Nigista, seorang gadis cantik yang terlahir dengan kelebihan yang tak biasa, harus berjuang untuk bertahan hidup di tengah caci maki orang-orang sekitarnya. Dia hanya ingin hidup normal, seperti manusia lainnya, tapi takdir sepertinya tak berpihak padanya.
Nigista Kanaya Putri, nama yang indah, tapi ironisnya, di rumahnya dia lebih sering dipanggil "Si pembawa Sial" oleh ibunya sendiri. Setiap musibah yang menimpa keluarga selalu saja dia yang disalahkan.
Tapi, Nigista memiliki kemampuan unik - dia bisa mendengar bisikan-bisikan dari orang-orang yang butuh pertolongan, sebuah kelebihan yang membuatnya sering merasa terjebak. Di sekolah, dia menjadi target bully-an teman-temannya karena sering menjerit-jerit ketika bisikan itu datang, membuatnya dicap sebagai "gadis aneh"
Yok ikuti kisah Nigista
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak Nya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nigista Dan Dunianya
Raden menghantar Gista sampai ke rumah, tadinya Gista tak mau namun pemuda itu memaksanya.
"Gue gak akan bantu ambil motor lo kalo lo tolak gue anter lo, Gista." ancam Raden tadi
"Gista.." Adara langsung memeluk Gista yang baru saja tiba. "Lo gapapa 'kan? Lo lama banget, gue khawatir tau."
"Maaf dar, tadi ada insiden dikit untungnya lo gak ikut kalo ikut tambah repot gue. Lo kan gak bisa belah diri.."
Bug
"Aw, sakit dar."
"Salah sendiri." ketus Adara, ia beralih pada seseorang yang menghantar saudari kembarnya. "Raden, kok lo bisa bareng Gista?"
"Tadi gue liat Gista lagi berdebat sama geng lavegas, dar." jelas Raden
Mendengar ucapan Raden membuat mata Adara melebar. "lo ada masalah apa sama mereka sta? Lo mau cari mati berurusan sama mereka hah?"
"Mereka yang sudah ambil motor gue, ya gu—"
Pint.... Pint..
Bunyi klakson mobil Arabella menggema di luar pagar, satpam rumah mereka segera membuka 'kan pagarnya. Gista yang melihat itu seketika berlari masuk ke dalam rumah.
"Gista mau kemana?!" tanya Raden namun tak mendapatkan jawaban dari sang empu
'Kenapa Gista lari-lari kayak gitu, liat mamanya pulang kok kayak ketakutan gitu.'
Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi benak Raden, banyak hal yang janggal.
"Eh ada Raden, dara kok temennya gak di ajak masuk sih?" ucap Arabella
"Gak perlu tante, saya mau langsung pulang aja." tutur Raden sembari mencium punggung tangan mamanya Adara, Arabella.
"Kok buru-buru banget? Baru aja tante pulang kamu kok langsung mau pulang aja."
Raden menyengir. "Lain kali aja tan nanti Raden mainnya lama di sini, sekarang Raden mau langsung pulang udah di tungguin mama di rumah."
"Bener ya? Awas aja kalo kamu bohong."
"Iya tante, dar gue balik duluan ya sampai ketemu besok." ucap Raden sebelum berlalu
"Hati-hati den!" Adara melambaikan tangannya pada Raden yang kini mulai meninggalkan perkarangan rumahnya
'Gista kok gak keluar rumah lagi ya?' batin Raden sebelum benar-benar meninggalkan perkarangan rumah Adara di belakang sana
___________
"Ma, kok tumben mama gak masak makan malam?" tanya Adara saat tak melihat adanya makanan di meja makan, biasanya jam-jam seperti sekarang ini menu makan malam sudah tersedia.
Di rumah mereka tak ada pembantu, Arabella sengaja tak mencari pembantu karena sudah ada Gista untuk bantu bersih-bersih. Lalu, buat apa ia buang-buang uang untuk bayar pembantu.
"Malam ini kita makan di luar."
Adara dan Gista saling memandang hingga sorak gembira terdengar dari keduanya.
"Yey, akhirnya sta kita makan-makan di luar."
"Iya dar, udah lama ya kita gak pergi makan di luar."
"Eh, siapa bilang kamu ikut? Cuma saya dan Dara yang makan diluar, kamu di rumah saja jagain rumah nanti ada maling lagi kalo di tinggal."
Mendengar ucapan wanita paru baya itu membuat senyuman di bibir Gista seketika memudar, baru saja ia bahagia bisa makan di luar kayak orang-orang namun kebahagiaan itu seketika lenyap.
"Kan ada satpam yang jaga ma, percuma mama bayar satpam kalo ujung-ujungnya masih Gista yang mama suruh jaga rumah." ucap Adara
"Udah jangan banyak protes dara, cepet kamu siap-siap mama tunggu."
"Dara gak mau ikut kalo Gista gak di ajak."
"Lo ikut aja dar, gue baru inget kalo banyak tugas sekolah jadi gak bisa ikut." ucap Gista, ia memaksakan bibirnya agar membentuk sebuah senyuman
"Kamu dengarkan dara, ayo kita berangkat sekarang keburu malam." Arabella menarik Adara pergi dari sana
Gista menghembuskan napas berat, dengan lesu ia berjalan menuju dapur. Perutnya sejak tadi tak henti berbunyi karena lapar, bahu Gista menurun saat tak mendapati sesuatu yang dapat di makan di dapur.
"Apa yang mau di makan ini? Nasi putih aja gak ada." keluh Gista, ia kembali ke kamarnya.
Gista berdiri termenung di balkon kamar, helaan napas berat terdengar darinya.
"Sebenarnya gue ini anak mama bukan sih? Kok kayak di asingkan gini, mama cuma sayangnya sama Adara doang seolah cuma Adara anak satu-satunya." gungam Gista
Gista mendongak, menatap bintang-bintang yang berkerlap kerlip di langit. "Andai aja papa masih hidup.."
"Pa, Gista kangen papa. Semenjak papa pergi hidup Gista hancur berantakan, Gista gak pernah merasakan kasih sayang lagi." tak terasa air mata Gista menetes, sunggu ia sangat merindukan papanya.
Ting!
Satu pesan masuk
💬
+62×××××××××××: sv Raden
Senyum di bibir Gista terbit, ia menghapus air matanya dan mulai membalas pesan dari Raden.
^^^Anda:^^^
^^^Ok, Sv juga Gista^^^
Raden:
Udah kok, btw lo lagi ngapain sta?
^^^Anda:^^^
^^^Gak ada aih cuma liatin bintang di langit, malam ini indah banget, emang kenapa?^^^
Raden:
Keluar mau gak?
Senyuman di bibir Gista kembali mengembang saat membaca balasan pesan dari Raden di sebrang sana.
Drittt..
Karena tak mendapatkan balasan membuat Raden menelponnya.
"Hallo, den?"
["Gimana sta?"]
"Apanya yang gimana?"
["Keluar, kita cari makan di luar."]
'Makan? Kebetulan banget gue lagi laper..'
"Iya, gue mau Raden."