NovelToon NovelToon
Subosito

Subosito

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: eko yepe

Seorang pemuda dengan kutukan api di dalam tubuhnya, membuat dirinya dibenci oleh seluruh warga desa.

Padahal di dalam hatinya, Subosito tak ingin melukai siapa pun dengan apinya.

Banyak pendekar yang mengincar kekuatan itu, untuk kepentingan pribadi mereka

Subosito mencoba untuk mengarungi dunia pendekar yang tidak mudah.

Bagaimana kisah perjuangan pemuda api itu dengan kutukan yang dimilikinya?

Ikuti keseruan kisahnya dalam 'Subosito'.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eko yepe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Panggilan Kadipaten dan Musuh Lama

Fajar menyingsing di lereng Gunung Lawu, menghangatkan puncak-puncaknya dengan warna kemerahan yang megah. Bagi Subosito, perjalanan menuruni gunung kali ini terasa berbeda. Beban di punggungnya—Segel Garuda Paksi—kini tidak lagi terasa seperti bara panas yang siap meledak, melainkan seperti aliran hangat yang mengalir selaras dengan detak jantungnya. Pemuda itu kini pengendali bagi apinya sendiri.

Di tangannya, Subosito menggenggam erat cincin perak tua pemberian Resi Bhaskara. Cincin itu memiliki ukiran lambang keluarga yang nyaris pudar, yang cukup untuk membakar rasa ingin tahu ada apa di dalam dadanya.

Menurut sang Resi, ayah Subosito bukan sekadar warga biasa yang hilang ditelan kabut, melainkan seorang kesatria berpangkat tinggi yang menjadi korban pengkhianatan sistemis di dalam tembok Kadipaten.

“Pergilah, Nak,” pesan terakhir Resi Bhaskara masih terngiang. “Di Kadipaten, lidah lebih tajam daripada keris, dan senyuman bisa lebih beracun daripada bisa ular. Gunakan api emasmu bukan untuk menerangi kebenaran yang sengaja dikubur!"

Subosito melangkah menyusuri jalan setapak yang membawa menuju dataran rendah. Tujuannya adalah ibu kota Kadipaten, jantung pemerintahan yang kini kabarnya sedang sakit parah karena intrik perebutan takhta.

Namun, untuk mencapai sana, Subosito harus melewati hutan jati kuno yang membentang luas di kaki gunung.

Hutan jati itu begitu rapat, batang-batang pohon yang menjulang tinggi menciptakan kanopi alami yang menghalangi cahaya matahari, menyisakan keremangan yang mencekam.

Suara gesekan daun kering di bawah kakinya adalah satu-satunya irama yang menemaninya, hingga tiba-tiba, irama itu berubah.

Subosito berhenti mendadak, sesaat setelah merasakan getaran di atas tanah—bukan getaran alam, melainkan langkah-langkah kaki yang terlatih, mengikutinya sejak memasuki hutan jati ini.

“Keluarlah,” ucap Subosito tenang. Suaranya tidak keras, bergema di sela-sela batang jati. “Hutan ini terlalu sunyi untuk persembunyian yang ceroboh!"

Dari balik bayang-bayang pohon jati yang perkasa, muncul lima sosok pria. Mereka mengenakan pakaian kulit berwarna kelam, dengan kain hitam yang menutupi separuh wajah.

Yang menarik perhatian Subosito adalah pemimpin mereka—seorang pria bermata satu dengan bekas luka cakar yang dalam di pipinya. Di punggung pria itu, tersampir sepasang pedang kembar yang memancarkan hawa dingin.

“Subosito,” desis pria bermata satu itu. Suaranya penuh dengan kebencian yang mendalam. “Anak haram Lawu yang membakar saudaraku hingga menjadi abu!"

Subosito mengamati lambang yang tersemat di sabuk pria itu. Sebuah ukiran gagak yang sedang memekik. “Kau adalah kerabat Suro Digdoyo dari Padepokan Gagak Hitam!"

