Halo semuanya...
Ini karya novel pertamaku.
Isekai biasanya tertabrak mobil atau truk sedangkan aku cuma ketiduran. Aku Lisa Aspasa harus mengalami isekai. Aku terbangun dalam sebuah novel dimana tubuh inilah tokoh villiannya. Seorang villian dipastikan akan berakhir kematian. Kematian yang mengerikan bagi siapapun yang melihatnya.
Akankah aku bisa menghindari takdir kematian?
Akankah aku mendapatkan kebahagiaan?
Pada pertengahan perjalan jiwa pemilik asli tubuh ini datang.. apa yang ia inginkan? akankah dia mau membantuku atau sebaliknya?
Berlahan tapi pasti sesuatu yang tidak terungkap dalam novel mulai muncul kepermukaan...
Apakah itu?
Penasaran... langsung baca saja
27 Oktober 2020
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisi Miring Petagon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
WARNING TYPO BERTEBARAN
***
Melisa POV
Langit hitam yang berlahan berubah warna menjadi langit biru. Awan mulai menampakan wujudnya. Butiran keringat membasahi sekujur tubuhku. Suara musik yang terus mengalun dengan indah terus berputar dipendengaranku. Aku berlari dengan cepat menyusuri jalan yang sepi.
“Hosh..Hosh..hosh” deru nafasku tak beraturan. Aku berusaha mengambil oksigen sebanyak-banyaknya. paru paruku terus memompa oksigen dan karbodioksida keseluruh tubuh. Berlahan deru nafasku beraturan.
Aku mengambil air dari botol yang berada dalam tas kecilku. Aku segera meminum air dengan rakus. Aku memandang langit yang mulai berubah warna bersamaan dengan terbitnya sang surya. Aku takjub dengan kuasa Tuhan. Aku merentankan tangan mengambil nafas berlahan menikmati semilir angin ‘Aku merasa bebas’.
Aku melihat jam tangan yang menunjukan pukul 06.00 dengan lari kecil kembali kerumah. Aku mengamati orang-orang yang memulai aktifitasnya. Aku bisa merasakan bahwa mereka menjadi tokoh utama bagi dunianya sendiri. Andai aku menjadi tokoh utama. Aku tersenyum kecut “jangan bermimpi terlalu tinggi!” gumanku.
Aku terus berlari tanpa sengaja mataku menangkap sosok abu-abu gelap yang berada dijalan. Tubuhnya gemuk penuh dengan lemak. Entah sihir apa yang ia miliki membuatku mendekatinya. Dengan berlahan aku mendekatinya membelai dengan penuh kasih sayang. Ia menatapku “meow” suaranya yang mengemaskan.
Waktu terus berjalan bila ada pertemuan pasti akan ada perpisahan. Itulah yang kurasakan. Kini saatnya aku berpisah dengan kucing gemuk itu. Dengan berat hati aku membiarkan kucing gemuk itu berjalan meninggalkanku. Aku bangkit dari tempat semula untuk pulang kerumah.
Aku melangkahkan kakiku kedalam rumah. Suasana sepi yang menyambut kedatanganku. Untuk pertama kalinya aku merasakan kesendirian yang menyiksa. “Hah...bibi surti pulang selama 1 minggu” gumanku dengan langkah gontai. Perutku berbunyi pertanda lapar melanda. Aku pergi kedapur yang berwarna merah dan hitam. Desain sederhana, mewah dan elegan menyatu dalam satu ruangan. Dapur yang berisi berbagai barang-barang cantik, unik dan canggih yang berharga jutaan.
Aku membuka kulkas menampilkan bahan-bahan yang dibekukan. Ada berbagai buah dan sayuran serta minuman dingin. Aku mengambil beberapa buah dan sayuran untuk salat. Memotong buah dan sayur yang sudah dicuci dan dibersihkan. Selanjutkan masukkan sayuran kedalam wadah taruh buah diatas sayuran siram dengan saus. Terakhir berilah parutan keju masukkan kedalam kulkas selama kurang lebih 15 menit.
Selagi menunggu salatnya saatnya membuat teh hijau dengan tambahan madu dan lemon secukupnya. Rasa manis pada madu dan segar pada lemon akan menambah manfaat pada teh hijau.
