wajah pucat dan penuh ketakutan.

"Oh..." Manda bergumam pelan, suaranya kini terdengar sedikit lebih sadar namun tetap tenang secara abnormal. Ia sama sekali tidak tampak panik, menjerit, atau merasa malu seperti reaksi normal perempuan pada umumnya. "Tadi aku baru balik dari perpustakaan kampus. Aku habis belajar bareng untuk persiapan ujian praktik besok pagi. Kepalaku pusing banget sampai rasanya mau pecah. Pas sampai di lorong, aku lihat pintu terbuka sedikit, aku pikir ini kamarku. Lagipula, kunci dan gagang pintu kita kan modelnya sama semua. Aku masuk, rebahan, dan langsung... gelap."

"Kamar lu itu tepat di sebelah, Manda! Pintunya warna cokelat tua karena lu jarang buka gorden, sedangkan pintu kamar gue warnanya cokelat agak muda karena sering kena matahari sore!" Arka menunjuk ke arah koridor dengan tangan yang gemetar hebat, saking paniknya ia sampai hampir tidak bisa bicara dengan jelas.

"Maaf ya, Arka. Efek begadang tiga malam berturut-turut demi mengejar target hafalan. Otakku sudah masuk ke mode low battery sampai nggak bisa lagi membedakan spektrum warna cokelat," ucap Manda dengan ketenangan yang mengerikan sambil mulai turun dari kasur. Ia sempat-sempatnya merapikan sedikit selimut Arka yang berantakan, melipat ujungnya seolah ia baru saja bangun dari tempat tidur di hotel berbintang lima dan ingin meninggalkan kesan yang rapi.

Namun, tepat saat Manda baru saja menapakkan kakinya ke lantai dan hendak melangkah keluar dengan langkah gontai, suara pintu kamar mandi utama di ujung koridor terbuka dengan bunyi berderit yang tajam. Suara langkah kaki yang berat, stabil, dan penuh wibawa terdengar mendekat perlahan tapi pasti.

"Itu langkah kaki Oma Rosa!" bisik Arka dengan nada yang penuh horor, matanya melotot tajam. "Dia punya kebiasaan bangun jam segini buat minum jamu awet muda atau sekadar cek keamanan gerbang depan!"

Manda yang tadinya tampak sangat santai, kini ikut menegang. Aura dingin dari nama Oma Rosa tampaknya sanggup menembus kabut kelelahan di otaknya. Ia sadar betul bahwa tertangkap basah keluar dari kamar laki-laki di jam dua pagi adalah tiket satu arah untuk keluar dari Wisma Lavender dengan reputasi yang hancur lebur.

"Sembunyi! Sekarang juga!" perintah Arka tanpa berpikir panjang lagi.

"Di mana?! Kamarmu sempit begini!"

"Di bawah kasur! Eh, jangan, kasurnya terlalu rendah, lu nggak bakal muat. Di balik pintu! Di pojokan gelap itu! Cepat!"

Arka mendorong pundak Manda ke balik pintu kamarnya tepat saat bayangan siluet Oma Rosa melintas di depan kaca ventilasi atas pintu. Dengan kecepatan gerak yang belum pernah ia miliki sebelumnya, Arka segera mematikan lampu kamar, melompat ke tempat tidur, dan menarik selimut hingga ke hidung sambil berpura-pura mendengkur kencang dengan irama yang dibuat-buat.

Melalui celah mata yang terbuka hanya sepersekian milimeter, ia melihat siluet Oma Rosa berhenti tepat di depan pintunya. Arka bisa melihat bayangan kepala Oma yang sedikit miring, seolah sedang mendengarkan apakah ada suara mencurigakan dari dalam. Arka menahan napasnya sekuat tenaga hingga paru-parunya terasa sesak. Jantungnya berdegup sangat kencang, dentumannya terasa hingga ke seluruh tubuh, dan ia benar-benar takut jika suara detak jantungnya yang liar itu bisa terdengar menembus pintu kayu hingga ke koridor yang sunyi.

Setelah apa yang terasa seperti selamanya bagi Arka—mungkin sekitar tiga puluh detik yang terasa seperti tiga jam—Oma Rosa akhirnya melanjutkan langkahnya, suaranya menjauh menuju arah dapur di lantai bawah.