“Aku adalah Suro Joyo, kakaknya,” pria itu menghunuskan kedua pedangnya.

Logam pedang itu berdenting, mengeluarkan aura biru ketika digesekkan oleh Suro Joyo, yang menunjukkan bahwa senjata itu telah direndam dalam racun magis.

“Padepokan itu adalah hidup kami. Kau menghancurkannya, kau membantai murid-muridnya, dan kau membunuh saudaraku dengan cara yang biadab. Jangan harap kau bisa menginjakkan kaki di Kadipaten dengan nyawa yang utuh!” ancam Suro Joyo memasang kuda-kuda.

Subosito menarik napas panjang, tanpa memasang kuda-kuda untuk menyerang. Pemuda itu hanya berdiri tegak, tangannya tergantung santai di samping tubuh. “Kehancuran padepokan itu adalah akibat dari keserakahan kalian sendiri. Aku datang ke sana untuk menyelamatkan seorang gadis, dan warga desa dari ancaman, bukan untuk membantai. Api itu meledak karena amarah yang dipicu oleh kekejaman saudaramu!”

“Persetan dengan penjelasanmu!” teriak Suro Joyo. “Serang!”

Keempat pendekar bayaran itu melesat maju dengan kombinasi yang sempurna. Mereka bukan preman pasar; mereka adalah pembunuh bayaran yang memiliki ilmu kanuragan tingkat tinggi.

Dua orang menyerang dari samping dengan tombak pendek, sementara dua lainnya melompat dari atas dengan belati yang mengincar titik saraf di leher Subosito.

Kali ini, Subosito tidak kehilangan kendali, pemuda itu tak akan membiarkan amarah mengambil alih sukmanya. Dengan kesadaran penuh, Subosito memanggil energi emas dari segel di punggungnya.

Wush!

Sebuah gelombang energi transparan bersuhu hangat terpancar dari tubuh Subosito. Gelombang itu tidak membakar, tapi memiliki daya tolak yang luar biasa.

Keempat penyerang itu terpental ke belakang seolah-olah mereka menabrak tembok baja yang tak terlihat oleh mata.

“Apa?!” Suro Joyo terperangah, tak melihat api merah yang menghancurkan seperti yang diceritakan para korban yang selamat di Gagak Hitam, tetapi hanya melihat cahaya emas yang tenang.

Subosito melesat, gerakannya tidak lagi liar, pelan melangkah maju dengan kecepatan yang terukur, menghindari tusukan tombak dengan putaran tubuh yang anggun. Ketika salah satu penyerang mencoba menusuk dadanya, Subosito hanya menyentuh ujung tombak itu dengan dua jari.

Seketika, ujung besi tombak itu berpendar emas dan melunak, kehilangan daya tembusnya seolah-olah berubah menjadi lelehan logam. Penyerang itu terbelalak ketakutan dan melepaskan senjatanya.

“Aku sudah belajar dari kesalahan, Suro Joyo,” ujar Subosito sambil memukul pelan bahu lawan di depannya, cukup untuk melumpuhkan aliran sarafnya hingga pria itu jatuh pingsan.

“Kekuatan ini bukan untuk membalas dendam. Tapi jika kau memaksaku, aku akan menunjukkan padamu bagaimana api bisa menjinakkan badai!"

Suro Joyo meraung, bergerak menerjang dengan pedang kembarnya. Serangannya sangat cepat, menciptakan jaring-jaring tebasan biru di udara.

Subosito menangkis setiap tebasan hanya dengan lengan bawahnya yang kini dilapisi aura emas tipis. Setiap kali logam pedang bersentuhan dengan kulit Subosito, terdengar suara dentingan nyaring, seolah dua senjata sakti sedang beradu.

Subosito melihat celah yang sedikit terbuka di antara tebasan Suro Joyo. Tanpa membuang waktu lagi, Subosito merangsek masuk ke dalam jarak jangkau lawan, lalu menghantamkan telapak tangannya ke dada Suro Joyo.