Aku mengeluarkan salat dari dalam kulkas. Aku membawa salat dan teh hijau kedepan tv untuk menikmati kehidupan orang kaya. Aku menonton komedi situasi yang membuat perutku sakit karena kebanyakan ketawa.
Ting Tong suara bel rumah berbunyi. Aku melirik jam menunjukan pukul 10.00 “ Siapa yang datang kemari?” kataku mengambil ponsel untuk mengetahui tamunya. Aku melihat Rini melambai kepadaku. Aku berjalan untuk membukakan pintu untuk Rini.
Rini tersenyum cerah saat pintu rumahku terbuka untuknya. “ Tumben kemari?” tanyaku dengan akrap. Rini masuk kedalam rumah berjalan menuju kulkas.
“ Temani aku ke mall” katanya merengek.
“ Ngapain?” tanyaku sambil memasukkan satu suap salat kemulutku. Rini memakan apel yang diambil dari kulkasku “Beli kado pernikahan untuk tanteku”
Aku tidak menjawab masih menikmati salat dan adegan pada komedi situasi yang ditayangkan pada tv. “Melisa sahabatku” ucap Rini dengan memelukku dari belakang. “Temani aku please” ucapRini dengan nada memohon. Aku yang malas mendengarkan rengekannya segera menyuapi mulut Rini dengan salatku. Aku bergegas lari kekamar supaya tidak kena amarah dari Rini.
Aku memakai baju sembarang dengan memoleskan sedikit sentuhan make up. Aku keluar dari kamar menghampiri Rani yang sedang asik memakan salat buatanku dengan lahap. ”Rin ayo atau tidak jadi” ucapku mengancam. Rini bergegas mengikutiku dengan membawa salat kedalam mobilnya.
Kami berangkat dengan aku yang menyetir mobil Rini sebab Rini masih sibuk makan salat. Butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai ke mall yang kami tuju. Aku terpukau dengan desain mall. Mall mewah dengan memiliki beberapa lantai yang berbeda. konsep mall yang seperti academi membuat suasananya berbeda daripada mall lainnya. Mall yang memiliki luas sebesar lapangan pesawat terbang. Tidak heran mall ini pernah mengadakan konser mewah. Mall yang menyediakan semua kebutuhan dan keperluan. Mall ini berisi berbagai toko terkenal didunia dan menjadi brand dunia. Harga yang ditawarkan pada satu barang harganya fantastis. Aku takjub dengan yang diberikan mall ini sekaligus sakit kepala melihat nol banyak dibelakang angka.
Aku dan Rini memasuki berbagai toko yang menarik. Rini memborong semua barang yang disukainya. Sampai dia tidak bisa membawa belanjaannya sehingga membutuhkan tangan tambahan yaitu tanganku. Setelah capek aku memaksa Rini untuk membeli kado yang akan diberikan pada pernikahan tantenya. Kami menuju ke toko toko perhiasaan. Kami keluar masuk toko perhiasan untuk memilih perhiasan yang cocok digunakan sebagai kado. Kado yang diinginkan tantenya mewah, elegan dan sederhana.
Dari sekian toko perhiasan pilihan kita jatuh kepada toko perhiasan yang berada disudut dekat tangga. Toko perhiasan yang memiliki desain mewah dengan warna dominan putih. Warna putih dapat menunjang glamor pada perhiasan. Selain itu lampu putih yang didesain khusus menambah daya tarik. Etalase yang dibuat dari kaca berbentuk melingkar memudahkan pembeli untuk melihat secara keseluruhan dari sudut pandang manapun. Setelah puas memilih akhirnya satu set perhiasan dengan batu ruby merah delima menjadi hadiah untuk pernikahan tantenya Rini.
Setelah puas memilih kado kami memutuskan untuk membeli minuman. Sebelum kami masuk kedalam bar minuman. Rini ingin membeli beberapa topi yang dijual pada toko sebelah. Akhirnya kami berpisah Rini pergi membeli topi dan aku membeli minuman. Aku masuk kedalam bar milk and cream. Bar milk and cream memiliki konsep seperti taman bermain. Aku memilih sereal sebagai toping. Aku membeli dua minuman membawanya keluar setelah membayar.
Aku menemukan Rini yang duduk pada kursi yang disediakan oleh mall. Aku berjalan menghampiri Rini yang sibuk bermain ponsel “Ini minumannya” kataku menyerahkan satu minuman kepada Rini.
