Aurora menyeringai, "Kakak maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakiti mu. Selama ini kami saling mencintai. Karena kamu memaksa, akhirnya Jake menikahi mu. Jadi aku mengambil yang sudah menjadi hak ku."
"Apa maksud mu? Jake suami ku," ucap Caroline dengan nada menekan. Air matanya sudah mengalir, entah semenjak kapan. Ia tidak tau. Sakitnya seperti tercabik-cabik.
Tommy tertawa dan melangkah ke arah Caroline. "Jake suami mu." Sekali lagi ia mengulang ucapan Caroline. Ia mendekatkan mulutnya ke telinga Caroline. "Apa selama ini kau menikmati pelayanan ku?"
.....
Demi balas dendam untuk kekasihnya. Jake Willowind dan Tommy Willowind menggunakan sandiwara. Mereka bergantian tidur dengan Caroline. Seolah Caroline adalah barang. Sehingga suatu hari, Caroline mengetahui semuanya bahwa Jake memiliki saudara kembar dan sering kali berperan sebagai suaminya. Bahkan suaminya diam-diam masih bersama dengan adik tirinya Aurora.
"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sayonk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab sebelas
Caroline pulang ke rumahnya tepat makan malam. Begitu tiba di sana, para pelayan yang melihatnya memandang remeh. Bahkan tidak menaruh sopan santun padanya. Tidak ada yang menyapa dan hanya meliriknya dengan tatapan jijik.
"Dimana Daddy dan Mommy?" Tanya Caroline datar.
Pelayan berambut pendek itu menarik bibirnya ke atas. "Nona bisa mencarinya sendiri."
Caroline diam, namun tangannya entah kapan melayan ke arah pipi pelayan tersebut. "Kau tidak memiliki sopan santun ya."
Pelayan berambut pendek itu memegang pipinya yang terasa sakit. Pelayan itu tidam mau kalah. "Pantas saja Nona tidak di sukai karena Nona memang kasar. Bahkan tuan pun membenci Nona."
Caroline semakin geram, masih saja melawan tidak ada takutnya. Di kehidupan dulu ia memang di benci, kadang melawan dan kadang tidak. Ia hanya menangis meratapi nasibnya, tapi kali ini tidak. Sudah cukup ia di sakiti dan di hina.
"Kau hanya pelayan di sini. Dan aku tetap nona di rumah ini."
"Kakak kau sudah pulang." Aurora turun dengan langkah anggun. Ia sengaja turun ke lantai bawah karena ingin menyambut Caroline. "Kau datang hanya ingin membuat keributan?"
Pelayan berambut pendek itu mengadu. "Nona Aurora, nona Caroline sangat kasar sampai menampar saya."
Aurora menatap Caroline. Wanita di hadapannya sebentar lagi tidak bisa sombong. "Kakak kau harus memiliki sopan santu. Karena dirimu lebih rendah dari pada seorang pelayan."
Plak
Caroline mengibaskan tangannya. Sudah dua kali ia menampar wanita yang berbeda. Pertama antek-anteknya sekarang wanita murahan.
Kilat kemarahan terlihat di kedua netra Aurora. "Caroline beraninya kau menampar ku."
Caroline mengambil sebuah tisu dan membersihkan tangannya. "Tubuh mu lebih kotor dari pada seorang pelayan. Ibu mu saja seorang perusak rumah tangga orang, pelakor."
"Ada apa ini?"
Daddy Dion dan Mommy Melisa datang bersamaan.
Kebetulan sekali bagi Aurora ayahnya datang. Tentu saja daddy Dion pasti akan membelanya. "Daddy, lihatlah. Kakak menampar ku."
Daddy Dion merasa malu. Karena ia merasa gagal mendidik Caroline. Putrinya sangat kasar entah bagaimana cara ibunya mendidiknya.
"Caroline kau lagi-lagi menyakiti adik mu. Kau sama sekali tidak memiliki hati."
"Tidak memiliki hati? Katakan pada ku seperti apa orang yang memiliki hati. Apa dengan cara menghina ku? Bahkan pelayan saja di rumah ini tidak menghargai ku. Aku direndahkan melebihi seorang pelayan."
Mommy Melisa meraih tangan Caroline. "Caroline sayang kamu kenapa? Jangan marah-marah, kita ini keluarga. Jangan membuat Momny takut kehilangan mu."
Caroline menarik tangannya dengan kasar. "Sebenarnya kau senang kalau aku pergi. Aku tidak bisa di bohongi oleh mu Melisa. Kau jangan mengurusi ku."
Daddy Dion merasa Caroline telah bersikap kurang ajar pada istrinya sekaligus ibunya. "Caroline jangan jadi anak yang tidam berpendidikan. Melisa ibu mu. Kau harus menghormatinya."
"Menghormati? Menghormati bagaimana. Sedangkan dia merendahka ku. Daddy apa pernah Daddy bertanya tentang kesalahan ku pada ku, tentang alasannya. Daddy hanya selalu bersikap tidak adil."
