NovelToon NovelToon
Void King Mentor: Legenda Di Balik Tiga Fajar

Void King Mentor: Legenda Di Balik Tiga Fajar

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Action / Reinkarnasi
Popularitas:235
Nilai: 5
Nama Author: dhanis rio

bangkit kembali di dunia game, nama Arka adalah puncak dari segala kekuatan. Sebagai pemain peringkat satu berjuluk Void King, ia memiliki segalanya, namun terjebak dalam realitas game yang kini menjadi nyata setelah game tutup server.

Demi mewujudkan impian hidup tenang dengan menyembunyikan kekuatannya, Arka secara "tidak sengaja" memungut tiga petualang pemula. Elara, Kael, dan Jiro. Dengan niat egois agar ada orang lain yang bisa mengerjakan "tugas sulit" dan urusan merepotkan lainnya, Arka melatih mereka dengan metode neraka hingga mereka melampaui batas manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhanis rio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14.SIMFONI KEBERUNTUNGAN YANG DIATUR

Kegelapan di dalam Grotto of Silence bukan sekadar kegelapan tanpa cahaya. Ia terasa padat, seperti cairan hitam yang mencoba menyumbat pori-pori kulit. Sesuai namanya, gua ini menelan suara. Detak jantung Jiro terdengar seperti tabuhan genderang di telinganya sendiri, sementara gesekan sol sepatu bot Alaric pada batu lembap menciptakan gema yang tidak alami.

Alaric memimpin di depan. Bola cahaya sihir di atas tangannya berpendar pucat, menerangi dinding batu yang tampak seperti deretan gigi monster raksasa. Ia tidak menoleh, namun seluruh inderanya terkunci pada pria yang berjalan paling belakang.

Arka.

Pria itu sedang berjalan sambil menyeret kakinya, sesekali berhenti untuk membetulkan tali sandalnya yang hampir putus. Wajahnya adalah definisi dari rasa bosan yang kronis.

"Komandan," suara Arka memecah kesunyian, terdengar sangat tidak pantas di tempat sesakral ini. "Apakah ksatria kerajaan tidak punya anggaran untuk menyewa tukang bersih-bersih? Lumut di sini licin sekali, saya bisa encok kalau jatuh."

Alaric berhenti mendadak. Ia berbalik, matanya tajam menatap Arka. "Grotto ini bukan taman bermain, Arka. Jika kau jatuh, kau tidak hanya akan encok. Kau akan mati sebelum sempat mengeluh."

Arka hanya menguap lebar, mengabaikan intensitas tatapan sang Komandan. Di belakangnya, Jiro, Kael, dan Elara berjalan dengan bahu tegang. Mereka sudah menerima instruksi terakhir sebelum masuk: Jangan terlihat kuat. Terlihatlah beruntung, batasi peringkat kalian di peringkat B.

...

Lorong itu semakin dalam, memaksa mereka berjalan satu per satu. Di titik ini, udara berubah. Ada bau logam berkarat dan napas busuk yang tertahan.

Dari celah-celah bebatuan di atas, lima bayangan meluncur turun tanpa suara. Silent Stalkers. Monster ini adalah mimpi buruk bagi ksatria peringkat B karena mereka tidak memiliki mana yang bisa dideteksi. Mereka menyerang murni dengan insting membunuh.

"Kontak! Formasi bertahan!" Alaric berteriak, pedang peraknya melesat keluar dari sarungnya dengan suara denting yang jernih.

Namun, monster-monster itu lebih cerdas. Mereka mengabaikan sang Komandan dan langsung menerjang titik terlemah: para murid.

Jiro melihat satu Stalker melompat ke arahnya dengan cakar terhunus. Dalam hitungan detik, ia bisa saja membelah monster itu menjadi dua dengan Void Slash. Tapi ia ingat perintah gurunya.

"Uwah! Apa itu?!" Jiro berteriak panik. Ia melakukan gerakan yang sangat memalukan—ia mencoba mundur, namun kakinya seolah menginjak lumut yang paling licin di dunia.

Sret!

Jiro terjatuh terjengkang. Secara mekanis, itu adalah kesalahan fatal. Namun, saat tubuhnya terlempar ke belakang, pedang karat di tangannya terayun ke atas secara tidak sengaja.

Di saat yang sama, Arka yang berdiri beberapa meter di belakang, menjentikkan sebuah kerikil kecil dengan ujung jarinya. Kerikil itu melesat seperti peluru, menghantam sendi lutut Stalker tersebut di udara.

Monster itu kehilangan keseimbangan. Alih-alih mendarat di dada Jiro, leher monster itu justru meluncur tepat ke arah mata pedang Jiro yang sedang teracung kaku karena panik.

CRACK.

Kepala monster itu terpisah dari tubuhnya, menggelinding di depan kaki Alaric. Jiro terduduk, wajahnya pucat (akting yang luar biasa), sambil memegang dadanya. "Demi Dewa... aku... aku tadi hampir mati! Pedang ini... pedang ini bergerak sendiri karena aku kaget!"