“ Makasih” kata Rini menerima minuman dariku dengan bahagia. Aku mengangguk membalas ucapan sambil duduk disampingnya. Aku minum dengan nikmat mataku sibuk mengamati pergerakaan manusia. Suasana mall semakin ramai pengunjung maka toko akan semakin sibuk.
“Mel tumben kau tidak kencan dengan Elgartara, bukankah sekarang hari minggu?” tanya Rini dengan nada heran. Aku masih sibuk menyedot minumanku merasakan perpaduan manisnya cream dan susu, serta tekstur crunchy pada sereal. Melihatku engan menjawab pertanyaan Rini menghelan nafas panjang “Apa Elgartara tidak pernah menganggapmu sebagai kekasih padahal kalian sudah bertunangan?”.
‘tunangan hanya status kami jadi mana mungkin Elgartara menganggapku ada’ kataku dalam hati menjawab pertanyaan Rini. Aku melihat tangan Rini mengepal erat dengan lembut aku berusaha untuk mengenggam tangannya.
Rini menolehku dengan berlahan aku menatap Rini dalam diam. “Kita tidak tahu hati orang” setelah sekian detik mulutku terbuka. Aku tersenyum lembut kepada Rini “mungkin Elgartara sedang sibuk”.
Rini membalas senyumku “Aku berharap ia benar-benar sibuk bukan sibuk dengan gadis miskin itu” kata Rini kesal. Dalam hati aku tertawa ‘wajarlah Elgartara bersama istri masa depan’. Aku melihat seseorang cewek yang familiar. Cewek yang memiliki postur tubuh tinggi dengan rambut panjang. Cewek itu sedang terburu-buru. Aku berdiri mengajak Rini untuk mengikuti sosok cewek itu.
Sosok cewek itu keluar dari mall menuju taman yang masih dalam area mall. Aku melihat cewek itu bertemu dengan sosok pemuda. Pemuda itu terlihat mencurigakan. Pemuda itu memakai celana jens dan jaket hitam untuk menyamarkan postur tubuhnya. Aku tidak bisa mendengar pembicaraan mereka. Aku berusaha untuk mendekati mereka sayangnya aku sudah berada pada batas zona aman. Kalau maju selangkah maka ketahuan.
Taman itu dalam keadaan sepi dan tempat persembunyian yang minim. Aku mengedarkan pandangan kesekeliling. Aku mengandeng Rini pergi ketempat penjual kaki lima yang tidak sengaja berjualan tepat dari belakang perempuan. Selain itu ada pohon besar yang akan menjadi tempat persembunyian yang bagus.
Kami berpura-pura membeli risoles dengan menajamkan telinga. Akhirnya kami dapat mendengar pembicaraan mereka. Sayangnya aku tidak dapat melihat wajah pemuda itu. Wajahnya tertutup topi dan masker, selain itu dia memakai jaket hitam.
“Bukankah itu Cika. Dia bersama dengan siapa?” bisik Rini ditelingaku. Aku mengangkat bahu singkat fokus mendengarkan percakapan mereka.
>------<
“ Kenapa Melisa tidak marah kepada gadis miskin?” tanya Cika dengan kesal.
“ Itu karena Melisa tidak melihat kedekatan Olivia dan Elgartara” kata pemuda itu menenangkan Cika.
Cika membuang muka “Seharusnya Melisa melihat Elgartara mengendong gadis miskin. Sia-sia aku mengunci gadis miskin itu digudang” ucap Cika marah.
“ Masih ada waktu” kata pemuda meredakan amarah cika.
“Pokoknya aku ingin gadis miskin itu menderita” kata Cika mengebu-gebu.
“Itu akan segera terwujud dengan alat yang pas” kata pemuda.
“Menurutmu Melisa alat yang pas?” tanya Cika ragu.
“ Tentu saja Melisa memiliki kekuasaan” jawab pemuda itu dengan penuh kenyakinan.
“ Kekuasaan seperti apa kalau kekayaan aku juga kaya?” tanya Cika penasaran.
“ Karena Melisa memiliki apa yang tidak kita miliki” kata pemuda berjaket hitam menjelaskan.