"Caroline jangan marah pada Daddy mu. Ini salah Mommy."
"Diam Melisa!" Teriak Caroline. "Kau selalu membuat perkataan seolah aku yang salah. Anak mu saja merendahkan aku melebihi seorang pelayan."
"Cukup Caroline, sampai saat ini kamu tidak menyadari kesalahan mu. Tidak belajar dari teguran daddy. Caroline kami mengundang mu kesini agar kamu tau batas menjadi seorang Nona. Satu lagi kenapa kamu belum hamil?"
Caroline menarik salah satu sudt bibirnya sambil melebarkan kedua matanya. Bahkan urusan hamil pun harus ia laporkan pada keluargany.
Aurora tersenyum tipis. "Kakak sampai saat ini kamu belum hamil. Aku takut keluarga Willowind malu."
"Bukannya kamu ingin menggantikannya. Ya sudah kamu saja yang hamil dengan Jack. Aku tidak mau hamil." Baginya memiliki anak di keluarga Willowind akan menjadi penjara. Ia tidak bisa bebas dan tidak bisa seenaknya bercerai.
Aurora terkejut dengan perkataan Caroline. Kakaknya benar-benar sudah berubah tidak seperti dulu lagi. Dulu memang melawan tapi tidak sampai sekasar itu. Caroline hanya menjawab dan pergi seolah takut. Di marahi Daddynya saja sudah membuat Caroline menangis.
"Kakak aku sudah mengorbankan semuanya?"
"Mengorbankan?" Tanya Caroline menekan nada ucapannya. "Apanya yang di korbankan. Selama menikah hubungan mu dan Jack masih berjalan."
Aurora terkejut, bisa-bisanya Caroline membongkar hubungannya dengan Jack. Ya hubungan mereka masih berjalan dengan lancar.
"Jangan-jangan kamu yang hamil anaknya Jack."
Seketika Daddy Dion menatap tajam pada Aurora. Tubuh Daddy Dion seketika menghitam.
"Tidak." Aurora menggelengkan kepalanya. "Kakak jangan memfitnah ku. Aku sama sekali tidak memiliki hubungan seperti yang kakak ucapkan. Aku hanya berteman baik."
Caroline tertawa lepas. "Apa kau pikir aku bodoh? Apa kau pikir aku tidak bisa membedakan mana yang memiliki hubungan dan mana yang tidak. Daddy, selama ini Jack diam-diam menemui Aurora. Bahkan saat Jack kecelakaan. Aurora yang menemaninya. Semuanya sudah jelas Dad. Dan aku sudah meminta Jack menandatangani surat cerai itu."
Begitu tau Caroline pulang ke rumahnya. Ia langsung menghubungi Caroline namun tidak di jawab dan ia begitu cemas karena takut Caroline akan di rundung.
"Caroline."
Caroline memutar tubuhnya dan melihat Jack. Tidak biasanya pria itu muncul. Pasti akan memarahinya.
"Caroline kenapa kau tidak bilang bahwa kau ingin berkunjung," ucap Jack. Saat masuk ke dalam rumah Daddy Dion. Suasananya memang sudah menegangkan.
"Jack kau tidak perlu berpura-pura. Aku sudah membantu mu mengatakan hubungan mu dengan Aurora. Jadi aku melakukan ini agar kalian secepatnya bersama."
Deg
Wajah Jack langsung memerah. Ia mengepalkan kedua tangannya. Ia kira Caroline mendapatkan hinaan dan takut wanita itu akan menangis, tapi siapa sangka justru Caroline malah membongjar hubungannya dengan Aurora. Memang benar ia masih belum memutuskan hubungan dengan Aurora.
"Caroline apa yang kamu bicarakan. Aku dan Aurora tidak memiliki hubungan apa pun." Sangkal Jack. Hatinya tidak terima jika semua orang tau. Bukannya ia membela Aurora, tapi rasanya tidak rela jika semua orang tau hubungannya. "Daddy maafkan ucapan Caroline. Aku dan Aurora sudah tidak memiliki hubungan apa pun. Kami hanya berteman."
Aurora tersenyum penuh kemenangan. Sudah ia kira Jack akan membelanya. "Kakak aku yakin kamu salah bicara. Kecemburuan mu pada Jack dan aku pasti menghancurkan hubungan kalian."
"Caroline! Apa kau sudah selesai main-mainnya? Kau selalu mencari alasan untuk membodohi ku. Kau tidak pernah berubah Caroline."
Caroline memandang Jack dengan penuh kobaran api. Hatinya di bakar dengan penuh kebencian pada Jack. "Jack kau membela Aurora." Sudah pasti yang di rugikan adalah Aurora jadi Jack tidak mau terjadi sesuatu pada Aurora. "Jack apa kau bisa menjelaskan bahwa sampai saat ini aku belum memiliki anak?"