Raka adalah pria yang selalu menunda banyak hal dalam hidupnya pekerjaan, keputusan, bahkan perasaannya sendiri.
Bagi Raka, semua selalu bisa dilakukan nanti. Selalu ada waktu. Selalu ada alasan untuk berkata, “ya mungkin besok.”
Namun semuanya berubah ketika Lala, seorang perempuan yang sederhana, jujur, dan penuh keberanian, masuk ke dalam hidupnya. Lala bukan hanya membuat Raka tertawa, tapi juga perlahan memaksanya menghadapi hal yang selama ini ia hindari: keputusan tentang cinta dan masa depan.
Ketika masa lalu Raka kembali muncul dan keraguan mulai menguji hubungan mereka, Raka harus memilih—tetap menjadi orang yang selalu menunda, atau akhirnya berani mengatakan “hari ini.”
Sebuah kisah komedi romantis hangat tentang cinta, keraguan, dan keberanian untuk tidak lagi menunggu besok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Budiarto Consultant, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian dari Sang Nenek
Siang itu matahari Yogyakarta bersinar cukup terik, tapi udara di dalam restoran kecil tempat mereka bertemu terasa jauh lebih panas.
Bukan karena cuaca.
Tapi karena situasi.
Di sebuah meja dekat jendela duduk nenek Bayu, ayah Bayu, dan ibu Bayu. Wajah nenek terlihat sangat tenang, tapi matanya tajam seperti sedang mengamati sesuatu yang sangat penting.
Di luar restoran…
Bayu, Nadia, dan Raka berdiri seperti tiga orang yang akan menghadapi ujian akhir.
Bayu mondar-mandir lagi.
"Aku tidak siap."
Raka meliriknya.
"Kau tidak pernah siap sejak episode pertama."
Bayu memegang kepalanya.
"Nenekku pasti tahu."
Raka mengangguk santai.
"Iya."
Bayu langsung menatapnya.
"Kau kenapa setuju?!"
Raka mengangkat bahu.
"Karena memang kelihatan."
Bayu hampir menangis.
Nadia berdiri dengan tenang di antara mereka.
"Sudah selesai paniknya?"
Bayu menatapnya.
"Bagaimana kau bisa setenang ini?"
Nadia tersenyum tipis.
"Karena kalau kita panik… kita pasti kalah."
Raka bergumam pelan,
"Aku merasa ini bukan sandiwara lagi."
Mereka akhirnya masuk ke restoran.
Nenek Bayu langsung menoleh.
Ia tersenyum kecil.
"Kalian datang."
Nadia berjalan mendekat dengan percaya diri.
"Tentu, Nek."
Mereka semua duduk.
Raka kembali duduk di kursi ujung meja.
Tempat figuran resmi.
Pelayan datang membawa menu.
Namun nenek Bayu bahkan tidak melihat menu itu.
Ia langsung menatap Bayu.
"Bayu."
"Iya Nek."
"Kamu terlihat lebih gugup dari kemarin."
Bayu tertawa kaku.
"Haha… tidak kok."
Nenek menatapnya beberapa detik.
Lalu menoleh ke Nadia.
"Nadia."
"Iya Nek."
"Kamu tidak gugup?"
Nadia tersenyum.
"Tidak."
Nenek mengangguk pelan.
Menarik.
Beberapa menit kemudian makanan datang.
Namun sebelum mereka mulai makan, nenek berkata,
"Aku punya satu permintaan."
Bayu langsung kaku.
"Apa Nek?"
Nenek menunjuk Bayu dan Nadia.
"Kalian duduk lebih dekat."
Bayu menelan ludah.
Ia menggeser kursinya sedikit.
Nadia juga.
Raka meminum air dengan cepat.
Ini akan jadi kacau.
Nenek kemudian berkata lagi,
"Aku ingin melihat sesuatu."
Ayah Bayu mengernyit.
"Apa lagi, Bu?"
Nenek tersenyum tipis.
"Bagaimana mereka bersikap saat tidak sadar sedang diperhatikan."
Bayu hampir pingsan.
Raka berbisik,
"Aku ingin kabur."
Nadia terlihat berpikir beberapa detik.