“ Apa itu?” tanya Cika penasaran
Pemuda itu diam tidak menjawab pertanyaan Cika “ pokoknya jangan bertindak gegabah” peringatan dari pemuda berjaket hitam. Kemudian pemuda itu pergi mengendarai montor sport berwarna hitam yang terparkir tidak jauh dari tempatnya berbincang.
\ data-tomark-pass >------<
“Sial... parkir mobil kita berada di mall” kata Rini kesal. “kita tidak bisa mengejarnya” keluh Rini yang ingin berlari. Rini berhenti saat mendengar bunyi bidikan kamera.
CKREK bunyi kamera hpku yang menangkap plat nomer montor. Jariku mengetik sebuah pesan kepada seseorang yang berada disebrang sana. ‘Sudah aku duga bahwa Cika adalah pion dan otaknya...’ kataku dalam hati yang berpakaian dektektif.
“Mel sekarang apa yang akan kita lakukan?” tanya Rini yang sebenarnya memintaku untuk memerintahkannya menghabisi mereka. Aku tersenyum manis “ Awasi serangga itu” menunjuk kearah Cika.
“Maaf” kata Rini sedih. Aku menunjukkan raut wajah bertanya. “Aku tidak mengawasi serangga itu dengan benar mulai sekarang aku akan lebih mendengarkanmu” kata Rini dengan semangat membara bisa melelehkan masmellow.
Aku tidak meladeni perkataan Rini “Ayo kita pulang” kataku mengajak Rini pergi sebelum orang-orang menilai pasien RSJ yang kabur.
Aku sampai didalam rumah sendirian. Rini pamit pulang karena sudah dicari ibunya. Aku menuju dapur untuk mengambil piring. Aku meletakkan risoles yang dibeli. Aku membawanya kedepan tv. Aku menonton komedi situasi dengan tawa mengema. Aku pergi keperpustakaan mini setelah komedi situasi berakhir. Aku membaca lembar demi lembar buku ditanganku sampai dering telefon masuk.
“ Nona Melisa kami sudah mengirimkan data mengenai pria yang nona kirimkan” kata seseorang disebrang sana.
Aku memeriksa data pria berjaket hitam yang berani memanfaatkanku. Dia bernama Karan Sendurna yang
bersekolah sama denganku. Aku tersenyum senang melihat foto pemuda berjaket hitam. Sekarang aku bisa melihat wajahnya dengan jelas ‘ Kakak Senior episode 3’. kemudian mataku melotot sempurna membaca kehidupan kak Karan yang merupakan anggota geng Black Skull yang disingkat BS. Geng BS merupakan musuh dari geng IZ. Sayangnya tidak ada informasi detail dinovel mengenai geng itu.
“ Berikan aku informasi mengenai geng BS!” kataku dengan dingin.
“ Baik Nona Melisa” kata orang disebrang sana.
Tidak selang berapa lama sebuah berkas masuk kedalam ponselku. Aku memeriksa isi berkas yang terdapat nama angota dan nama geng serta logo geng. Aku memijat kepalaku mengatur emosi ‘memiliki anak buah kok bodoh banget’. Aku mengeluarkan aura membunuhku “ Berikan aku informasi yang detail.”
“ Maaf nona Melisa informasi mengenai geng BS sangat sedikit” kata anak buahku dengan nada menyesal.
“Carilah informasi yang mendetail mengenai geng BS dan belilah saham 70% dari perusahan Prodex. Satu lagi jangan gunakan namaku” kataku memerintah. Perusahan Prodex merupakan perusahaan milik keluarga cika. Saham 70% bukanlah saham yang kecil ataupun besar untuk menggulingkan sebuah perusahaan besar. Aku memerlukan sedikit skandal untuk menarik saham bersama investor lainnya.
“ Baik nona” kata orang disebrang sana dengan patuh.
Aku menutup telefon anak buahku. Semasa hidupku baru kali ini aku bermain teka-teki sungguhan. Biasanya teka-teki di koran yang menurun dan mendatar ‘itupun karena berhadiah’.
Aku menghelan nafas kasar satu pertanyaan yang belum terjawab ‘bagaimana caranya cika menghasut Melisa’. Aku berjalan mendekati cermin yang berada dipojok. Aku menyentuh permukaan cermin yang memantulkan diriku “ Melisa mau bermain bersamaku?” kataku mengangkat sudut bibirku. “ Ini akan menyenangkan” kataku dengan mata sedingin es.
***