Di sisi lain, Kael melepaskan anak panah dengan tangan yang sengaja digetarkan. Panah itu melesat tiga meter di atas targetnya. Alaric hampir saja mengumpat melihat akurasi yang buruk itu, namun keajaiban terjadi. Panah itu menghantam kristal gantung di langit-langit, pecah, dan serpihan kristal tajam itu jatuh tepat menembus ubun-ubun dua monster yang sedang mengepung Elara.

"Eh? Aku kena?" Kael bergumam dengan wajah polos.

Alaric tertegun di tempatnya. Ia baru saja menebas satu monster, namun tiga lainnya sudah tewas dengan cara yang hanya bisa dijelaskan sebagai "lelucon takdir".

...

Alaric menyarungkan pedangnya, namun tangannya tetap berada di gagang. Ia berjalan mendekati mayat monster yang dipenggal Jiro. Ia berjongkok, memeriksa bekas potongannya.

Bersih. Terlalu bersih untuk sebuah ayunan "tidak sengaja".

Ia menoleh ke arah Arka. Pria itu sedang bersandar di dinding batu, tampak asyik mencoba membersihkan kuku jarinya menggunakan ujung ranting.

"Arka," suara Alaric terdengar lebih berat dari biasanya. "Berapa banyak doa yang kau panjatkan pagi ini? Karena keberuntungan muridmu sudah melampaui batas logika."

Arka mendongak, tersenyum tipis yang terlihat sangat menyebalkan. "Yah, Komandan, orang desa seperti kami memang tidak punya sihir hebat seperti Anda. Kami hanya punya doa dan nasib baik. Lagipula, bukankah lebih baik beruntung daripada hebat tapi mati?"

Alaric menyipitkan mata. Ia melihat sebutir kerikil di lantai dekat mayat monster. Kerikil itu hancur menjadi bubuk halus, tanda bahwa ia baru saja menghantam sesuatu dengan kecepatan luar biasa. Namun, dari sudut pandang Alaric, Arka bahkan tidak menggerakkan lengannya.

'Apakah keberuntungan bisa terjadi berkali-kali dalam satu menit?' Alaric bertanya dalam hati. 'Atau apakah aku sedang berjalan bersama seorang iblis yang sedang menuntun anak-anaknya bermain sandiwara?'

...

Mereka terus merayap masuk, melewati lorong yang semakin lembap hingga akhirnya tiba di sebuah ruang terbuka yang megah. Cahaya bola sihir Alaric kini menerangi sesuatu yang mustahil ada di kedalaman dungeon ini.

Sebuah pintu logam raksasa.

Pintu itu terbuat dari campuran Orichalcum dan Mythril, logam yang sudah tidak bisa diproduksi lagi sejak seratus tahun lalu. Di permukaannya, terukir simbol kuno: sebuah Cangkir Emas dan Pedang Bersilang.

Alaric terpaku. Jantungnya berdegup kencang. "Ini... tidak mungkin. Ini adalah pintu Checkpoint."

"Checkpoint?" Kael bertanya, bingung dengan istilah asing itu.

"Istilah dari era legendaris," bisik Alaric, tangannya gemetar saat menyentuh permukaan logam yang dingin. "Ini adalah 'Ruang Aman' peninggalan para Player terdahulu. Tempat di mana waktu seolah berhenti dan tidak ada monster yang bisa masuk. Dalam catatan istana, pintu ini hanya bisa dibuka dengan kunci suci yang sudah hilang bersama para Player."

Arka berdiri di belakang mereka, diam seribu bahasa. Matanya menatap simbol cangkir dan pedang itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia ingat ruangan ini. Ia ingat pernah bertengkar dengan temannya di dalam sana hanya karena masalah pembagian ramuan penyembuh.

Baginya, ini bukan artefak suci. Ini hanyalah ruang istirahat lama yang sudah berdebu.

Arka melangkah maju, tangannya tanpa sadar terangkat menuju mekanisme tersembunyi di samping bingkai pintu. "Mungkin saja pintu ini hanya butuh... sedikit dorongan?"

Alaric hendak menarik Arka mundur, namun ia terdiam saat melihat tangan Arka menyentuh sebuah lekukan kecil di samping bingkai pintu yang bahkan tidak terlihat oleh mata ksatria S+.

Klek.

Suara mekanisme kuno yang berputar setelah satu abad terdengar seperti musik di tengah keheningan Grotto. Pintu raksasa itu bergeser pelan, mengeluarkan embusan udara segar yang berbau harum—sangat kontras dengan bau busuk gua di luar.

Alaric menatap punggung Arka dengan horor yang murni. 'Siapa kau sebenarnya, Arka? Kenapa tanganmu tahu persis di mana letak kunci yang sudah terlupakan oleh sejarah?, apakah kau bagian dari legenda 100 tahun lalu?'

1
dhanis rio
bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!