BLAARR!

Bukan ledakan api, melainkan ledakan cahaya yang membutakan mata. Suro Joyo terlempar hingga menghantam batang pohon jati besar. Suro Joyo terbatuk darah, dan anehnya, dia tidak merasakan panas yang membakar kulitnya.

Suro Joyo justru merasakan energi dingin yang mengunci seluruh pusat rasa sakit di dalam tubuhnya.

“Kau, apa yang kau lakukan padaku?” tanya Suro Joyo dengan suara gemetar, mencoba membangkitkan ilmu kanuragannya yang gagal total.

“Aku memadamkan api kebencian di dalam nadimu,” jawab Subosito. “Kau tidak akan bisa menggunakan ilmu hitammu lagi untuk waktu yang lama. Gunakan waktu ini untuk merenung, atau kau akan benar-benar terbakar oleh ambisimu sendiri!”

Subosito berbalik, meninggalkan Suro Joyo yang terduduk lemas di antara daun-daun jati kering. Teman-temannya yang lain sudah melarikan diri ke dalam kegelapan hutan, menyadari bahwa mereka sedang berhadapan dengan sesuatu yang jauh melampaui level manusia biasa.

Subosito melanjutkan perjalanannya, tubuhnya terasa lebih ringan. Subosito telah membuktikan pada dirinya sendiri bahwa dirinya mampu bertarung tanpa harus menghancurkan segala sesuatu di sekitarnya.

Namun, tantangan yang sebenarnya belum dimulai. Hutan jati itu perlahan menipis, dan di kejauhan, di balik perbukitan yang landai, mulai terlihat benteng-benteng tinggi dan menara pengawas yang menjulang.

Ibukota Kadipaten.

Tempat itu tampak megah dengan dinding-dinding batu yang putih, dari jarak ini pun, Subosito bisa merasakan aura yang berat. Langit di atas Kadipaten tampak kelabu oleh asap dari ribuan tungku dapur, ada kabut mistis lain yang menyelimuti tempat itu—kabut yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang, melainkan hanya bisa dirasakan oleh mereka yang memiliki hubungan dengan alam gaib.

Subosito teringat pada cincin perak di sakunya. Ayahnya pernah berada di sana, berjalan diantara koridor-koridor kekuasaan itu sebelum akhirnya dikhianati dan dibuang. Kini, putranya kembali bukan sebagai peminta jabatan sang ayah, melainkan sebagai pembawa api kebenaran.

Subosito berhenti di sebuah bukit kecil yang menghadap langsung ke gerbang utama. Tampak antrean panjang pedagang dan warga yang ingin masuk, melalui pemeriksaan prajurit berseragam lengkap dan sangat ketat. Ada ketegangan yang nyata di wajah setiap orang.

“Eyang Resi benar,” gumam Subosito. “Tempat ini sedang sekarat dari dalam!”

Subosito menarik napas dalam-dalam, merasakan energi Garuda Paksi di punggungnya bergetar pelan, seolah memberi peringatan bahwa di balik kemegahan tembok-tembok itu, musuh yang jauh lebih berbahaya dari Gagak Hitam sedang menantinya. Musuh yang tidak menggunakan pedang, melainkan peraturan, hukum, dan pengkhianatan yang rapi.

Subosito mulai melangkah turun, menuju debu yang beterbangan di depan gerbang raksasa Kadipaten.

 

 

Subosito akhirnya menginjakkan kaki di tempat kelahirannya yang terlupakan. Namun, dirinya segera menyadari bahwa kekuatannya mungkin tidak cukup untuk menghadapi musuh yang bersembunyi di balik jubah birokrasi dan senyuman para bangsawan.

 

Misteri apa yang sudah menunggunya di dalam kadipaten? Dan rahasia apa yang membuat kadipaten sekarat?

Ikuti terus kelanjutan kisah Subosito.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!