Lalu…
Ia melakukan sesuatu yang membuat Raka benar-benar tidak siap.
Nadia menyandarkan kepalanya di bahu Bayu.
Seluruh meja langsung sunyi.
Bayu membeku seperti patung.
Raka hampir menjatuhkan gelasnya.
Nadia berkata santai,
"Aku lelah hari ini."
Bayu tidak bergerak.
Sama sekali.
Nenek memperhatikan dengan serius.
Ibunya Bayu tersenyum senang.
"Lucu sekali."
Raka menatap piringnya.
Dadanya terasa aneh lagi.
Perasaan yang tidak ia suka.
Beberapa detik kemudian Nadia mengangkat kepalanya lagi.
Ia kembali duduk normal.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
Bayu masih kaku.
Raka menendang kakinya di bawah meja.
"Sadar!"
Bayu akhirnya bergerak.
"Iya… iya…"
Nenek kemudian berkata pelan,
"Baiklah."
Semua orang menatapnya.
Nenek mengambil sendoknya.
"Silakan makan."
Bayu langsung menghela napas lega.
Ia hampir saja memeluk piringnya.
Namun saat makan hampir selesai…
Nenek tiba-tiba berkata lagi.
"Nadia."
"Iya Nek."
"Kamu pernah cemburu?"
Nadia mengangkat alis.
"Cemburu?"
"Iya. Pada Bayu."
Seluruh meja kembali sunyi.
Bayu menelan ludah.
Nadia berpikir beberapa detik.
Lalu menjawab dengan santai,
"Pernah."
Bayu langsung menoleh.
"Kapan?"
Nadia menatapnya.
"Lupa?"
Bayu berkedip.
"..."
Nadia melanjutkan,
"Waktu ada perempuan yang terus mengirim pesan ke ponselmu."
Ibunya Bayu langsung menatap anaknya.
"Apa?"
Bayu panik.
"Itu… teman kantor!"
Raka menutup mulutnya menahan tawa.
Nenek tersenyum kecil.
Menarik sekali.
Setelah makan selesai, mereka semua berdiri.
Orang tua Bayu terlihat puas.
Ibunya bahkan berkata,
"Nadia, nanti kalau ada waktu datanglah ke rumah."
Nadia tersenyum sopan.
"Tentu, Tante."
Ayah Bayu mengangguk.
"Kami senang mengenalmu."
Bayu hampir menangis bahagia.
Namun saat mereka hendak keluar restoran…
Nenek Bayu tiba-tiba memanggil,
"Nadia."
Nadia menoleh.
"Iya Nek?"
Nenek menatapnya dalam-dalam.
Beberapa detik.
Lalu berkata pelan,
"Kamu gadis yang sangat pintar."
Nadia tersenyum.
"Terima kasih."
Nenek melanjutkan,
"Tapi aku juga pintar."
Bayu langsung pucat.
Nenek tersenyum kecil lagi.
"Permainan ini menarik."
Lalu ia berjalan pergi.
Di luar restoran, Bayu langsung panik.
"DIA TAHU!"
Raka memijat pelipisnya.
"Iya. Jelas."
Bayu memandang Nadia.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?!"
Nadia terlihat berpikir sebentar.
Lalu tersenyum kecil.
"Tenang saja."
Bayu menatapnya.
"Bagaimana bisa tenang?!"
Nadia menjawab santai,
"Karena nenekmu belum membongkar kita."
Raka mengangguk pelan.
"Itu benar."
Bayu berkata putus asa,
"Lalu kenapa dia belum bilang?"
Raka menatap jalanan.
Lalu berkata pelan,
"Mungkin…"
Nadia melanjutkan kalimatnya.
"...karena dia menunggu sesuatu."
Bayu menatap mereka berdua.
"Apa?"
Raka dan Nadia saling menatap sebentar.
Lalu Raka berkata,
"Kita juga tidak tahu."
Namun jauh di dalam hati…
Raka mulai merasa bahwa drama ini akan menjadi jauh lebih rumit.
Karena jika nenek Bayu benar-benar tahu…
Maka suatu saat…
Ia pasti akan memaksa mereka membuktikan cinta mereka.
Dan saat itulah…
rahasia mereka bisa benar-benar hancur.