Begitu suara langkah kaki itu benar-benar hilang dan digantikan oleh kesunyian malam kembali, Arka dan Manda menghela napas serempak dengan suara yang sangat lega. Arka segera bangkit dan menyalakan lampu kecil di sudut ruangan agar mereka tidak berada dalam kegelapan total. Cahaya kuning redup itu menyinari wajah Manda yang kini tampak sedikit merah karena malu, sementara Arka sendiri sudah tampak seperti orang yang baru saja lolos dari eksekusi mati di tiang gantung.

"Gila... nyawa gue beneran hampir melayang barusan," bisik Arka sambil menyeka keringat yang bercucuran di leher dan dahinya dengan punggung tangan. "Kalau Oma masuk, tamat sudah riwayat gue di Jakarta."

"Maaf banget, Arka. Aku beneran blank tadi, kepalaku rasanya kayak mau meledak karena terlalu banyak menghafal nama-nama tulang," Manda menunduk, menatap lantai dengan tatapan yang sangat menyesal. "Gara-gara ujian praktik besok, aku jadi benar-benar kacau dan nggak waspada."

Arka menatap Manda dengan saksama. Meskipun awalnya ia merasa marah karena privasi kamarnya dilanggar dengan begitu saja, ia melihat betapa lelahnya lingkaran hitam yang menghias di bawah mata gadis itu. Hidup di Wisma Lavender ternyata bukan hanya melelahkan bagi dirinya sebagai "tenaga bantuan serba bisa", tapi juga sangat melelahkan bagi para gadis penghuninya yang harus berjuang mati-matian dengan ambisi, harapan keluarga, dan tekanan akademis yang tak kenal ampun.

"Ya sudah, sekarang mumpung aman, sana balik ke kamar lu. Pelan-pelan, jangan sampai ada suara lantai yang bunyi," kata Arka dengan nada yang jauh lebih lembut, rasa empatinya mengalahkan rasa jengkelnya. "Dan satu hal lagi, jangan sampai lu salah masuk ke kamar Sari. Kalau itu terjadi, gue nggak akan punya kekuatan apa pun buat nolong lu lagi dari somasi hukumnya."

Manda mengangguk patuh, lalu menyelipkan buku patologi setebal bantal itu ke ketiaknya. "Makasih banyak ya, Arka. Kamu penyelamat karir kedokteranku malam ini. Lagipula... kasurmu lumayan nyaman. Baunya agak unik... kayak bau sabun cuci piring ya?"

"Itu bau sabun yang terpaksa gue pakai buat mandi setelah insiden skincare mahal Gendis waktu itu! Wanginya nggak mau hilang-hilang!" sahut Arka pelan dengan wajah masam.

Manda hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman kecil yang jarang terlihat di wajah seriusnya, lalu ia menyelinap keluar kamar dengan gerakan yang sangat hati-hati, persis seperti seorang ninja yang sedang menjalankan misi rahasia. Arka segera menutup pintu dan mengunci pintunya dengan tiga kali putaran kunci—sebuah prosedur keamanan yang seharusnya ia lakukan sejak pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini.

Ia kembali duduk di pinggir tempat tidur, menatap bantalnya yang kini masih terasa sedikit hangat bekas kepala Manda dan masih meninggalkan sisa-sisa aroma samar sampo herbal. Wisma Lavender kini bukan lagi sekadar tempat tinggal murah dengan internet cepat baginya. Tempat ini telah berevolusi menjadi sebuah teater komedi, drama, dan horor yang paling tidak terduga dalam sejarah hidupnya.

"Satu giga per detik," gumam Arka, mencoba memejamkan mata dan mengatur kembali napasnya yang masih sedikit memburu. "Satu giga per detik, namun harga yang harus dibayar adalah risiko serangan jantung dan pengusiran massal setiap malam."

Malam itu, Arka akhirnya bisa memejamkan mata, namun tidurnya tidak benar-benar tenang. Ia bermimpi kamarnya berubah menjadi sebuah lobi rumah sakit raksasa di mana lima belas gadis Wisma Lavender sedang mengantre dengan wajah cemas untuk diperiksa oleh Manda, sementara ia sendiri berdiri di pojokan sebagai perawat yang harus menyediakan galon air tanpa henti untuk seluruh pasien yang kehausan. Penderitaan Arka benar-benar tidak mengenal batas, bahkan ketika ia mencoba melarikan diri ke dalam mimpinya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!